
Setelah beberapa hari, sekarang Biru sudah mendapatkan pekerjaan sebagai staf biasa di sebuah perusahaan kertas.
Biru yang sebagai karyawan baru itu selalu diperintah oleh para seniornya.
"Hai, kamu! Tolong fotocopy ini!" ucap salah satu senior Biru seraya meletakkan berkas di atas meja Biru dan Biru melihat ke arahnya.
"Saya punya kerjaan sendiri, kamu juga punya kerjaan sendiri!" jawab Biru yang kemudian mengacuhkan senior itu.
"Eh, anak baru pinter ngelawan, ya!" gerutunya.
"Kenapa? Jangan mentang-mentang saya anak baru bisa kamu suruh-suruh seenak kamu!" jawab Biru, pria itu bangun dari duduk dan beradu mulut dengan seniornya itu dan Biru yang sedang kesal merasa kalau tempat itu tidak cocok dengannya.
Biru memilih keluar dari perusahaan itu dan berfikir akan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.
"Hah! Merepotkan! Apa dulu di kantor mamah ada juga karyawan seperti itu?" gerutu Biru seraya memarkirkan motornya, Biru memilih untuk pulang ke rumah kecilnya dan di perjalanan Biru ingin melihat keadaan rumah lamanya berharap Maya masih di sana.
Sayangnya, rumah itu terlihat sepi hanya pekerjanya saja yang terlihat.
Biru pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah, Biru langsung merebahkan badannya, menatap langit-langit yang terlihat menghitam karena terkena rembesan air hujan.
"Nak, maafkan papah, apakah kita bisa bertemu lagi, papah kangen sama kamu, sayang!" rintih Biru seraya membayangkan Ifraz yang mungkin sekarang sudah bisa tengkurap.
Dan benar saja, Maya melihat anaknya yang sangat aktif itu sudah pandai tengkurap. "Pinternya, anak mamah!" kata Maya seraya membopong Ifraz dan menciumi wajahnya.
"Kamu sangat tampan, seperti papah kamu, tapi, mamah enggak tau nanti kalau kamu tanya papah kamu dimana, mamah harus jawab apa?" kata Maya dalam hati dan lagi-lagi Maya mendoakan yang terbaik untuk Biru.
****
Hafizah terbaring lemah di rumahnya dan merasa kalau dirinya harus bangun, tidak mau mati sia-sia seorang diri.
"Aku harus bangun, aku harus pergi berobat, aku tidak boleh lemah seperti ini!" ucapnya seraya bangun dari tidurnya.
Hafizah yang merasa pusing itu hampir terjatuh dan kepalanya membentur sudut nakas yang berada di samping ranjang.
Hafizah mengusap kepalanya dan ternyata berdarah.
"Aaakhh!" pekik Hafizah, wanita itu meraih ponselnya dan berusaha menghubungi Biru.
"Kenapa aku masih saja berusaha menghubungi dia!" gerutu Hafizah, wanita itu menangis, menginginkan perhatian dari Biru lagi.
Setelah itu, Hafizah menghubungi temannya.
"Halo, Dew. Kamu bisa datang nggak ke rumah aku? Aku-ak-" Belum sempat Hafizah mengatakan apa yang terjadi, wanita itu sudah jatuh pingsan membuat temannya itu panik.
__ADS_1
Dengan cepat, Dewi yang sedang berada di rumah itu pergi menemui Hafizah.
"Bener kok ini alamatnya," gumam Dewi seraya memperhatikan rumah Hafizah dari luar pagar.
"Afi!" teriak Dewi dari luar. Lalu, Dewi bertanya pada tetangga sekitar, memastikan, benarkah itu rumah Hafizah.
"Iya, benar. Tapi sudah beberapa hari ini kami tidak melihatnya, terakhir lihat itu pas Mbak Hafizah berantem sama suaminya di teras," jawab tetangga Hafizah yang.
"Suami?" tanya Dewi, gadis itu sedikit bingung karena yang ia tau Hafizah belum menikah.
"Orangnya yang ini?" tanya Dewi seraya menunjukkan foto Hafizah.
"Iya, benar."
"Kalau begitu terimakasih, saya permisi," kata Dewi yang kemudian memberanikan diri untuk membuka pagar rumah Hafizah.
"Afi!" teriak Dewi dan masih tidak ada jawaban membuat Dewi semakin berfikir yang tidak-tidak.
