
Di apartemen, Bram menghubungi Gala, pria itu sengaja menghubunginya supaya Maya mendengar kabarnya.
"Astaga, lu kenapa?" tanya Gala setelah melihat keadaan Bram dari layar ponsel.
"Ini semua gara-gara kakak ipar lu!" jawab Bram, lelaki tampan itu meringis kesakitan seraya meminum obat yang didapat dari dokter yang baru saja memeriksa.
Benar saja, Gala memutuskan sambungan teleponnya.
Pria itu mengetuk pintu kamar Maya seraya mengatakan kalau Bram dibuat hampir mati oleh suaminya.
"Jangan bohong kamu!" kata Maya setelah membuka pintu, wanita itu sudah lengkap dengan piyamanya.
"Kalau mbak nggak percaya, ayo!" ajak Gala seraya menarik lengan Maya. Gala mengajak Maya untuk ke apartemen Bram.
Tidak membutuhkan waktu lama karena jalanan jakarta sangat lancar di malam hari, Gala yang bebas hambatan itu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di parkiran, Maya merasa tidak yakin kalau dirinya harus datang menemui Bram di malam hari.
"Kita bisa besok aja, Gal!" protes Maya yang masih berada di atas motor.
"Udah tanggung, mbak. Udah sampai sini juga!" jawab Gala seraya melepaskan helmnya dan di susul oleh Maya.
Setelah itu Maya pun mengikuti langkah Gala, sesampainya di depan pintu apartemen, pintu itu terbuka sendiri tepatnya karena Marisa membukanya dari dalam, wanita itu ingin pulang ke indekosnya.
Mereka saling melemparkan senyum dan sekarang Marisa mempersilahkan tamu Bram untuk masuk.
"Masuk aja, dia ada di dalam!"
"Terimakasih," kata Maya seraya menganggukkan kepala.
Maya dan Gala pun masuk, keduanya langsung mencari Bram ke kamarnya.
"Ya ampun, bang. Lu gimana bisa kaya gini? Kan lu jagoan?"
"Mau gimana, gua di keroyok tiga belas orang!" jawab Bram dengan dengan membetulkan posisinya menjadi duduk.
"Jadi bener ini ulah suami aku?" tanya Maya yang berdiri di belakang Gala, sedangkan Gala duduk di tepi ranjang.
Bram menatap Maya dan menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Pasti ini gara-gara aku? Gara-gara kamu dekat sama aku!" Maya sedikit merasa bersalah karena telah mengajak Bram untuk memanasi Biru.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Bram. Nggak tau bakal kaya gini!" lirih Maya, gadis itu meremas jari-jemarinya, tak tega untuk menatap Bram yang sudah bonyok.
Setelah itu Maya meminta pada Gala untuk keluar sebentar karena ada yang ingin Maya bicarakan.
Sementara Biru, lelaki itu kembali mendidih saat mengetahui Maya mendatangi apartemen Bram.
Biru mengibaskan semua benda yang berada di meja rias.
"Aaaaaaaaa!" teriaknya.
"Maya! Apa kamu sudah jatuh ke pelukan lelaki jahanam itu!" lanjutnya, tentunya masih berteriak.
Tak mau tinggal diam membuat Biru berjalan cepat keluar dari kamar dan semakin mempercepat lagi langkahnya, pria yang tengah kebakaran jenggot itu berteriak memanggil Andy yang sudah bersiap untuk istirahat.
"Andy!"
"Ya Tuhan, apalagi ini?" gumam Andy yang baru menarik selimut. Tidak menunggu lama Andy pun segera keluar dari kamarnya yang berada di balik pos satpam.
"Saya Tuan," jawab Andy, terlihat pria itu tidak sempat mengganti pakaiannya, masih mengenakan celana kolor dan kaos oblong.
"Antar saya ke alamat ini, cepat!" Setelah mengatakan itu, Biru segera duduk di bangku depan, samping kemudi, pria itu melupakan rasa sakit di tubuhnya.
****
"Bram, aku rasa kita tidak perlu lagi untuk bekerjasama membuat Mas Biru cemburu," lirih Maya, wanita itu duduk di tepi ranjang, menatap Bram yang sedang menatapnya.
"Yakin, May? Aku tanya alasan lu kenapa pengen bikin laki lu cemburu?"
