Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Hari Ini Ku Kecup Bibirnya


__ADS_3

Bram menidurkan Maya di ranjang tetapi tangan Maya tidak mau lepas dari bahu Bram dan sekalinya Lepas Maya langsung menampar pipi kiri Bram begitu kencangnya, tentu saja Bram menjadi sangat terkejut bahkan sampai membulatkan matanya.


"Dasar lelaki bajingan, enggak cukup apa satu istri?" Maya masih berteriak dengan wajah yang sendu dan pandangannya itu kabur, Maya merasa mual dan segera memuntahkan isi perutnya mengenai kaos Bram.


"Astaga, apes bener gua!" gerutu Bram seraya menjatuhkan Maya keranjang agar segera istirahat.


Bram meninggalkan Maya untuk membersihkan dirinya, pria itu keluar dari kamar dengan melepaskan bajunya dengan sedikit jijik.


Selesai membersihkan diri sekarang Bram kembali masuk ke kamar sebelah untuk memeriksa keadaan Maya dan saat itu juga timbul akal Bram yang ingin mengerjai, Bram membelai wajah lembut Maya dan bergumam, "Cewek secantik ini disia-siakan? Memangnya dia mencari yang seperti apa lagi?"


Bram melihat bibir Maya yang terlihat sangat menggoda, ingin sekali rasanya pria itu mengecup bibir mungil, tipis tersebut.


Benar saja Bram mulai memajukan wajahnya dan mengecup benda tipis itu, tetapi tidak cukup satu kali bagi Bram, pria itu mengulanginya dan kali ini Bram dengan sengaja mengambil gambar untuk dikirim pada Biru.


'Ssstttttt!'' desis Bram saat merasakan kejantanannya itu mulia bangun.


"Sial, kenapa gua nggak bisa nahan, sedangkan kalau gua melayani klien harus minum vitamin dulu!'' geram Bram dalam hati.


Lalu, pria itu bangun dari duduknya berniat utuk meninggalkan Maya sebelum hasratnya itu menjadi tak terkendali. Tetapi Bram yang baru sampai pintu berubah pikiran, pria itu sangat menyayangkan kalau harus melepas wanita cantik di depan matanya.


Benar saja, Bram kembali dan kali ini pria itu dengan ganas menerkam Maya, ia mencium leher Maya membuat Maya melenguh dan Bram berpindah meluma*t bibir Maya tanpa disengaja Maya membalas bram membuat pria itu berfikir kalau Maya juga menginginkannya.


''Jangan bram, dia sedang mabuk!'' dia nggak sadar!" jerit hatinya melarang Bram untuk melanjutkan aksinya.


Bram memilih untuk bangun dan meninggalkan Maya tanpa melihat lagi kebelakang, pria itu berlari dengan kaki yang masih sedikit terasa sakit ke kamarnya dan segera masuk ke kamar mandi, Bram melakukan pelepasan dengan caranya.


Pria itu mengguyur tubuhnya di bawah shower, semakin dalam hasrat Bram untuk memiliki Maya.


Sementara Maya, ia merasa aneh karena baru saja bermimpi melakukan itu dengan seseorang yang tak terlihat jelas wajahnya.


Dengan kepala yang masih sedikit pusing Maya membuka matanya dan mendapati kalau dirinya sudah basah.


"Astaga, jadi beneran aku mimpi basah!" gumam Maya seraya mengusap lehernya, lalu Maya merubah posisinya menjadi duduk, memijit pelipisnya.


Setelah itu Maya merasa heran kenapa dirinya berada di dalam kamar membuat Maya menjadi panik takut Bram telah melakukan sesuatu yang buruk.

__ADS_1


Dengan cepat Maya bangun dan berjalan kearah pintu, saat itu juga Maya harus melewati lemari kaca membuat Maya melihat noda merah di lehernya.


"Aaaaaaaaaaa!" teriak Maya saat melihat banyak noda merah yang tak mau hilang setelah di usapnya.


Bram yang sedang memilih baju itu mendengar teriakan Maya membuat pria itu segera menghampirinya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Sementara Maya yang melihat itu menjadi semakin yakin kalau Bram telah melakukan sesuatu.


"Jahat kamu, lelaki hidung belang!" teriak Maya seraya melempari bantal ke arah pria itu.


