Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Menjadi Pelipur Lara


__ADS_3

Maya dan Daniel tak menemukan Ifraz di sana.


Maya yang sedang kesal itu menatap tidak suka pada Marisa.


"******! jaga matamu!" kata Marisa.


"Jaga mulutmu, istriku bukan ******!" timpal Daniel.


Mendengar itu Marisa tertawa, menertawakan Daniel yang diangapnya telah dibutakan cinta.


"Kasihan sekali kamu, menikahi wanita yang sama sekali tak mencintaimu, saya merasa beruntung kaena Bram tidak menikahi wanita murahan seperti ini, wanita yang berbalut paras cantik dan anggun, tetapi hatinya plinplan!" ucap Marisa, wanita itu lalu merasakan tamparan yang sangat keras dari tangan Maya.


"Jaga mulut, mu! Tau apa kamu tentang perasaan! Kamu sempat jadi anak yang tak dianggap, seharusnya kamu tau perasaan anak-anak! kalau kamu membenciku seharusnya kamu melawan akau bukan anakku!" bentak Maya dan Marisa menertawakan Maya.


"Maya, Maya, sangat naif sekali kamu! Anak-anak adalah pion ku!" kata Marisa, wanita itu menutup pintu rumahnya dan sebelum itu Marisa masih menatap mengejeknya.


Maya menangis dan wanita itu tak berani meminjam bahu Daniel yang terdiam.


Daniel sekarang mengerti, mengapa maya belum juga bisa mengucapkan kata cinta, tetapi, Danie tetap tidak tega pada Maya yang sudah terduduk menyembunyikan wajahnya diantara lututnya.


Daniel meraih lengan Maya dan Maya melihat wajah suaminya yang menatap tanpa ekspresi.


"Kita pulang!" kata Daniel seraya membantu Maya untuk berdiri.


"Dan, a-aku-" ucap Maya tergagap ingin menjelaskan tetapi entah akan mulai dari mana, lalu ucapan Maya terpotong saat Daniel meletakkan jari telunjuknya di bibir Maya.


"Ssssstttt! Tenangkan dulu hati kamu!" kata Daniel. Pria itu menuntun Maya dan membawanya pulang. Selama perjalanan keduanya saling diam. Maya merasa tidak enak hati pada Daniel atas ucapan Marisa yang mengatakan kalau Maya tidak mencintainya.


Maya teringat dengan Bram yang mengatakan akan membuat Maya bahagia dan dapat melupakan masalalunya, ya, karena saat itu, sebelum Bram melamarnya, Maya sudah mengatakan kalau dirinya masih belum sepenuhnya melupakan mantan suami yang sudah menyakitinya.


Teringat dengan itu, Maya semakin menangis dan Daniel memilih diam, pria itu tetap fokus mengemudi tidk ingin terbawa suasana.


****


Di rumah Biru, Pia mengetuk pintu kamar ayahnya.


"Masuk!" jawab Biru.


Pia pun masuk dan melihat mata merah Biru yang seperti habis menangis.

__ADS_1


"Ayah, kenapa menangis?" tanya Pia yang duduk di samping Biru, mereka duduk di sofa panjang yang tersedia.


"Tidak apa-apa," jawab Biru seraya mengusap matanya yang masih basah.


"Ada apa? Sudah malam, kenapa belum tidur?" tanya Biru.


Pia menjawab, ''Ayah, Pia rasa Ifraz tidak berada di rumah pacarnya, bolehkah Pia menyusul Ifraz?" lirih Pia, gadis itu tidak berani menatap mata ayahnya.


"Kenapa tidak? Kamu adalah pelipur lara kami, pergilah dan jangan pergi sendiri, ajak Pak Supri!" kata Biru dan Pia merasa senang. Gadis itu segera bangun dari duduknya lalu mencium pipi Biru.


"Ayah, jangan bersedih! ayah harus menjelaskan semua pada Pia, jangan lupa itu!" kata pia dan Biru hanya tersenyum.


Sekarang Pia keluar dari kamar Biru, gadis itu berlari menuruni tangga, bersemangat untuk menemui Ifraz.


Tanpa ba bi bu lagi Pia segera memanggil sopir dan sopir itu bersiap untuk mengantar Pia keanapun gadis itu minta di antar.


"Pak, tolong antar saya ke taman yang yang ada di dekat SMP harapan!" kata Pia dan Supri pun mengiyakan.


