Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bodoh!


__ADS_3

''Mas, sudah. Kamu tidak boleh terpancing olehnya! Lebih baik sekarang kita sarapan dan setelah itu kita bisa mencari suasana baru, aku mau kita jalan-jalan!'' ucap Hafizah dan biru pun mengiyakan, sementara Maya, wanita itu memilih untuk menghirup udara segar di luar rumah ditemani oleh Susi dan Nia yang mendorong stroller Ifraz.


''Sus, nanti jadwalku terapi tolong ambilkan ponselku, aku mau menghubungi Gala!''


''Baik,'' ucap Susi, dengan segera Susi mengambil ponsel Maya dan matanya sempat melirik pada Hafizah yang sedang mengompres Biru di ruang tengah.


''Nggak tau malu!'' gerutu Susi dalam hati.


****


Sekarang Maya sudah mendapatkan ponsel itu, segera Maya menghubungi Gala.


''Memangnya suami Mbak gimana?'' tanya Gala dan sebenarnya Gala bertanya seperti itu karena ingin tahu apakah Biru tidak mau mengantar atau bagaimana. Namun, Maya mengira kalau Gala keberatan untuk menemaninya terapi.


''Ya sudah kalau kamu enggak bisa enggak papa, nanti mbak pergi sama teman mbak aja!'' jawab Maya, setelah itu Maya memutuskan sambungan teleponnya.


''Astaga, kok dia ngambek!'' gerutu Gala, setelah itu Gala mengirim pesan, bertanya pukul berapa Gala harus pergi menjemputnya.


''8!" jawab Maya singkat.


Setelah itu, Maya memberikan ponselnya pada Susi. Maya meminta bantuan pada Susi untuk memapahnya, membantunya untuk berlatih berjalan dan ternyata Biru dan Hafizah mengawasi Maya dari lantai atas.


"Aku ikut senang, sekarang Mbak Maya sudah mulai membaik dan perlahan sudah dapat berjalan," kata Hafizah dan Biru membalasnya dengan senyuman.


Sementara Biru teringat kejadian semalam telah memaksa Maya untuk berjalan dan sekarang menyesalinya. "Siapkan air hangat untuk ku!" kata Biru pada Hafizah.


Sekarang Biru memilih untuk mandi, pria itu mandi dengan air hangat karena masih merasa sedikit nyeri di sekujur tubuhnya.


Hafizah pun menurut dan sekarang menyiapkan baju ganti untuk Biru.


Setelah itu, Hafizah bergabung dengan Maya yang berada di taman.


"Mbak, aku pinjam Mas Biru dulu ya, Kalau mbak kan sudah lama menikah sama Mas Biru, pasti udah sering kan diajak jalan-jalan, jadi sekarang giliran aku ya," kata Hafizah dan Maya menjawab dengan sedikit tertawa membuat Hafizah merinding (kok malah ketawa) pikir Hafizah.


"Memang aku sudah merasakan semua yang belum pernah kamu rasakan, tapi aku tidak akan mengganggu jadwal kerja suamiku!" jawab Maya.


Setelah itu Maya memilih untuk duduk ke kursi roda, wanita itu mengajak Nia untuk masuk ke dalam dan memandikan Ifraz yang baru saja ia ajak berjemur.


Sementara Hafizah merasa kalau Maya baru saja menyindirnya.


Hafizah menyusul Biru dan baru saja Biru memakai kemeja yang Hafizah siapkan.


"Mas. Kamu harus bekerja kan? Kita jalan-jalan bisa lain waktu, kalau kamu libur aja," kata Hafizah, wanita itu mengerucutkan bibirnya, duduk di ranjang dengan menekuk kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Aku bisa meminta Ran untuk mengerjakan semua!" kata Biru, pria itu mengoleskan salep di wajahnya yang membiru.


"Aku tidak enak kalau harus mengganggu pekerjaan kamu," lirih Hafizah dan Biru mengatakan kalau tidak masalah.


"Aku juga ingin refreshing, jadi enggak ada masalah! Memangnya kamu mau berlibur kemana?"


"Aku enggak pengen berlibur, cuma mau belanja aja, baju hamil ku masih sedikit, sedangkan semakin hari nanti perutku semakin besar."


Biru menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan Hafizah.


Setelah itu, Biru keluar dari kamar diikuti Hafizah dan saat keduanya sampai di lantai bawah mereka melihat Maya yang terlihat rapih.


"Mau kemana kamu, May?" tanya Biru.


Sedangkan Maya memutar bola matanya malas, malas melihat Hafizah yang selalu menempel di lengan Biru.


"Kamu bertanya aku mau kemana? Itu menandakan kalau kamu suami yang tidak mengetahui apapun tentang istrinya!" jawab Maya, setelah itu Maya meminta pada Susi untuk mengantarnya ke depan.


"Aku tanya baik-baik, May!" ucap Biru dan sekarang Biru melepaskan tangan Hafizah dari lengannya, pria itu berjalan cepat dan sekarang mendorong kursi roda Maya.


"Biar aku antar!" kata Biru, pria itu ingin memperbaiki hubungannya dengan Maya.


Tanpa Biru sadari telah membuat Hafizah merasa jengkel dan Hafizah kembali mengeluarkan akal bulusnya.


"Aaakh, perutku keram!" pekik Hafizah. wanita itu berpura-pura kesakitan dan mencari tempat untuk duduk.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku sedikit keram aja, Mas. Bentar lagi baikan kok!" lirih Hafizah, wanita itu tersenyum seolah menyembunyikan rasa sakitnya membuat Biru bingung harus memilih yang mana.


Mengantar Maya atau mengantar Hafizah berobat.


"Kita ke dokter?" tanya Biru dan Hafizah menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Kata dokter aku enggak boleh kecapean, Mas. Mungkin aku harus istirahat di rumah," kata Hafizah.


"Ya sudah nanti aku belikan kursi roda supaya kamu tidak lelah saat kemana-mana," kata Biru dan Hafizah tersenyum melihat suaminya sangat perhatian.


Sementara itu, Biru tidak menyadari kalau Maya sudah berangkat bersama dengan Gala diantar oleh Andy.


"Mbak, ini kenapa?" tanya Gala saat melihat memar di pipi Maya.


"Enggak papa!"

__ADS_1


"Mbak, jangan bohong. Pasti bajingan itu KDRT ya! Kita bisa laporin dia ke polisi!"


"Bukan gitu, ini semalam dia enggak sengaja ngenain mbak."


"Kenapa, sih. Udah begitu masih dibelain aja!" protes Gala, pria itu merasa malas pada Maya dan sekarang kembali fokus menatap ke depan.


"Bukan belain, tapi emang gitu faktanya," jawab Maya.


****


"Bram!" seru seorang wanita seksi yang menerobos apartemennya, membuat Bram yang berada di sofa panjang harus membuka mata dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Astaga, ini kenapa wajah kamu begini?" seru wanita itu seraya membelai wajah tampan Bram.


"Bukan apa-apa. Ada perlu apa? Kenapa lu ke sini pagi-pagi?" tanya Bram pada wanita itu yang tak lain adalah kakaknya.


"Gua pengen belanja Bram, tapi nggak punya duit! Bisa antar gua nggak? Ayuk... sekalian belanjain!" rengeknya.


"Astaga, pagi-pagi ganggu orang cuma minta buat belanja." gerutu Bram.


"Hei! Ini bukan pagi lagi, ini udah siang tampan. Lihat jam di sana!" kata wanita itu seraya mengarahkan wajah Bram ke jam dinding.


"Bram, ayolah, kamu kan banyak uang, kaka mau belanja, udah lama juga kamu kan enggak belanjain kakak!" protes wanita itu seraya menarik lengan adiknya.


"Iya, iya. Tapi gua mandi dulu!" gerutu Bram seraya melepaskan tangan kakaknya yang manja tiada tanding itu.


Tidak menunggu lama, sekarang Bram dan kakaknya sudah keluar dari apartemen dan ternyata Bram salah membawa kunci yang ia bawa adalah kunci motor.


"Bakalan protes nih cewek!" kata Bram dalam hati, tetapi pria itu malas untuk kembali menukar kuncinya.


Sesampainya di parkiran, "Loh, kok naik ini! Nanti rambut gua berantakan!"


"Kan bener!" batin Bram, "ya udah tadi lu ke sini naik apa?" tanya Bram.


"Taksi!" jawabnya singkat.


Setelah itu Bram pun memesan taksi dan menuju ke mall besar yang ditunjuk oleh kakaknya.


Sesampainya di mall.


"Astaga, ini nih, kenapa cowok harus pandai nyari duit!" gumam Bram saat merasakan tangannya ditarik oleh kakaknya, membawanya masuk ke butik mahal dan siapa sangka, Bram melihat Biru berada di sana dengan wanita lain.


Bram menjadi geram melihat itu.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa klik like dan love nya ya. Terimakasih yg sudah membaca 😙. Terimakasih juga buat yg sudah mendukung dengan gift/votenya 🙏😇


__ADS_2