"Sumpah gua nggak lakuin apa-apa!'' Bram membela dirinya dengan tangan yang terus menangkis serangan dari Maya.


"Jangan ngelak kamu, ini udah buktinya!'' teriak Maya seraya menunjukkan lehernya pada Bram.


"Astaga!'' seru Bram sangat terkejut, lelaki itu sudah tidak bisa lagi mengelak karena dirinya meninggalkan bukti di sana.


"Gua cuma cium doang, May. Nggak lebih. Sumpah!'' ucap Bram seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengah menjadi huruf V.


Lalu Maya yang kecewa pada Bram itu menangis, berjongkok di depan lemari. sekarang Bram menjadi sangat bersalah.


Pria itu mendekati Maya dan meraih lengannya tetapi Maya tidak mau tau, wanita itu bangun dari jongkok nya dan berlari keluar dari kamar.


Maya yang berniat membuka pintu utama itu harus terjedot pintu karena Marisa membukanya dari luar.


Maya yang masih sedikit pusing itu menjadi semakin pusing dan Bram pun kembali menangkap Maya.


"Astaga, Bram. Gua nggak tau, gua nggak sengaja sumpah!" seru Marisa seraya mengikuti Bram yang membawa Maya ke sofa.


"Lu nggak kira-kira kalau buka pintu!" jawab Bram dengan nada sedikit marah.


"Kok lu marah sih, kan gua nggak sengaja!"


Lalu, Marisa melihat keadaan Maya yang terbaring, wanita berusia 28 tahun itu membulatkan mata saat melihat banyak tanda merah di leher Maya sementara Bram pria itu sedang memakai kaos dan celana jeans di kamarnya.


"Bram! Lu udah bawa cewek ke apartemen, cewek itu lu apain Bram?" teriak Marisa dan Bram dengan santainya menjawab, "Enggak gua apa-apain, cuma gua cium doang!"

__ADS_1


"Gila lu, cium doang!" jawab Marisa seraya menggelengkan kepala. Setelah itu Bram pun ikut duduk bersama dengan Marisa memperhatikan Maya yang sepertinya masih tidak mau membuka mata.


Dalam hati, Bram berfikir akan memberikan alasan apa pada Gala apabila ia bertanya tentang itu.


"Aaaakkhh!" pekik Bram dalam hati, "kenapa gua nggak bisa nahan!" lanjutnya, pria itu masih menggerutu dalam hati.


Memilih untuk tidak memikirkan itu membuat Bram meminta nomor Biru pada Gala.


"Ya udah lu kirim aja, pokoknya kirim! Ini urusan gua sama dia!" kata Bram dari sambungan teleponnya dan benar saja, setelah Bram memutuskan telepon, Gala segera mengirim nomor Biru.


Bram menyeringai setelah mendapatkan nomor itu dan sekarang Bram mengirim gambar dirinya sedang mengecup bibir Maya.


"Hahahaaa!" tawa Bram seraya menyenderkan punggungnya ke sofa, Marisa melihat itu merasa merinding dengan adiknya sendiri.


"Ada apa?" tanya Marisa dan Bram yang masih tertawa itu menjawab dengan menggelengkan kepala.


****


Biru sedang memejamkan mata, merasa sangat mengantuk, duduk di bangku belakang dengan Ran yang mengemudi mobilnya.


Lalu, Biru membuka mata saat ponselnya bergetar, perlahan Biru merogoh saku celananya dan mengambil ponsel itu.


Biru pun membuka pesan dari nomor baru.


Matanya membulat sempurna saat melihat gambar yang baru saja ia terima.


"Hari ini gua kecup bibirnya!" lirih Biru dalam hati saat membaca pesan dari Bram.


Biru tidak percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini, Maya memejamkan mata dan Bram menciumnya tetapi seperti tidak ada penolakan dari istrinya.


"Apa kamu sekarang menjadi murahan untuk membalas ku, May?" batin Biru, air mata jatuh membasahi pipinya, segera Biru mengusap pipinya dan kembali menyimpan ponselnya.


Biru kembali memejamkan matanya tetapi pikirannya selalu tertuju pada Maya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupakan untuk klik like setelah membaca 😗


__ADS_2