Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Ingin Balas Dendam!


__ADS_3

Tiga hari kemudian, pukul 17.55 wib, Hafizah sudah berada di rumah dan ternyata sudah ada Biru di sana yang sedang duduk di bangku teras.


"Kalian dari mana?" tanya Biru seraya mengantongi ponselnya.


"Aku merasa bosan dan ingin jalan-jalan, nggak papa kan, Mas?" tanya Hafizah, wanita itu melirik Bambang memberi kode agar tidak memberitahu Biru yang sebenarnya.


Bambang pun melangkahkan kakinya meninggalkan Hafizah dan Biru yang masih mengobrol.


"Mari masuk, jangan di pintu seperti ini, " kata Bambang seraya membuka kunci pintu rumahnya.


Setelah itu, Hafizah masuk ke kamar lebih dulu, menyembunyikan obat-obatan miliknya, takut Biru akan melihat itu dan bertanya.


****


Maya sedang memikirkan sesuatu, wanita itu ingin membuat Biru merasa kesal dan sekarang Maya teringat kalau Biru sangat membenci petai dan jengkol.


Maya pun menghubungi Susi, memintanya untuk datang ke kamar.


"Tok... tok... tok!" Susi mengetuk pintu.


"Masuk!"


"Permisi, Nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya Susi, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu menundukkan kepala.


"Ya, saya mau mulai sekarang di rumah ini harus ada petai dan jengkol!"


"Tapi, Nyonya. Tuan sama sekali tidak menyukai itu, bahkan Tuan melarang ada dua makanan itu di rumah ini," lirih Susi, wanita itu merasa bingung harus mengikuti yang mana.


"Itu jadi urusanku, urusan kamu membeli saja, besok aku mau sudah ada dua benda itu!" ucap Maya tak ingin dibantah.


Setelah itu, Maya meminta Susi untuk segera keluar dari kamar dan segera mencari pesanannya.


"Maaf Mas. Kamu sendiri yang mengibarkan benderang dengan aku!" batin Maya.


"Aku memang lemah, Mas. Tapi aku tidak bodoh yang mau saja kamu duakan!" Maya berbicara sendiri seraya menatap anaknya yang terjaga.


****


Sementara itu, Gala yang sedang membungkus pesanan customer itu tengah memikirkan Bram yang beberapa hari tidak terlihat.


Gala berfikir untuk meminta Bram menjadi modelnya, seperti jodoh yang tak disangka-sangka yang dipikirkan oleh Gala sudah masuk ke tokonya.


"Weh, dari mana aja, bang?" tanya Gala seraya bangun dari duduknya.


"Liburan dong! Emang lu kerja mulu!" kekeh Bram.


"Nih oleh-oleh buat lu!" kata Bram seraya memberikan pie khas Bali dan kaos oblong.

__ADS_1


Setelah memberikan itu Bram memilih kaos yang ingin dibelinya.


"Gua heran sama lu, duit kaya enggak pernah kering, ya!" kekeh Gala, pria itu menggelengkan kepala seraya menyimpan pemberian Bram.


"Thanks!" kata Gala yang masuk ke ruangan khususnya.


Sedangkan Bram hanya tersenyum kemudian memilih duduk di kursi yang tersedia di distro Gala.


Bram merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan ia menerima pesan dari temannya yang selalu mendapatkan orderan untuk Bram.


Bram membalas pesan itu, "Gue baru balik dari Bali, istirahat dulu!"


"Alah, gampang. Minum aja obat kuat!" jawab teman Bram tidak tertinggal emoticon tertawa terbahak.


"Astaga!" kekeh Bram.


Setelah itu, Gala datang membawakan minuman dingin untuk Bram dan mengatakan niatnya yang meminta Bram untuk menjadi modelnya.


"Kalau gue jadi model entar ada cewek yang kenal terus liat gue berabe!" batin Bram.


"Gue sibuk, Gala. Nggak bisa!" ucap Bram dengan tegas. Pria itu memilih untuk kembali fokus ke ponselnya.


****


Sementara itu, Maya sedang di bantu susternya untuk berlatih berjalan di dalam kamarnya.


Dengan susah payah Maya terus mencoba, wanita itu ingin bangkit untuk dirinya dan Ifraz.


Sedangkan Maya sudah terlihat sangat lelah. "Lebih baik istirahat dulu, Nyonya. Nanti kita bisa berlatih lagi," kata Nia, suster Maya dan Ifraz.


