
Pagi sekali, Biru datang dengan membawakan berbagai mainan dari tokonya dan Ifraz bertanya, "Om siapa? Om teman mamah aku, ya?"
Maya yang sedang berdiri di samping brangkar itu hanya menundukkan kepala.
Sedangkan Biru menatap Maya.
"Iya, Om teman mamah kamu, gimana, suka mainannya?" tanya Biru seraya mengusap pucuk kepala Ifraz.
"Suka," jawab Ifraz dengan semangat.
"Bilang apa sama, Om?" tanya Maya pada Ifraz.
"Terimakasih," jawab Ifraz seraya menatap mata Biru, setelah itu membuka bungkus mainan tersebut.
"Terimakasih, May. Kamu udah ngizinin aku dekat sama Ifraz," ucap Biru dan Maya hanya menganggukkan kepala.
"Kamu masih marah sama aku?"
"Enggak!"
"Kalau begitu jangan diam saja, May."
"Terus aku harus bicara apa? Aku harus mengingatkan kalau nanti ada istrimu yang marah kalau kamu dekat-dekat sama aku? Gitu?" tanya Maya seraya menatap Biru dan kedua netra itu saling bertemu.
Maya segera memalingkan wajahnya setelah merasakan ponselnya bergetar. Segera Maya mengambil ponsel itu yang berada di atas nakas.
"May, hari ini gua interview, do'ain gua!" isi pesan dari Bram.
"Aamiin, semoga kamu dapat kerja," balas Maya. Setelah itu, Maya kembali meletakkan ponselnya dan Maya kembali melihat pada Biru yang bertanya tentang Bram.
"Kamu nikah sama Bram?"
"Hah?" tanya Maya, "Kenapa memangnya?" lanjutnya.
"Aku tidak memiliki istri, seperti yang kamu bilang, jadi aku bisa sepuas aku sesuka aku menjaga anak aku bukan?"
"Kamu belum jawab pertanyaan ku, lagipula aku tidak bertanya statusmu! Itu urusanmu!" ketus Maya.
"Astaga, sabar Biru, sabar. Mungkin di hatinya masih memendam benci buat kamu dan itu sudah sewajarnya karena kamu sudah menyakiti hatinya!" ucap Biru pada dirinya sendiri.
Lalu, Biru menjawab, " memangnya kenapa dengan statusmu, aku hanya bertanya saja, kalau boleh aku jujur, aku sakit May, anakku memanggil ayah pada pria lain dan memanggil om pada ayahnya sendiri!"
"Bukan salahku, lagipula kamu sudah memiliki anak bersama wanita itu, kan." Maya bersedekap dada dan memilih untuk duduk di sofa panjang yang tersedia.
"Iya, aku tau, semua salahku!" jawab Biru seraya bermain dengan Ifraz dan Maya memperhatikan itu.
Bodohnya Biru, pria itu tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, pikirnya, dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan Maya dan Bram.
__ADS_1
"Ifraz, dia ayah kamu, nak. Ayah yang selama ini kamu tanyakan," ucap Maya dalam hati.
Dan setelah mendapat izin dari Maya untuk mendekati Ifraz, sekarang Biru lebih sering menemuinya.
Bahkan Biru juga yang membayar semua tagihan rumah sakit Ifraz, sekarang, setelah beberapa hari dirawat, Ifraz sudah di perbolehkan untuk pulang dan Maya meminta untuk diantar ke rumah Gala.
Biru membuka pintu taksi untuk Maya dan itu dilihat oleh tetangga Maya.
"Kalian rujuk ya?" tanyanya yang sedang menyiram tanaman di depan pagar.
Maya dan Biru hanya saling diam, tetapi tidak dengan hatinya.
"Aku merasa tidak pantas untuk Maya, aku telah menyakiti perasaannya, dia terluka karena aku!" batin Biru.
Setelah itu, Maya mengucapkan terimakasih pada Biru.
"Maaf, ya. Aku nggak bisa ajak kamu masuk, aku takut jadi fitnah."
"Nggak papa, aku ngerti kok, ya udah aku pamit dulu," kata Biru yang kemudian mencium pipi kanan dan kiri Ifraz.
