Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Merasa Jadi Nyamuk!


__ADS_3

"Apa kabarnya mereka semua?" gumam wanita itu yang menenteng plastik berisi pakaian untuk laundry. Ia adalah Hafizah, sekarang bekerja di kios laundry.


"Mereka pasti hidup enak, mereka kan orang kaya, beda sama aku, orang miskin, ketemu jodoh lagi miskin pula! Anaknya ngerepotin!" gerutu Hafizah, wanita itu segera menyebrang jalan dan menunggu angkot.


****


Di sekolah, jam pelajaran, Zen selalu melirik Ifraz, wanita itu ingin menggodanya tetapi Ifraz sedang fokus dengan pelajaran dan sebenernya merasa kesal pada Zen.


Jam istirahat pertama, Ifraz segera pergi dan Arya menepuk bahunya.


"Faz, ikut yuk, bahas acara perpisahan nanti."


"Nggak, gue males, lo aja sono, gue Terima beres!" jawab Ifraz yang kemudian memilih untuk ke kantin, pria itu merasa lapar karena pagi tadi tidak sarapan.


"Coba masakan tante seenak masakan mamah, doyan gue makan di sana," gumam Ifraz, lalu pria itu melihat Pia yang sedang berjalan di depannya, dengan sengaja Ifraz menarik rambut Pia.


"Eh, Ifraz." Pia menoleh ke belakang. Setelah itu Pia mengatakan pada teman wanitanya untuk pergi lebih dulu.


Pia dan Ifraz sekarang berjalan beriringan, menuju ke kantin, baru saja mereka duduk, sudah datang Zenia, gadis itu duduk di samping Ifraz.


"Faz, kok lo semalem nggak datang!"


"Kata siapa nggak datang, lo aja yang ngilang!" gerutu Pia dalam hati, gadis itu memilih untuk mengabaikan Zenia dan Zenia yang merasa ada yang berbeda dengan Pia itu mengajaknya berbicara.


"Pi, nanti kita jalan, yuk. Udah lama kita nggak jalan."


"Gue banyak tugas dari ayah, nggak bisa!" jawab Pia dengan menatap selembar kertas menu yang berada di meja.


"Ya udah kalau gitu kita aja, jalan, yuk!" kata Zenia seraya menggoyangkan lengan Ifraz.


"Aau!" pekik Ifraz, "sakit!" lanjutnya seraya melepaskan tangan Zenia dari lengannya.


Melihat itu Pia menggelengkan kepala.


"Katanya pacaran tapi kok nggak peka!" gerutu Pia dalam hati.


"Eh, sorry, lo kenapa?" tanya Zen seraya melihat wajah memar Ifraz dan Pia yang melihat itu merasa cemburu.


"Ngapain gue jadi nyamuk!" batin Pia, gadis itu bangun dan berjalan melewati Ifraz, namun, langkahnya terhenti saat merasakan Ifraz menahan tangannya.


"Mau kemana?"


"Mau ngambil sesuatu, di kelas," jawab Pia seraya mencoba melepaskan tangan Ifraz tetapi tidak berhasil, Ifraz menarik lengan Pia sehingga jatuh tepat dipangkuan Ifraz dan murid-murid lain yang melihat itu bersorak.


"Uuuuuu, masih siang bro!" ucap salah satu murid.


"Awas ada yang cemburu!" ucap yang lain.


Sedangkan Pia, ia merasa gugup, jantungnya seolah berdisko, Pia segera bangun dan berlari, di susul oleh Ifraz.

__ADS_1


"Pia, enak banget lo, gue babak belur gini gara-gara lo, terus lo sama sekali nggak ngobatin gue, gitu?"


Sementara Zen, gadis itu merasa malu karena diacuhkan oleh Ifraz, yang statusnya sebagai kekasihnya.


"Kok gue kaya kekasih yang tak dianggap!" gumamnya dalam hati.


****


Di kantor, Biru memerintahkan Ran untuk mengawasi anak-anaknya, dengan siapa mereka bergaul, latar belakangnya dan teman anaknya harus baik.


"Gadis ini, kekasih dari Tuan Ifraz, tetapi asal-usulnya tidak jelas, seseorang sedang menyelidiki dan ternyata gadis ini tinggal bersama dengan Marisa."


"Kalau tinggal di sana, kenapa tidak jelas, sudah pasti anak Marisa!"


"Bukan Tuan, Marisa tidak memiliki anak dan gadis itu adalah...." Ran menggantung ujung kalimatnya.


"Siapa? Ngomong kaya gitu aja digantung!" protes Biru.


"Anak tiri Hafizah," jawab Ran dan seketika Biru melepaskan pulpen yang berada di tangannya.


