Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Mengungkit!


__ADS_3

"Aku tidak akan duduk di sini kalau aku tidak lumpuh! Seperti ucapanmu yang mengatai aku lumpuh!" jawab Maya seraya memutar kepalanya menatap pria yang sedang terbakar api cemburu, pria itu tak mau menatap wajah Maya.


"Jangan bohongi aku! Kamu tau Maya! Aku paling tidak suka dibohongi!" seru Biru seraya sedikit melepaskan gagang kursi roda itu dengan kasar sehingga membuat Maya merasa sedikit tersentak.


"Terserah kalau kamu tidak percaya!" jawab Maya, setelah itu Maya menggerakkan rodanya ingin masuk ke kamar tetapi Biru kembali menghentikan langkahnya.


"Ada hubungan apa kamu sama lelaki itu?"


"Tidak ada," jawab Maya singkat.


"Jangan bohong!" Biru kembali berteriak, masih berdiri di tempatnya dan sekarang sudah menatap Maya yang membelakanginya.


Mendengar itu Maya memutar kursi rodanya


"Lagi pula aku ini lumpuh! Untuk apa kamu mempertahankan orang lumpuh!" jawab Maya. Ya, Maya dengan sengaja menyebut dirinya lumpuh berkali-kali bermaksud untuk menyindir Biru.


"Udah pintar menjawab kamu, hah?" Biru berjalan mendekati Maya dan memaksa Maya untuk turun dan berdiri seperti tadi.


"Turun kamu, tadi kamu bisa jalan kan!"


Sementara Maya jatuh dari kursi roda itu merasa kesakitan di pinggangnya dan sekarang sudah duduk dengan kaki menekuk di lantai.


Maya menangis tidak menyangka kalau suaminya bisa bersikap seperti itu.


"Hiks... hiks... hiks."


"Jahat kamu, Mas!" tangis Maya, wanita itu meninggalkan Biru dengan cara menarik kakinya (ngesot) perasaannya sangat hancur.


Sementara Biru sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih kasar dari itu.


Biru mendorong kursi roda Maya hingga kursi itu terbalik, Biru melakukan itu untuk melampiaskan amarahnya.


Sementara Maya yang membuka pintu kamar itu dibantu oleh Susi dan Nia yang sedang menjaga Ifraz.


"Enggak usah, aku mau kalian keluar!" lirih Maya seraya melepaskan tangan Susi dari lengannya, sementara itu Nia membopong Ifraz yang merengek, mungkin bayi itu merasakan sakit hatinya wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


Maya mengunci pintu itu, tidak mau diganggu oleh siapapun.


Di dalam, Maya mengamuk, menarik selimut yang berada di ranjang.

__ADS_1


Menarik-narik selimut itu seolah bisa merobeknya.


"Jahat kamu! Untuk apa kamu menahan aku di sini! Aku mau mati saja!" Maya meraung di kamar seorang diri.


Merasa tidak ada gunanya lagi ia hidup apabila Biru terus melukainya.


Tetapi ada yang membuat Maya memilih untuk bertahan hidup yaitu bayinya.


"Tapi... kalau aku mati, bagaimana dengan anakku, siapa yang membesarkannya!" ucap Maya seraya menghapus air matanya, Maya pun memeluk selimut yang berada di pangkuannya.


Sementara Biru, pria itu sedang duduk di ruang tengah di sana dirinya dapat mendengar kalau Maya berteriak di kamar.


Biru memijit pangkal hidungnya.


Merasa pusing dan menyadari kalau dirinya sudah melampaui batas pada Maya.


Memikirkan Maya, pria itu bangun dari duduknya, mengetuk pintu kamar Maya.


"Maya... buka pintunya!" perintah Biru dengan suara yang sedikit rendah.


"Maya. Aku minta maaf, seharusnya kamu mengerti kalau aku terbakar api cemburu, May!" kata Biru, pria itu menyenderkan badannya di pintu.


Lalu, Biru merasakan kalau ponselnya bergetar. Ya, Hafizah yang menghubunginya.


