Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Kemana Maya?


__ADS_3

Maaf ya upnya lama, 🙏


Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan like ya 🤗.


Maya membantu bibi menyajikan aneka makanan di meja makan sementara Daniel sedang membicarakan bisnis bersama dengan Sukma dan Imelda sedang memperhatikan Maya.


Setelah semua sudah siap, Maya memanggil Daniel dan ayah mertuanya untuk makan malam.


"Terimakasih, sayang!" kata Daniel seraya bangun dari duduknya.


Sekarang semua makan tanpa suara, sesekali mata Imelda melirik pada Maya yang berpura-pura fokus pada makanannya.


Selesai makan malam, Imelda meminta Daniel dan Maya untuk masuk ke ruang kerja Sukma.


Di sana Imelda meminta pada anak dan menantunya untuk duduk.


"Ada apa, Mah?" tanya Daniel yang sudah duduk di sofa.


"Mamah minta sama kalian jangan terlalu sering pergi ke rumah Ifraz, kan bisa saja nanti kalau anak mereka sudah besar, biar saja mereka yang datang menemui kalian ke rumah, itu demi kebaikan kalian semua!" ucap Imelda, setelah mengatakan itu Imelda bangun dari duduknya dan keluar dari ruang kerja Sukma.


"Benar apa yang dikatakan Mamah!" kata Daniel seraya memandang lurus ke depan sementara Maya menundukkan kepalanya. Seketika hatinya merasa sakit karena harus menjaga jarak dengan anak dan juga cucunya.


Daniel pun bangun dari duduknya diikuti oleh Maya.


Selama perjalanan pulang, Maya hanya diam saja, ia memilih untuk bersandar dan memejamkan mata, begitu juga daniel yang hanyut dalam pikirannya sendiri, ditambah lagi tadi Daniel melihat sendiri dengan mata kepala sendiri bagaimana keseruan Maya dan keluarga Biru itu.


Beberapa hari berlalu.


Pia sedang memperhatikan perawat yang sedang menstimulasi anaknya itu memikirkan Maya yang sudah beberapa tidak datang.


"Sayang, kamu memikirkan apa?" tanya Ifraz yang baru saja masuk kamar.


"Nggak, sayang!" jawab Pia yang sedang duduk di ranjang seraya menatap Ifraz.


****


Di rumah Daniel, Maya sedang mengajak suami dan anaknya untuk menjenguk baby Ghali.


"Baru tiga hari yang lalu dari sana, May!" jawab Daniel yang sedang membaca koran ditemani oleh kopinya, matanya terus fokus pada koran yang sedang dipegangnya.


"Mumpung hari libur jadi kita bisa pergi sama-sama, Mas."


"Minggu depan, ya. Sekarang aku lelah dan ingin istirahat!" jawab Daniel seraya melipat koran yang ada di tangannya itu lalu meletakkannya di atas meja bundar dan mulai meninggalkan Maya dududk sendirian di taman belakang rumah.


Maya menatap nanar suaminya yang berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Aku pergi sendiri salah, minta ditemani juga salah!" batin Maya, wanita yang usianya hampir menginjak kepala empat itu menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya kasar, kedua tangannya mengusap wajahnya.


Merasa pusing dan ingin mengalihkan perhatiannya dari rasa ingin menjenguk cucunya itu, sekarang Maya mengajak Kania untuk berbelanja di mall.


Keduanya saling bergandengan tangan, mereka juga memilih untuk makan siang di restoran.


Setelah mendapat baju dan make up sekarang Maya menemani Kania yang meminta sepatu.


"Mah, Ken bagus nggak pakai ini?" tanya kania yang sedang mencoba sepatu.


"Kamu pakai aja bagus, sayang!"


Pilihan Kania jatuh pada warna putih, itu adalah warna kesukannya.


Selesai dengan berbelanja. Maya dan Kania pulang, sesampainya di rumah keduanya sudah ditunggu oleh Daniel.


"Dari mana kalian?' tanya Daniel, pria itu mengir Maya telah pergi kerumah Ifraz tanpa sepengetahuannya. Daniel bersedekap dada, berdiri di pintu.


"Kami baru saja berbelanja dan makan di luar," jawab maya seraya menunjukkan belanjaannya.


