KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Menyerang sistem Gramentha Grup


__ADS_3

Di tempat kerja Mira, Arkana sering kali datang hanya untuk melihat Mira, tentunya dia juga memesan sesuatu untuk menemaninya memperhatikan Mira saat bekerja.


"Pulanglah." Kata Mita.


"Aku akan menunggumu !"


"Pulang saja, aku janji setelah bekerja, aku akan menemuimu di rumah lama kakakmu."


"Janji.!"


"Aku janji."


Setelah kembali ke perusaahaan Arkana menemui Gavano di ruang kerjanya.


"Kakak.!" Panggilnya.


"Ada apa.?"


"Ini tentang perusahaan."


"Jadi kamu sudah tahu.?"


"Ya...! tapi siapa yang melakukan itu.?"


"Leo.!" Jawab Gavano tenang.!"


"Ba..jingan, aku akan menghajarnya.!"


"Arkana.!"


"Tapi kakak.!"


"Tenangkan dirimu, jangan langsung mengambil keputusan begitu.


"Bagaimana kakak bisa setenang ini, sementara orang itu mulai menyerang perususahaan inti."


"Kamu tenanglah, Tak ada yang bisa melakukan itu pada perusahaan ini, apa kamu lupa Gramentha Grup tidak mudah di jatuhkan begitu saja. Dan jika itu benar terjadi, aku tidak akan membiarkannya begitu saja. susah payah ayah membangun Grup ini.!"


"Lalu apa rencananya.?"


Belum sempat Gavano menjawab pertanyaan Arkana, Riko datang tergesa-gesa seperti sedang ada yang mengejarnya.


Riko terlebih dahulu mengambil nafas sebelum mengatakan apa yang membuatnya seperti itu.


"Vano....!"


"Ada apa.?"


"Seseorang mencoba masuk ke sistem perusahaan, para hacker yang kita punya sudah hampir tidak bisa bertahan."


"Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya jika sistem diretas.?"


"Tentu saja akan membuat bisnis anjlok."


Gavano kemudian diam memikirkan sesuatu, tapi dia tidak menemukan solusi sama sekali, ketenangannya kini berubah menjadi emosi.


"Sialan, Leo benar-benar berani menyerang perusahaan ini." Umpat Gavano


"Lalu apa yang hrus kita lakukan.?"

__ADS_1


Di tengah kepanikan Gavano Arkana dan juga Riko, pintu ruangan Gavano kembali di buka oleh seseorang.


"Kakak Vano, aku bisa membantumu." Kata Faiq


"Aku juga bisa membantu ayah.!" Sambung Devan.


"Janagan bercanda, bagaimana bisa kalian membatu." Kata Arkana seolah meremehkan.


Tapi tidak dengan Gavano, dia tahu bahwa Faiq adalah anak yang cerdas meski usianya baru emam tahun, sementara Devan, Gavano tidak begitu yakin dengan anak yang masih lima tahun.


"Bagaimana Vano.? apa kamu mengisinkan anak-anak membantumu.?" Ucap Daniel


Tampa menunggu waktu lama lagi, Gavano segera membawa Faiq dan Devan ke ruangan di mana para hacker perusahaan sedang berperang dengan seseoranya yang mencoba memasuki sisitem Gramentha Grup.


"Berhenti kalian semua, dan tinggalkan ruangan ini." Perintah Gavano pada para hacker itu."


"Tapi presedir, jika di biarkan begini, perusahaan akan hancur."


"Percayalah," Kata Gavano meyakinkan.


para hacker itu keluar dari ruangan tersebut. Faiq dan Devan mengambil alih pekerjaan para hacker.


Suasana saat ini di selimuti ketegangang. Selain tidak yakin akan berhasil, mereka juga takut Gramentha Grup benar-benar akan hancur.


Siapa yang akan percaya jika nasib Gramentha Grup kini berada di tangan dua anak kecil yang jika sesusianya mereka hanya seharusnya bermain, tapi mereka justru di hadapkan dengan masalah yang sangat besar.


Gavano memperhatikan Faiq dan Devan secara bergantian, bukan hanya Gavano, tapi Arkana dan Riko juga terperangah dengan kelincahan jari-jari kecil Devan dan Faiq bermain pada keyboard.


Dengan perasaan khawatir Gavano, Riko dan Arkana menatap layar komputer transparan yang besar.


Klik... Devan menekan tombol enter dan beberapa menit kemudian semua terselesaikan tampa kendala apapun.


"Sial... siapa yang akan percaya ini." Umpat Arkana, namun di dalam umpatannya itu tersirat rasa kagum.


"Jadi bagaimana ayah.? apa ayah masih meragukanku dan Faiq.?" Tanya Devan dengan ekspresi wajah yang dingin.


Sungguh seperti ayahnya, tapi ekspresi Devan tidak membuat orang jengkel seperti ekspreai Gavano, Devan justru terlihat imut dan lucu dengan ekspresi dingin dan kakunya.


