
Setelah mengatakan itu, Biru menyodorkan uang yang sudah disiapkan.
"Ambil ini dan kita sudahi semua ini!"
Mendengar apa yang diucapkan oleh Biru membuat Bambang merasa sakit, pria itu membeli anaknya di depan matanya sendiri, tetapi Bambang tidak ingin terbawa emosi dan ingin mencari jalan tengah karena walau bagaimanapun Hafizah tengah mengandung anak dari pria itu, Bambang tidak ingin karena emosinya meledak membuat Biru semakin yakin untuk meninggalkan anaknya.
Lalu, terdengar suara Hafizah yang memohon pada Biru membuat Bambang tersadar dari pikirannya.
"Tapi, Mas. Bisa kah kita bertahan? Setidaknya sampai anak ini lahir!"
"Anggap uang ini untuk membiayai dirimu sampai melahirkan, setelah itu aku akan mengambil anak ini!" ucap Biru yang kemudian bangun dari duduknya.
"Berhenti menggangguku!" lanjut Biru, pria itu berbicara penuh penekanan.
Tetapi, Hafizah tidak berhenti sampai di situ, wanita itu tidak mau kehilangan Biru yang sudah dianggapnya sebagai dewa penolongnya.
"Lalu? Untuk apa Mas Biru selalu menolongku selama ini? Bahkan saat aku diganggu oleh preman?"
"Hanya kebetulan," kali ini Ran yang menjawab, karena Ran sangat tahu betul kalau Biru sudah sangat jengkel sampai ingin menyingkirkan Hafizah.
Sekarang Biru sudah kembali duduk di mobilnya disusul oleh Ran dan begitu duduk, Biru langsung meminta ponsel pada Ran.
"Hape!" ucapnya.
Segera Ran memberikan ponsel miliknya membuat Biru berdecak.
"Ck. Ponsel saya mana!"
"Maaf, Tuan. Saya tidak melihatnya!" jawab Ran seraya mulai mengemudikan mobil mewah Biru, sementara itu, Biru tidak menyadari kalau dirinya tengah menjadi bahan gosip tetangga Hafizah yang melihat kedatangannya.
"Beneran itu suami Hafizah?" tanya salah satu tetangga yang sedang berkerumun di tukang sayur keliling tidak jauh dari rumah Hafizah, mereka semua memuji ketampanan Biru dan mereka juga bertanya-tanya kenapa suami Hafizah terlihat babak belur.
****
Di rumah Lisna.
Maya semakin merasa resah karena Biru sampai sekarang tidak juga membalasnya bahkan membaca pesan darinya pun tidak.
"Gala, mbak ada urusan dulu sebentar, titip Ifraz ya, botol susu semua udah mbak cuci!" kata Maya yang berdiri di pintu kamar Gala, terlihat Gala dan Bram sedang mengerjakan tugas kuliah.
__ADS_1
"Mau gua antar, May?" tanya Bram.
"Enggak, makasih," jawab Maya yang kemudian pergi dari kamar Gala diikuti oleh Gala dan Bram, mereka pindah ke ruang keluarga, mengerjakan tugas di sana seraya menjaga Ifraz yang tertidur di kamar Maya.
Sementara itu, Maya sudah dalam perjalanan, mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kantor Biru.
Sesampainya di sana, Maya tidak melihat suaminya, Maya pun memilih untuk menunggu, duduk di sofa panjang yang berada di dalam ruangan itu.
Maya kembali mengambil ponselnya dari tas tangannya, berulang kali mengecek ponsel barang kali Biru membalas pesannya dan selama Maya tidak mengetahui kabar suaminya itu menjadi berfikir yang tidak-tidak.
"Apa dia sedang bersama dengan wanita itu?" gumam Maya, merasa gerah membuat wanita itu ingin segera menyelesaikan masalah keluarganya, ia ingin kembali tenang sebelum kehadiran Hafizah di tengah keluarganya.
Maya berniat untuk mencari Hafizah, menurunkan harganya dirinya untuk memohon pada wanita itu agar mau meninggalkan Biru.
Dan baru saja Maya membuka pintu ruangan itu sudah datang Biru dan Ran yang berada di belakang suaminya.
