Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Cinta, Hanya Manis Di Awal Saja!


__ADS_3

Zenia memilih untuk kembali pulang, gadis itu sudah tidak bersemangat lagi untuk hangout.


Sesampainya di rumah, Zenia segera masuk ke kamar dan menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Gue nggak boleh jatuh cinta, titik!" kata Zenia yang sudah tidak lagi mempercayai cinta sejak usianya menginjak remaja.


Gadis yang selalu melihat ibunya di siksa oleh Tano dan berakhir dengan kematian, semenjak itu lah ia tidak mempercayai lagi cinta, hanya manis di awal saja dan berakhir dengan penderitaan.


Malam ini Zenia menangis, teringat dengan hidupnya yang kelam. Bahkan hampir terjerumus sek*s bebas kalau tidak segera bertemu dengan Marisa.


"Tan, makasih udah bawa Zen ke sini, Zen janji akan menjadi keponakan yang patuh untuk tante!" ucapnya dalam hati.


Gadis itu merindukan ibunya, menangis sampai tertidur.


Sementara Ifraz, pria itu baru saja mengantar Pia pulang dan setelahnya Ifraz pun kembali ke rumah. Ya, Pia berhasil menenangkan Ifraz, menyarankan untuk membicarakannya baik-baik dengan Maya dan Daniel.


Tapi, Ifraz yang baru saja masuk ke rumah Daniel itu kembali merasa kecewa. Memilih akan menghukum mereka yang telah membohonginya dengan kenakalannya.


Ifraz masuk ke rumah tanpa permisi, walau melihat orang tuanya sedang menunggunya di ruang tengah, tetapi Ifraz memilih untuk diam saja, ia berjalan melewati mereka, masuk ke kamarnya.


Maya bangun dari duduknya, ia menyusul Ifraz ke kamarnya dan ternyata pintu itu terkunci.


"Faz, buka pintunya!" teriak Maya dari balik pintu dan Ifraz bukannya membuka pintu itu, ia justru menyalakan musik rock dengan suara keras.


Maya menggelengkan kepala, lalu ia merasakan tangan Daniel berada di lengannya, mengusap lengan itu.


"Sudah, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri," kata Daniel, setelah itu Daniel meninggalkan Maya yang masih berdiri di depan pintu kamar Ifraz.


Daniel yang merasa lengket itu memilih untuk mandi, bahkan Daniel sampai tak menghiraukan rasa laparnya.


Pria itu masih terngiang-ngiang dengan ucapan Marisa yang mengatainya bodoh.


"Benar, aku memang bodoh, kenapa aku bisa sebodoh ini!" batin Daniel, pria yang berada di bawah guyuran shower itu mengusap wajahnya.


"14 tahun kita bersama dan ternyata itu sekedar bersama, kamu anggap apa aku ini, May?" Daniel masih berbicara di dalam hati.


"Ya, benar, kamu selalu bilang kalau ini sudah menjadi kewajiban seorang ibu rumahtangga dan seorang istri!"


Daniel masih berbicara dalam hati.

__ADS_1


Sementara Maya, wanita itu tidak berani masuk ke kamar, ia masih duduk di sofa ruang tengah.


"Mah," lirih Kania yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik dari kamar Ifraz.


"Sayang, kemari!" kata Maya seraya membuka dua tangannya dan Kania masuk kedalam pelukan itu.


"Mah, Ken sedih lihat kalian menangis, Mamah kenapa? Ken bisa kok jadi teman curhat mamah," ucap Ken seraya mendongakkan kepala, menatap Maya berwajah sembab.


"Nggak apa-apa, sayang," jawab Maya seraya mengecup kening Kania.


Pemandangan itu dilihat oleh daniel yang berdiri di samping lemari yang berada di samping pintu ruangan itu, pria yang merasa dirinya bodoh itu tak tega melihat Kania, takut Kania akan merasa bersedih di suatu hari nanti.


Daniel memilih kembali ke kamar, membaringkan dirinya di ranjang dan mencoba memejamkan matanya.


Hari sudah sangat larut dan Ifraz masih terus memutar musik itu.


Sementara Maya, ia memilih untuk menemani Ken tidur.


