
Pia membuka mata dan ia tersenyum pada Ifraz, Ifraz pun tersenyum pada Pia, tidak menyangka kalau ia akan menjadi suaminya.
Lalu, Pia memberanikan diri untuk membelai wajah Ifraz, wajah yang selama ini menghantuinya, selalu ada dan datang tiba-tiba.
Ketika jari lentik Pia mengusap bibir Ifraz, tiba-tiba saja pria itu membuka mulut dan dengan sengaja Ifraz menggigit jari itu.
"Aaaaa!" teriak Pia dan setelah menggigitnya sekarang Ifraz mencium jari itu.
"Nakal banget, sih!" gerutu Pia dan dahinya mengerut, bibirnya mengerucut membuat Ifraz sangat gemas.
Ifraz segera mencium bibir itu sampai Pia tidak bisa menolaknya, Ifraz tak melepaskan itu sebelum kehabisan nafas dan ciuman itu semakin panas, Ifraz membuka tuxedonya dan melemparkan ke sembarang arah.
"Aaummmbp!" bunyi bibir yang saling bersahutan.
Pia yang memiliki pertanyaan itu segera mendorong dada Ifraz, sekarang Ifraz jatuh ke sampingnya dan sekarang Ifraz membawa Pia supaya berada di atasnya.
Pia terkejut karena baru saja ia seperti melayang.
"Kenapa kamu lepaskan?" tanya Ifraz yang sedang menatap tajam Pia.
"Ada yang ingin ku tanyakan!"
"Tanyakan!"
"Dari mana kamu belajar semua ini? Apa dulu kamu melakukannya dengan semua mantan pacar kamu?"
Mendengar pertanyaan itu Ifraz tertawa dan Pia segera bangun, ia membenarkan gaunnya yang sudah hampir melorot.
Pia yang merasa malu itu berdiri membelakangi Ifraz, tanpa Pia tau Ifraz pun sudah berdiri di belakangnya.
Sekarang, Ifraz memeluk Pia dari belakang, mencium leher jenjang Pia yang terekspos, tentu saja apa yang Ifraz lakukan itu membuat Pia merasa geli, geli dan nikmat yang baru pertama kali Pia rasakan.
"Ini adalah naluri, bukan soal pengalaman, kamu harus tau kalau aku bukan pria yang semudah itu mencium wanita!" kata Ifraz tepat di telinga Pia dan berhasil membuat Pia merinding.
Sekarang, Ifraz membuka resleting gaun itu dan segera terlepas dari tubuh Pia.
Pia yang menyadari itu segera menutupi dadanya menggunakan dua tangannya membuat Ifraz terkekeh.
Sementara Ifraz terkekeh, Pia segera berlari dan mengambil selimut yang ada di ranjang.
__ADS_1
"Astaga, Ifraz!" seru Pia yang merasa malu dan sekarang Ifraz kembali mendekat.
"Kenapa malu? Kita sudah menikah, biarkan aku melihat keindahan milikku!" kata Ifraz seraya menahan tangannya di selimut Pia, ingin menarik selimut itu tetapi ia sangat gemas dengan wajah merona Pia.
Sekarang Ifraz meminta pada Pia untuk bersiap.
"Bersiap?" tanya Pia dengan polosnya, rambutnya yang sudah mulai tak beraturan itu semakin menambah keseksian Pia di mata Ifraz.
"Iya, sayang. Aku mau melakukan itu!" kata Ifraz dan sebenarnya ia hanya menggoda karena Ifraz tidak akan memaksa Pia untuk melakukannya sekarang juga.
Mendengar itu Pia tak tau harus bersiap apa yang di maksud oleh suaminya.
"Aku nggak paham!" kata Pia dan Ifraz mencubit hidung Pia.
"Bersiap, maksudnya ke kamar mandi sana, kamu bau acem tau nggak! Sama bersihin itunya juga ya, haha!" ledek Ifraz seraya melepaskan hidung Pia.
"Aauuu!" Pekik Pia.
"Tadi aku udah mau ke kamar mandi tapi kan nggak ada baju!" kata Pia seraya bangun dari duduknya dengan selimut yang melilitnya.
"Aku tau ada baju, tapi kamunya aja yang nggak mau pakai, kan?" kata Ifraz, pria yang masih lengkap dengan kemeja itu ikut bangun dan membuka lemari yang sedari tadi Pia tutupi dan melarang Ifraz untuk membukanya.
