Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Masih Menanti?


__ADS_3

Daniel segera melepaskan pelukannya, dengan lemas mengambil pakaiannya yang sudah tersedia di ranjang.


"Yang ingin ku dengar adalah (I LOVE YOU TO!)" batin Daniel.


Setelah berpakaian, ia mengingatkan Maya untuk segera bersiap karena ini adalah hari libur, Daniel ingin mengajak keluarganya makan siang di luar, sekalian merayakan ulang tahun Kania.


Maya menjawab dengan tersenyum, ia berjalan melewati Daniel yang sedang memakai jam tangan, lalu Maya merasakan kalau tangan Daniel melingkar di pinggangnya.


"Sayang, kenapa kamu sangat baik sekali?" tanya Daniel.


"Kewajibanku, sebagai seorang ibu dan istri," jawab Maya, setelah itu, ia melepaskan tangan Daniel dan segera masuk ke kamar mandi.


"Hhmmm, selalu itu yang dia katakan, harus berapa lama lagi aku menunggu kata cinta itu terucap!" Tentunya Daniel mengatakan itu hanya dalam hati.


Sekarang, Daniel keluar dari kamar, ia ikut berkumpul dengan Ifraz dan Kania yang sudah rapih di ruang keluarga, keduanya sedang bermain PS dan Kania selalu kalah dengan Ifraz.


"Males ah, Ken kalah mulu sama abang!" kata Kania seraya melepaskan stik game tersebut.


"Ututuuu, jangan ngambek dong!" kata Ifraz seraya menarik sedikit rambut Kania yang sedang merajuk.


"Abang, tuh kan, bando Ken jadi merosot!" gerutu Kania seraya kembali merapikan bando dan rambutnya.


Ifraz yang ingin kembali menggoda adiknya itu segera merogoh saku celananya, ponselnya bergetar dan ternyata Pia mengirim pesan.


"Libur mau kemana?"


"Mau ke villa, Ken ulang tahun, kami di sana selama dua hari, jangan kangen,ya."


"Heleh!" jawab Pia singkat.


Setelah itu, Ifraz tidak lagi membalas pesan Pia.


****


"Kenapa? Kalian nggak jalan?" tanya Biru yang sedang duduk di balkon bersama dengan Pia, sebenarnya Biru ingin mengetahui apa yang sedang Ifraz lakukan.


Sungguh, dunia ini panggung sandiwara, Biru bertanya demikian, agaknya, supaya mengetahui apa yang sedang Ifraz lakukan.


"Enggak, dia lagi mau ke villa, sama keluarganya," jawab Pia, gadis itu tersenyum pada Biru, senyum yang dipaksakan.


"Kenapa senyumnya gitu!" tanya Biru, pria itu menatap penuh curiga pada Pia.


"Pia mau ibu, Pia ingin merasakan keluarga yang utuh, ayah," ucap Pia dengan mata yang berkaca.


"Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki, itu akan membuat kamu bahagia!" lirih Biru, pria tampan itu mengusap pucuk kepala Pia.


Biru bangun dari duduknya, pria itu masuk ke kamar dan segera bersiap.


Sedangkan Pia, gadis itu bertanya pada temannya, Karen, bertanya bagaimana rasanya punya ibu.

__ADS_1


"Kenapa tidak kita jodohkan saja ayah kamu dengan janda sebelah!" jawab Karen membuat Pia menarik nafas.


"Ah, tapi benar juga, dari pada gue tanya orang nggak ada jawabannya, mending gue comblangin ayah aja!" gumam Pia. Setelah itu, Pia mendengar namanya di sebut oleh Biru.


"OKTAVIA DINARA!" teriak Biru yang sedang berdiri di tangga, sudah lengkap dengan kopernya.


"Ayah, mau kemana?" tanya Pia, gadis itu melongokkan kepala.


"Kita jalan, berlibur!" ajak Biru.


Pia pun tidak menjawab lagi, gadis itu segera bangun dan berlari masuk ke kamar untuk bersiap.


"Kebiasaan ayah, bukannya bilang dari tadi kek!" ucap Pia seraya memasukkan barang akan di bawanya.


"Duh, mau kemana ya, mana lupa nanya lagi!" gumam Pia.


Setelah itu, Pia berteriak dari pintu. "Ayah! Kita mau kemana?"


Tak ada jawaban, karena Biru sedang memerintahkan Supri untuk menyiapkan mobil.


