
Benar saja, setelah itu Hafizah membawa uang itu ke kantor Biru.
Dirinya tidak ingin menggunakan ancaman lagi untuk menaklukkan Biru, karena Hafizah sudah mulai memahami sedikit sifat Biru yang semakin ditekan semakin jauh.
Hafizah memesan taksi online dan selama perjalanan itu, ia memikirkan cara untuk membuat Biru kembali meliriknya seperti saat sebelum ketahuan oleh Maya.
Benar saja, sesampainya di kantor Biru, gadis itu seolah tak terjadi apa-apa.
Walau sudah ditahan oleh pihak keamanan dirinya menurut dan menunggu di pos satpam.
"Pak, saya minta tolong untuk disampaikan pesan saya. Saya datang ke sini untuk damai!" ucap Hafizah, gadis itu membuka isi kopernya, menjual belas kasihnya pada satpam yang sedang berjaga.
Hafizah menangis seolah terzolimi, "Dia membeli ku, aku datang untuk pamit dan mengembalikan uang ini!"
Dan dua satpam yang menangani Hafizah itu menjadi kasihan, lalu mereka menghubungi Ran, mengatakan apa yang Hafizah katakan.
****
Setelah itu, Ran segera menyampaikan itu pada Biru, menunggu perintah selanjutnya.
"Temui dia dan katakan, kalau mau pergi silahkan pergi, ambil saja uangnya!" perintah Biru pada Ran, pria itu merasa beruntung karena Maya sudah pulang, tidak perlu melihat kedatangan Hafizah.
"Baik!" jawab Ran yang kemudian keluar dari ruangan Biru, tetapi langkahnya tertahan saat Biru kembali memanggilnya.
"Ran!"
Mendengar namanya di panggil, pria itu kembali masuk, menundukkan kepala.
"Duduk!" perintah Biru dan ternyata Biru meminta pendapat Ran terkait anak yang berada di kandungan Hafizah.
"Kalau gadis itu pergi, lalu bagaimana dengan nasib anakku yang berada di kandungannya?" tanya Biru tanpa melihat Ran, pria itu masih disibukkan dengan pekerjaannya.
"Saya bisa mengaturnya, Tuan!" jawab Ran. Ya, pria itu telah merencanakan sesuatu untuk Hafizah.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Saya akan mengirim orang untuk mengawasi dan mengikuti wanita itu, jadi Tuan tidak perlu takut untuk kehilangan bayi Tuan."
Biru memikirkan rencana Ran dan memujinya, "Ok, kamu memang bisa saya andalkan!" ucap Biru, setelah itu Biru mengambil ponselnya dan mengirim sejumlah uang ke rekening Ran.
"Jalankan sesuai rencanamu!" perintah Biru dan segera Ran keluar untuk menemui Hafizah yang berada di pos satpam.
"Saya datang karena diperintahkan oleh Tuan. Beliau berpesan, kalau anda ingin pergi silahkan dan tidak perlu mengembalikan uang itu!" kata Ran dan Hafizah hanya menundukkan kepala.
"Kenapa wanita ini, saya kira akan memaksa dan membuat keributan!" batin Ran.
Mendengar itu Hafizah bangun dari duduknya, ia tersenyum dan mengatakan baiklah. Namun, baru beberapa langkah Hafizah melangkahkan kakinya, gadis itu sudah terjatuh pingsan.
"Astaga, drama apa lagi ini!" gumam Ran, sedangkan dua satpam itu segera menolong Hafizah membawanya ke ruang kesehatan dan Ran mengikutinya.
Setelah sampai di ruang kesehatan tersebut, dua satpam itu keluar meninggalkan Ran bersama dengan Hafizah.
"Bangun kamu, tidak usah banyak drama!" kata Ran seraya mencengkram wajah Hafizah, Ran berfikir kalau Hafizah akan takut lalu bangun, tapi kenyataannya Hafizah tak juga membuka mata, membuat Ran berfikir kalau Hafizah memang benar-benar pingsan.
Beberapa menit kemudian, datang dokter yang memang bekerja di perusahaan milik Biru untuk memeriksa keadaan Hafizah dan meminta pada Ran untuk keluar lebih dulu.
Gadis itu menangis pilu, berusaha menyembunyikannya dengan membelakangi dokter tersebut membuat dokter itu menjadi bingung karena tiba-tiba Hafizah menangis.
