
Keesokan harinya, Biru menerima kembali kekuasaannya, Biru yang sekarang adalah Biru yang bertanggungjawab, ia lebih fokus dalam bekerja dan setiap sore ia akan pergi menemui Ifraz.
Tidak ada yang salah bagi Maya karena Ifraz adalah putranya, sampai ketika Imelda merasa khawatir, takut Maya akan kembali menyakiti putranya.
Sekarang, Imelda meminta Daniel untuk ke rumahnya sebelum pulang bekerja.
"Ada apa, Mah?" tanya Daniel seraya duduk di ruang tengah.
"Kamu tau kalau setiap sore mantan suami istri kamu bertemu?"
"Tau, Maya akan melaporkan semua kegiatannya padaku, kenapa, Mah?"
"Kamu ini bagaimana? Harusnya kamu melarang mereka bertemu! Kalau mereka masih ada cinta gimana? Kamu mau Maya pergi meninggalkan kamu untuk yang ke dua kalinya?"
"Daniel nggak mau ngekang Maya, Mah. Lagi pula, Biru kan ayahnya Ifraz sudah seharusnya dia bertemu dengan anaknya!"
Imelda menggelengkan kepala, merasa pusing dengan anaknya yang begitu bodoh.
"Kamu kalau bodoh jangan keterlaluan!"
"Kenapa sih, mamah senang sekali mengatai anaknya bodoh!"
"Kamu ini mampu, bisa menafkahi anak tiri kamu, sudah seharusnya kamu melarang mereka bertemu, di luar sana, setiap yang sudah bercerai pasti melarang anaknya bertemu dengan ayahnya, kecuali emang nggak mampu baru lah Maya minta pertanggungjawaban dari mantan suami untuk anaknya, beda sama kamu, Daniel. Kamu itu mampu, bisa memberi makan dan menyekolahkan anak tiri kamu!"
Setelah mengatakan itu, Imelda bangun dan meninggalkan Daniel.
"Benar yang mamah katakan, nggak seharusnya Maya setiap hari bertemu dengan Biru!"
Setelah itu Daniel segera pulang, sesampainya di rumah, Daniel melihat Maya sedang mencuci perabotan rumah tangga, sedangkan Ifraz sedang duduk di kursi bayi dengan mainannya, tidak jauh dari sisi Maya.
"May, kamu nggak capek?" tanya Daniel seraya menarik kursi meja makan, ia duduk menemani Ifraz.
"Eh, kamu. Kapan pulang?" tanya Maya seraya melihat ke arah Daniel duduk.
"Baru aja, kalau capek istirahat aja, besok aku cari asisten rumah tangga, buat bantu kamu di rumah!"
"Terimakasih," jawab Maya.
Setelah itu, ia mengambilkan minum untuk Daniel.
"Makasih, May!" ucap Daniel.
"Sama-sama," jawab Maya, setelah itu ketiganya makan malam bersama.
Selesai dengan makan, Daniel memilih untuk mandi lebih dulu.
Daniel.
Selesai dengan mandi, Daniel mengajak Maya untuk bersantai setelah Ifraz sudah tertidur.
__ADS_1
Maya datang dengan membawa teh hangat, menemani Daniel duduk di ruang tengah.
"Ada apa? Sepertinya ada yang serius?" tanya Maya seraya menyajikan apa yang dibawa.
"May, aku minta sesuatu dari kamu boleh?" tanya Daniel, pria itu menatap Maya.
"Apa itu?" tanya Maya.
"Aku minta tolong kamu jangan bertemu lagi dengan Biru!"
"Maksud kamu, tapi dia adalah ayah Ifraz dan baru beberapa hari Ifraz mengenalnya sebagai ayah," jawab Maya, wanita itu merasa tidak tega pada Biru, Maya juga merasa bingung bagaimana dia harus menyampaikan itu pada Biru.
"Kenapa? Sekarang aku adalah ayahnya!"
Maya terdiam mendengar itu.
"Atau kamu masih mencintai dia?"
"Ti-tidak!"
"Kalau begitu jalankan perintah ku!"
Maya menjawab dengan menganggukkan kepala.
Setelah itu, Maya mengirim pesan pada Biru, melarangnya untuk datang setiap hari.
"Baiklah, aku ada datang setiap akhir pekan," jawab Biru.
"Terimakasih kamu sudah mengerti aku!" kata Maya.
"Pia, hatiku sakit!" lirih Biru dan Pia menjawab, "Potek love, ayah?"
"Apa? Dari mana kamu tau bahasa itu," kekeh Biru, pria itu terkejut sekaligus geli mendengar bahasa dari Pia.