Pia pun akhirnya membawa beberapa pakaian ganti, ia berfikir kalau Biru akan mengajaknya berlibur ke villanya yang berada di Sukabumi.


"Asik, pantai!" seru Pia seraya menyeret koper miliknya.


****


Ifraz dan keluarganya sudah dalam perjalanan, Maya dan Kania tertidur di bangku belakang, Ifraz duduk di depan menemani Daniel, sibuk dengan ponselnya.


Ifraz menjawab dengan senyum kikuk.


"Kamu udah punya pacar?"


"Udah, tapi papah jangan berisik, nanti mamah dengar!" lirih Ifraz. Ya, Ifraz merasa lebih terbuka pada Daniel karena merasa kalau Daniel lebih bisa diajak berbicara.


Berbeda dengan Maya yang seolah menyimpan banyak rahasia dan memang menyimpan rahasia.


"Kenalin dong sama papah, ingat ya, kalian pacaran nggak boleh sembunyi-sembunyi, jangan melakukan yang dilarang!" ucap Daniel, pria itu mencoba menasehati anaknya.


Ifraz pun tersenyum dengan menganggukkan kepala, merasa telah melanggar aturan orang tuanya, karena baru kemarin Ifraz berciuman dengan Zen.


Setelah beberapa jam, sekarang Daniel sudah sampai di villa, puncak Bogor.


Setelah itu, Daniel membangunkan Maya.


"Sayang, bangun! Kita sudah sampai!"


Maya pun mulai menggerakkan badannya sementara bungsu, ia dibopong oleh Daniel dan Ifraz yang membawakan barang-barangnya masuk ke villa.


Tepat pukul 11.00 wib, mereka sampai dan ternyata hidangan makan siang sudah tersaji di meja makan.

__ADS_1


"Terimakasih, Bi," ucap Maya pada bibi yang sedang mencuci perabotan.


"Sama-sama, nyonya," jawab bibi seraya menganggukkan kepala


****


Di rumah Marisa.


"Zen, sedang apa kamu? Bukannya dekati dia! Malah enak-enakkan di rumah!" Kata Marisa yang berdiri di pintu kamar Zen.


"Dia lagi pergi, Tan. Sama keluarganya," jawab Zenia.


"Kemana? Kenapa nggak kamu ikuti, biar akrab sama keluarganya!"


"Jauh, Tan. Mana bisa aku nyetir, mau ikut sama dia nggak diajak," jawab Zenia dengan sedikit manja.


Gadis itu sedang bermain ponsel di ranjang, berbalas chat dengan Ifraz.


"Ya sudah kita berangkat, kamu tau kan dimana dia?" tanya Marisa.


"Ini kesempatan bagus!" gumam Marisa dalam hati.


"Kita berdua?"


"Bertiga!" jawab Marisa.


"Tapi Zen nggak mau pergi sama Ibu!"


"Bertiga dengan sopir!" jawab Marisa, setelah mengatakan itu, ia segera menutup pintu kamar Zenia.


"Hafizah, jangan secepat ini kamu bertemu dengan Maya!" batin Marisa, Ifraz harus jatuh lebih dalam di pelukan Zenia lebih dulu! Pikir Marisa.


****


Sekarang, Biru sudah sampai di villa sewaannya, villa itu tidak jauh dari villa Daniel.


Bahkan Biru dapat melihat villa Daniel dari tempatnya berdiri sekarang, di balkon villa sewaannya.


Wah... wah. Kira-kira Biru dapat menahan rasa cemburunya nggak ya saat melihat Daniel mengajak Maya untuk bermesraan?


****


"Ayah, Pia kira akan ke Sukabumi," kata Pia seraya meletakkan kopernya di samping sofa, gadis itu duduk di sofa panjang, merasa lelah setelah perjalanan jauh.


"Tidak, nanti kapan-kapan kita ke sana!" jawab Biru yang sedang memperhatikan seberang.


"Pia, katanya kamu suka sama Ifraz, gerak cepat dong!" kata Biru, tanpa Biru sadari kalau Pia sudah tertidur pulas di sofa.


Tak ada jawaban, membuat Biru melihat kearah anaknya.

__ADS_1


"Astaga, nggak bisa ketemu bantal, asal ketemu bantal pasti tidur!" kata Biru, pria itu berkacak pinggang.


Bersambung, yuk teman jangan lupa klik like, komen dan di fav ya, sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2