
Bram duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya kasar. Pria itu merutuki diri sendiri yang sudah ke gabah.
"Sial, kenapa gua jadi kepikiran terus!" geram Bram, pria itu merasa bersalah pada Maya.
Sementara Maya, wanita itu merasa malu pada Biru dan sekarang Biru tidak mengajaknya langsung pulang ke rumah, pria itu mengajak Maya ke pantai untuk melihat matahari terbenam.
Keduanya duduk di atas mobil bagian depan sementara Andy di usir untuk sementara oleh Biru yang ingin memiliki waktu berdua bersama Maya.
Bahkan, kali ini Biru terlihat sangat santai, ia tidak keberatan dengan penampilan Maya yang kembali seperti sebelum menikah, selalu mengenakan jeans dan kaos. Biru memperhatikan Maya dan Maya bertanya, "Kenapa? Kamu nggak suka kan liat aku berpenampilan seperti ini?"
"Enggak, bukan itu. Aku mau kamu jadi diri sendiri, aku nggak akan melarang kamu ini dan itu lagi, cuma satu pintaku May, Jauhi Bram!" jawab Biru, lelaki itu menatap istrinya dan sekarang keduanya saling menatap, Maya mencari sesuatu yang telah hilang dari suaminya dan sekarang masih belum menemukan itu.
"May!" lirih Biru saat melihat istrinya terdiam.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia!" jawab Maya, wanita itu duduk menekuk lututnya, masih memikirkan Bram yang dianggapnya telah menidurinya.
"Bagus lah, aku percaya sama kamu," kata Biru, lalu Biru menjatuhkan dirinya, tidur terlentang di sana berniat membawa Maya kedalam pelukannya tetapi wanita itu menolak.
"Kenapa kamu ingat aku? Kemana istri barumu itu?"
"Aku tidak pernah melupakan kamu, May. Aku mau kita kembali rukun seperti waktu itu!"
Maya pun menolehkan kepalanya, melihat ke arah suaminya, berfikir kalau dia begitu mudahnya meminta semua kembali seperti dulu.
"Kamu pikir aku mau semua menjadi seperti ini? Harusnya kamu yang memulai dan kamu juga yang harus bisa mengembalikan semua kebahagiaan dalam rumah tangga kita!" jawab Maya terdengar ketus.
Walau begitu Biru tetap mencoba untuk bersabar, tidak ingin terpancing amarah.
"Wajar kalau kamu marah, May. Itu tandanya kamu mencintai aku, kan?"
"Entah, karena semenjak kamu membagi cinta itu semua rasa telah berbeda," jawab Maya membuat Biru kembali dengan posisi duduknya.
Pria itu merengkuh tubuh istrinya, ingin mengembalikan semua rasa yang telah hilang, tetapi Maya hanya diam tidak seperti biasanya yang selalu akan menyenderkan kepala apabila Biru memeluknya.
__ADS_1
Perlahan Biru mengangkat dagu Maya dan Maya sudah mengerti apa maksud suaminya itu, Maya pun memalingkan wajahnya saat Biru sudah sangat dengan dengannya.
Melihat itu, Biru pun kembali memundurkan wajahnya tidak ingin memaksa Maya.
Sementara Maya, wanita itu merasa bodoh karena kembali teringat dengan Bram.
"Kok bisa-bisanya aku inget cowok itu! Pasti karena aku benci sama dia!" batinnya dan Maya tidak mendengar Biru yang sedang mengajaknya mengobrol.
"Sudah lama kita tidak seperti ini, May! Aku merindukan kamu!"
Tetapi Maya tidak mendengar itu karena Maya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hah? Apa?" tanya Maya seraya melihat Biru dan Biru hanya menarik nafas.
"Kita pulang, aku yakin Ifraz merindukan orang tuanya!" ajak Biru dan Maya yang sangat merindukan anaknya itu pun menjadi bingung.
"Aku harus bagaimana? Satu sisi anakku dan di sisi lainnya aku sangat membenci Mas Biru dan Hafizah," batin Maya.
