
Di sebuah taman, Pia mengajak Biru membeli jagung bakar, Biru terus memperhatikan Pia yang tersenyum kuda.
"Biasanya ada sesuatu kalau dia udah nyengir gitu!" kata Biru dalam hati dan benar saja, baru saja Pia menutup mulutnya sudah datang Karena dan tantenya.
Karen menepuk bahu Pia dan tantenya yang bernama Selly itu berdiri di samping Karen.
Setelah itu, Pia mengenalkan Tante Selly pada Biru.
"Ayah, kenalkan, ini tante Selly, dia tetangga Karen, status masih janda ditinggal mati!" lirih Pia pada Biru.
"Apa gue bilang!" gumam Biru dalam hati.
Belum sempat Biru menjawab, Karen sudah menarik lengan Pia, mengajaknya pergi supaya tidak mengganggu yang sedang pedekate.
"Pia, mau kemana kamu?" seru Biru.
"Belanja!" jawab Pia dan Karen seraya tertawa cekikikan. Keduanya berjalan keluar dari area taman dan saat itu juga Pia melihat Ifraz dan Zen sedang berboncengan sangat mesra, tangan Zen masuk ke saku hoodie Ifraz.
Bukan hanya Pia yang melihat, tetapi juga Karen, gadis itu menggoyangkan lengan Pia.
"Pi, Ifraz, Pi!"
"Gue tau, Ren! Gue masih bisa liat!" jawab Pia ketus.
"Kan yang jalan mereka berdua, kenapa lo marahnya sama gue!" jawab Karena.
Pia menghentakkan kakinya, mengerucutkan bibirnya, setelah itu mengajak Karena untuk pulang ke villanya.
"Balik aja yuk, udah nggak mood gue! Mending nonton drakor aja!" kata Pia seraya menarik lengan Karen.
Selama perjalanan itu, Pia bercerita kalau dirinya menyesal telah menerima pertemanan dari Zen beberapa bulan lalu.
"Sebenarnya bukan salah Zen juga sih, kan Ifraz nggak tau juga perasaan lo, Pi!" lirih Karena, gadis itu melirik Pia, takut akan salah berbicara.
"Huaaaa!" Pia menangis, menyembunyikan wajahnya di lengan Karena.
Tanpa terasa, sekarang keduanya sudah sampai di villa, dua gadis itu naik ke lantai atas dan ternyata tetangganya itu yang tak lain adalah keluarga Ifraz terlihat sedang asik memanggang di halaman belakang.
"Ren, liat, itu kaya mamahnya Ifraz!" ucap Pia seraya menarik jaket Karen.
"Lah, iya. Kenapa bisa kecolongan! Kan lo deket di sini!"
__ADS_1
"Ayah ngelarang gue buat deket-deket sama keluarganya, tapi anehnya, ayah itu dukung gue buat deketin Ifraz!"
"Kok gitu, mungkin nganggep cinta lo itu cinta monyet kali!" jawab Karena seraya ikut memperhatikan Maya dan keluarganya.
"Ifraz mana ya, kok lama dia nggak balik-balik, apa Zen ikut bergabung sama keluarganya?" gumam Pia.
Sementara itu, Ifraz sudah sampai di depan villa Marisa.
"Makasih ya, Faz. Lo udah anterin gue balik, gue makin sayang sama lo!" kata Zenia seraya menundukkan kepala.
"Iya, sama-sama. Udah seharusnya gue anterin pacar gue balik, kan?"
Ifraz tersenyum dan saat itu juga Ifraz membulatkan matanya saat Zenia tiba-tiba mencium bibirnya, sekilas.
"Udah malam, lo balik sana, walaupun gue masih kangen sama lo, tapi udah malam, cepat sana balik!" kata Zenia dan Ifraz tersenyum. Merasa gemas dengan Zenia yang terlihat sangat imut.
"Gue juga kangen sama, lo!" jawab Ifraz.
"Jangan bilang gitu, nanti gue nggak ngijinin lo balik gimana?" ucap Zenia manja.
"Ya udah, gua balik ya, sini dulu, gue mau bisikin sesuatu!" kata Ifraz dan Zenia yang sudah berdiri di depan pagar itu mendekatkan telinganya pada Ifraz dan cup.
