Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Ada Cinta


__ADS_3

Ada cinta, bergelora di dada.


****


Bram yang sedang dalam perjalanan bersama Zenia ke rumah sakit itu melihat Ifraz bersama dengan Pia yang sedang berhenti di lampu merah.


Ya, sekarang Zenia hanya bisa menatapnya dari jauh. Asalkan Ifraz terlihat bahagia dirinya sudah senang.


Tetapi, Bram mengerti perasaan Zenia yang tiba-tiba terdiam setelah melihat kedekatan Ifraz dengan gadis lain.


Sekarang, setelah memeriksakan kehamilan Zenia, Bram mengajaknya untuk menonton bioskop dan Zenia tidak menolak.


Zenia menjadi penurut pada Bram, selain tidak bisa menolak setiap ajakan Bram yang seolah mencoba menghibur dirinya, Zenia juga membutuhkan perhatian itu.


Di gedung bioskop, Zenia hanya tetap fokus menatap ke depan, walaupun pun yang diingat lagi-lagi adalah Ifraz, tetapi gadis itu mencoba sebisa mungkin untuk mengalihkan perhatiannya.


Tanpa terasa air mata menetes, tanpa permisi, membuat Zenia segera terisak dan memilih bangun dari duduknya dan berlari.


Bram menjadi bingung, karena yang sedang ditonton adalah genre komedi tetapi Zenia malah menangis.


Bram pun ikut bangun dan menyusul Zenia yang ternyata lari ke toilet.

__ADS_1


Di dalam, Zenia bersandar pada pintu toilet, menangis yang di tahan. Ingin berteriak tetapi tak bisa, ingin memaki tetapi dirinya yang salah, ingin mati tapi memikirkan anak yang ada di kandungan.


"Gue harus gimana, harus gimana?" tangis Zenia dalam hati.


Setelah lama menangis, Zenia pun keluar dari toilet dan membasuh wajahnya di wastafel panjang yang tersedia.


Saat ini yang dapat dilakukannya adalah menarik nafas dalam, mengeluarkannya secara perlahan, sedikit mengurangi rasa sesak di dada.


Zenia keluar dari sana dan ternyata Bram dengan setia menunggu gadis kecil itu. Bram langsung membawa Zenia ke dalam pelukan dan Zenia kembali menangis, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bram.


"Ssstttt, sudah, sekarang kita pulang!" kata Bram seraya mengusap rambut Zenia.


Zenia mengangguk dan berjalan dengan menundukkan wajah sembabnya.


Di perjalanan semua berbincang dan bercanda gurau kecuali Ifraz, lelaki itu diam memainkan ponsel tanpa menghiraukan yang lain dan ternyata salah satu teman kuliah Pia mengagumi Ifraz yang diketahui sebagai kakak dari Pia.


"Ra, kok lo nggak pernah bilang sih kalau punya abang yang tampan gitu!" protes Silvia pada Dinara (Pia).


"Kenapa? Lo naksir? Ambil aja sana kalau bisa!" jawabnya terdengar menantang dan dengan semangat Silvia mencoba mendekati Ifraz tetapi Ifraz yang dingin itu tak sedikitpun melihat Silvia yang tiba-tiba bertukar tempat dengan Pia.


Ifraz justru memejamkan matanya, memasang benda kecil di telinga untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.

__ADS_1


Pia pun tersenyum yang seolah menertawakan Silvia dan Silvia melemparkan camilan yang ada di tangannya pada Pia.


Setelah beberapa jam perjalanan sekarang rombongan anak muda itu sudah sampai di penginapan yang mereka pesan sebelumnya.


Miko yang merupakan pemimpin itu menyuruh semua anggotanya untuk istirahat karena besok pagi mereka akan mendaki dan setelah itu turun lalu kembali pulang ke Jakarta.


Ifraz pun melemparkan tas gendongnya itu ke sembarang arah dan segera menjatuhkan dirinya di ranjang, segera terlelap tanpa menghiraukan teman barunya.


****


Di rumah Daniel, Maya kembali menatap layar ponselnya, itulah keseharian Maya, bahkan Maya merasa kalau dirinya seperti mayat hidup.


Hidup tetapi seperti tak bernyawa, selalu tak bisa menjadi apa yang di mau!


Daniel menyadari itu, berfikir kalau Maya sangat merindukan anaknya tetapi tak bisa menghubungi Biru.


Sekarang, Daniel membawa Maya keluar dari kamar, Daniel berbohong mengatakan akan mengajak Maya untuk makan malam, padahal Daniel mengajak Maya untuk ke rumah Biru.


Bersambung.


Maaf banget ini up cuma sedikit, semoga kedepannya bisa crazy up lagi 🙏🙏.

__ADS_1


Makasih yang udah like, komen, gift/vote.


Sampai jumpa di episode selanjutnya 😇


__ADS_2