Biru menerima panggilan itu, "Maaf, aku tidak bisa mengantar pesananmu! Nanti ku suruh sopir untuk ke sana!" jawab Biru, setelah itu Biru memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar apapun lebih dulu dari Hafizah.


Biru kembali mengetuk pintu kamar Maya.


"Maya! Aku menyesal, May. Tolong buka pintunya!"


Sedangkan Maya menutup telinganya, tidak mau mendengar apapun dari suaminya.


Maya memasang earphone ke telinganya, memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya dan sekarang, sebisa mungkin Maya menghindari lagu galau, dirinya sudah merana tidak ingin ditambah melow karena mendengar lagu yang semakin menambah kegalauannya.


Disaat itu juga, Maya mendapat pesan dari nomor baru.


Maya membuka pesan itu yang ternyata dari Bram.


"Maya, bagaimana keadaan lu?"

__ADS_1


"Aku baik," jawab singkat Maya seraya mengusap bekas tinju yang Biru berikan tadi. Memar dan untung saja Maya tidak menjadi ompong atau kehilangan giginya.


Kembali Maya mengusap dadanya, merasa sakit di hatinya.


"Tuhan, tolong aku!" lirih Maya dalam hati seraya memejamkan mata dan buliran bening tak mau berhenti mengalir dari sana.


Sementara Biru, pria itu menendang pintu kamar Maya, merasa jengkel karena diabaikan.


Malam ini Biru menelepon dokter keluarganya untuk mengobati memar di wajah dan badannya.


"Sialan! Kuat banget pria itu! Aku tidak akan membiarkan dia mendekati istriku lagi!" geram Biru yang sekarang duduk di sofa ruang tengah.


Setelah mendapat pengobatan sekarang Biru meminum obat itu dan mengompres sendiri lukanya.


Merasa lelah dan mengantuk sekarang Biru memejamkan mata, tidur di sofa menunggu Maya untuk membuka pintu.


Sampai pagi, sampai Maya keluar dari kamar pun Biru tak merasakannya dan Biru membuka mata saat Hafizah terkejut melihat wajah Biru yang memar.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Biru, pria itu menyipitkan matanya, memperhatikan wajah Hafizah yang begitu dekat dengan wajahnya.


Hafizah membelai wajah Biru dan menciuminya. "Terimakasih, aku akan cepat sembuh karena baru saja mendapat penawarnya!" lirih Biru, pria itu tersenyum pada Hafizah dan Hafizah membalas senyum itu.


Sekarang Maya sudah berada di kursi meja makan lalu Maya menjatuhkan sendok dan garpunya begitu saja saat melihat kedatangan Biru dan Hafizah.


Merasa harus pergi dari sana membuat Maya menggerakkan kursi rodanya tetapi Biru menahannya.


"Mau kemana kamu? Suami mau makan kamu tinggal pergi!"


"Kan sudah ada dia yang sempurna tidak cacat seperti ku!" jawab Maya menatap tajam pada Biru.


"Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu adalah istriku, sudah seharusnya melayani ku, masih ingat dengan kata-kata itu?"


Mendengar itu Maya terdiam, memang dulu Maya pernah mengatakan itu saat belum mendapatkan cinta Biru tepatnya di awal pernikahan, Maya adalah istri ideal yang begitu sabar tetapi tidak dengan pengkhianatan, begitulah prinsip Maya.


"Ya, aku ingat itu, tetapi kamu juga jangan pernah lupa, aku sudah pernah berjuang dan sekarang aku tidak mau lagi!" Maya dan Biru saling menatap tajam, sementara Hafizah, wanita itu tidak ingin tinggal diam. Ia mengeluarkan suaranya mencoba menenangkan Biru tepatnya agar Biru menyadari keberadaannya.


Bersambung.


Jangan lupa like, Favorit ya. Dukungan dari kalian adalah semangatku. Ayo dong di like aku maksa ini 😙😙

__ADS_1


__ADS_2