
Pria muda yang baru saja memarkirkan mobilnya itu, segera turun dan berjalan dengan perlahan, rumah yang ia masuki itu terlihat sudah gelap.
"Aduh, gue telat banget!" kata pria itu yang tak lain adalah Ifraz.
"Mamah ngomel nggak ya?" tanyanya dalam hati, pria tampan itu telah melanggar jam malam dari orang tuanya.
Perlahan, Ifraz membuka pintu samping rumahnya yang langsung terhubung dengan ruang tengah.
Belum sempat Ifraz menutup pintu itu, seseorang sudah menyalakan lampu dan ternyata itu adalah Daniel.
"Pa-pah!"
"Kenapa berdiri di pintu! Cepat masuk, sudah malam!"
"Papah nggak marah?"
Lalu Daniel merangkul Ifraz, pria yang yang menolak tua itu bercerita kalau dirinya pernah lebih nakal dari Ifraz.
"Kado untuk adik kamu mana?" tanya Daniel.
"Ada, di kamar," jawab Ifraz seraya menatap Daniel.
"Bagus, papah kira kamu lupa sama ulang tahun Ken!"
"Nggak akan dong, Pah. Masa lupa!"
"Ya sudah, lihat adik kamu sana!" perintah Daniel, setelah itu Daniel masuk ke kamar dan ternyata Maya sudah menunggunya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Daniel yang masih berdiri di pintu.
"Mas, sepertinya kamu terlalu cepat memberi Ifraz mobil!" Maya yang masih duduk di ranjang itu menatap Daniel.
Daniel hanya menjawab dengan tersenyum. Lelaki itu melepaskan jam tangannya lalu menyimpannya di atas nakas.
"Kok malah senyum, liat anak kita, dia jadi pacaran mulu!" gerutu Maya.
"Ingat nggak, kita pacaran dari umur berapa?"
"Nggak!"
"Idih, bisa gitu!" kekeh Daniel, "Sini aku ingetin, kita pacaran dari kelas satu SMA!" lanjut Daniel seraya menyusul Maya di ranjang.
"Pantes dulu Bunda larang aku, ternyata masih kecil udah pacaran!"
"Kan kamu yang ngejar-ngejar aku!" ucap Daniel seraya menerkam Maya.
"Aaaaa, jangan fitnah kamu!" teriak Maya yang merasa kegelian karena Daniel menggelitikinya.
Sementara itu, Ifraz sedang mengetuk pintu kamar Kania.
"Ken, Abang minta maaf. Tadi abang kumpulan sama temen-temen bahas soal acara perpisahan, Ken. Buka pintunya!"
Kania merasa sebal karena Abangnya lebih mementingkan temannya. Gadis bermata sipit itu menutup telinganya, tidak mau tau apa yang diucapkan oleh Ifraz.
"Ken udah tidur!" teriaknya dari dalam.
"Terus yang jawab ini siapa? Arwahnya?"
__ADS_1
"Apa, Arwah? Emangnya gue udah koid? Abang mah nggak kira-kira kalau bercanda!" gerutu Ken seraya menuruni ranjang.
"Gue yakin, dia terpancing!" kata Ifraz yang memasang telinga di pintu kamar Kania.
Benar saja, Kania membuka pintu dan langsung melotot pada Ifraz.
"Jangan marah sayangnya abang!" kata Ifraz seraya mengulurkan boneka besar dan boneka itu lebih besar dari Kania.
"Abang, bonekanya lucu banget, Ken suka, keropi!"
Ifraz mengacak pucuk rambut Kania.
"Ya udah, jangan ngambek lagi, tidur sana, udah malam!" perintah Ifraz.
Kania menganggukkan kepala.
Setelah itu, Ifraz pun kembali ke kamar, ia menjatuhkan dirinya ke ranjang.
Menatap langit-langit.
Ia membayangkan wajah Maya, Daniel dan Kania, mereka semua mirip, hanya dirinya saja yang tidak mirip.
"Kenapa gue bule yang lain enggak? Tapi gue anak kandung mereka, hhmm, kenapa gue jadi kepikiran, ya!" gumam Ifraz, pria itu bangun dari berbaringnya.
"Apa gue ke tuker di rumah sakit pas mamah lahirin gue?" tanyanya seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aarrggh! Mau sampai kapan lah gue mikirin ini, yang penting dulu mamah udah tes DNA!" ucapnya seraya masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya, menggosok gigi dan mencuci wajah.