Tidak lama kemudian, Hafizah merubah posisinya menjadi duduk, wanita itu menceritakan apa yang dialaminya, tentunya Hafizah tidak menceritakan awal kejadiannya.
"Apakah orang kaya bisa membeli apa saja? Termasuk anak yang ada di dalam kandungan ku ini?" tanya Hafizah, gadis itu masih menangis.
"Hah?" Rupanya dokter itu masih belum mengerti arah pembicaraan Hafizah.
"Aku hamil dan Tuan tidak bertanggungjawab, dia memberikan ku uang dan akan mengambil anakku setelah lahir, apa dia pikir aku tidak menyayangi anakku? Apa dia dia pikir anakku bisa dibeli?" tanya Hafizah, tentu, tangisnya itu membuat dokter tersebut iba.
"Siapa ayah anakmu?" tanya dokter itu.
"Tuan Albiru!" jawab Hafizah singkat, gadis itu turun dari brangkar dan keluar dari ruangan itu, seolah lemah Hafizah kembali pingsan.
Melihat itu, dokter pun kembali membawa Hafizah untuk ke ruang kesehatan, kemudian dokter itu pergi ke ruangan Biru dan memberitahu keadaan Hafizah.
__ADS_1
"Maaf, Pak! Wanita itu sedang hamil, sangat tidak baik untuk kehamilannya apabila ibunya stress," ucapnya.
"Setidaknya, Bapak menyayangi anaknya bukan!" ucapnya, dokter itu yang merasa sedikit geram pada Biru sampai ia berani mengatakan itu padanya.
Setelah mengatakan itu, dokter pun keluar dari ruangan Biru, merasa kasihan pada Hafizah yang habis manis sepah dibuang!
Sedangkan Biru masih duduk di tempatnya, memikirkan Hafizah.
"Kalau mau pergi ya silahkan pergi, kenapa harus membuat drama lebih dulu!" geram Biru dan sama sekali Biru tidak mau menemui Hafizah karena Biru pikir semua sudah selesai.
Sampai sore hari tiba, waktunya semua karyawan pulang, tersisa hanya beberapa karyawan dan Biru, di sana Biru mendengar bisik-bisik yang mengatakan kalau ada wanita hamil di ruang kesehatan dan Biru menguping pembicaraan mereka.
"Memangnya siapa yang perempuan itu cari?"
"Nggak tau! Sekarang perempuan itu masih di ruang kesehatan, nunggu bapak dari anaknya, Kira-kira siapa ya?"
Mendengar itu membuat Biru menjadi bingung, mau sampai kapan Hafizah berada di kantornya, kemudian setelah tidak tersisa karyawannya, Biru mencari Hafizah ke ruang kesehatan itu.
Terlihat, Hafizah masih duduk di brangkar, menundukkan kepala, lalu Hafizah menyadari kedatangan Biru, gadis itu melihat ke pintu dan ternyata benar sudah ada Biru yang sedang memijit pangkal hidungnya.
Hafizah turun dan langsung memeluk Biru, sedangkan Biru berusaha melepaskan pelukan itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Bukannya saya sudah bilang, kalau mau pergi silahkan pergi!" kata Biru, pria itu berusaha melepaskan pelukan Hafizah.
Sementara itu, di rumah Lisna, Maya sedang menunggu Biru menepati janjinya yang mengatakan akan menjemput anak dan istrinya.
"Kenapa lama sekali, apa sekarang dia tidak bisa menepati janji?" tanya Maya dalam hati.
Maya pun segera menghubungi suaminya dan ternyata Biru sedang mengantar Hafizah untuk pulang karena Biru telah menerima permintaan maaf dari Hafizah yang mengatakan kalau dirinya tidak akan menganggu Biru lagi setelah ini dan dengan bodohnya Biru mempercayai ucapan Hafizah.
Biru menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan pada Hafizah untuk diam, "Halo, May?" sapa Biru, pria yang sedang menyetir itu sesekali melirik Hafizah yang memberikan senyum padanya.
"Iya, maaf Maya. sepertinya aku akan telat, jalanan macet sekali sore ini!" ucap Biru, pria itu berusaha meyakinkan Maya dan sesampainya di gang, Biru mempersilahkan Hafizah untuk turun. Namun, wanita itu tidak mau membawa uang pemberian Biru.
"Maaf, untuk saat ini aku tidak menjual apapun padamu, Mas!" jawab Hafizah, gadis itu keluar dari mobil Biru dengan tersenyum membuat Biru merasa heran padanya.
__ADS_1
Bersambung.