Ifraz mengecup pipi Zenia.
"Gue balik, ya. Gue baru ingat kalau di suruh beli Mayones!" kata Ifraz seraya mengacak pucuk rambut Zenia.
"Iya udah, hati-hati!" kata Zenia seraya melambaikan tangan pada Ifraz yang sedang memutar balikkan motornya.
Ifraz tersenyum manis sebelum benar-benar pergi dari sana.
Di perjalanan, Ifraz selalu teringat dengan kecupan yang diberikan oleh Zen, terasa manis membuat Ifraz merasa ingin mengulanginya.
"Ingat kata papah!" batin Ifraz dan pria muda itu kembali fokus dan segera mencari minimarket terdekat.
****
Sementara Biru, pria itu tanpa berbicara, duduk ditemani Selly, sekarang Selly merasa malu sendiri karena sedari tadi hanya dirinya yang mengajak mengajak berbicara dan Biru hanya menjawab iya atau tidak.
"Dingin banget, gimana mau pedekate kalau dia cuma diem aja gitu!" gerutu Selly. Wanita berusia tiga puluh tahun itu memilih untuk pulang.
"Maaf, hari sudah semakin malam, sebaiknya saya segera kembali!" kata Selly dan Biru menjawab, "Oh, iya, silahkan!"
__ADS_1
"Astaga, gue kira bakal nganter kek, apa kek, cuma silahkan!" batin Selly. Wanita tinggi semampai itu bangun dari duduknya.
"Saya permisi!" ucap Selly sekali lagi, berharap pria itu akan berkata apa yang diharapkan.
"Silahkan!" jawab Biru, pria itu tetap duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Astaga, gue kan cewek, kalau gue di suruh ngerayu es ini ya malu lah, gue!" batin Selly, setelah itu Selly benar-benar pergi meninggalkan bangku taman, wanita itu segera menghubungi Karen dan mengatakan kalau dirinya ingin pulang ke Jakarta malam ini juga.
"Tapi udah malam, tan. Besok aja, ya!" jawab Karen.
"Nggak bisa, gue gerah di sini, wanita secantik gue di sia-siain sama duda! Lain kali kalau nyari om-om pastikan yang hangat orangnya, ya!" gerutu Selly, wanita itu merasa sebal pada ponakannya.
"Ganteng sih boleh, tapi dingin, masa cewek suruh mepet-mepet duluan, mana di ajak ngobrol cuma jawab iya, enggak, iya lagi!" Selly menggerutu.
****
"Pia!" geram Biru dalam hati. Pria itu berjalan dan melewati Selly berdiri tanpa melihat ke arahnya.
Selly membatin, "Sombong banget, mentang-mentang ganteng dan tajir!"
Biru mempercepat langkah kakinya, setelah beberapa menit sekarang pria itu sudah sampai di villanya, terlihat Pia sedang duduk seorang diri di sofa lantai atas seraya memperhatikan keluarga Maya.
Biru ikut duduk di sana, merebut cemilan yang berada di tangan Pia.
Keduanya memperhatikan ke villa seberang bersamaan.
"Andaikan yang ada di sana itu aku!" batin Biru.
Sedangkan Pia, ia berandai kalau dirinya menjadi menantu di keluarga itu, pasti akan merasa bahagia.
"Ayah, kapan kita akan seperti mereka?"
"Kenapa? Kamu sudah besar Pia, bahkan sekarang kamu sudah mau lulus lalu kuliah, kenapa masih merengek saja, memangnya kamu tidak bahagia memiliki ayah?" tanya Biru, pria itu menatap Pia.
"Bukan tidak bahagia atau tidak bersyukur, kan wajar kalau Pia ingin ayah menikah lagi, jadi nanti setelah Pia menikah dan ikut suami ada yang menemani ayah," lirih Pia, gadis itu menitikkan air matanya, merasa kalau Biru tidak mengerti niat baiknya.
"Astaga, Pia, jangan merajuk!" kata Biru seraya menatap Pia yang masuk ke kamarnya.
Setelah itu, Biru menyusul, mengetuk pintu dan ternyata itu terkunci.
Bersambung.
__ADS_1
Yuk jangan lupa like dan di favoritkan, ya. Terimakasih, like, komen dan gift/votenya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.