
Ditinggal pas lagi Sayang-sayangnya, itu lah yang Ifraz rasakan. Sekarang, Ifraz tak lagi pernah berbicara pada semua orang kalau tidak penting-penting sangat. Pria itu semakin dingin, hanya bicara pada Kania dan itu pun tidak setiap saat Kania bertanya.
Ifraz menghabiskan waktu untuk menyendiri dan sekarang di kamarnya ada samsak, samsak itu bergambar Zenia. Setiap mengingat Zenia setiap itu juga Ifraz meninju samsak itu. Mencoba untuk membencinya, melampiaskan amarahnya pada samsak itu.
Malam ini, satu bulan telah berlalu, Ifraz baru saja selesai meninju samsak dan membutuhkan rokok. Ifraz keluar dari kamar dan melewati semua orang yang ada di ruang tengah begitu saja.
Maya, Daniel dan Kania menatap pada Ifraz yang berjalan dengan menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya dengan menutup hoodie di kepalanya.
Semua orang merasakan kepedihan hati Ifraz. Tetapi Ifraz menyembunyikannya, tersadar sudah sering dinasehati dan Ifraz tetap memuja Zenia, inilah akhirnya yang di dapat.
Selain sakit hati Ifraz juga merasa malu pada semua orang.
Sekarang, Ifraz yang sedang mengendarai motor, pulang dari minimarket itu di hadang oleh tiga anak muda yang sepertinya memiliki niat jahat.
Ifraz tersenyum smirk melihat anak muda itu yang terlihat kerempeng. Ifraz turun dari motornya tanpa melepaskan helm.
Ifraz hanya diam saja dan anak-anak muda itu mulai maju dan mencoba melumpuhkan Ifraz yang sama sekali tak gentar.
Satu tinju Ifraz dapatkan di perut, lalu Ifraz memelintir tangan yang meninju nya, dengan cepat Ifraz meninju balas perutnya. Setelah itu mendorong pemuda tersebut sampai tersungkur.
Ifraz menatap sisa dua pemuda itu, malam ini Ifraz merasa senang karena amarahnya akan dilampiaskan pada yang mengganggunya.
Ifraz berdiri dengan tenang menunggu pergerakkan dari lawan dan dua pemuda itu maju bersama berniat akan mengeroyok Ifraz, alih-alih dap melumpuhkan justru merekalah yang kena apes karena telah menganggu singa yang tengah lapar, haus akan kasih sayang dari kekasihnya yang pergi tanpa kepastian.
Setelah selesai bertarung, sekarang Ifraz kembali pulang, sesampainya di halaman rumah, Ifraz menyalakan satu rokoknya, menghisapnya dalam benda yang sedang apitnya itu, membuka pintu dan tidak lupa menutupnya.
Sekarang rumah Maya penuh dengan asap rokok Ifraz.
Di dalam kamar, Maya merasa sedih dengan anaknya.
Maya meminta pada Daniel untuk membuat Ifraz dekat dengan Biru, dengan cara memberikan tanggung jawab pekerjaan di kantor ayahnya.
"Aku setuju, semua demi Ifraz, lagipun aku harus percaya kamu setelah 14 tahun berumah tangga tidak ada lagi yang harus di khawatirkan!" kata Daniel dan Maya menjawab dalam hati ,"Telat, Mas!"
__ADS_1
Benar saja, keesokan paginya, Maya membuka kamar Ifraz yang sangat berantakan, membuka tirai jendelanya membuat Ifraz kesilauan dan menggerutu.
"Apaan, sih. Masih pagi juga!"
"Cepat mandi dan ikutlah bersama dengan ayah kamu. Dia kan mengenalkan kamu sebagai penerus perusahaannya!" kata Maya seraya menarik selimut Ifraz.
"Kenapa gue? Kan ada Pia!" jawab Ifraz.
"Ayah kamu sudah menunggu, cepat, jangan membuat dia menunggu lama!" perintah Maya dan Ifraz pun tak menurutinya.
"Keluar!" kata Ifraz pada Maya dan Maya menjawab kalau ia akan menunggunya 10 menit lagi. Namun, Ifraz yang selalu menguji kesabaran itu baru turun menemui semua orang setelah satu jam lamanya.