Sementara Pia yang melihat itu merasa kalau dirinya akan mati malam ini, bagaimana tidak, di sana sudah tersimpan rapih lingerie berbagai warna dan benar saja, Ifraz mengambilkan lingerie berwarna hitam untuk Pia.
"Ini kerjaan siapa sih bawa baju model gini, astaga!" gerutu Pia dalam hati.
Sekarang, Pia membawa lingerie itu masuk ke kamar mandi, setelah membersihan seluruh badannya, sekarang Pia memakai lingerie itu, tetapi Pia masih menutupi keindahan tubuhnya menggunakan selimut yang tadi dibawanya.
Ifraz yang sudah berganti pakaian santi itu tersenyum pada Pia dan segera bangun dari duduknya, pria itu membopong istrinya dan membawanya ke ranjang big size.
"Aku nggak akan maksa, aku juga tau kalau kamu capek!" kata Ifraz dan Pia menganggukkan kepala.
Pia merasa sedikit kecewa saat mendengar Ifraz mengatakan itu, pasalnya, Pia sudah berdebar sedari tadi dan sudah memikirkan hal ini akan terjadi, tetapi justru Ifraz menyuruhnya untuk beristirahat.
"Kenapa?" tanya Ifraz yang melihat Pia menjadi diam.
Pia menjawab dengan menggelengkan kepala.
Ifraz dan Pia tidur dengan saling memeluk, tetapi Pia masih terjaga malam ini, bahkan sampai larut dan Pia ingin menanyakan cinta Ifraz tetapi Pia mengira Ifraz sudah terlelap.
__ADS_1
Pia yang berada sangat dekat dengan Ifraz itu membelai wajahnya dan Pia sangat terkejut saat Ifraz menyuruhnya untuk melakukan apapun itu asal Pia bahagia.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan!" kata Ifraz dan Pia segera menarik tangannya tetapi tangan itu ditahan oleh Ifraz.
"Jangan berhenti!" kata Ifraz yang menikmati belaian lembut Pia dan sekarang Ifraz membawa tangan Pia ke bawah, menuntun tangan Pia untuk meraba yang sudah berdiri tegak di sana.
"Astaga!" Pia berteriak tepat di telinga Ifraz.
"Oee, bisa nggak sih jangan teriak di telinga!" gerutu Ifraz seraya mengusap telinganya.
Pia segera membawa tangannya masuk ke selimut dan segera menutupi seluruh tubuhnya sampai atas kepala.
Ifraz membuka selimut itu dan meminta Pia untuk bertanggung jawab.
"Kamu harus bertanggung jawab!"
"Tanggung jawab apa? Aku tidak melakukan apapun!" jawab Pia yang masih tidak mengerti maksud Ifraz.
"Tanggung jawab, jinakkan yang meronta di bawah sana!" ucap Ifraz dan sekarang Ifraz bangun dari tidurnya segera menarik selimut yang sadari menutupi tubuh Pia.
Ifraz terpana melihat kecantikan istrinya yang baru ia sadari belakangan ini, ditambah warna lingerie hitam terlihat sangat kontras dengan warna kulit putih mulus Pia.
"Aku mau sekarang!" kata Ifraz yang segera menyerang Pia.
Singkat cerita dengan segala yang mereka lakukan, tidak dapat aku jabarkan dengan detail silahkan menghalu sendiri-sendiri✌.
Akhirnya Ifraz berhasil membobol pertahanan Pia. Ifraz merasa senang dan bahagia saat melihat dan mengetahui kalau Ifraz adalah orang pertama yang menyentuh istrinya.
"Maaf, aku akan bermain lembut namun pasti!" kata Ifraz yang sudah berada di atas Pia.
Pia hanya menganggukkan kepala, tangannya mencengkram kuat seprei yang bertabur kelopak mawar.
Keduanya saling menikmati dan sampai puncak bersama, setelah selesai dengan pencapaiannya, sekarang Ifraz menjatuhkan dirinya di samping Pia.
"Terimakasih, sayang!" kata Ifraz yang kemudian mengecup kening Pia dengan lembut.
Pia menganggukkan kepala dan setelah itu menelusupkan wajahnya di dada Ifraz yang terkena cakar okeh kuku Pia.
Bersambung.
__ADS_1
Duuh, maaf ya kalau kurang hot 🤭, Author masih polos soalnya, jadi cuma bisa bikin yang gini aja.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.