
Pembaca yang baik, jangan lupa klik like untuk mendukung karya receh ini, ya.
Selamat membaca...
****
Maya juga memukulkan tongkat bambu itu ke lengan Marisa dan Marisa menahannya, ia menarik bambu itu dan membuat Maya terjatuh.
"Akh!" pekik Maya, wanita berkuncir kuda itu menatap tajam Marisa, terlihat Marisa melemparkan bambu itu dari tangannya.
Marisa pun menjambak Maya dan Maya tidak diam saja, wanita yang masih terduduk itu menarik kaki Marisa hingga wanita itu terjatuh, Maya mengambil kesempatan ini dan segera naik keatas perut Marisa, Maya yang sudah sangat geram dengan Marisa yang selalu mengganggunya itu mencekik Marisa.
Sementara Biru, ia merasa kalau Maya akan menghabisi Marisa itu menjadi khawatir.
Ia segera melerai dan sekarang Marisa yang hampir kehabisan nafas itu segera mengambil nafas banyak-banyak.
"Maya, kamu bisa membunuhnya!" kata Biru yang menahan kedua lengan Maya.
"Aku akan menghabisi siapa saja yang menyentuh putriku!" seru Maya seraya berusaha melepaskan tangan Biru dari lengannya.
Ya, begitulah seorang ibu, walau terlihat lemah tetapi nomor satu dalam melindungi dan mencintai anaknya.
Marisa menertawakan Maya, ia juga mengambil kesempatan untuk meraih belati yang tidak jauh darinya.
Marisa pun bangun dan berlari kearah Maya dan Biru.
"Aaaaaa!" teriak Marisa seraya mengayunkan belati itu ke arah Maya da Biru yang mendengar itu segera melihat kearah Marisa.
Dengan cepat Biru menendang perut Marisa hingga wanita itu memuntahkan darah dari mulutnya.
Tidak lama kemudian polisi datang untuk menangkap Marisa, sementara Ran dan anak buahnya berhasil menemukan persembunyian Black.
Beruntung Kania masih dalam keadaan utuh, niat awal mereka adalah menjual barang mulus itu tanpa lecet.
Ran membawa Kania ke tempat Maya dan Biru berada, keduanya masih berada itu bangunan tua itu.
"Mamah," seru Kania dan Maya yang sedang duduk di bagian depan mobil itu segera turun dan memeluk Kania yang berlari kearahnya.
"Sayang, gimana keadaan kamu?" tanya Maya seraya terus menciumi wajah Kania.
"Ken baik, Mah. Untung tadi ada paman segera datang, jadi mereka gagal buat bawa Ken pergi lagi," jawab Kania seraya menatap wajah Maya yang berdebu.
Biru mengusap pucuk kepala Kania dan memuji Maya. "Ibumu sangat tangguh!"
Kania hanya menjawab dengan senyuman.
"Aku merasa kuat kalau ada kamu!" batin Maya seraya Biru.
"Astaga, apa yang ku pikirkan!" Maya masih membatin.
Setelah itu, Maya mengajak untuk segera pulang dan Biru mengantarkan Maya sampai ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Maya di sambut oleh Daniel yang ternyata sudah pulang.
Daniel melihat Maya yang berdebu dan juga ada Biru yang berjalan di sampingnya.
Daniel menatap dengan datar dan Maya pun menatap Daniel lalu bergantian menatap Biru.
Dua lelaki itu saling menatap, Biru yang tau diri posisinya itu segera pamit pada Daniel dan Maya.
"Maaf, saya hanya kebetulan membantu!" kata Biru, setelah itu Biru tersenyum pada Kania yang berada di sisi kanan Maya, menatapnya, Biru juga tersenyum pada Maya dan Maya menundukkan kepala.
Setelah kepergian Biru, Daniel bertanya pada Maya apa yang terjadi dan Maya menjelaskan semua.
"Kenapa kamu tidak menghubungi aku?"
"Sudah, tidak bisa dihubungi, ini masalah serius jadi aku mana mungkin menunggu kamu pulang dari luar kota," jawab Maya dan Daniel terdiam.
Setelah itu, Kania yang merasa lelah itu segera mengajak kedua orang tuanya untuk masuk.
