
JANGAN LUPA KLIK LIKE SETELAH MEMBACA, YA 🥰.
Selamat membaca...
****
Daniel melihat air mata itu dan ia segera memeluk Maya.
Mengira kalau Maya masih memikirkan hal buruk tentang Kania yang di culik.
Melihat itu pun Daniel mengurungkan niatnya untuk mengajak Maya bergelut di ranjang.
"Kamu sangat baik, Daniel!" batin Maya yang masih berada di dalam pelukan suaminya.
****
"Sayang!" seru Ifraz dari balik pintu, terus memanggil Pia dan memohon supaya dibukakan pintu itu.
"Nanti!" teriak Pia dari dalam, Pia sedang mengganti pakaiannya yang tercium aroma Ifraz karena tadi telah memeluknya.
Pia yang tidak tega dengan Ifraz itu pun memilih untuk memakai masker.
Selesai dengan itu, Pia membuka pintu dan tersenyum pada Ifraz.
Setelah itu, Ifraz memilih mandi, selesai dengan mandi Ifraz mengajak Pia untuk berjalan-jalan dan berbelanja kebutuhan ibu hamil.
Pertama, Ifraz mengajak Pia untuk mencari parfum yang Pia inginkan, berharap Pia tidak lagi menolak dekat-dekat dengannya apabila Pia yang memilih parfum.
Setelah itu, keduanya pergi ke supermarket, di sana Ifraz dan Pia bertemu dengan Bram.
Bram baru saja membeli susu ibu menyusui dan beberapa aneka cemilan sehat untuk istrinya, salah satunya juga ada kacang almond.
"Kalian, bagaimana kabar kalian?" tanya Bram yang berpapasan dengan Ifraz dan Pia.
"Kami baik," jawab Ifraz, setelah itu Ifraz segera mengajak Pia untuk melanjutkan berbelanja.
Sementara Bram, ia mengedikkan bahu dan memilih untuk pulang. Di rumah, Zenia sedang menimang bayinya itu menyambut Bram.
Bram mengajak Zenia duduk dan memberi kabar baik yaitu Bram di berikan kepercayaan oleh Daddynya untuk menggantikan posisi Marisa.
Tetapi Bram menolak, karena ia ingin membesarkan usahanya sendiri, Bram membuka kedai jamu dan usahanya itu lumayan maju bahkan sekarang Bram sudah memiliki cabang di beberapa kota terdekat.
"Aku dukung apapun itu keputusan kamu, Mas," jawab Zenia.
Bram pun mengusap pucuk kepala Zenia dan Zenia masuk ke pelukan Bram.
Bram yang sangat menyayangi Zenia dan anaknya itu menganggap kalau anak itu adalah anak sendiri.
****
__ADS_1
Selesai berbelanja, Ifraz dan Pia memilih untuk pulang, di perjalanan Pia melihat pohon mangga yang berbuah, pohon itu ada di tepi jalan dan Pia meminta pada Ifraz untuk memetik mangga muda itu.
"Astaga, Pia. Malu lah gue manjat-manjat pohon di tepi jalan, mana hari udah gelap juga!"
"Kamu gitu, aku mau mangga itu!" rengek Pia seraya terus menatap pohon mangga yang sudah terlewat itu.
Ifraz yang mengingat kejadian permen kapas itu pun tak ingin mengulang kejadian tersebut.
Ifraz menepikan mobilnya dan melihat dari spion, terlihat masih ada tukang becak dan ojek yang masih mangkal di bawah pohon itu.
"Kamu tunggu di sini," kata Ifraz seraya membuka sabuk pengaman dan Pia yang memperhatikan Ifraz itu menganggukkan kepala.
Ifraz menghampiri tukang becak tersebut yang terlihat sudah tua.
"Permisi, Pak."
"Iya, mau kemana, Mas? Saya antar!" jawab tukang becak itu dengan bersemangat.
"Bukan, Pak. Saya mau minta mangga muda yang di atas boleh?" tanya Ifraz dengan sopan.
"Oh, boleh, Mas. Memang sudah biasa banyak yang metik mangga di sini buat rujak," jawab bapak becak.
Setelah itu, Ifraz pun segera memanjat pohon mangga yang tidak terlalu tinggi itu, sayangnya baru saja sampai di dahan pertama Ifraz sudah digigit semut.
