
Bram yang baru pulang itu menggelengkan kepala melihat Marisa yang berantakan di sofa, bahkan dress yang ia kenakan tersingkap.
"Astaga! Lu ngapain sih, kak! Bikin berantakan aja!" gerutu Bram seraya melempar bantal sofa ke arah Marisa.
"Apa sih," gerutu Marisa seraya mengusap wajahnya, setelah itu segera memeluk Bram tetapi Bram menahannya.
"Lu itu cewek, kak. Nggak boleh gitu, kalau kelihatan cowok lain gimana! Itu bisa bahaya!" protes Bram mengingatkan Marisa.
"Ya elah, di rumah adik sendiri mah aman!" kata Marisa seraya kembali berusaha memeluk Bram.
"Nggak usah peluk-peluk, gua gerah!" kata Bram seraya melepaskan tangan Marisa dan Marisa masih merengek mengikuti Bram ke kamarnya.
"Tadi gua pulang, tau nggak nenek lampir itu bilang apa?"
"Nggak mau tau lagi!" jawab Bram, pria itu menutup pintu dan membuat Marisa semakin kesal.
"Bram!" teriak Marisa dari balik pintu.
Sementara Bram, pria itu sedang melepaskan jaketnya dan menggantung jaket itu di balik pintu.
Bersiap untuk mendengarkan percakapan Gala dan Maya.
Namun, tetap saja Bram belum mengetahui di mana Maya berada karena yang didengarnya hanya percakapan biasa.
Ya, Bram memasang kamera kecil/kamera pengintai di kamar Gala. Tepatnya di atas lemari Gala, di sela-sela koper dan tas.
****
Sementara Biru, pria itu belum mendapatkan pembeli untuk villanya. Sekali ada yang menawar dengan harga yang sangat murah membuat Biru sayang untuk melepasnya.
Keesokan harinya, seraya menunggu, Biru membuka usahanya menggunakan uang dari hasil menjual mobilnya. Sekarang, pria yang berpenampilan biasa saja itu sedang mencari ruko/toko di tempat yang menurutnya strategis.
"Ternyata harga kontrakan mahal banget!" gumam Biru setelah tawar-menawar dengan pemilik ruko tersebut.
"Saya pikir-pikir dulu, pak," kata Biru, setelah itu ia pergi meninggalkan ruko tersebut.
Pria itu ingin membuka toko buku lengkap dengan fotocopy juga dengan cetak foto.
__ADS_1
"Bismillah," ucap Biru dalam hati.
Pria itu mencari toko lain dengan harga yang lebih murah tetapi tak mendapatkannya, toko yang strategis semua dengan harga bagus.
Lalu Biru memilih ruko yang tidak jauh dari sekolah karena memang itu lah target Biru.
Setelah mendapat ruko itu dengan segera Biru mengisinya dengan barang dagangannya.
Satu minggu telah berlalu, sekarang Biru sudah membuka toko bukunya, tidak hanya buku tetapi Biru juga menjual seperti boneka, jam dan lain-lain.
Keberadaan Biru di toko itu menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak remaja yang berbelanja di toko Biru dan gosip pemilik toko yang tampan itu segera tersebar.
"Mas, bungkus kado bisa?" tanya salah seorang pelanggan Biru.
"Aku nggak bisa, tapi biar aku coba," kata Biru, setelah itu mengambil kertas kado dan ternyata Biru memang tidak bisa.
"Aduh, sini biar aku bungkus sendiri!" kata gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sementara itu sudah banyak pelanggan yang mengantri untuk memfotocopy dan berbelanja ATK.
"Mas, tokonya ramai, apa nggak nyari pegawai?" tanya pelanggan yang lain dan Biru membenarkannya, kalau dirinya harus mencari satu karyawan.
****
Berharap, setelah ini Biru menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggungjawab, itulah harapan Murni.
Tetapi semua tak selalu berjalan lancar karena pemilik ruko itu tidak suka melihat usaha Biru yang semakin maju.