Setelah kepergian Biru, Maya kembali merasa lemah, merasa kalau kekuatannya dalam dirinya itu hilang begitu saja.
"Kamu terluka?" tanya Daniel yang mencoba menekan rasa cemburunya itu dan Maya menggelengkan kepala.
Setelah itu, Maya pamit pada Daniel untuk mandi lebih dulu.
Daniel pun mengiyakan dan menemani Kania di kamarnya.
Di kamar Kania, Daniel mendengar cerita kalau Maya tadi terlihat sangat jagoan.
"Tadi Om Biru yang cerita, kalau Ken nggak lihat langsung, kan Ken di sekap di tempat yang berbeda."
Kania pun menurut dan Daniel segera menyusul Maya ke kamar.
Maya masih berada di kamar mandi, ia sedang berendam dalam beth up.
Matanya terpejam dan di sana terlihat bayangan wajah Biru yang teramat dekat saat Biru mencoba menenangkannya tadi.
"Maafkan aku, maafkan!" lirih Maya masih dengan mata terpejam.
Entah, Maya meminta pada siapa, ia tidak menyebutkan nama.
Sementara itu, di kantor polisi, Marisa menghubungi Bram.
Bram pun datang dan menolak permintaan Marisa yang meminta untuk menjaminnya.
"Maaf, ini adalah hukuman mu, Kakak sendiri yang tidak mau dinasehati dan selalu menyimpan dendam," kata Bram, setelah itu Bram pergi dari sana dengan tega meninggalkan Marisa yang menatapnya penuh benci.
Adakah rasa menyesal di hati Marisa?
"Aaaaaaa!" teriak Marisa seraya mengacak rambutnya sendiri.
Sementara itu, Bram keluar dari kantor polisi dan segera mengendarai motornya.
__ADS_1
"Ini adalah pelajaran bagi kamu, Kak!" kata Bram dalam hati.
****
Ifraz sudah sampai di rumahnya dan segera di sambut oleh Pia.
Pia yang menyembunyikan sesuatu di balik badannya itu mencoba menghalangi Ifraz yang terlihat lelah.
Ifraz pun menatap Pia, "Permisi, aku pengen mandi dulu, baru bercanda, ya!"
"Yakin? Nggak mau liat apa yang ada di tangan ku?" tanya Pia masih dengan mencoba menghalangi langkah Ifraz.
"Apa sih? Makanan? Atau apa?" tanya Ifraz dan sekarang Ifraz yang mencoba meladeni Pia itu segera menarik tangan Pia yang disembunyikan.
Jaraknya yang begitu dekat membuat Pia kembali mual.
"Kamu bau banget!" kata Pia seraya menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.
"Bau apa sih, orang wangi gini kok!" gerutu Ifraz seraya menyusul Pia.
Ifraz membantu Pia dengan memijit tengkuknya.
"Tadi dokter udah datang belum?" tanya Ifraz.
Pia menjawab dengan menganggukkan kepala, setelah itu Pia memberikan tespek yang tadi ia sembunyikan.
"Aku hamil!" lirih Pia dan Ifraz pun meloncat kegirangan.
"Kita punya anak?" tanya Ifraz dan kali ini memeluk Pia dengan cepat Pia mendorong Ifraz.
"Tolong jangan dekat-dekat, aku enggak kuat sama baunya kamu!" protes Pia dan Ifraz terdengar sangat sedih.
"Kok gitu, aku kangen tau!"
"Tapi anak ini enggak mau dekat-dekat dengan ayahnya, nanti ku mual lagi!"
Setelah berdebat, Pia pun pergi meninggalkan Ifraz yang menatapnya datar.
****
Di rumah Daniel.
"Maya, aku minta maaf tidak ada di saat kamu butuhkan," ucap Daniel yang sedang memperhatikan Maya memilih baju.
"Enggak papa, lagian aku sama Ken juga baik-baik aja!" jawab Maya, ia menolehkan kepalanya, menatap Daniel dan memberikan senyum.
Daniel yang melihat Maya sangat menggoda itu dengan rambut yang masih basah segera melepaskan dasinya.
Daniel bangun dari duduknya dan memeluk Maya dari belakang.
"Maaf," lirih Daniel dan tanpa Daniel tau kalau Maya menitikkan air mata.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang minta maaf," batin Maya.
Bersambung.