Ifraz memilih untuk segera meloncat.
"Astaga, banyak semut!" ucap Ifraz seraya mengusap lengannya.
pria tua itu mengambil galah yang tersimpan di tepi jalan.
Ifraz memperhatikan bapak itu dan membantin, "Kalau ada galah kenapa enggak bilang dari tadi?"
"Pakai ini, Mas. Ini galah orang-orang yang bawa buat kalau mau metik mangga dan sengaja di tinggal di sini," kata pria tua itu seraya memberikan tiga buah mangga muda.
"Lagi nggak, Mas?" tanya bapak tersebut.
"Cukup, Pak. Ini juga saya nggak yakin di makan apa enggak sama istri saya, setau saya dia nggak suka makan asam," jawab Ifraz.
Setelah itu, Ifraz memberikan uang 200 ribu rupiah untuk bapak tersebut sementara becak yang lain dan tukang ojek yang ada di sana Ifraz bagikan masing-masing 100 ribu.
Ifraz mendapatkan banyak doa dari orang-orang tersebut, "Terimakasih, Mas. Semoga berkah dan semakin sukses dunia, akhirat."
"Aamiin, kalau begitu saya permisi," kata Ifraz seraya mengatupkan dua telapak tangannya.
Sekarang Ifraz kembali ke mobil dan memberikan mangga muda itu pada Pia.
"Makasih, sayang," kata Pia dan Ifraz membalas dengan senyum.
Pia melihat lengan Ifraz yang memerah karena di gigit semut.
__ADS_1
"Maaf, ya. Gara-gara aku, kamu jadi digigitin semut!" kata Pia seraya mengusap lengan Ifraz.
"Nggak papa, demi anak kita, apapun akan ku lakukan!" jawab Ifraz.
Lalu, keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
****
Di rumah Daniel, ia sedang menemani Kania di kamar dengan posisi Kania berada di tengah.
Daniel mengusulkan pada Kania untuk belajar ilmu beladiri dan Maya pun sangat setuju.
"Tapi kamu aman, kan? Tadi nggak di apa-apain?" tanya Daniel dan Kania pun menganggukkan kepala.
Sekarang, Maya dan Daniel menemani Kania tidur di kamarnya.
****
Setelah Zenia dan Bram menemukan kebahagiaannya, sekarang setelah 9 bulan Ifraz menjadi suami yang siaga selama kehamilan istrinya, Ifraz juga selalu sabar dengan tingkah Pia yang selalu menguji kesabaran, sekarang Pia sedang berjuang di ruang persalinan.
Di temani Ifraz yang selalu menggenggam tangannya, di sisinya, menghapus buliran mata yang keluar dari pelupuk mata Pia.
Pia juga mengikuti arahan dari dokter yang membantu bersalin.
Sekarang, Pia diminta untuk mengejan dan bayi itu sekarang sudah lahir dengan selamat, sehat dan tampan seperti Ifraz.
Maya, Daniel dan Biru yang menunggu di depan ruang bersalin itu merasa bahagia setelah mendengar suara tangis dari cucu yang dinanti itu.
Biru menitikkan air mata saat mendengar suara tangis itu, teringat dengan masa lalunya saat Maya melahirkan Ifraz.
Lalu Biru melihat ke bangku seberang di mana Maya dan Daniel duduk, terlihat Daniel memeluk Maya.
Setelah bayi itu sudah di bersihkan dan di adzan kan, sekarang bayi itu di bawa ke ruang khusus bayi, Maya mengikuti suster yang membawa bayi itu.
Maya takut kalau bayi itu akan tertukar dan Maya menjadi nenek yang sangat menjaga cucu nya.
Selamat untuk kebahagiaan Maya, Ifraz dan Pia 🥳🥳.
****
Di ruang persalinan, Pia menanyakan kemiripan anaknya.
"Anak kita mirip siapa?"
"Mirip kita, mungkin dia mau adil, sayang," jawab Ifraz yang masih setia menemani Pia.
"Sekarang di mana dia?"
Pia menggenggam lemas tangan Ifraz.
__ADS_1
"Di ruang khusus bayi, nanti kita bertemu di ruang rawat sama dia," lirih Ifraz.
Bersambung.