Ifraz yang baru turun dari lantai atas itu berjalan melewati semua yang sedang menunggu di ruang keluarga, pria bodoh itu berjalan ke arah mobil Biru dan langsung masuk ke mobil, ternyata ada Pia di sana ynag sedang memangku laptopnya.
"Hai. Lama nggak jumpa!" sapa Pia, gadis itu tersenyum manis pada Ifraz yang segera menyenderkan kepalanya kebelakang, memejamkan mata tak menjawab sahutan Pia.
Pia pun merasa menyesal telah menyapanya, berfikir kalau seharusnya dia diam saja dan Pia memperhatikan Ifraz yang terlihat semakin kurus di matanya.
Biru menghubungi Ran untuk menyiapkan jaz Ifraz.
Benar saja, sesampainya di sana, Ran sudah menunggu dan langsung memberikan jaz berwana krem untuk Ifraz.
Biru beserta anak-anaknya berjalan masuk ke dalam gedung. Di sana semua menyambutnya, beberapa gadis memuji ketampanan Ifraz dan para pria memuji kecantikan Pia yang terlihat alami dan natural.
Dan Ifraz terlihat sangat cuek, ia mau mengikuti Biru ke kantor hanya untuk mengisi waktu luangnya, berfikir siapa tau dapat melupakan Zenia.
Bukannya dapat melupakan, semakin berusaha melupakan semakin merindukan Zenia.
Sekarang, Biru sudah membawa Ifraz ke ruangannya, Biru mengatakan kalau Ifraz juga harus tinggal dengannya karena banyak yang harus Biru ajarkan.
"Terserah!" jawab Ifraz seraya menatap layar ponselnya. Duduk di sofa dengan menyilangkan kaki, tentunya itu di dengar oleh Zenia, gadis itu merasa berdebar saat mendengar Ifraz akan tinggal di rumahnya.
Tak ada lagi yang di lakukan oleh kedua anak muda itu dan sekarang Biru meminta pada Ifraz untuk mengantarkan Pia ke kampus.
__ADS_1
Ifraz berdiri dari duduknya, membuat Pia dan Biru mengira kalau Ifraz mengiyakan ucapan Biru.
Dengan cepat Pia ikut berdiri dan mulai mengekori Ifraz,
Ifraz menyadari itu dan melihat ke belakang, Ifraz berhenti dan membuat Pia harus menabrak Ifraz yang tiba-tiba berehenti.
"Duh!" pekik Pia dan Ifraz bertanya, "Ngapain, lo?"
"Ke kampus, kan?" tanya Pia dan Ifraz menjawab, "Selama ini lo bisa kan berangkat sendiri?"
Setelah mengatakan itu, Ifraz pergi meninggalkan Pia dan Pia melihat ke arah Biru yang memperhatikan dari tempatnya duduk.
Setelah itu Biru memerintahkan Ran untuk mengantar Pia.
****
Selama perjalanan, Pia merasa kalau Ifraz sekarang bukanlah Ifraz yang dulu, dulu hangat dan penuh canda tawa, sekarang menjadi sangat dingin dan tidak berteman dengan siapapun selain kesendiriannya.
"Ifraz, lo semakin jauh buat gue gapai!" batin Pia, ia memejamkan mata dan masih terngiang ucapan Ifraz yang begitu dingin padanya.
****
Di tempat lain, Zenia yang dulunya begajulan sekarang menjadi anak rumahan, kuliah lalu pulang, begitulah keseharian Zenia, dalam hatinya selalu memanggil nama Ifraz.
Ia hanya akan melihat Bram yang sudah membaik, duduk di teras seraya meminum minuman hangat.
Bram melihat pada gadis itu, merasa kasihan dan sekarang Zenia hampir setiap malam bertengkar dengan Marisa.
Bram yang mulai tak tega itu mulai mencoba mengakrabkan diri dengan Zenia, karena sebenarnya Bram juga membutuhkan teman.
"Heh, kenapa, lo?" tanya Bram mengagetkan Zenia yang sedang menatapnya kosong.
Bersambung.
__ADS_1