
"Astaga, Om. Bikin kaget aja!" jawab Zenia dan Bram ikut duduk di kursi sebelahnya.
"Mikirin Ifraz?" tanya Bram seraya memandang ke depan.
"Siapa lagi," jawab Zenia, gadis itu menundukkan kepala. Sangat merindukan Ifraz.
"Sabar, ya. Nanti kalau gue udah sembuh kita balik ke Jakarta!" kata Bram.
"Enggak, Zen nggak mau ketemu lagi sama dia, Zen mau lupain dia, Zen yakin seiring berjalannya waktu Zen dapat melupakan Ifraz!" jawab Zen, gadis itu menangis di depan Bram, membuat Bram teringat saat berjuang untuk melupakan Maya.
"Ya, Lama-lama bisa melupakan tapi tetap ada namanya di hati!" kata Bram, pria itu ikut meminum minuman hangat yang sudah disediakan di meja.
"Om, kalau boleh tau kenapa? Kenapa Tante sangat membenci Ifraz?"
"Sudahlah, kalian anak kecil nggak udah tau, lagi pula ini sudah masa lalu, sudah seharusnya di lupakan!" kata Bram, pira itu bangun dari duduknya dan mulai berjalan perlahan, masuk ke rumah dan Zenia melihat Bram sepertinya masih kesusahan untuk berjalan, berniat membantu tetap Bram menolak.
"Jangan bantu gua, gua bukan anak manja!" kata Bram seraya menatap Zenia yang sigap menuntunnya. Zenia pun segera melepaskan tangannya dari lengan Bram, Zenia hanya diam lalu tiba-tiba merasa pusing dan hampir jatuh, sekarang, Bram yang sigap menangkapnya.
"Zen, kenapa, woy, bangun woy!" seru Bram, ia mengira kalau Zenia pingsan karena di perlakuan seperti itu olehnya.
Bram segera memanggil pekerjanya untuk membantu membawa Zenia ke kamar, Bram juga meminta untuk segera memanggil dokter.
Tidak menunggu lama, sekarang Dokter sudah memeriksa Zenia yang ternyata tengah hamil muda.
Dokter itu berpesan kalau Zenia tidak boleh terlalu lelah atau banyak pikiran dan mengira kalau Bram adalah suami Zenia.
Dokter tersebut meminta pada Bram untuk lebih lagi menjaga istrinya dan Bram hanya menganggukkan kepala.
Setelah itu, Bram menyuruh pekerjanya untuk mengantar dokter ke depan, sekarang, Bram yang duduk di kursi belajar Zenia itu menatapnya.
Tidak menyangka kalau Zenia hamil, itu menandakan kalau Zenia sudah melakukannya dengan Ifraz.
Setelah itu, Bram menghubungi Marisa yang sedang bekerja dan menceritakan apa yang Zenia alami.
Di kantor, Marisa tidak memikirkan itu, pikirnya, ia sudah membeli Zenia untuk menjadi alatnya menghancurkan Ifraz dan sekarang Marisa merasa senang karena Ifraz hancur dan Maya menderita batinnya.
__ADS_1
Selesai bekerja, Marisa bersiap pulang. Marisa bekerja di kantor cabangnya, sekarang, Marisa sudah sampai di rumah, ia langsung mencari Zenia di kamarnya.
Marisa merasa senang karena Zenia telah hamil.
"Zen, kamu hamil dan itu bagus! Jangan sampai kamu menggugurkan kandungan itu!" ucap Marisa pada Zenia yang sedang meringkuk di ranjang.
Zenia merasa terkejut dan sebenarnya ia belum tau kabar itu, sekarang Zenia menitikkan air mata, walau Zenia sudah diam tetapi Marisa tak juga berhenti bicara, masih ingin menggunakan Zenia untuk menghancurkan Ifraz lebih dalam.
Tak kuat lagi, Zenia bangun dari tidurnya, gadis itu berteriak.
"STOP! HENTIKAN! APA TANTE KURANG PUAS SETELAH MELIHAT INI?"
Mendengar suara teriakan membuat Bram yang ada di kamar sebelah segera membuka pintu kamar Zenia.
PLAK!
Marisa menampar Zenia yang sudah berani berteriak di depan wajahnya.