"Ayah mau love, Pia kasih love, ya!" kata Pia seraya mencium telapak tangannya lalu menempelkan tangan itu ke pipi Biru.
"Terimakasih, sayang!" ucap Biru yang kemudian memeluk Pia, si gadis kecil pelipur laranya.
****
Hari ini adalah akhir pekan, Daniel mengajak Maya untuk berjalan-jalan ke mall dan Maya pun tidak menolak, ia berfikir siapa tau cintanya untuk Daniel bisa tumbuh apabila sering bersama.
Ketiganya makan di restoran, dengan telaten Maya menyuapi Ifraz dan Daniel menyuapi Maya, bagi siapa saja yang melihat akan mengira kalau Maya adalah keluarga bahagia.
Seperti yang Marissa lihat siang ini, ia sedang makan siang bersama dengan klien dari perusahaan Brandon.
"Adik gua koma, lu malah senang-senang!" kata Marisa dalam hati, wanita itu menatap tidak suka pada Maya dan Ifraz.
"Sebentar," kata Marisa yang kemudian bangun dari duduknya, ia berjalan menghampiri Maya duduk.
PLAK!
__ADS_1
Marisa menampar Maya.
Maya yang merasakan perih di pipinya sangat terkejut dan mengusap pipi yang telah ditampar oleh Marisa.
Daniel tidak tinggal diam, pria itu bangun dari duduknya dan memasang badan, melindungi Maya dari Marisa yang ingin menjambak Maya.
"Siapa kamu, berani sekali menampar istriku!" kata Daniel, pria itu hampir menampar Marisa kalau Maya tidak meminta untuk tidak bertengkar, sementara itu, Ifraz menangis melihat Mamahnya mendapatkan serangan yang tiba-tiba.
Maya segera menggendong Ifraz yang berada di kursi bayi.
"Gua salah menilai lu, May. Gua cari lu kemana-mana dan ternyata lu asik pacaran sementara adik gua ada di rumah sakit!" teriak Marisa dan tanpa terasa air mata Maya menetes saat mendengar Bram di rumah sakit.
"Maksud kakak?"
"Gua bukan kakak lu lagi!" teriak Marisa, ia tidak akan pernah membiarkan Maya hidup bahagia. Sekarang Marisa meninggalkan Maya dan Daniel, tidak ingin Maya mengetahui di mana adiknya berada.
Setelah itu, dua satpam datang membubarkan kerumunan di dalam resto itu.
Setelah itu, Daniel mengajak Maya dan Ifraz untuk pulang.
Di perjalanan, Maya hanya diam, memberikan empeng milik Ifraz supaya balita itu anteng.
"May, kamu ingin menjenguk dia?" tanya Daniel dengan tetap fokus menyetir.
"Entah," jawab Maya seraya menghapus air matanya.
"May, kalau kamu mau kembali padanya, aku ikhlas," lirih Daniel, pria itu ingin melihat Maya bahagia walau tidak harus dengannya.
"Kamu bicara apa? Apa seperti ini cara kamu mempermainkan pernikahan? Seharusnya kamu jangan menikahiku kalau akan mengembalikan aku padanya!"
Maya mengatakan itu dengan kesal, karena isi hatinya memang sedang sangat berantakan.
"Aku akan mempertemukan kalian!" batin Daniel.
"Itu terserah kalian, nanti mau kembali lagi atau tidak aku akan tetap menerima!" Daniel masih membatin.
Sesampainya di rumah, Daniel melihat Biru sudah duduk di teras rumahnya dengan membawa aneka cemilan khusus balita dan berbagai mainan.
"Ck!" decak Daniel.
Maya melihat ke arah suaminya, merasa tidak enak karena Biru sudah datang lagi ke rumahnya.
Biru berdiri setelah melihat Maya turun dari mobil Daniel. Pria itu sekarang kembali terlihat tampan dan berwibawa.
Sedangkan Daniel, ia hanya bersalaman dengan Biru, setelah itu masuk ke rumah, meninggalkan Maya dan Ifraz yang menemani Biru di depan.
Di kamar, Daniel melihat dirinya di pantulan cermin.
"Aku nggak kalah tampan darinya, hanya kalah kaya, aku tidak sekaya dia!" batin Daniel.
"Tapi aku yakin, kalau Maya bukanlah tipe wanita yang mengukur kebahagiaan dari harta!" Danil masih berbicara dalam hati.
__ADS_1
"Tapi aku merasa cemburu, May. Apalagi teringat kemarin, setiap hari, setiap sore kalian bertemu di rumah ini!"
Bersambung.