
Pembaca yang baik, biasakan klik like setelah membaca ya, terimakasih atas segala bentuk dukungannya entah itu like, gift dan komen/vote, saya ucapkan terimakasih 🙏. Happy Reading.
Gala mengusir Biru karena yang dicarinya tidak ada di toko.
"Gal, kasih tau Mas di mana Maya!"
"Gua nggak tau! Kalau pun tau gua nggak akan kasih tau lu!" jawab Gala seraya menutup pintu tokonya.
Biru duduk di depan toko, merasakan perutnya sangat lapar karena memang belum makan apapun dari pagi sampai siang hari.
Lalu, Biru membeli nasi bungkus dan memakan nasi itu di dalam mobil seraya mengawasi toko Gala dan Gala mengetahui itu, pria muda itu melihat dari dalam tokonya dan sekarang Gala yang harus kuliah itu keluar dari toko dan tidak memperdulikan Biru yang terus mengawasi.
"Mau sampai kapan lu di situ juga nggak akan ketemu Mbak Maya lagi!" batin Gala, pria berparas tampan dengan jaket hoodie itu pergi mengendarai motornya.
"Di mana kamu, May!" batin Biru.
Pria itu memutuskan untuk menemui Murni, "Ya, aku harus pergi menemui mamah, mamah pasti mau memaafkan aku!"
Sesampainya di sana, Biru menunggu di ruang kerja Murni.
"Ada apa?" tanya Murni yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
Biru berdiri dan memohon dengan memeluk kaki Murni.
"Mah, maafin Biru," lirih Biru, pria itu sama sekali tak mampu menatap wajah Murni.
Murni bersedekap dada.
"Kenapa kamu? Mamah kira kamu sudah bahagia dengan pilihanmu itu!"
"Maaf, Mah," lirih Biru.
"Maaf kamu sudah terlambat! Sebesar apapun kesalahanmu, kamu tetap anak mamah, tapi hukuman tetap hukuman!" kata Murni, wanita itu berusaha melepaskan tangan Biru dari kakinya.
Setelah terlepas Biru tidak berhenti berusaha.
"Mah, Biru akan menerima apapun itu keputusan mamah, tapi Biru mohon, katakan di mana Maya, Mah," lirih Biru, pria itu masih dengan posisi yang sama berlutut dengan menundukkan kepala.
"Dia ada dan baik-baik saja, dia bahagia tanpa kamu yang selalu menyakitinya!" jawab Murni, setelah itu Murni benar-benar pergi meninggalkan Biru yang masih menangis di sana.
"Maafkan Mamah, Nak. Mamah melakukan ini supaya kamu menjadi dewasa dan jera, mamah tidak ingin kamu melakukan hal yang sama untuk kedepannya," batin Murni.
__ADS_1
Biru pun memilih untuk bangun dan pergi menemui Ran, pria itu yakin kalau Ran mengetahui semua.
Benar saja, Biru menghadang perjalanan Ran yang baru saja keluar dari kantor.
Ran masih berada di mobilnya menunggu Biru menghampirinya.
Biru yang sudah turun dari mobil itu segera mengetuk kaca mobil Ran dan Ran membuka kaca mobilnya, ia langsung mendapatkan pertanyaan dari Biru, "Katakan, di mana Maya dan anakku!"
"Maaf, mereka sudah bahagia tanpa anda, Tuan!"
"Nggak usah banyak bicara! Jawab saja pertanyaan ku!"
"Untuk apa Tuan mencari mereka, apa Tuan masih belum puas menyakiti mereka!" tanya Ran, pria itu menatap wajah Biru yang menatapnya datar.
Setelah itu, Ran melepaskan tangan Biru dari pintu mobilnya, Ran memarkirkan mundur mobilnya lalu meninggalkan Biru di sana.
Biru merasa putus asa memilih untuk duduk di trotoar. Membayangkan saat-saat dirinya membohongi Maya, saat dirinya tidak pulang, saat dirinya tidak ada untuk Maya di kala terjatuh.
"Maafkan aku, May!" batin Biru.
Setelah itu, Biru pulang ke rumah kecilnya dan Biru melihat Hafizah sudah menunggunya, duduk di kursi teras dan segera berdiri saat lihat Biru datang.