Bram menengahi itu, ia berdiri di depan Zenia dan segera membawa Marisa keluar.
"Kak, lu apa-apaan, sih!" protes Bram dan Marisa melepaskan tangan Bram dari lengannya.
Lalu, Bram mendengar suara berisik dari dalam kamar Zenia, rupanya gadis itu mencoba melakukan bunuh diri.
Bram yang sudah berdiri di pintu itu panik dan tanpa sadar dia dapat berjalan dengan baik, sekarang Bram membopong Zenia, membawanya ke rumah sakit terdekat.
Beruntung, Zenia masih dapat di selamatkan dan sekarang Zenia sudah berada di ruang perawatan.
"Lu mau nyari mati? Kalau mau cari mati jangan di depan mata gua, jangan di dekat gua!" Bram memarahinya.
Zenia yang berbaring di brangkar itu memalingkan wajahnya, tak mau menatap Bram.
Ia menangis dan berfikir akan mencobanya lagi lain waktu.
Setelah itu, Bram segera keluar dan kembali ke rumah, di sana Marisa merasa senang karena Bram sudah kembali normal, tetapi bukan itu yang ingin Bram bahas.
__ADS_1
"Lu udah keterlaluan! Udah cukup dan sekarang anak itu sedang hamil, seharusnya kita cari jalan keluar bukan semakin membuat dia depresi!"
"Bram... Bram, gua sudah membeli dia, dia akan melakukan apapun untuk uang! Jadi selama dendam gua belum berakhir gua belum akan diam!" jawab Marisa dan sekarang Bram hanya menatap Marisa yang pergi meninggalkannya.
Bram merasa tak tega pada Zenia, memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, di sana, Bram melihat Zenia tertidur pulas, Zenia sangat mengantuk setelah meminum obat, di tambah lagi selama ini ia kurang tidur.
"Kasihan!" kata Bram yang duduk di kursi dalam ruang rawat Zenia.
****
Di rumah Biru, Ifraz baru saja datang, menyeret koper miliknya, ia berdiri di ruang tamu, tak tau harus masuk ke kamar yang mana, setelah itu, Biru turun dari kamar dan melihat putranya berdiri itu segera membawanya ke kamar Ifraz.
Ya, ini adalah kesepakatan Maya, Daniel dan Biru, semua orang ingin Ifraz menjadi lebih baik, berfikir kalau Ifraz banyak kegiatan mungkin akan sedikit membuatnya lupa akan sakit hatinya.
Sekarang, Ifraz sudah berada di kamar, kamarnya itu lebih luas dari kamarnya di rumah Daniel, Ifraz segera melepaskan sepatu dan melemparkannya ke sembarang arah, melompat ke ranjang.
Tanpa terasa, Ifraz tertidur sampai malam saat ia merasa lapar, Ifraz keluar dari kamar dan berjalan ke dapur, sesampainya di sana, Ifraz melihat Pia sedang makan mie instan tanpa pengawet dan menggunakan bahan alami yang di produksi oleh perusahaan ayahnya sendiri.
Pia menahan rasa untuk menyapa Ifraz, tetapi tidak bisa, tetap saja ia bersikap ramah.
"Lo mau ngapain? Laper? Mau gue masakin?" tanya Pia seraya bangun dari duduknya, tetapi, Ifraz tak menjawab, ia hanya mengambil buah di kulkas dan setelah itu pergi dari sana, Ifraz kembali ke kamar.
Pia tersenyum getir dan tak melanjutkan makannya. Pia segera menaruh piring itu di wastafel, segera Pia pergi ke kamar.
"Astaga, Pia, sudahlah jangan terlalu perduli sama dia!" batin Pia, gadis itu mengusap dadanya seraya menutup pintu kamar.
****
Di tempat lain, Zenia sedang menangis, ia mengandung tanpa suami dan lebih parah lagi Marisa masih ingin memperalatnya.
Kali ini Zenia tidak menerima itu walaupun Marisa memberikan uang sangat banyak.
"CUKUP!" teriak Zenia pada Marisa.
Bersambung.
__ADS_1
Hallo pembaca yang baik hati, jangan lupa untuk kasih jempol ya setelah membaca, like, komen dan di favoritkan tentunya.
Terimakasih^^