Dewi pun mencari ke kamar dan gadis itu sangat terkejut saat melihat Hafizah tergeletak di lantai dengan kepala yang berdarah.
Segera Dewi mencari pertolongan, membawa Hafizah ke rumah sakit.
Setelah mendapat penanganan dan Hafizah sudah membuka mata, Dewi langsung bertanya apa yang terjadi dan Hafizah menjawab dengan tangis.
"Kenapa? Kamu udah nggak anggap aku teman lagi?"
Hafizah menggelengkan kepala.
"Bu-bukan!" jawab Hafizah terbata dan Dewi yang merasa penasaran itu kembali bertanya kapan Hafizah menikah.
"Kamu kapan nikah, kok nggak ngabarin aku!" protes Dewi dan Hafizah menghapus air matanya.
"Aku nikah siri," jawab dengan lirih.
"Apa?"
"Iya, aku nikah siri, mungkin sekarang suami aku udah kembali ke istri pertamanya," jawab Hafizah, wanita itu tidak lagi ingin menutupi kebenarannya.
"Ya Tuhan, Hafizah. Pantes aja kamu sembunyikan status kamu ternyata kamu...," jawab Dewi menggantungkan ujung kalimatnya.
"Kamu pelakor?" tanya Dewi dalam hati, gadis mungil itu tak tega bertanya langsung.
"Ya, sesuai dengan apa yang kamu pikirkan!" kata Hafizah, seolah dia mengetahui isi hati temannya.
****
__ADS_1
Di rumah mewah, Marisa duduk menunggu kedatangan dadynya.
Wanita cantik nanti seksi itu duduk dengan menyilangkan kakinya.
Marisa berdecak saat yang menemuinya bukanlah orang dicari.
"Halo anak tidak tau diri! Apakah kamu dan Bram sudah menyerah?" tanya Siska, ia adalah ibu tiri yang berhasil menguasai seluruh harta Brandon. Bahkan Brandon akan selalu menuruti keinginan Siska.
"Saya mau bertemu dengan dady! Bukan anda!" geram Marisa seraya bangun dari duduknya.
"Apakah kamu lupa siapa aku? Aku adalah segalanya bagi dady kamu!"
Mendengar jawaban itu membuat Marisa sangat kesal dan memilih untuk pergi dari rumah Brandon.
Marisa ingin mengadukannya pada Bram kalau dirinya telah di hina oleh Siska.
Sesampainya di apartemen Bram, di sana masih sepi karena Bram masih bekerja.
Marisa menunggu dengan menonton televisi dan menghabiskan camilan yang ada di kulkas Bram.
"Bram... Bram, kenapa lu sekarang jadi miskin, bahkan pelit banget gua minta duit enggak dikasih!" gerutu Marisa, wanita itu menarik nafas dalam dan Marisa menunggu Bram sampai dirinya tertidur.
Sedangkan Bram, selesai bekerja, pria itu pergi kuliah, dirinya ingin menunjukkan pada Brandon kalau dirinya bisa tanpa bantuannya dan yang membuat Bram bangga adalah dirinya menggunakan cara yang halal.
Sekarang tiada hari tanpa memikirkan Maya, pria itu bertekad akan mencarinya.
Lalu, sepulang kuliah Bram pergi menemui Gala ke rumahnya dan ternyata Gala masih masih belum pulang.
Pria itu merencanakan sesuatu demi mendapatkan informasi di mana Maya.
"Maaf, Gal. Terpaksa gua lakuin ini karena lu nggak mau jujur di mana Maya!" batin Bram.
Sementara Maya, wanita itu merasa bosan dengan lingkungan barunya, tidak ada teman, semua asing dan sekarang Maya yang sedang berdiri di tepi jendela itu menatap bulan.
"Aku harus memulai hidup baru, jangan melihat kebelakang lagi, May!" ucapnya pada diri sendiri.
****
Sementara Biru, lelaki itu merasa kalau dirinya tidak cocok bekerja, lalu memutuskan untuk membuka usaha.
Pria itu memberanikan diri menjual villanya dan tentunya menjual villa tidak lah semudah menjual tempe.
Apakah semua orang akan bisa bangkit lagi dan memulai kehidupan barunya dengan layak?
Pemirsa, biasanya seorang wanita akan selalu mementingkan perasaannya, mencintai tanpa logika.
__ADS_1