"Pisahkan mereka!"


"Zenia, gadis itu, teman Nona Pia," kata Ran.


"Astaga, kenapa mereka bisa bertemu dan satu sekolah, harusnya anak Hafizah tidak bisa sekolah di sekolah anak-anak karena sekolah kita itu sekolah mahal!"


"Marisa berada di belakang gadis itu, Tuan," jawab Ran, pria berkacamata dan berambut klimis itu tak berani menatap Biru.


"Urus mereka!" perintah Biru dan Ran segera undur diri. Pria itu mengendurkan dasinya setelah keluar dari ruangan presdir.


"Tugas lagi!" ucapnya dalam hati, sekarang Ran memerintahkan seseorang untuk menculik Hafizah dan Ran menunggu di rumah kosong.


****


Dua orang suruhan Ran menemui Hafizah.


"Anda ditunggu oleh Tuan kami!"


"Saya tidak mengenal siapa Tuan kalian, pergi atau saya akan berteriak!"


"Cepat ikuti kami atau pisau ini akan menembus ginjalmu!" ancam anak buah Ran seraya menodong pisau dengan sembunyi-sembunyi.


Hafizah yang merasakan ada benda yang menempel di pinggangnya itu tak bisa berkutik, ia hanya bisa menuruti perintah dua preman itu.


Sekarang Hafizah masuk ke mobil berwarna hitam dan preman itu membawa Hafizah ke markas.


"Masuk!"


"Tolong, kalian jangan apa-apa kan saya!"

__ADS_1


"Makanya, mending nurut aja dari pada mampus lo!" ucap salah satu preman yang memiliki tompel di pipinya.


"Tuan, pesanan anda sudah datang!"


Mendengar itu, Ran yang sedang duduk di sofa, membelakangi Hafizah itu menjentikkan jarinya, memberi perintah untuk dua anak buahnya menunggu di luar.


Setelah pintu itu tertutup Ran segera berdiri, berbalik badan menatap Hafizah dan Hafizah yang ketakutan itu masih mengenali Ran.


"Kamu! Ada urusan apa? Kita sudah tidak ada urusan lagi!" kata Hafizah. Wanita lusuh itu ingin pergi secepatnya, dengan melihat Ran sama saja seperti mengingatkan dirinya pada Biru, cinta yang tak pernah tergapai.


"Kenapa kamu menjalin kerjasama dengan Marisa?"


"Apa? Marisa? Siapa Marisa? Aku tidak mengenalnya," jawab Hafizah, wanita itu menyilangkan tangannya di dada.


Ran mengeluarkan foto Zenia yang sedang bersama dengan Marisa.


"Astaga, anak ini, kenapa dia bisa naik mobil mewah," geram Hafizah.


"Aku tidak ada urusan dengan mereka, Nia hanya anak tiriku, aku tidak perduli dengannya, dia hanya merepotkan ku, hanya meminta uang, kalau aku tidak memberikan dia akan mengadu pada ayahnya dan aku akan dipukuli untuk itu! Jadi sudah bagus dia tidak pulang ke rumah!"


"Kamu pikir aku perduli dengan cerita kamu!"


"Lalu? Untuk apa kamu membawaku kemari?"


"Ada satu pekerjaan untukmu!"


"Apa? Saya tidak tertarik!" jawab Hafizah, wanita itu berbalik badan dan sudah melangkahkan kakinya, namun, ia menghentikan langkahnya saat Ran mengatakan akan memberikan imbalan.


"Selama ini aku sudah hidup susah, sedangkan imbalan dari mereka pasti tidak main-main, tapi apa yang harus ku kerjakan!" batin Hafizah.


****


Selesai sekolah, Hafizah sudah menunggu anaknya di depan gerbang dan Zenia yang melihat itu segera menghampirinya.


"Ibu, ngapain di sini, aku tidak akan pernah pulang ke rumah reyot itu! Jadi jangan ajak aku untuk pulang!"


Belum selesai berbicara, sudah datang Ifraz dan Pia, Ifraz membunyikan klakson mobilnya.


"Zen, mau bareng nggak?" tanya Ifraz.


Mendengar pertanyaan itu, Zen pun segera menjawab.


"Boleh, tapi aku di depan ya, kan aku pacar kamu!" kata Zen dan Pia yang mengerti itu segera pindah ke bangku belakang.


"Hidupku sudah enak, jangan ganggu aku lagi!" kata Zenia pada Hafizah. Ia meninggalkan Hafizah dan segera masuk ke mobil Ifraz.


"Siapa?" tanya Ifraz.


"Biasalah, pembokat!" jawab Zenia.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2