"Ya, kamu benar, sekarang Ifraz juga membutuhkan aku," jawab Maya, wanita itu perlahan kembali duduk ke kursi rodanya dan mendekati Ifraz yang berada di ranjang.


Perlahan, Maya mencoba untuk pindah ke ranjang tanpa bantuan suster. Namun, Maya masih belum bisa melakukan itu sendiri.


Nia pun dengan sigap membantu Maya, setelah itu Nia dan Susi keluar dari kamar Maya.


****


Di dapur, Susi menanyakan pada pekerja yang lain.


"Gimana, udah dapat belum petai sama jengkolnya?"


"Sudah, tapi mau diapakan ini?" tanya Bi Ipah.


"Sudah, yang penting besok kalau Nyonya meminta ini sudah ada!" kata Susi yang kemudian menyimpan pesanan Maya.


Sementara itu, Maya membuka ponselnya dan mendapat kiriman kalau Biru sedang berada di rumah madunya.

__ADS_1


"Rumahnya terlihat berbeda dari rumahnya yang waktu itu, apa Mas Biru membelikan rumah untuk wanita itu?" gumam Maya seraya memperhatikan latar belakang foto tersebut.


"Aku normal saja diselingkuhin, apalagi aku yang tidak bisa berjalan, dia pasti mencari kesenangan di sana!" gumam Maya, wanita itu kembali meletakkan ponselnya di nakas, mengusap wajahnya kasar.


Malam ini Maya tidur berdua dengan Ifraz sementara Biru sedang meminta haknya pada Hafizah.


Tetapi, Hafizah yang baru saja Keguguran itu tak habis akal.


"Mas, hari ini aku merasa keram di bagian bawah perutku, aku takut kalau kita melakukan itu akan berpengaruh pada bayi kita," jawab Hafizah seraya mengusap perutnya.


Mendengar itu membuat Biru tidak tega, lalu mengusap perut Hafizah.


"Jangan nakal di dalam ya."


Hafizah mengusap rambut Biru yang berada di depannya, mengecup perut Hafizah.


"Ya sudah, kalau begitu, sekarang kita tidur, sudah malam!" kata Biru yang kemudian mematikan lampu kamar.


Setelah itu, Hafizah segera masuk ke pelukan suaminya sampai tertidur.


Dalam tidurnya, Hafizah bermimpi kalau Maya yang sedang duduk di kursi roda menertawakan dirinya yang baru saja keguguran.


Hafizah merasa kesal dan sakit karena Maya menertawakan itu berkeringat dingin. Segera Hafizah tersadar, mengusap dahinya yang bercucuran keringat.


Wanita berambut panjang itu meraih jepitan rambutnya dan menggulung rambut, mencari sesuatu untuk mengipasi dirinya yang berkeringat.


"Menyebalkan!" gerutu Hafizah kala ingat mimpi itu.


Hafizah melihat jam di ponselnya, ternyata masih pukul satu dini hari, segera ia menjatuhkan dirinya ke ranjang mencoba kembali untuk memejamkan mata.


Tetapi, Hafizah lagi-lagi teringat dengan mimpi itu membuat Hafizah memikirkan rencana licik untuk membuatnya sedikit tenang.


Hafizah mengambil ponselnya lagi, memotret Biru yang berada di sisinya, lalu Hafizah mengirim pesan itu pada Maya.


Sementara itu, Maya yang terbangun karena merasa haus itu melihat ponselnya berkedip, Maya mengambil itu dan melihat pesan yang Hafizah kirimkan.


Maya memilih untuk tidak meladeni wanita itu, tetapi tetap saja, hatinya tak dapat dibohongi. Maya merasa sakit saat melihat suaminya berada di ranjang bersama dengan wanita lain.


Maya mematikan ponselnya dan meminum air yang sudah tersedia di nakas.


"Hah!" desah Maya yang baru saja menghabiskan segelas air.


"Kata kamu ingin bertanggungjawab atas hidupku, tetapi kamu memilih tidur di sana, melupakan aku yang membutuhkan kamu! Aaiisshh, kenapa aku mengharapkan kamu! Aku ingin melupakan kamu!" gumam Maya, wanita itu semakin bersemangat untuk bangkit, ingin segera dapat berjalan dan ingin membalas dendam semua rasa sakit hatinya.


Bersambung.


Mohon maaf atas kurangnya novel ini, typo dan tanda bacanya.

__ADS_1


Yuk tetap jangan lupa tinggalkan jempolnya di setiap episode.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2