
"Bangun kamu! Saya yakin kalau kamu tidak selemah ini!" teriak Gala yang sudah ditahan oleh petugas keamanan, tetapi Mulut Gala tidak bisa diam, pria itu ingin memaki Biru yang telah bodoh menduakan Maya.
"Dasar bodoh! Bajingan! Kurang apa kakak gua, hah!" bentak Gala pada Biru yang sedang dibantu untuk berdiri dan dibawa ke ruangannya.
"Bangun lo! Sini lawan gua, jangan beraninya cuma nyakitin kakak gua!" teriak Gala yang diseret oleh petugas keamanan.
Sesampainya di luar, semua security itu melepaskan Gala dan menghalangi Gala untuk kembali masuk.
"Cih!" Gala meludah di depan kantor Biru.
Setelah itu, Gala kembali mengendarai motornya, Gala pergi ke tempat tongkrongannya di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi dengan wajah yang menahan amarah.
"Kenapa bro?" tanya Bram, dia adalah teman kuliah Gala berada di kelas yang sama walaupun umurnya berbeda lima tahun lebih dewasa darinya.
"Gua lagi sebel, benci! Pengen bunuh orang, bang!" jawab Gala, pria itu meneteskan air mata di depan temannya.
"Kenapa enggak lo bunuh aja?" tanya Bram yang ikut duduk di samping Gala.
"Dia kakak ipar gua, mana mungkin gua bunuh, kakak gua tergila-gila sama dia!" jawab Gala seraya mengambil rokok yang berada di mulut Bram dan menghisapnya lalu membuangnya ke asbak yang berada di depannya.
"Urusan rumah tangga, gua enggak ikut campur dah!" kata Bram yang kembali mengambil rokok dari sakunya dan menyalakannya.
****
Dan ternyata walau Biru memejamkan matanya, ternyata pria itu sempat mendengar apa yang dikatakan oleh Gala membuat Biru menyadari kalau betapa bodohnya dia.
Sekarang Biru yang sudah mulai membuka mata itu mendapati dirinya sudah berada di ranjang.
Biru bangun, memijit pangkal hidungnya, wajahnya penuh lebam dan masih merasakan sakit di perutnya.
"Gila, Gala makan apa sih, bisa sekuat itu!" gumam Biru, tangannya mengusap perutnya.
"Kalau Gala sudah tau, bisa jadi Ibu juga tau, kalau Ibu tau kemungkinan mamah juga udah tau masalah ini," gumamnya.
"Aaarrgg!" geram Biru.
"Bodoh, ini semua salah gue, kenapa juga gue dulu nurutin perempuan itu! Mana sekarang enggak mau cerai lagi!" ucapnya seraya mengusap ujung bibirnya yang terasa perih.
"Gue kira polos, bisa dibuang kapan saja!" ucapnya dalam hati.
Pria itu pun mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, Biru menghubungi Ran.
Tidak lama kemudian, Ran pun datang dan Biru memerintahkannya untuk mencuri ponsel Hafizah.
__ADS_1
"Gue yakin dia masih di hotel, dia ada di kamar 116," kata Biru.
"Segera dapatkan ponselnya, kalau perlu singkirkan wanita itu!" perintah Biru.
GLEK! Ran menelan salivanya saat mendengar Biru memerintahkannya untuk menyingkirkan Hafizah.
"Tapi... Tuan, membunuh orang tidak akan menyelesaikan masalah, saya takut nanti ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menggulingkan posisi Tuan," jawab Ran, asistennya itu berusaha mengingatkan.
Biru pun mengepalkan tangannya.
"Baik, kalau begitu temui dia, dia wanita matre, tawari harta sebanyak yang dia mau asalkan dia pergi dari hidupku dan Maya!" perintah Biru yang kemudian bangun dari duduknya, pria itu berjalan dan mendudukkan dirinya di singgasananya.
Biru sadar betul dan ingat ancaman Hafizah, Biru tidak mau kehilangan kepercayaannya dan Biru tidak ingin berurusan dengan netizen terkait masalah boikot.
****
Di rumah Hafizah.
Bambang yang sudah mulai beraktivitas seperti biasa yaitu bekerja serabutan dan sekarang sedang mendapat pekerjaan di rumah tetangganya yang meminta di perbaiki dapurnya itu mendengar gosip.