Pemilik ruko itu ingin membuka usaha yang sama seperti Biru di tempatnya sendiri.
"Gimana, pak. Saya kan sudah menyewa tempat ini untuk satu tahun dan saya baru memulai usaha, baru satu bulan saya belum balik modal sama sekali," jawab Biru, pria itu berdiri di depan ruko, baru saja menutup ruko karena hari sudah malam.
"Maaf, Pak. Tapi ruko ini sudah ada pembelinya, saya mau bapak secepatnya kosongkan ruko ini, nanti uangnya akan saya kembali terhitung bulan pertama saja, saya permisi!" ucap pria itu tanpa sedikitpun merasa kasihan pada Biru.
"Ya ampun, baru aja mulai jalan usaha gue dah diusir aja," gerutu Biru, pria itu menjadi lemas dan tak bersemangat lagi.
Sekarang, Biru sedang mengendarai motornya, pulang ke kontrakan, merasa lelah dan segera mandi setelah itu menyantap nasi bungkus yang tadi di belinya.
"Menyedihkan!" ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Sampai kapan mamah bakal hukum aku seperti ini!" gumamnya, pria itu ingin mencari udara segara setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya.
Selesai makan malam, Biru pergi mengendarai motornya, entah kemana tujuannya dan ternyata langkahnya membawa ke rumah Murni.
Biru masih berada di luar pagar.
"Aku nggak boleh lemah, nggak boleh cengeng, aku harus bisa buktiin sama mamah kalau aku bisa bangkit dan inia memang hukuman yang setimpal buat aku karena melawan orang tua!" ucapnya pada diri sendiri dan pria itu masih terus memikirkan Maya dan anaknya.
"Kalian di mana, apakah tidak pantas bagiku untuk meminta maaf?"
Biru menarik nafas dalam, setelah itu Biru kembali mengendarai motornya, di perjalanannya itu, Biru melihat pengendara motor lainnya yang sedang membonceng ibu hamil membuat Biru teringat saat dirinya menantikan kelahiran anaknya.
"Maafkan papah yang bodoh ini, nak!" gumam Biru dalam hati.
Sementara itu, Bram yang baru saja pulang kuliah mendengar dari kamera pengintainya yang mengatakan kalau Gala akan pergi berlibur ke tempat Maya berada.
Gala yang sedang mengambil koper itu melihat benda sangat kecil yang terjatuh dari atas lemari, Gala mengambilnya dan mengerti kalau itu adalah kamera pengintai.
"Gila! Siapa yang naruh ini!" gerutu Gala, pria itu merasa geram karena gerak-geriknya telah diawasi, paling menggelikan bagi Gala adalah ketika Gala sedang mengganti pakaiannya dan Gala berfikir kalau kamera itu tidak hanya satu, benar saja, Gala yang mencari-carinya itu menemukan benda serupa di bawah meja rias.
"Siapa yang udah berbuat seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Pasti Biru, siapa lagi, hanya pria itu yang gila!" gerutu Gala seraya membanting benda itu dan merusaknya.
Sementara Bram, pria itu berdecak, menggerutu, "Kenapa bisa ketahuan!"
Pria itu yang sudah mengetahui kalau Gala besok akan pergi pun mulai bersiap. Pria itu akan pergi mengikuti Gala demi bertemu dengan Maya.
"Bram... Bram, banyak wanita lain kenapa lu tergila-gila sama janda!" batinnya.
"Cuma dia yang bisa bikin gua berubah!" jawabnya.
Keesokannya, Bram yang berhasil mengikuti Gala itu mencari hotel setelah mengetahui di mana Maya tinggal.
"Jadi kalian tinggal di sini," gumam Bram seraya menjatuhkan dirinya di ranjang. Pria itu memilih untuk istirahat lebih dulu sebelum pergi menemui Maya.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like setelah membaca, terimakasih 😇