Setelah Ken tidur, Maya masuk ke kamarnya dan ternyata Danil sudah tidur.


Maya ikut membaringkan dirinya di ranjang dan kali ini Daniel tidur dengan membelakanginya.


Tak ada jawaban membuat Maya mengira kalau Daniel tak mendengar ucapannya.


"Sudah seharusnya kamu membenci ku, sudah seharusnya juga kamu marah, kamu ingat, kamu selalu memintaku untuk marah, aku tidak bisa marah karena kamu terlalu baik dan aku selalu melukai hati kamu!" kata Maya dan Daniel masih diam. Ia hanya mendengarkan.


"Selamat malam, maafkan aku, aku selalu menyusahkan kamu!" ucap maya dan setelah itu Maya ikut memejamkan matanya dan Daniel menitikkan air mata.


Di kamar Ifraz, pria itu sudah mematikan musiknya, merasa lelah dan masih dengan seragamnya ia tertidur.


Sampai pagi, Ifraz hanya tidur beberapa jam, pagi sekali Ifraz sudah keluar dari rumah, ia berangkat sekolah dengan mengendarai motor, pria itu ngebut di jalan dan sekarang di tilang oleh polisi.


Ifraz yang ingin membuat orang tuanya itu repot sengaja membuat masalah engan polisi.


Tetapi, belum sempat Ifraz membuat masalah Besar sudah datang Biru, pria itu menepuk bahu Ifraz.


"Anak muda! Ada apa? Kenapa berurusan dengan polisi?"


Biru memperhatikan Ifraz yang tanpa helm dan menggunakan jaket.

__ADS_1


Setelah itu Biru mengajak Ifraz berbicara entah apa yang yang Biru katakan tetapi pria itu berhasil membuat Ifraz menurut.


Sekaang Biru mengurus urusannya dengan polisi dan selesai menggunakan uang.


Setelah itu Biru mengendarai motornya, "Jangan lupa, nanti malam!" kata Biru sebelum benar-benar pergi menghilang dari hadapan Ifraz.


Ifraz menggelengkan kepala, "Tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi!" gumam Ifraz.


Wah, kira-kira apa yang Biru rencanakan ya.


Sementara itu, Biru mengendarai motornya pulang ke rumah. Di sana Biru melihat Pia yang sudah yang siap akan berangkat.


"Ayah, dari mana? Kenapa Pia nggak diajak jalan pagi?" ucap Pia, gadis itu mengerucutkan bibirnya.


Biru hanya menjawab dengan senyum.


Tak menjawab pertanyaan Pia, Biru meminta pada Pia untuk tidak mengendarai mobilnya sendiri.


Biru takut Pia akan mengantuk dan mengalami kecelakaan.


Sekarang, Pia diantar oleh Pak Supri.


Sesampainya di sekolah, Pia melihat motor Ifraz tetapi tak menemukannya, gadis itu mencari ke belakang sekolah dan Pia menemukan Ifraz tertidur di kursi yang ia susun memanjang.


Pia menjaga Ifraz dan selama itu juga ia memperhatikan wajah tampan Ifraz, dengan iseng Pia mengambil gambar Ifraz sedang tertidur pulas dengan mulut yang sedikit mangap.


Pia terkekeh dan mengirim foto itu ke ponsel Biru.


"Ayah, dia sangat lucu!" kata Pia dan membuat Biru teringat dengan Maya.


Flashback on


Dua tahun setelah pernikahannya dengan Maya, saat itu Biru belum dapat mencintai Maya seutuhnya, Biru yang sedang dalam ruangan meeting mendapat pesan suara dari Maya dan tak sengaja mengeklik play, segera terdengar suara Biru yang sedang mengorok.


Biru terkejut mendengar itu dan semua orang yang berada di ruangan meeting menahan tawa, Biru pun menggelengkan kepalanya, sedikit tersenyum dan itu adalah pertama kalinya Biru tersenyum untuk Maya walaupun Maya tidak melihatnya.


Flashback off


Bersambung, jangan lupa klik like setelah membaca, yuk di favoritkan juga, ya. Mau gift atau vote monggo, terimakasih yang selalu datang untuk membaca.

__ADS_1


__ADS_2