Sesampainya di sana, benar saja Pia menemukan Ifraz yang sedang duduk di balik pohon, Pia melihat lutut Ifraz dan juga di sana ada motor Ifraz.


Pia melongokkan kepalanya dan ternyata Ifraz memejamkan mata. Pia tidak tega melihat itu, lalu pia ikut duduk di sebelah Ifraz, mneyandarkan kepalanya di lengan Ifraz membuat pria itu terkejut.


"Iya, ini gue, bukan hantu!" jawab Pia. Ia tersenyum manis pada Ifraz membuat Ifraz tidak merasa sendiri.


"Lo masih ngambek gara-gara lo nggak mirip sama bokap lo?" tanya Pia, ia teringat dengan Ifraz kecil yang akan selalu menangis ketika orang-orang mengatainya tidak seperti keluarganya.


"Pantes aja lah gue nggak mirip, gue bukan anaknya!" jawab Ifraz.


"Maksud lo?" tanya Pia, wanita itu mendongakkan kepala, menatap sendu Ifraz.


"Gue nggak nyangka kalau lo bukan anak Om Daniel!" kata Pia, "terus, lo udah tau siapa bokap lo?" Pia bertanya dan Ifraz menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Faz, lo yakin nggak sih kalau tante sama om punya alasan, kenapa mereka menutupi semua?"


"Apapun alasannya, seharusnya mereka nggak boleh nipu gue!" jawab Ifraz, pria itu melepaskan tangan Pia yang melingkar di lengannya, kesal karena Pia berkata seperti itu.


Pia mengerucutkan bibirnya dan kembali meraih lengan Ifraz.


"Kan bukan gue yang nipu, kenapa lo marah juga sama gue?" kata Pia seraya kembali menarik lengan Ifraz, Pia memaksa masuk ke pelukan Ifraz dan Ifraz mengatainya, "Manja!"

__ADS_1


"Biarin, sama sahabat sendiri boleh kan?" tanya Pia, gadis itu merasa nyaman berada di pelukan Ifraz.


Tak berselang lama, seseorang datang dan melihat dua remaja itu sedang duduk di bawah pohon dengan berpelukkan. Orang itu menyalakan senter yang dibawanya, mengarahkan senter itu pada Pia dan Ifraz.


Pia dan Ifraz silau, karena ada yang melihat mereka sedang berpelukan, keduanya menjadi sama-sama salah tingkah.


"kami tidak berbuat yang macam-macam, kami hanya sahabatan,'' ucap Ifraz. Pria itu takut di tuduh melakukan yang bukan-bukan.


Begitu juga dengan Pia, gadis itu takut diteriaki dan akan menjadi tontonan warga.


"Kalian! Masih kecil kok udah berani gelap-gelapan, generasi zaman sekarang bobrok!" kata orang itu yang berjenis kelamin laki-laki.


"Bubar!" kata pria itu dengan nada sedikit


keras, setelah itu Ifraz menggandeng tangan Pia, mengajaknya untuk naik motor.


"Kemana? Udah malem ini, mendingan pulang!" kata Pia yang masih berdiri di samping motor Ifraz.


"Jalan-jalan. Lo mau kan temenin gue?" tanya Ifraz.


"Ok!" jawab Pia. Gadis itu dengan semangat naik ke motor Ifraz.


"Pegangan yang kenceng, lo kan kerempeng, ntar kebawa angin repot!" ledek Ifraz.


Pia mencubit pinggang Ifraz dengan sedikit kencang.


"Aauuu!" pekik Ifraz.


Setelah itu Pia memeluk Ifraz dari belakang. "Jangan sedih lagi!" kata Pia dan Ifraz pun segera melajukan motornya.


Berkeliling memutari Kota Jakarta.


Tanpa Ifraz dan Pia ketahui kebersamaan mereka dilihat oleh Zenia yang akan berangkat ke club.


Zenia berada di taksi, gadis itu merasa kalau seharusnya Ifraz bersamanya.


"Kenapa jadi sama dia nangisnya, padahal gue harap lo datang ke gue! Biar gue bisa masuk lebih dalam ke kehidupan lo!" kata Zenia dalam hati.


Ada rasa kesal di hati Zenia saat melhat kedekatan mereka, apakah zenia sudah jatuh hati pada Ifraz? Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa, klik like setelah membaca dan jangan lupa juga untuk di favoritkan. sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2