Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Cinta Monyet?


__ADS_3

"OK!" jawab Zenia seraya menerima selembar foto itu.


"Tan, jangan lupa setiap kali Tante nyuruh aku itu juga berarti tante harus bayar!" kata Zenia seraya pergi meninggalkan Marisa.


"Apa? Memangnya siapa yang berkuasa di rumah ini. Kenapa dia yang mengaturku!" gerutu Marisa dalam hati.


Wanita itu mengejar Zenia dan menarik lengannya.


"Kamu makan dan tidur di sini semua tidak geratis!"


"Tan, jangan lupa, kalau Tante yang membutuhkan aku! Tante juga meralat aku, kiya saling meralat saja!" jawab Zenia seraya melepaskan tangan Marisa.


"Ibu dan anak tidak jauh berbeda!" kata Marisa.


"Ibuku sudah meninggal. Tante tidak mengenalnya jadi tutup mulut Tante!" jawab Zenia seraya menutup pintu kamarnya.


"Kecil-kecil sudah seperti ular!" batin Marisa. Setelah itu Maris pergi dari tempatnya berdiri sekarang.


****


Sementara Bram, pria itu sedang melihat album lama di ponsel lamanya, pria itu juga membuat vidio kumpulan foto dirinya bersama Maya dan juga Ifraz.


Pria itu tersenyum getir, mengatai kalau dirinya sangat bodoh.


"Ya, gua memang bodoh!" kata Bram pada dirinya sendirinya.


Setelah itu Bram meletakkan kembali ponselnya ke laci nakas. Pria itu segera membawa kursi rodanya ke tepi ranjang dan segera berpindah ke ranjang, bersiap untuk tidur.


****


Di rumah sakit, Ran menemui Hafizah. Pria itu memberikan uang yang banyak padanya.


"Ini, ambilah! Lalu pergi dari sini! Pergi jauh dan jangan kembali! Itu adalah perintah!" ucap Ran.


"Tega sekali kamu, setelah melihat ku seperti ini kamu mengusir ku!" jawab Hafizah.


"Ini adalah kemurahan hati Tuan kami, kalau tidak, anda sudah lenyap dari muka bumi ini!" kata Ran, setelah itu Ran pergi meninggalkan Hafizah.


Belum lama, pria itu kembali untuk mengancam Hafizah.

__ADS_1


''Jangan main-main kalau anda tidak ingin menerima akibatnya!" kata Ran yang masih berdiri pintu, sementara Hafizah, ia menatap datar Ran.


"Kenapa semua orang sekarang menyimpan dendam!" kata Hafizah, "Apakah hanya aku yang tidak menyimpan dendam pada siapapun!" lanjutnya, ia berbicara pada diri sendiri.


(Astaga kok aku gemes banget sama si Hafizah yang sok polos! Padahal dia lah biang keroknya!)


"Uang ini cukup banyak, aku bisa memulai hidup baru di luar kota!" ucap Hafizah dalam hati.


****


"Tuan, saya sudah melaksanakan perintah!" kata Ran dari sambungan teleponnya.


"Bagus, pastikan wanita itu pergi!" kata Biru, setelahnya ia memutuskan sambungan teleponnya.


Biru yang sedang meminum anggur itu segera bangun dari duduknya, ia meninggalkan ruangan khusus itu, berpapasan dengan Pia yang baru saja belajar kelompok dengan temannya.


"Belajar yang rajin, setelah ini ayah akan mengirimmu ke luar negri!" kata Biru.


"Tapi, yah. Bukannya dari dulu ayah selalu meminta aku satu sekolah dengan Ifraz?" tanya Pia.


"Ya, dia juga akan kuliah di sana!"


"Benarkah? Tapi ayah janji, kan? Pia ingin Ifraz segera berpisah dari Zen!"


"Ayah, sebenarnya bukan Pia tidak mau berusaha. Tapi, Pia menjaga nama baik ayah!" jawab Pia, gadis itu pergi dari tempatnya berdiri, masuk ke kamarnya.


Di kamar, Pia melihat fotonya bersama Irfaz yang sedang berada di sebuah mall, foto itu di ambil sebelum Zen masuk ke kehidupan mereka.


