Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Ruwet!


__ADS_3

Bram mengepalkan tangannya, merasa sangat jengkel dengan Biru.


"Liat Maya jalan sama cowok lain aja dia cemburu! Tapi sendirinya enggak ngaca!" gerutu Bram dalam hati.


"Astaga, kenapa gue jadi simpatik sama Maya!" gumamnya dalam hati.


Sementara wanita yang bersama dengan Bram itu sudah memilah pakaian mana yang akan dia beli.


Lalu wanita berambut ikal panjang terurai itu memanggil adiknya.


"Bram," lirihnya, membuat Bram tersadar.


"Apa? Sudah dapat?" tanya Bram seraya berjalan mendekati kakaknya. Sesekali matanya melirik pada Biru yang sedang bersama dengan Hafizah.


Marisa pun mengikuti arah mata Bram melirik. "Lu kenal sama mereka?" tanya Marisa.


"Hm," jawab Bram seraya mengeluarkan ponselnya, pria itu mengirim pesan pada Maya, menanyakan bagaimana keadaannya dan sedang apa.


Bram menunggu lama untuk balasan itu karena Maya sedang terapi dan itu membuat Bram berfikir yang tidak-tidak, pria tinggi tegap itu berfikir Biru melukai Maya.


Bram menggenggam erat ponselnya itu. "Tahan Bram! Ingat lu bukan siapa-siapanya mereka!" batin Bram seraya menatap layar ponselnya.


Tidak lama kemudian ponsel Bram bergetar dan ternyata itu Maya yang mengirim foto halaman rumah sakit.


"Lagi di sini," balas Maya.


Wanita itu sedang bersiap untuk pulang dan menyempatkan mengirim gambar pada Bram.


Melihat itu membuat Bram merasa lega.


"Bram! Kenapa sih? Lu lagi ada masalah? Sini cerita sama kakak!" kata Marisa seraya memberikan beberapa setel baju yang harus Bram bayar.


Bram tidak menjawab pertanyaan kakaknya melainkan bertanya, "Udah ini doang?"


"Dih, gaya. Nanti gua borong lu nangis!"


"Enggak lah, kan lu tau kalau gua banyak duit!" ucap Bram seraya kembali memperhatikan Biru dan Hafizah, ternyata mereka sudah pergi.


Setelah itu Bram memilih satu setel gaun yang terlihat indah apabila dikenakan oleh Maya. Bram menyentuh gaun yang terpajang di patung.


Pria itu membayangkan patung itu adalah Maya. "Cantik!" lirih Bram seraya menatap patung itu membuat Marisa membulatkan matanya. Berfikir kalau Bram tidak normal.


"Bram!"


"Iya."


"Buat siapa Bram? Lu punya cewek?" tanya Marisa, wanita itu ingin tahu untuk siapa adiknya membeli gaun.

__ADS_1


"Adalah, dia bukan siapa-siapa gua!"


"Yakin?" tanya Marisa, ia menyipitkan matanya tetapi Bram tak menghiraukan wanita itu. Bram meminta pada karyawan butik untuk membungkus semua belanjaan Marisa dan Maya.


****


Biru mengantar Hafizah pulang ke rumah tidak lupa membawakan oleh-oleh untuk ayah mertuanya.


Belum sempat Biru ikut duduk pria itu sudah harus merogoh saku, mengambil ponselnya yang bergetar


"Halo, Mah?"


"Cepat datang ke rumah, Mamah tunggu!" kata Murni, setelah mengatakan itu Murni langsung memutus sambungan teleponnya.


"Sayang, aku harus pergi, kamu jangan capek-capek!" pesan Biru sebelum keluar dari rumah sederhana itu.


"Iya, kamu juga, hati-hati! Cepat sembuh, sayang!" balas Hafizah seraya melambaikan tangannya dan Biru menganggukkan kepala.


Pria itu segera masuk ke mobilnya.


"Ada apa ya? Tumben Mamah minta aku datang!" gumam Biru seraya memarkirkan mobilnya. Biru menyetir dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di sana, Biru sudah disambut oleh kepala pelayan.


"Nyonya ada di kamar, Tuan sudah ditunggu!" ucapnya seraya menganggukkan kepala.


Biru segera ke kamar, pria itu mengetuk pintu dan membukanya setelah mendapat jawaban, terlihat Murni sedang duduk ditemani teh hangat yang sedang diseruputnya.