"Jadi apa yang kalian inginkan.?"


"Tidak ada, kami hanya ingin makan es krim.!"


Seketika ruangan itu di penuhi dengan suara tawa yang meledak dari Daniel, Arkana, Gavano juga Riko.


"Biar bagaimananpun mereka tetaplah anak kecil." Kata Gavano.


"Kaka Vano jangan hanya tertawa, kami sudah tidak sabar."


"Baik... baik. aku akan mentraktir kalian es krim sepuasnya.!"


***


Di tempat lain Leo begitu frustasi karna tidak bisa mencapai apa yang dia inginkan.


"Bre..ngsek kau Gavano, mengapa begitu sulit menghancurkan keluarga kalian."


Tak kuasa menahan emosinya, Leo menggila, semua barang yang ada di sekitarnya, dia hancurkan, merusaknya sedemikian rupa.


"Tenang Leo, kamu punya Alleta di tanganmu.!" Ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Mengingat tentan Alleta, Leo cepat-cepat meninggalkan ruangan yang sudah berantakan dan tak memperdulikan orang-orang yang terluka di ruangan itu akibat ulahnya. Padahal mereka semua dalah orang yang membantunya menyerang Gramentha Grup, meskipun tidak berhasil.


Segera Leo meminta orangnya untuk mengemudikan kapal menuju ke pulau di mana Alleta berada. Cepat-cepat ia masuk ke rumah dan mencari Alleta setelah sampai.


"Alleta... Alleta..." Panggilnya.


"Ada apa Leo.?" Tanya Alleta heran.


"Tidak, tidak ada, aku fikir kamu...."


"Kamu fikir aku apa.?"


"Tidak ada.."


"Oh...!"


Alleta lalu mengambil gelas, menuangkan air ke dalamnya baru kemudian meminumnya. Leo yang memperhatikan Alleta sedang minum tertuju pada jari manis Alleta yang di lingkari sebuah cincin yang modelnya sederhana, memiliki berlian yang sangat kecil.


"Ada apa Leo.? kenapa menatapku seperti itu."


"Tidak, hanya saja, cincin yang kamu kenakan sepertinya sedah sangat jelek, lepaskanlah aku akan membelikan yang baru."


"Bukannya aku tidak ingin, tapi kamu lihat sendiri Leo, semenjak mengandung, badanku semakin hari semakin membengkak, tak terkecuali jari-jariku."


"Baiklah jika tidak bisa di lepaskan, nanti setelah bersalin baru di lepaskan dan ganti yang baru."


"Baiklah Leo."


"Aku akan ke kamar, kamu istirahatlah."


"Ok...!"


Setelah Leo berlalu, Alleta mernafas lega,


"Hampir saja" Ucapnya lalu kembali minum, baru kemudian kembali ke kamar.


Hingga malam hari, Seperti biasa, Leo ke kamar Alleta untuk memastika bahwa Alleta baik-baik saja dan sudah tertidur.


Leo menarik kursih dan duduk di samping ranjang, mengelus ubun-ubun Alleta. Dan bercerita seperti biasanya.


"Alleta, Kamu tau.? dengan cara apa pria itu membuat wanita itu lupa bahwa dia pernah mengandung dan melahirkan.


Sebentar Leo mengambil nafas lalu mepanjutkan ceritanya.


"Ya Alleta, Pria itu membayar sorang dokter terkenal dari negri asing, dia bukan cuma sekedar dokter, tapi dia juga adalah ahli hipnotis. Begitu Pria itu tahu bahwa si wanita mengandung, dia menculiknya. Membuatnya tak sadarkan diri selama setahun sampai dia melahirkan, tentunya itu tidak mudah. Dokter yang menanganinya adalah dokter yang sudah Ahli. Selama setahun wanita itu tidak sadar dengan bantuan peralatan medis, dan dia sadar setelah tiga bulan setelah dia melahirkan. Saat dia sadar, dokter yang menaganinya menghipnotisnya sehingga melupakan semuanya. Yang dia ingat dia hanya koma setelah melalui malam panas dengan putra penguasa itu.


Setelah Leo bercetita panjang Lebar, ia kembali menatap wajah Alleta yang terlelap. Dan perlahan mendekatkan wajahnya hendak menjatuhkan ciuman pada bibir Alleta, tapi Alleta tiba-tiba merubah posisinya dan berbalik membelakangi Leo.


Tak mau menganggu Alleta, Leo keluar dari kamar itu, dan kembali ke kamarnya.


Lagi-lagi, berkas yang ada di mejanya sudah bergeser, tidak seperti saat dia meninggalkannya ke kamar Alleta.


"Sialan... di sini ada penyusup.!"


Leo panik lalu mengerahkan orangnya untuk segera meninggalakan pulau itu dan terpaksa membangunkan Alleta bersama dokter wanita yang merawat Alleta untuk menuju ke suatu tempat yang lain.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2