"Maya!" seru Biru, pria itu langsung memeluk istrinya yang dirindukan dan Maya pun hanya diam saja wanita itu masih kesal pada suaminya, Maya pun melepaskan pelukan itu dan melihat wajah Biru yang penuh lebam membuat Maya tidak dapat menahan rasa perhatiannya walau untuk sebentar saja.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Maya seraya mengusap luka di wajah suaminya.
"Aku tidak apa, Maya. Luka ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang telah ku perbuat," jawab Biru, kembali pria itu membawa Maya ke pelukannya.
****
"Lepas, Mas!" perintah Maya seraya berusaha melepaskan pelukan Biru.
Biru pun berlutut pada Maya, meminta untuk tidak pergi lagi dari rumah.
Maya bersedekap dada, membelakangi suaminya.
"Itu tergantung sama kamu! Selama kamu belum membereskan urusanmu dengan Hafizah aku tidak akan pernah pulang ke rumah mu!"
Kemudian Maya kembali merasakan pelukan hangat dari Biru. Ya, Biru memeluk Maya dari belakang.
"Aku sudah membereskannya, tapi ada yang ku minta darimu, May!" lirih Biru di telinga Maya.
Sedangkan Maya, wanita anggun itu masih diam. Tidak ingin banyak bicara dan Biru yang menyadari kalau istrinya masih bersikap dingin itu mengurungkan niatnya untuk mengatakan agar Maya menerima anak itu.
"Kenapa harus Maya yang merawat, sedangkan aku bisa membesarkan anak itu dengan bantuan suster di tempat lain!" gumam Biru dalam hati.
__ADS_1
Maya pun penasaran dengan apa yang akan Biru katakan.
"Apa?"
"Aku minta maaf, Maya! Seperti yang malam itu kamu katakan, kita sama-sama berjuang menjaga hubungan kita," kata Biru.
"Kamu janji tidak akan mengulangi?"
"Iya, aku janji!"
"Aku tidak mau lagi merasakan perihnya dikhianati!" ucap Maya, wanita itu pun mengatakan kalau dirinya akan pulang ke rumah setelah suasana hatinya membaiknya.
"Nanti sore aku jemput kamu, May!" kata Biru, pria itu memutar tubuh Maya membuat menghadap dirinya dan Biru memajukan wajahnya ingin mengecup bibir Maya tetapi Maya memalingkan wajahnya, rupanya Maya masih belum bisa memaafkan Biru sepenuhnya.
Melihat itu pun Biru tidak memaksa.
****
Di tempat lain.
Bambang sedang menangis, sama sekali tidak memiliki harga diri di depan Biru.
Sedangkan Hafizah, dia merasa kalau semua sudah benar-benar berakhir.
"Ayah," lirih Hafizah, wanita itu masih menundukkan kepalanya.
"Afi juga tidak mau seperti ini, malam itu Afi sangat buntu sehingga menawarkan diri pada Mas Biru yang menyelamatkan Afi, Afi berfikir lebih baik menikah siri daripada harus menjadi wanita penghibur," lirih Hafizah, wanita itu meneteskan air matanya.
"Ini semua salah ayah, ayah yang gagal menjadi kepala keluarga. Lalu, bagaimana dengan bayi yang ada di kandunganmu itu? Sudah pasti keluarga kita akan menjadi gunjingan semua orang setelah perutmu membesar dan Biru tidak lagi terlihat ada di sisimu!"
"Afi juga tidak tau, sekarang harus berbuat apa!" jawab Hafizah. Ia mengusap air matanya.
"Kembalikan uang itu dan kita harus pergi dari sini!" perintah Bambang seraya bangun dari duduknya meninggalkan Hafizah yang menatapnya nanar.
"Apa aku harus menyerah? Tapi kalau nanti aku beneran hamil gimana? Aku tidak mau menanggung malu menjadi janda disaat sedang hamil!" gumam Hafizah dalam hati.
Hafizah menatap uang yang sangat banyak itu masih utuh berada di depan matanya.
"Yang harus aku lakukan adalah menjadi gadis polos untuk menarik perhatiannya lagi!" gumam Hafizah seraya menutup koper yang berisikan uang itu.
__ADS_1
Bersambung.