
Maya mencoba untuk menerobos Biru tetapi lengan kekarnya itu berhasil menahan Maya yang mungil.
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak sabar untuk menikmati itu bersamaku lagi?"
bisik Biru tepat di telinga Maya.
"Aku sudah tidak menginginkan kamu lagi!" jawab Maya dengan tegas dan secepat kilat Biru membawa Maya ke ranjang, pria itu berniat untuk memperk*osa mantan istrinya.
Maya menangis sesenggukkan tetapi Biru tetap saja mencumbunya secara paksa.
"Tolong!" lirih Maya dengan air mata terus menetes dari pelupuk matanya tidak lama kemudian Maya melihat sebuah tongkat melayang ke arah tengkuk Biru.
BUGH!
Seketika Maya merasakan tubuh Biru yang tak berdaya jatuh diatasnya.
Maya terdiam dan tidak lama kemudian Maya melihat wajah Bram di belakang Biru. Pria itu memegang tongkat baseball, ya, Bram telah memukul Biru.
"Bram, a-apa yang kamu lakukan?" lirih Maya dengan sedikit terbata.
Bram tidak menjawab, pria itu membuang tongkat ke sembarang arah, mengusap wajahnya kasar.
Setelah itu segera melempar handuk untuk menutupi tubuh Maya.
Bram membalikkan tubuh Biru dan meletakkan telunjuknya di hidung.
Sementara Maya segera kembali memakai handuk kimononya.
"Dia tidak bernafas, May!" lirih Bram seraya melihat ke arah Maya, terlihat raut wajah paniknya.
Maya menggelengkan kepala.
"Kita harus melaporkannya ke polisi!" ucap Maya, wanita itu berjalan meraih ponselnya yang berada di nakas.
Bram merebut ponsel itu melarang Maya untuk menghubungi polisi.
"May, kita nggak bisa hubungi polisi, aku nggak mau dipenjara, May!"
"Tapi kita harus berbuat apa? Bagaimana dengan dia, ini semua salah ku, karena kamu menolong ku. Biar aku yang menyerahkan diri ke polisi!"
"Jangan bodoh, May. Anak kamu membutuhkan kamu!" ucap Bram.
"Kita harus menyabotase kematiannya!" kata Bram, pria itu menatap penuh keyakinan pada Maya.
Sedangkan Maya, wanita itu merasa takut.
__ADS_1
Berfikir, entah yang akan ia lakukan adalah benar atau tidak. Tetapi Maya membenarkan ucapan Bram yang mengatakan kalau Ifraz membutuhkannya.
"Bram!" lirih Maya, wanita itu bingung dan Bram meyakinkan Maya.
"Cepat pakai pakaian kamu, May!" perintah Bram, pria itu memapah Biru ke ruang tamu setelahnya melihat ke luar rumah dan terlihat sepi dengan segera Bram membawa Biru masuk ke mobilnya.
Sekarang Maya sudah menyusul Bram dan Biru, duduk di samping kemudi sedangkan Biru didudukkan di bangku belakang seolah tertidur.
"Apa yang akan kita lakukan, tidak ada yang lebih baik selain melaporkan masalah ini!"
"Kamu tenang saja, kita harus membawa mayatnya ke pantai yang biasa dia datangi!"
"Apa?" tanya Maya tak percaya.
Setelah itu, Bram mengendarai mobil Biru membawanya ke pantai dan di sana Biru digeletakan di atas bebatuan seolah terjatuh dengan tengkuk yang mengenai batu.
"Kamu yakin, Bram?" tanya Maya, matanya melihat ke sekitar pantai, terlihat gelap bahkan Bram pun tak terlihat lagi.
"Bram!" teriak Maya, wanita itu berputar mencari keberadaan Bram tetapi yang ditemuinya adalah Biru sudah berdiri di belakangnya, menatapnya tajam membuat Maya berteriak.
"Aaaaaaaaaa!" Maya terkejut, bagaimana mungkin tadi Biru yang sudah tidak bernafas sekarang sudah berdiri di belakangnya, menatapnya tajam.
Maya terus berteriak, wanita itu sangat takut pada Biru yang mengarahkan tangannya ingin mencekik, Maya pun berlari terus menghindari Biru tetapi Maya berlari seperti tidak berujung wanita itu merasa lelah, walau sudah berlari sejauh mana Biru selalu berada di belakangnya sampai Maya yang terus berlari itu harus menemui tebing.