****
Matanya memperhatikan Ifraz dan Kania yang sedang berjalan ke arah meja makan.
"Udah akur lagi," gumamnya dalam hati.
"Ayo, Faz, Ken! Sarapan dulu sebelum berangkat!" kata Maya dan kedua anak itu menarik kursi meja makan tempat biasa mereka duduk.
"Pah, Ken diantar sama abang, ya!" kata Kania yang sudah memegang segelas susu coklat, sedangkan Ifraz menyukai susu putih.
"Iya sudah, berkurang tugas papah pagi ini!" jawab Daniel, pria itu segera melipat koran yang sedang ia baca, lalu sarapan bersama.
****
Di rumah Biru.
"Ayah," lirih Pia seraya menatap Biru yang sedang meminum kopi.
"Hmm," jawab Biru seraya meletakkan cangkir tersebut.
"Gimana kencan semalam?"
"Uhukk!" Biru terbatuk mendengar pertanyaan itu dari Pia.
"Ayah!" ucap Pia seraya menepuk punggung Biru.
"Kenapa kamu selalu menanyakan itu?"
"Pia kan pengen ngerasain punya ibu, yah!" lirih Pia seraya kembali duduk ke kursinya.
__ADS_1
"Kalau kita berdua saja sudah bahagia, kenapa harus ada orang ketiga?" jawab Biru, setelah itu Biru menyambar tas kerjanya yang berada di kursi meja makan.
"Ayah, selalu gitu, kalau diajak ngobrol soal ibu pasti kabur!" geram Pia seraya menghentakkan kakinya, setelah itu Pia segera berlari menyusul Biru.
Pia langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping bangku kemudi.
"Ayah, marah sama Pia?" lirih Pia, gadis cantik berwajah oriental itu menggerakkan lengan Biru, takut Ayahnya akan merajuk.
"Enggak, ya udah sekarang kita berangkat, nanti telat! Pakai sabuk pengaman mu!"
"Ayah, terbaik!" ucap Pia, kemudian ia mengecup pipi Biru dan Biru menggelengkan kepalanya mendapati putrinya sangat manja.
"Perasaan aku tidak mendidik dia jadi perempuan manja, kok bisa manja banget!" batin Biru.
Setelah itu, Biru tancap gas, mengantar Pia ke sekolah, sesampainya di depan pagar, Biru bertemu dengan Ifraz yang juga baru sampai di sekolah.
Ifraz menganggukkan kepala pada Biru dan Pia melambaikan tangan pada Ifraz.
"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Biru pada Pia sebelum gadis itu turun dari mobil.
"Masih begitu, malah dia pacaran sama temen Pia, huwaaaa!"
Biru terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Ayah, kok jahat banget, anaknya sakit tidak berdarah ini loh!"
"Kamu harus bisa membuat dia cemburu, baru dia akan melirik kamu!" usul Biru seraya memperhatikan Ifraz yang sepertinya sudah menunggu Pia.
"Udah di tunggu, sana, jangan nakal! Jangan berkelahi lagi!"
"Siap! Kalau dia nggak mulai duluan!" jawab Pia yang kemudian keluar dari mobil, gadis ceria itu berlari ke arah Ifraz dan segera merangkul pria itu.
"Pia, Ifraz, kalian adalah anak-anakku!" gumam Biru, pria yang semakin berkharisma itu tersenyum melihat kedekatan anak-anaknya.
Setelah itu, Biru melanjutkan perjalanannya.
****
Maya merapikan dasi Daniel sebelum pria itu berangkat ke kantor.
"Kenapa? Aku tidak suka setiap kali kamu bilang tidak pulang!" ucap Maya yang tanpa terasa mengikat dasi itu terlalu kencang, tetapi Daniel diam saja, dia menahan rasa sesak dan di saat Maya mengambilkan jam tangan, pria itu mengendurkan dasinya.
Daniel menarik nafas lega.
"Astaga, May. Aku nggak pulang karena urusan pekerjaan," ucap Daniel seraya memeluk Maya dari belakang.
"Aku tetap tidak suka! Jangan-jangan setelah tidak pulang nanti bawa istri baru!"
"Astaga, istriku sangat posesif, kalau begitu, ikutlah!"
"Serius?"
Bersambung.
Jangan lupa klik like, love dan gift/vote ya, Terimakasih bagi yang masih setia mengikuti alur cerita ini.
Makasih like, komen dan gift/votenya!
__ADS_1