"Yakin?" tanya Daniel seraya menatap mata Maya.


"Kalau kamu nggak percaya bisa tanya sama Ken!" jawab Maya yang merasa di curigai.


Belum puas dan kali ini Daniel sepertinya tidak ingin kendor dengan Maya.


"Kamu nggak nyuruh Ken buat berbohong, kan?"


Maya menghentikan langkahnya, ia menatap Daniel dengan tatapan tajam.


Maya memberikan belanjaan itu dengan kasar pada Daniel.


"Aku lelah terus kalian curigai!" ucap Maya, setelah itu Maya meninggalkan Daniel yang tak bisa berkata apa-apa lagi.


Maya berjalan ke kamar dan segera menutupnya, mengunci pintu itu, walau sudah seperti itu, Daniel masih ingin mencari tahu jawaban itu dari Kania, sementara kania hanya menatap datar Daniel.


"Benar, kalian hanya berbelanja?"


"Papah keterlaluan!" jawab Kania, setelah itu Kania pergi ke kamarnya dan Daniel pun ingin meminta maaf pada Maya, tetapi sepertinya Maya sudah menyerah dengan keadaan dirinya di rumah itu.


Baru saja Daniel ingin mengetuk pintu dan Maya sudah membuka pintu, keluar dari kamar dengan menyeret kopernya.


"May, kamu mau kemana?" tanya Daniel, pria itu sangat panik dan merasa menyesal telah bertanya sedemikian pada istrinya yang penurut.


"Aku capek terus kalian curigai! Kamu tau, aku tadi lihat kamu tidur, aku ingat kata kamu capek jadi aku nggak bangunin kamu!" kata Maya seraya melepaskan tangan Daniel dari kopernya.

__ADS_1


"Terus sekarang kamu mau kemana?" seru Daniel dan Maya semakin mempercepat langkah kakinya.


Maya tidak menjawab dan segera menghapus air matanya.


"Aku capek!" batin Maya yang semakin memantapkan untuk mengikuti kata hatinya, ia ingin pulang ke rumah Gala.


Maya menyetop taksi yang lewat depan rumahnya, ia pergi tidak membawa Kania tapi bukan berarti ia melupakan Kania.


"Ken. Maafin Mamah!" kata Maya.


****


"Mamah!" seru Kania yang baru saja keluar dari rumah, ia mengejar Maya tetapi taksi itu sudah tak terlihat.


Kania berlari masuk ke rumah dan menyalahkan Daniel.


"Pah, kenapa sih papah nggak percaya sama mamah? Ken kecewa sama papah!" kata Kania yang masuk ke kamar.


Kania mengambil tas kecilnya dan segera berlari keluar, gadis remaja berkuncir kuda itu ingin menyusul Maya walau tidak tau Maya pergi kemana.


Daniel pun segera mengejar Kania.


"Ken. Mau kemana kamu?" tanya Daniel seraya meraih lengan Kania.


"Cari mamah!" jawab Kania seraya melepaskan tangan Daniel.


"Memangnya kamu tau mamah kamu kemana?"


"Ken akan tetap cari!" jawab Ken dengan ketus.


"Biar papah temani, papah juga mau menyusul mamah kamu!" kata Daniel, pria itu meminta pada Kania untuk menunggu sementara Daniel mengambil kunci mobil.


Sekarang, keduanya sudah berada di mobil, Kania bertanya, "Kita mau kemana, pah?"


"Paling mamah kamu ada di rumah om!"


Dengan cepat Daniel mengendarai mobilnya dan sesampainya di sana Daniel tak menemukan keberadaan Maya.


"Enggak ke sini, Mas. Memangnya kalian ada masalah?" tanya Gala, pria itu masih berdiri pintu dan sekarang mempersilahkan Daniel dan Kania untuk masuk.


"Kalau begitu, kami langsung pamit aja!" jawab Daniel, Gala pun menganggukkan kepala.


"Kemana mamah kamu, Ken. Kenapa nggak ada di sini!" tanya Daniel dan Kania hanya diam saja, lalu Kania mengambil ponselnya mencoba menghubungi Maya tetapi nomer itu tidak dapat dihubungi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2