Maya tidak ada pilihan lain selain melompat dari tebing itu tetapi Maya tidak merasakan sakit setelah terjun bebas, ia hanya merasa lelah dan dia situlah Maya baru menyadari kalau apa yang baru dialaminya itu adalah mimpi.
HOSH... HOSH... HOSH!
Deru nafas Maya yang terengah.
Wanita itu segera memakai bajunya dan mengusap dadanya.
"Ya Tuhan, mimpi itu seperti nyata!" gumam Maya dalam hati, setelah selesai berpakaian sekarang Maya membuka pintu kamar, ingin menyiapkan makan malam untuknya dan Gala.
Betapa terkejutnya Maya, wanita itu berteriak,
"Aaaaaa!" teriak Maya, wanita itu melihat Biru sudah duduk di ruang keluarga dengan memainkan ponselnya, menatap Maya yang baru saja keluar dari kamar, menyenderkan punggung tadi hampir terjatuh karena saking terkejutnya.
"Kenapa? Apa kamu merindukan ku?" tanya pria itu seraya bangun dari duduknya, menyimpan ponselnya ke saku celananya.
"Astaga, ya Tuhan... kenapa persis seperti mimpi itu?" tanyanya dalam hati.
Maya tidak menjawab, wanita itu berlari keluar dan ternyata pintu itu sudah Biru kunci.
"Kamu nggak akan bisa kemana-mana!" ucap Biru seraya meraih lengan Maya.
__ADS_1
"Lepas!" teriak Maya seraya meronta tetapi Biru memelintir tangan Maya.
"Aku harus bisa membuat kamu hamil, May. Dengan begitu kamu baru mau kembali lagi pada ku bukan?" bisik Biru di telinga Maya dan Maya menginjak kaki Biru sekuat tenaga.
Biru yang tidak merasakan sakit itu melepaskan tangan Maya, membiarkan Maya terus menggerakkan gagang pintu.
"HAHAHAHA!" tawa Biru, pria itu semakin membuat Maya takut.
"Walaupun aku hamil lagi, aku tidak akan kembali pada mu!" jawab Maya.
Lalu Maya menjadi tegang saat Biru berjalan kearahnya. Secepat kilat Biru melempar Maya ke sofa di ruang tamu.
Biru menindihnya dan tangan Maya meraih vas bunga yang berada di meja.
CRAH!
Maya memukul kepala Biru menggunakan vas bunga tersebut.
Biru menjadi pusing dan tangannya mengusap kepalanya itu, pria itu berdarah.
Tidak memperdulikan itu Biru kembali melihat Maya yang panik, masih berada di bawahnya dan Biru mencumbu paksa Maya lalu Biru dan Maya melihat ke arah pintu yang terdobrak dengan bersamaan.
Secepat kilat pria yang berada di pintu itu menarik punggung Biru, meninju perutnya, rahangnya, pria itu yang tak lain adalah Bram tak memberi ampun pada Biru.
Lalu, Maya menahan Bram supaya tidak melanjutkan aksinya.
"Berhenti Bram!" perintahnya seraya menahan tangan Bram.
"Lepas!" geram Bram seraya mengibaskan tangan Maya.
"Uhuk!" Biru terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Dia bisa mati dan kamu akan masuk penjara!" Maya mengingatkan.
Sementara itu, Biru menertawakan Maya dan Bram.
HAHAHAHA!
"Maya... Maya! Seharusnya kalau kamu mau mencari pengganti ku, setidaknya kamu harus mencari yang lebih segalanya dari aku! Jangan pria bayaran seperti dia!" ledek Biru, setelah mengatakan itu Biru mencoba untuk bangun dan keluar dari rumah Maya dengan tergopoh.
"Aku tidak menilai seseorang dari latar belakangnya," jawab Maya dan Biru menghentikan langkahnya.
"Iya kah? Kalau begitu, apakah kamu mau kembali padaku yang sudah menjadi gembel ini?" tanya Biru tanpa melihat Maya.
"Tidak!" jawab Maya dengan tegas.
__ADS_1
Bersambung.