"Aku minta maaf, Mas. Aku mengakui aku salah, tapi aku minta kamu juga mengerti aku, aku keguguran, harus kehilangan anak aku, aku kehilangan ayah dan aku nggak mau kehilangan kamu!" jawab Hafizah seraya bangun dari duduknya maju satu langkah dan Biru mundur satu langkah. Pria itu menjaga jarak.
"Kamu pikir aku tidak kehilangan semua? Aku kehilangan istri dan anakku yang sekarang entah di mana, aku kehilangan semua kekayaan ku, itu semua karena aku memilih mu, sungguh pengkhianatan yang setimpal yang harus ku dapatkan!"
"Mas," lirih Hafizah seraya melangkah dan Biru kembali memundurkan langkahnya, pria itu merasa sakit hati telah di bohongi oleh Hafizah yang sempat di belanya sampai harus kehilangan semuanya.
"Pergi!" perintah Biru, pria itu menatap datar Maya.
"Kenapa aku harus pergi, aku istrimu, aku akan selalu ada untuk kamu, Mas," jawab Hafizah mengiba.
"Aku menceraikan kamu sekarang juga! Kita sudah bukan suami istri lagi, aku mau kamu pergi!" ucap Biru, pria itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan sisa uang dimiliki olehnya.
Biru melangkahkan kaki dan meraih tangan Hafizah, memberikan uang itu.
"Ambil ini, aku sudah tidak memiliki apapun lagi, jangan ganggu aku lagi, aku mohon!" ucap Biru, pria itu masuk ke rumahnya, meninggalkan Hafizah yang menangis di teras.
Lalu, Biru menghentikan langkah kakinya saat Hafizah mengatakan sesuatu yang membuat Biru merasa kalau itu lah sebenarnya sifat Hafizah.
"Kenapa aku yang pergi? Bahkan rumah ini atas namaku! Jangan lupakan itu!" ucap Hafizah tanpa melihat Biru.
__ADS_1
"Astaga!" geram Biru dalam hati.
Sementara Hafizah, wanita itu tidak mau rugi, sudah kehilangan semuanya dan sekarang wanita itu tidak ingin kehilangan rumahnya.
"Rumah ini pemberian kamu atas namaku, aku yang berhak atas rumah ini, jadi... kamu yang pergi bukan aku!"
Biru tak menjawab apapun lagi, pria itu langsung pergi dari rumah Hafizah dan Hafizah kembali membuat Biru menghentikan langkah kakinya.
"Kalau kamu membutuhkan aku jangan lupa kalau aku akan selalu menunggu kamu di sini!"
"Ck! Tidak tau malu!" gerutu Biru seraya meninggalkan Hafizah.
Sekarang yang ada di pikiran Biru adalah menemui sahabatnya berharap mereka bisa menolong Biru.
****
Bram baru saja mendapatkan pekerjaan, pria itu bekerja menjadi pelayan restoran.
"Apapun itu yang penting bisa buat makan dan biaya kuliah gua!" batin Bram.
Pria itu akan bekerja besok.
Sekarang Bram kembali ke apartemen dan di sana sudah ada Marisa yang menunggu.
"Ngapain lu?"
"Bram, gua butuh duit, teman-teman gua adain jalan-jalan ke Bali, gua mau ikut Bram!" rengek Marisa seraya meraih tangan Bram.
Bram segera menyingkirkan tangan Marisa dari tangannya. "Gua udah nggak punya uang lagi! Lu kalau nggak bisa hidup susah lebih baik lu pulang ke rumah Dady! Gua nggak bisa ikutin gaya hidup lu!"
"Bram, jahat kamu!" rengek Marisa seraya menggoyangkan lengan Bram.
"Bodo!" jawab Bram, pria itu meninggalkan Marisa, masuk ke kamar dan menguncinya.
"Astaga!" Bram menjatuhkan dirinya ke ranjang. "Lu lagi ngapain, May?" gumamnya seraya menatap langit-langit kamarnya.
****
Sementara Biru, setelah ia jatuh miskin siapa temannya yang masih mau berteman dengannya? Bahkan mereka semua menolak kehadiran Biru di rumahnya.
Bersambung.
__ADS_1