Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Mulai Penasaran!


__ADS_3

Ifraz mengajak Zenia untuk berkeliling di kebun teh. Keduanya berswafoto di sana dengan berbagai pose, pose biasa dan mesra.



Zenia.


Setelah merasa puas, sekarang Ifraz mengajak Zen untuk pulang ke villanya.


"Tapi, aku takut tante bakalan marah terus nampar gue lagi!" jawab Zenia, gadis itu duduk di atas batu besar yang berada di tepi kebun teh, menundukkan kepal.


"Jadi lo mau gimana?"


"Anter gue balik aja, Faz! Gue yakin tante udah nggak marah lagi sama gue!" Zenia menatap Ifraz yang berdiri di depannya.


"Ya udah kita pulang!" kata Ifraz seraya mengulurkan tangannya dan Zenia menerima tangan itu.


Zen dan Ifraz kembali bersepeda dengan Zenia membonceng berdiri di belakang, di jalan, mereka berpapasan dengan mobil Biru dan Pia. Pia melirik ke arahnya, mengembungkan pipi dan Biru menyadari itu.


"Kenapa?"


"Nggak papa! Ayah, bolehkan kalau Pia sesekali main ke rumah Ifraz?"


"Belum waktunya!"


"Sampai kapan ayah?"


"Sampai nanti, kalau ayah sudah mengizinkan!" ucap Biru dengan terus mengemudikan mobilnya.


"Maafkan ayah, Pia. Ayah merencanakan sesuatu, tapi bukan berarti ayah jahat!" batin Biru. Pria itu mengendarai mobilnya kembali ke Jakarta.


"Kenapa? Jangan cemberut dong? Kan kamu yang minta balik cepet!" kata Biru.


"Gimana nggak minta balik, Pia nggak tau kalau ganjen itu ikut ke sini juga!" jawab Pia dalam hati.


Sekarang, Ifraz sudah sampai di villa Marisa, pria itu mengantar Zen masuk.


"Lalu, Zenia melihat Marisa yang sedang duduk di sofa ruang tamu di temani laptopnya.


Melihat itu, Marisa segera menutup laptop dan meninggalkan Zenia berdua dengan Ifraz.


" Zen, kenapa Tante kamu? Nggak suka sama aku?" tanya Ifraz yang masih berdiri di pintu.


"Faz, sebenarnya...." Zenia menggantung ujung kalimatnya.


"Apa, Zen?"


"Lupakan! Yang penting gue tetap bertahan sama lo!" ucap Zenia, setelah itu gadis licik tersebut meminta Ifraz untuk pulang.


"Ok, lo baik-baik, jangan bertengkar lagi sama tante!"


Zenia menganggukkan kepala setelah itu memejamkan mata, membuat Ifraz bertanya-tanya apa yang Zen lakukan.


"Fuh!" Ifraz meniup mata Zen yang terpejam, setelah itu mengacak pucuk kepala Zen membuat Zen merasa sedikit memiliki rasa untuk Ifraz.


"Aduh, cowok, di kasih kok susah, nggak kaya cowok lain!" batin Zenia, gadis itu tersenyum pada Ifraz, lalu melambaikan tangan pada kekasihnya yang sedang berjalan mendekat ke sepedanya.

__ADS_1


Zenia merasa kalau Ifraz adalah lelaki baik, ia menyusul Marisa ke kamarnya, ingin menanyakan sesuatu.


"Masuk!" kata Marisa dari dalam.


Zenia pun membuka pintu dan duduk di ranjang di Marisa.


"Tan, kalau boleh tau, kenapa Tante sangat membenci keluarga Ifraz, Zen merasa mereka keluarga baik-baik, tidak seharusnya Zen mempermainkan dia!"


"Hah!" Marisa tertawa smirk, setelah itu melemparkan selembar foto pada Zenia, foto itu mengenai wajahnya dan sekarang sudah terjatuh di lantai, Zen mengambilnya.


Terlihat Ifraz balita bersama dengan Maya yang sedang jalan-jalan di Batu-Malang.


"Siapa mereka?" tanya Zenia seraya menatap Marisa.


"Itu adalah Ifraz dan yang saya mau wanita itu menderita, menderita karena melihat putranya menderita!"


"Astaga, dendam ternyata!" batin Zenia.


"Sekarang, tugas kamu adalah supaya Ifraz melihat foto ini!" perintah Marisa.


"Ok," jawab Zen, gadis itu bangun lalu keluar dari kamar Marisa, baru saja Zen membuka pintu, Marisa sudah memerintahkannya untuk bersiap.


****


Berbeda dengan keluarga Ifraz, mereka sedang bersiap untuk berlibur ke salah satu taman rekreasi yang berada di puncak.


Mereka mengambil gambar keluarga yang apik, setelah itu, Ifraz mengajak Kania bermain wahana bebek air.