"Faz, lo dulu selalu ada buat gue! Sekarang, lo sibuk! Sibuk sama dia! Mulai sekarang gue nggak akan diam! Lo itu milik gue! Gue nggak akan rela ada wanita yang mengambil lo dari sisi gue!" ucap Pia seraya menatap tajam foto itu yang tertempel di kaca meja riasnya.


Setelah itu, Pia pergi untuk melakukan ritual malamnya yaitu merawat wajahnya sebelum tidur. Sama seperti dengan apa yang sedang Maya lakukan dan Daniel memperhatikan itu dari tempatnya berbaring.


Selesai dengan skincare rutin, sekarang maya menyusul Daniel ke ranjang.


"Mas, kamu belum tidur!" tanya maya seraya membuka selimut yang berada di ranjang.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau istriku belum berada di sisi ku!" jawab Daniel dan menjawab dengan senyum.


"Ya sudah, sekarang tidur!" kata Maya dan Daniel tidak memeluknya malam ini.

__ADS_1


"Tumben dia memeluk aku?' tanya Maya dalam hati.


Maya pun bertanya, mengira kalau Daniel ada masalah dalam pekerjaannya.


"Tidak!" jawab Daniel.


"Lalu? Kenapa kamu diam? Aku minta maaf kalau tadi aku pergi diam-diam. Aku sangat panik saat mendengar Ifraz ada di rumah sakit!" kata maya, ia tersenyum yang dipaksakan saat tak mendapat jawaban dari Daniel.


Daniel hanya diam saja, ia tidak pernah bisa marah lebih jauh dari ini.


"May, yang aku inginkan adalah bukan sekedar bersama!" batin Daniel.


"May," lirih Daniel, "Besok hari yang spesial. Apa kamu masi ingat?" tanyanya dan Maya tidak menjawab, ternyata Maya sudah terbang ke alam mimpinya.


Daniel menarik nafas dalam dan segera menyusul Maya ke alam mimpi, tetapi di alam mimpi itu keduanya tidak bertemu, mungkin Daniel salah alamat saat menyusul Maya.


****


Malam telah berlalu , sekarang pagi telah menjemput dan semua orang kembali beraktivitas.


Tetapi tidak dengan Daniel, pria itu bukannya ke kantor tetapi pergi ke sekolah lamanya, di sana ia teringat dengan Maya yang sedang menonton basket bersama dengan teman-temannya dan di saat itulah Daniel menyatakan cinta dan Maya menerimanya.


"May, saat itu cinta kita bukan cinta monyet, kan?" tanya Daniel yang berdiri di tepi lapangan.


"May, kamu masih ingat dengan tanggal sekarang? Sekarang tanggal hari jadian kita yang pertama, sebelum kita dipisahkan oleh takdir! Hah, aku sudah tua, berkepala tiga hampir empat, tetapi kenapa aku masih saja seperti anak kecil. Ini semua sudah berlalu dan yang penting sekarang Maya menjadi istriku, mengamdikan hidupnya untukku!" ucap Daniel dalam hati.


Pria itu masih berdiri dengan bersedekap dada. Menarik nafas dalam karena sebenarnya bukan itu yang ia cari, yang ia cari adalah bahagia bersama.


"Ok, kalau kamu tidak ingat biar nanti aku yang ingatkan!" kata Daniel, pria itu pergi dari sekolah.


Sementara Maya, wanita itu baru saja bersiap untuk pergi menemui Dilan dan Ayana. Tidak lupa maya meminta izin pada Daniel dan Daniel mengatakan kalau dirinya akan menjemput saat pulang nanti.


"Tidak usah, aku pulang sendiri aja, paling sebentar doang kok!' kata Maya dari sambungan teleponnya.


"Ok, baik-baik, ya! Kalau ada apa-apa kabarin aja!" kata Daniel dan Maya mengiyakan.


Sekarang, Maya memesan taksi dan tidak lama kemudian taksi itu sudah datang, Maya meminta untuk diantarkan ke toko kue langganannya sebelum pergi menemui Dilan.


Maya turun dari taksi itu dan tak sengaja mengenai seseorang saat membuka pintu.

__ADS_1


"Astaga, punya mata nggak sih! Nggak sopan banget sama orang tua!" kata pria itu yang terkena pintu.


Maya memperhatikan wajah orang tua itu dan bersambung, sampai jumpai di episode selanjutnya. Jangan lupa klik like dan di favoritkan, ya! Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2