"Kenapa kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Murni tanpa melihat anaknya.


"Dari mana Mamah tau?" batin Biru, pria itu menundukkan kepala.


"Maya pergi untuk terapi kenapa kamu tidak mengantar? Mamah kira kamu pergi menemaninya!"


"Enggak, Biru enggak tau kalau Maya pergi terapi," jawab Biru, pria itu ingin mencari pembenaran.


"Dengarkan mamah, Biru! Mamah tau semua, kamu tau kan kalau mata mamah ada di mana-mana!"


"Ya, Biru tau!"


"Hhmmm," Murni menarik nafas dalam, "sudah lama sekali rasanya tidak mengobrol seperti ini dengan anak sendiri!" gumam Murni dan Biru hanya mendengarkan.


"Kamu tau Biru, Mamah kemarin sakit karena memikirkan kamu dan Maya," lirih Murni, wanita itu menitikkan air matanya.


"Mamah akan merasa berdosa pada pada Santoso dan Lisna karena anak mamah sudah menyia-nyiakan putri mereka, padahal dulu mamah yang datang pada mereka, meminta putrinya untuk kamu, tapi begini balasan kamu, Biru!" Murni tak kuasa lagi menahan tangisnya, wanita itu meletakkan cangkir yang sedari dipegangnya.


"Mamah juga tidak mendidik kamu untuk tidak bertanggung jawab dan sekarang semua terlanjur, wanita itu sudah hamil!" kata Murni, ia mengeluarkan selembar foto yang diterimanya hari ini, terlihat Biru sedang berbelanja dengan wanita lain selain Maya.

__ADS_1


"Sembunyikan Hafizah atau kamu akan kehilangan posisimu!" kata Murni.


Biru tidak menjawab, pria itu memilih keluar dari kamar Murni. Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.


"Hah! Merepotkan!" geram Biru seraya berjalan menuruni tangga.


****


Sementara itu Gala yang baru saja memarkirkan motornya itu dipanggil oleh Bram yang sedang duduk di bawah pohon tidak jauh dari parkiran bersama dengan teman-teman lainnya.


Terlihat Bram bangun dari duduknya, pria itu berjalan ke arah Gala.


"Ada apa, Bang?" tanya Gala seraya melepaskan helmnya.


"Ini, tadi gua liat gaun, kayanya bakal cantik kalau Maya yang pakai!" kata Bram, pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kakak gua emang cantik, Bang. Yang bilang dia nggak cantik berarti matanya merem!" kekeh Gala dan dengan senang hati Gala menerima titipan dari Bram.


"Jangan mikir yang macam-macam!" ucap Bram, pria itu melihat Gala yang tersenyum-senyum seolah menggoda.


****


Sekarang Biru sedang dalam perjalanan pulang dan selalu terngiang di telinganya saat Murni mengatakan akan berdosa pada orang tua Maya.


Biru memikirkan itu sampai merasa sakit di kepalanya.


Sesampainya di rumah, Biru mencari Maya yang berada di kamar.


"May!" lirih Biru, pria itu berdiri di pintu.


Melihat siapa yang datang membuat Nia keluar dari kamar Maya membawa Ifraz bersamanya.


Maya sedang membaca majalah pun melihat kearah suaminya tanpa menjawab.


Perlahan, Biru masuk ke kamar, duduk di ranjang dan menarik kursi roda Maya agar mendekat.


"May. Maafin aku! Mulai sekarang aku akan berlaku adil, tapi tolong jadilah Maya seperti dulu yang ku kenal," pinta Biru seraya meraih tangan Maya.


Maya menarik tangannya dan merasa lucu saat mendengar permintaan Biru.


Maya meneteskan air matanya dan segera menghapus.


"Kamu pikir aku mau seperti ini? Enggak!" jawab Maya, wanita itu memalingkan wajahnya tak mau menatap suaminya.


"Maya, kalau begitu tolong aku! Tolong maafin aku dan kita baikan, kita lupakan semuanya, aku janji akan berlaku adil!"


Mendengar itu Maya mengerti kalau Biru hanya ingin dimengerti tanpa mengerti perasaannya.

__ADS_1


"Aku boleh minta sesuatu?" lirih Maya seraya menghapus air matanya, masih tak mau menatap Biru karena hanya akan mengingatkan luka yang Biru berikan.


Bersambung.


__ADS_2