"Aku hanya ingin membalas rasa sakitnya diduakan, tetapi aku rasa kita tidak usah melanjutkan, aku takut kamu akan mendapat masalah besar, Bram!" jawab Maya dengan suara lembutnya.
"Aku akan menyelesaikan sendiri masalah ini!" lanjut Maya.
"Semua sudah dimulai dan ini adalah awal, May!"
"Awal dan terakhir kalinya, aku yakin orang suruhannya juga mengetahui kalau aku ada di sini!"
Baru saja Maya mengatakan itu dan dirinya sudah mendapatkan tamu tak di undang. Tamu itu adalah Biru yang menggedor pintu apartemen dan Gala yang melihat dari layar monitor samping pintu itu melihat Biru datang bersama dengan Andy dan satu pria asing yang tak pernah Gala lihat sebelumnya. Ya, pria itu adalah yang ditugaskan oleh Biru untuk mengawasi Maya.
Gala pun membukakan pintu dan Biru langsung mendorong Gala, pria itu menerobos masuk dan berteriak.
"Maya!"
__ADS_1
Maya yang sedang berada di dalam kamar Bram itu menjadi tegang, mendengar suara suaminya yang berteriak.
"Secepat ini dia sampai di sini, Bram!" lirih Maya, terlihat kalau Maya sedikit ketakutan apalagi sekarang mereka berada di dalam kamar yang sama.
"Aku harus keluar!" kata Maya seraya bangun dari duduknya dan Bram menahan tangan Maya.
"Jangan takut, May. Gua akan selalu lindungi lu!"
"Gimana mau lindungi, kamu sendiri babak belur gitu kok!" batin Maya.
"Lepas Bram!" pinta Maya seraya menggerakkan tangan tetapi Bram begitu erat menahannya.
Kemudian Maya dan Bram secara bersamaan melihat kearah pintu yang terdorong terbuka, terlihat Biru yang mengenakan piyama berwarna navy berdiri di pintu menatap tajam Maya dan Bram.
Biru langsung berjalan cepat ingin melepaskan tangan Bram dari tangan istrinya dan sebelum Biru sampai kearahnya dengan sengaja Bram mencium punggung tangan Maya tepat di depan mata Biru.
Maya yang merasakan kalau tangannya dikecup itu melihat tak percaya dengan apa yang Bram lakukan.
Secepat kilat Biru langsung meraih kerah piyama Bram yang berwarna putih. Sementara Maya mengibaskan tangannya dari tangan Bram.
Setelah itu Maya mencoba untuk melerai Biru dan Bram yang saling menatap tajam seolah ingin saling menerkam.
Benar saja, Biru melepaskan dengan sedikit mendorong dada Bram dan sekarang sudah mengangkat tangan untuk menampar Maya.
"Kenapa? Kamu sekarang hobi ya menampar aku?" tanya Maya dan Biru menghentikan layangan tangannya itu menatap geram pada Maya.
"Jadi untuk lelaki ini kamu tega meninggalkan anak dan suami dari rumah?" bentak Biru dan Bram hanya memperhatikan pertengkaran mereka, pira itu bersedekap dada merasa puas telah membuat Biru menjadi cemburu.
"Kamu tau? Satu jari kamu menunjuk aku tapi jangan lupa kalau tiga jari ini menunjuk ke dirimu sendiri!" jawab Maya.
Ya, Maya tidak pernah melupakan Biru yang pergi berlibur meninggalkan anak dan istrinya demi wanita lain.
"Kamu sendiri, kamu pergi dengan wanita lain! Meninggalkan anak dan istrimu, jangan pernah lupakan itu!" bentak Maya, setelah mengatakan itu, Maya keluar dari kamar dan mengajak Gala untuk segera pergi dari apartemen.
Biru yang ingin menyusul itu tertahan karena Bram meraih tangannya, lalu pria itu melihat penuh benci kearah Bram.
"Hari ini gua kecup tangannya, besok gua kecup bibirnya yang seksi!"
Bersambung.
Bagaimana, cukup menegangkan bukan🙈. Sayangnya yang like sedikit. Yuk, habis baca jangan lupa sempatkan untuk mengklik likenya, yang baru datang jangan lupa untuk klik lovenya supaya nggak ketinggalan upp terbarunya.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya