
Murni menunggu Ran di ruang kerjanya, tidak lama kemudian Ran mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk!"
Ran masuk dan menundukkan kepala, tak menatap wanita yang ingin membuktikan pada Biru kalau ucapannya bukanlah main-main.
Ya, Murni sendirilah yang akan menghukum anaknya.
"Bagaimana?" tanya Murni seraya memutar kursi kebesarannya melihat ke arah Ran.
"Semua sesuai dengan yang direncakan!" jawab Ran.
"Bagus! Sekarang kamu kasih hadiah untuk teman Maya itu!" kata Murni dan Ran pun menganggukkan kepala.
Setelah itu Ran undur diri dari hadapan Murni.
"Biru! Bukan orang lain yang akan menghukummu! Mamah melakukan ini berharap kalian saling menyadari arti diri kalian masing-masing! Mamah mau melihat itu dan keputusan tetap ada di tangan Maya!" batin Murni, wanita itu bangun dari duduknya.
****
"Biar gua antar!" kata Bram yang sekarang sedang berjalan beriringan dengan Maya keluar dari kafe.
Maya yang sudah sering diantar pun tidak menolak, lagipula setelah ini mereka akan lebih sering bertemu, begitulah pikir Maya.
Malam ini Maya merasa sangat kuat karena baru saja membalas Biru yang menemui wanita lain di belakangnya.
Maya naik ke motor Bram dan sekarang Bram mulai menghidupkan mesinnya, tidak ada obrolan diantara keduanya membuat Bram jenuh dan ingin sedikit mengerjai Maya.
Bram melajukannya dengan kecepatan tinggi dan berhasil membuat Maya takut, pria itu merasa senang saat merasakan pegangan Maya di pinggangnya semakin erat dan sekarang Bram berhenti mendadak membuat Maya mau tidak mau menempelkan dadanya ke punggung Bram. Tanpa sengaja membuat Bram merasakan benda kenyal yang menempel di punggungnya dan membangunkan sisi kejantanan Bram, tetapi pria itu menutupinya walau sudah sedikit tegang.
Maya menepuk kesal bahu Bram dan menggerutu. "Sengaja banget sih!"
"Makanya pegangan dong!" jawab Bram seraya menarik tangan Maya melingkar ke pinggangnya tetapi Maya menarik kembali tangannya itu.
Bram pun terkekeh melihat Maya yang sedikit gugup.
Setelah itu Bram kembali melajukan motornya dengan tersenyum.
"Astaga, kenapa gua piktor gini! Baru gini aja gua udah tegang!" gerutunya dalam hati.
Bram menggelengkan kepala, menyadari kebodohannya.
Sedangkan Maya wanita mengeratkan pegangannya di kemeja Bram.
__ADS_1
Bram tidak lagi mengerjai Maya, memilih fokus untuk mengendarai motornya, sekarang Bram bertemu lampu merah dan menghentikan motornya, Bram pun meletakkan telapak tangannya di dua lutut Maya membuat Maya sedikit gugup.
"Duh, kenapa jadi kek pacaran gini!" gumam Maya, tetapi wanita itu tidak memprotesnya.
Setelah lampu sudah berganti hijau Bram kembali menggerungkan motor sportnya dan melaju dengan gesit.
Tidak lama Bram dan Maya sudah sampai di depan rumah.
Maya turun dari motor dan tidak lupa melepaskan jaket Bram.
"Terimakasih!" kata Maya seraya mengulurkan tangannya mengembalikan jaket itu dan Bram menerima lalu memakai jaketnya dan masih terasa hangat juga wangi aroma parfum Maya.
Bram menjawab dengan senyum, setelah itu Bram pergi meninggalkan Maya yang masih berdiri di depan pagar.
"Astaga, kok aku deg-degan! Apa karena aku udah ngibarin bendera perang sama Mas Biru?" gumam Maya dalam hati seraya membuka pagar rumahnya.
Maya segera masuk dan menghubungi Ran yang ternyata sedang memanjakan istrinya.
"Halo!" jawab Ran.
"Kamu harus cek setiap pengeluaran dari Mas Biru untuk wanita itu! Setelah itu kamu harus mengirim sejumlah uang yang lebih banyak dari itu! Karena saya istri pertama dan istri sahnya, saya lebih berhak atas itu!"
Setelah mengatakan itu Maya menutup teleponnya.
"Kenapa memangnya?" tanya Popy istri Ran.
"Biasa lah, tapi kali ini aku sangat setuju, lagipula sebentar lagi jabatan Tuan Biru segera berakhir dan sebelum jabatannya itu terguling Nyonya besar ingin memberikan pelajaran terlebih dulu," kata Ran, pria itu kembali memijit bahu istrinya yang sangat manja.
"Ooh, bagus lah, jadi wanita nggak boleh lemah, ya kan sayang?" tanya Popy seraya tersenyum dan mengedipkan mata pada Ran yang SSTI.
"Iya, sayang!" jawab Ran dengan sedikit terpaksa karena dirinya selalu kalah dengan Popinya.
****
Sekarang, Bram sudah sampai di apartemennya, melepaskan jaket itu dan sedikit tidak rela untuk memasukkan jaket tersebut ke dalam keranjang baju kotor, Bram memutuskan akan mencuci jaket itu apabila aroma Maya sudah tak tercium lagi, tanpa Bram sadari kalau tingkahnya yang sedang menciumi jaket itu dilihat oleh Marisa yang sedang duduk di sofa.
"Bram! Lu ngapain?"
Seperti kepergok sedang mencuri, Bram menjadi salah tingkah saat aksinya itu ketahuan oleh kakaknya.
Bram segera menurunkan jaketnya dari wajah dan menjawab seadanya.
"Ngelap keringat!"
Setelah itu Bram memilih untuk masuk ke kamarnya. "Ngapain dia di sini!" gerutu Bram.
__ADS_1
Sementara Marisa mengetuk pintu kamar itu. "Bram, bagi gua uang jajan! Gua mau hangout sama temen-temen!" teriak Marisa dari balik pintu.
"Nggak ada! Udah buat belanja kemarin!" jawab Bram. "Tau dari mana sih gua habis dapat duit!" gerutunya dalam hati.
****
Di Bali, Biru terjaga sampai pagi, memikirkan Maya yang sudah berani menemui pria lain di belakangnya, sekarang pria itu mengemasi barangnya membuat Hafizah mengerucutkan bibirnya.
"Mas, kenapa cepat sekali! Bahkan kita belum belanja oleh-oleh!" rengek Hafizah, wanita itu menolak untuk diajak pulang lebih cepat.
"Nanti kapan-kapan kita bisa berlibur lagi!" jawab Biru seraya menutup kopernya bahkan Biru juga harusnya membereskan barang-barang Hafizah, ia menolak untuk membereskan sendiri karena sedang merajuk.
Biru melihat jam di dinding dan waktu menunjukkan pukul 08.09 WITA.
Setelah itu Biru menyeret koper dan menunggu Hafizah di luar Villa.
Dengan perasaan berat hati Hafizah pun menyusul Biru, wanita itu tidak ingin membuat Biru malas dengannya.
"Aku banyak kerjaan, kemana Hafizah yang selalu mengerti aku?"
Mendengar itu Hafizah pun segera melingkarkan lengannya ke lengan Biru, keduanya masuk ke mobil yang sudah disediakan.
****
Sementara itu, Maya sedang berolahraga di taman samping rumahnya ditemani oleh suster Nia yang menjaga Ifraz.
Maya merasa sangat bugar pagi ini, terlebih lagi perempuan itu tidak ingin terpuruk.
Setelah itu Maya duduk di kursi panjang, ia meminum air yang sudah disediakan sebelumnya, setelah itu menyapa Ifraz yang berada di stroller.
Suster Nia pun memberi tahu Maya kalau ponselnya terus bergetar.
Maya pun mengambil ponselnya yang berada di meja kursi taman tersebut.
Terlihat Bram dan Biru mengirimi Maya pesan tetapi Maya memilih untuk membalas dari Bram.
Maya ingin membuat Biru merasakan rasanya diabaikan.
Sementara Bram, pria itu tersenyum-senyum seraya menyuapkan sarapannya ke dalam mulut.
Bersambung.
Terimakasih buat yang masih setia membaca cerita recehku, jangan lupa tinggalkan dukungan berupa like dan komennya ya, jangan lupa untuk klik love nya supaya tidak tertinggal update terbarunya.
Terimakasih 🥰
__ADS_1