"Lupakan masalah diantara kita untuk sejenak May, jangan sampai Ifraz menjadi korban," bujuk Biru, lelaki itu menggunakan kelemahan Maya.
"May, aku minta maaf," lirih Biru.
"Maaf kamu tidak akan merubah semuanya." Setelah mengatakan itu Maya turun dari mobil, melepaskan kemeja Biru yang berada di lehernya.
"Aku mau pulang!" jawab Maya, wanita itu berjalan meninggalkan Biru yang menatapnya penuh tanya. Biru turun dari mobilnya, matanya terus menatap Maya yang berjalan dengan mengusap kedua lengannya, rambutnya terbawa semilir angin pantai dan di saat itu pula lah Biru merasakan penyesalan terdalam saat Maya sudah tidak berteriak lagi tetapi perlahan menjauh darinya.
"May, aku nggak mau kehilangan kamu!" batin Biru.
Kemudian Maya mencari ponselnya ingin memesan ojeg tetapi wanita itu melupakan tas selempangnya di apartemen Bram.
"Astaga, aku lupa tas aku tertinggal di sana!" batin Maya, "Nggak mungkin aku kembali ke belakang untuk meminta tumpangan." Lalu Maya melihat seorang pemuda yang baru selesai memancing, Maya mendekatinya dan meminta untuk mengantarkannya ke rumah Gala.
"Tapi alamat ini jauh, saya kemana, mbaknya kemana!" jawab pemuda itu yang sekarang sudah berada dibatas motor bebeknya.
__ADS_1
"Saya bayar mahal, mau ya, seenggaknya sampai keluar dari area pantai biar saya bisa memesan taksi," pinta Maya dan pemuda itu mau mengantar Maya sampai ke jalan raya saja.
Sedangkan Biru, pria itu menatap dari kejauhan kalau Maya meminta tolong pada orang lain padahal di sana ada dirinya.
"Apa kamu sudah tidak mau memaafkan aku lagi, May!" batin Biru, pria itu kembali mengenakan kemejanya dan meminta Andy untuk segera membawanya pulang.
Selama perjalanan Biru hanya diam saja, memikirkan Maya, tentunya hatinya merasakan ada sesuatu yang hilang.
"Aku lebih suka memarahi aku, May. Aku lebih suka kamu berteriak, jangan diam saja. Jangan pasrah. Aku-aku...," batin Biru, pria itu yang sudah duduk di bangku belakang memejamkan matanya, tak terasa air mata menetes.
****
"Terimakasih, boleh saya minta nomor rekening masnya? Nanti saya transfer buat mas, soalnya hape dan dompet saya tertinggal di rumah teman," kata Maya yang baru saja turun dari motor pemuda itu.
"Nggak usah mbak, nggak papa, lagian sekalian jalan kan satu arah, maaf saya tidak bisa mengantar lebih jauh lagi!" kata pemuda itu dan Maya mengucapkan terimakasih padanya.
"Terimakasih banyak, mas."
"Sama-sama, saya permisi!" kata pemuda itu yang kemudian meninggalkan Maya.
Setelah itu Maya berdiri di trotoar menunggu taksi, tanpa Maya tau sebenarnya Biru memperhatikan, bahkan Biru meminta Andy untuk menunggu sampai Maya mendapatkan taksi.
Setelah beberapa menit, sekarang Maya sudah mendapatkan taksi, selama perjalanan Maya melihat keindahan kota dengan lampu-lampu yang sudah menyala, membuat dirinya teringat dengan cinta masa lalunya saat masih sekolah SMA.
"Kalau dulu aku mempertahankan hubungan itu, apa kah aku akan bahagia bersamanya?" batin Maya.
"Entah lah, mungkin ini sudah jalan hidup ku!" Maya masih membatin.
Setelah lebih dari tiga puluh menit sekarang Maya sudah sampai di depan rumahnya, Maya turun dan meminta sopir taksi itu menunggunya.
"Sebentar, Pak."
Maya berlari masuk ke rumah dan ternyata di sana sudah ada Bram yang mengembalikan tas tangan Maya, Bram sedang duduk bersama dengan Gala.
__ADS_1
Bersambung.