"Semalam, saya lihat Hafizah sama suaminya itu berkelahi di gang, memang bukan mereka yang berkelahi, tapi suami Hafizah dengan Jali karena Jali telah berani menggoda Hafizah, sudah begitu saya lihat Hafizah membawa tas, memangnya mau kemana dia, Pak Bambang?" tanya si pemilik rumah yang sedang memperhatikan Bambang bekerja.
"Hafizah bilang mau ke bengkel, ban mobil pecah tapi Biru ada di gang, Hafizah bohong sama ayah?" tanyanya pada diri sendiri.
"Oh, itu. Suaminya mengajak Hafizah untuk tinggal di sana," jawab Bambang, pria itu menutupi kebohongan putrinya.
"Saya pamit dulu sebentar, mau ke toilet," kata Bambang yang kemudian keluar dari rumah itu dan kembali ke rumahnya, pria itu menghubungi Hafizah.
"Halo, kamu di mana Nak?"
"Hafizah mau kerja, yah. Kenapa?"
"Kamu berbohong sama ayah? Kenapa? Apa yang kamu sembunyikan dari ayah?" tanya Bambang yang sudah tidak sabar lagi.
"Halo.... Halo Ayah, suara Ayah terputus-putus, Afi tidak bisa mendengar dengan jelas," kata Hafizah, wanita itu berusaha menutupi kebohongannya, lalu memutuskan sambungan telepon itu membuat Bambang semakin yakin kalau anaknya sedang menyembunyikan sesuatu.
****
Ran tidak menemukan apapun di kamar hotel. Segera Ran menghubungi Biru.
"Tidak ada apa-apa, Tuan."
"Kalau begitu cari ke tempatnya bekerja!" perintah Biru yang kemudian mengirim alamat kerja Hafizah.
__ADS_1
"Astaga, hari ini gue di suruh keliling kota!" gumam Ran setelah menerima pesan yang berisi alamat mall Hafizah bekerja.
Benar saja, Ran langsung menemui manajer Hafizah. Meminta izin untuk membawa Hafizah dan manajer itu mengetahui siapa Biru dan Ran, bahkan produk miliknya mengisi sebagian besar mall itu.
Manajer tersebut memanggil Hafizah untuk ke ruangannya.
"Ada apa ya?" gumam Hafizah saat me dengar namanya di panggil melalui pengeras suara.
Hafizah segera pergi keruangan manajer.
"Ada ingin bertemu," kata manajer itu yang kemudian keluar dari ruangan meninggalkan Hafizah dan Ran.
"Maaf, anda siapa dan perlu apa?" tanya Hafizah yang berdiri pintu.
"Serahkan ponsel anda kalau anda ingin selamat!" ancam Ran mencoba untuk menakut-nakuti Hafizah.
"Maaf, saya sedang sibuk!" kata Hafizah yang kemudian keluar dari ruangan itu.
Ran mengikuti Hafizah dan menarik lengannya.
"Jangan macam-macam, kalau anda ingin selamat!"
"Anda yang yang jangan macam-macam. Jangan mentang-mentang kalian berduit terus bisa merendahkan orang semau kalian!" jawab Hafizah seraya melepaskan tangan Ran dari tangannya.
Hafizah segera membaur dengan pelanggan agar Ran berhenti mengejarnya, tetapi Hafizah tidak mengenal Ran, wanita itu tidak mengira kalau Ran akan mengikutinya.
Sekali lagi Ran meminta ponsel itu.
"Saya berikan tawaran menarik, anda ingin uang bukan, akan saya berikan uang yang banyak! Dengan satu syarat berikan ponsel anda dan jangan coba-coba melawan kami!"
"Dengar, saya tidak macam-macam kalau Mas Biru tidak menceraikanku, bilang padanya kalau aku sedang hamil! Aku sudah terlambat datang bulan!" ucap Hafizah yang kemudian pergi meninggalkan Ran.
"Apa? Menceraikan? Apa Tuan sudah menikahi gadis itu?" gumam Ran, pria muda berkacamata itu tidak mempercayai ucapan gadis itu.
****
"Maaf, Tuan, wanita itu mengatakan kalau dia tengah hamil."
"Apa!" seru Biru melalui sambungan teleponnya.
"Buat wanita itu dipecat dan persulit hidupnya!" perintah Biru yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Bersambung.
__ADS_1