"Om sayang kamu! Cepat sehat, jangan sakit lagi! Nanti om datang lagi, ya!" kata Biru seraya mengusap pucuk kepala Ifraz dan Ifraz yang sudah beberapa hari ini dekat dengan Biru pun merengek padanya supaya bermain bersama.
"Nanti mamah kamu marah kalau om masih di sini," bisik Biru dan Ifraz langsung melirik pada Maya.
Setelah mengatakan itu Biru benar-benar pergi dari rumah Maya.
****
Biru meminta untuk diantar ke toko pada supir taksi tersebut, di sana Pia sudah menunggu bersama dengan Aris.
"Itu, ayah kamu datang," kata Aris yang melihat Biru sedang berjalan ke arahnya dan Pia yang sedang duduk di atas meja langsung meminta turun pada Aris.
"Anak ayah rewel nggak?" tanya Biru yang baru saja masuk toko.
"Enggak, dia anteng," kata Aris dan Pia langsung menagih janji Biru.
"Eskrim Pia, Ayah?" tanya Pia.
"Oh iya, ayah lupa, nanti pulang dari toko kita beli es, ya!" bujuk Biru dan Pia menolak karena Biru sudah berjanji sepulang dari rumah sakit akan membawakan eskrim untuknya.
Sekarang, Biru membawa Dinara ke toko seberang untuk membeli es krim kesukaan Pia.
"Pia, kamu itu nggak boleh kebanyakan makan es!"
"Bolehnya sehari satu ya, ayah?" tanya Pia dengan polosnya.
Biru hanya menarik nafas dalam dan segera membawanya kembali ke toko.
__ADS_1
"Pia, besok ayah kenalkan kamu sama saudara kamu, mau?" tanya Biru dan Pia hanya menganggukkan kepala.
****
Setelah mendengar kabar kalau Ifraz sudah pulang, Murni segera meminta diantar ke rumah Maya.
Di sana, Murni memprotes Maya.
"Kenapa nggak pulang ke rumah Mamah?"
"Mah, Maya mau tinggal di sini, Maya juga mau mencari kerja," jawab Maya.
"Kamu ini apa-apaan! Kamu adalah ibu dari ahli waris Wijaya, kamu hanya boleh fokus membesarkan, merawat anak kamu, dengar Maya, kamu tidak perlu merasa tidak enak, ini semua milik anak kamu!"
"Tapi, Mah. Bagaimana dengan Mas Biru? Maya seperti seorang pencuri."
"Baiklah, kalau kamu memaksa untuk tetap tinggal di sini, tapi ingat, yang perlu kamu lakukan adalah membesarkan anak kamu, bukan bekerja di luar di rumah!" Setelah mengatakan itu Murni pamit untuk kembali pulang, tak ingin berdebat dengan Maya.
"Mah, ahli waris itu apa?" tanya Ifraz dan Maya menatap anaknya, belum sempat Maya menjawab Ifraz sudah bertanya dengan pertanyaan lain.
"Kalau rujuk itu apa, Mah?"
"Astaga, kenapa pertanyaannya susah sekali untuk dijawab!" batin Maya.
"Nanti kalau Ifraz sudah besar pasti tau, kok!"
****
Keesokan harinya, Biru mengajak Pia ke rumah Maya dan Maya masih mengenali Dinara yang tempo hari dibawa oleh Murni.
"Loh, itu kan Dinara?" gumam Maya yang sedang berdiri di pintu.
"Salim sama tante!" kata Biru dan Pia meraih tangan Maya, mencium punggung tangannya.
"Kenalin, dia Pia? Anak asuh aku!" kata Biru.
"Pia? Bukannya dia Dinara? Kamu udah baikan sama Mamah?"
"Maksud kamu?" tanya Biru tak mengerti.
"Jadi kamu ketemu sama dia di mana?" tanya Maya dan Biru menjelaskan semua dari awal dan Biru yang mendengar nama Dinara pun menjadi penasaran.
"Dari mana kamu tau namanya Dinara?"
"Aduh, aku takut salah bicara, kalau kamu mau tau lebih baik kamu tanyakan saja sama Mamah," jawab Maya, setelah itu mempersilahkan Biru dan anaknya untuk masuk.
Bersambung.
__ADS_1