Di sana, Kania mengatakan pada Ifraz soal Zenia.


"Bang, Ken nggak suka sama pacar abang sekarang! Ken lebih suka sama kak Pia!" ucap Kania seraya mengayuh pedal, pandangannya tetap kurus ke depan.


"Ngapain cemburu! Tapi Ken lebih suka Abang sama kakak Pia, titik!" ucap Kania.


Ifraz menarik nafas dan memilih untuk tidak melanjutkan obrolan tersebut.


****


Biru dan Pia sudah sampai di Jakarta, sekarang, Biru menemui Ran yang sudah menunggu di ruang kerja.


"Ada apa?" tanya Biru seraya duduk di kursi kebesarannya, Biru juga memerintahkan Ran untuk duduk.


"Tuan, Hafizah belum berhasil membuat Marisa percaya padanya dan sekarang mereka sedang berada di puncak," jawab Ran.


"Udah tau!" jawab Biru singkat, pria itu melihat ke arah cermin yang berada di meja kerjanya, menatap dirinya dan ternyata brewoknya sudah tebal.


"Tuan, saya masih memikirkan Tuan Muda, saya tidak membayangkan kalau nanti Tuan Muda mengetahui semua dari kubu lawan!"


"Mau bagaimana? Kalau Ifraz mengetahui itu dari kubu lawan Maya tidak akan marah padaku! Kalau aku yang memberitahu sudah jelas mereka akan kecewa padaku! Aku mengkhianati janji lagi pada mereka!"


Mendengar itu, Ran hanya bisa menarik nafas dalam.


"Sekali keras kepala sepertinya akan tetap keras kepala!" batin Ran.


"Saya permisi, Tuan," kata Ran yang kemudian berdiri.

__ADS_1


"Jangan lupa, awasi saja, biarkan Marisa bermain!"


Ran menganggukkan kepala, hanya bisa menurut pada Tuannya.


Ran berpapasan dengan Pia yang sedang membawa camilan ke ruang tengah.


"Paman." Pia menyapa Ran dan Ran tersenyum, menganggukkan kepala pada Pia.


"Ruang kerja ayah, selama ini gue nggak pernah masuk ke sana, ada apa di sana? Apakah ada serpihan masalalu Ayah?" gumam Pia seraya menatap pintu ruang kerja Biru.


"Ayah, maaf kalau Pia mulai penasaran!" batin Pia, kemudian gadis cantik itu segera pergi dari tempatnya berdiri.


Benar saja, Pia menunggu Biru keluar dari ruangan itu tetapi tak seperti biasanya, biasanya ruangan itu tak terkunci dan kali ini ruangan itu ia kunci.


Biru pergi masuk ke kamar, tidak lama kemudian ia keluar lagi dan sudah rapih.


"Ayah, mau kemana?" tanya Pia yang masih duduk di sofa.


"Pergi sebentar, kamu di rumah jangan nakal!" Biru memperingati Pia dan Pia menganggukkan kepala.


Setelah kepergian Biru, Pia menghubungi temannya, memintanya untuk datang ke rumah.


"Ok!" jawab Karena, gadis itu juga ingin memprotes Pia karena semalam tantenya di acuhkan oleh Biru.


Tidak menunggu lama, sekarang Karena sudah tiba di rumah mewah Pia. Karen melihat Pia yang sedang tertidur di sofa dengan memeluk camilan.


"Astaga! Pia! Bangun!" kata Karena seraya mengambil bungkus snacks itu.


Pia pun membuka mata, melihat karena sudah memakan camilannya.


Melihat Pia yang bangun segera Karena membuka mulut dan belum sempat Karena memprotes Pia sudah menutup lebih dulu mulut temannga.


"Bokap gue gagal moveon! Jadi lo jangan marah-marah karena tante lo diabaikan Ayah!"


"puffft!" jawab Karena.


"Nyokap lo udah almarhum apa salahnya move on!" jawab Karena.


"Masih ada, makanya gagal moveon, tapi gue nggak tau siapa orangnya! Di rumah ini juga nggak ada jejak! Cuma satu ruangan yang gue curigai, gue yakin di sana ada petunjuk!" jawab Pia.


"Di mana? Ayo kita lihat, gue penasaran seperti apa nyokap lo! Pasti cantik kaya bidadari!" puji Karen yang berfikiran anaknya saja cantik apalagi ibunya.


"Di kunci!" jawab Pia.


"Cari cadangannya pasti ada!"


"Ok!" jawab Pia, gadis itu segera bangun dan menyeret lengan Karen.


"Eh, kalau mau nyusup itu tunggu rumah sepi!" protes Karen.


"Mumpung ayah lagi pergi!" jawab Pia.


Dapatkah Pia masuk ruang kerja Biru?


Bersambung.

__ADS_1


Yang masih punya vote gratisnya. Yuk di vote 🤗.


Jangan lupa klik like ya teman-teman. Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2