
Saat Arkana dan Alleta mendongak, mereka serentak terkejut melihat siapa yang memberinya lembaran uang.
"Ka... ah... mak.. maksudku tuan.!" Ucap Arkana terbata-bata
Tetesan keringat mulai jatuh di dahi keduanya, Arkana menelan ludah ketakutakutannya, dan cepat-cepat menyembunyikan wajahnya di balik wignya yang panjang. 'Dengan penampilanku seperti ini, tidak ada yang akan mengenaliku, juga kakak tidak akan'. Pikirnya dalam hati.
Arkana mencoba menenangkan diri namun seperti biasa, ia tidak dapat mengatur ketenangan itu. Sementra Alleta semakin mengacak-acak rambutnya berharap dirinya tidak di kenali.
"Apa ini cukup untuk kalian.?"
"Cu...***..kup tuan.!" Jawab Alleta terbata-bata.
Setelah mengabil uang itu, Alleta berdiri ingin meninggalkan tempat itu bersama Arkana meskipun Gavano masih berdiri tegak dan tidak beranjak dari hadapan mereka.
Baru saja Alleta berbalik, tiba-tiba Gavano menghentikannya dan menggenggam pergelangan tangannya.
"Tunggu.!"
"A..ad.. ada apa tuan.?"
Gavano menarik Alleta hingga tubuh Alleta menempel di dada bidang Gavano, pinggangnya yang sudah sedikit tidak ramping lagi kini telah terlilit oleh tangan Gavano.
"Sepertinya aku mengenalimu.!"
"Ah... itu.. maaf mungkin anda salah orang tuan.!" Jawab Alleta memalingkan wajahnya ke arah lain, berharap Gavano tidak mengenalinya.
"Kamu begitu mirip dengan istriku.!" Kata Gavano semakin mempererat genggaman tangannya di pinggang Alleta.
"tuan... lepaskan saya.!"
Alleta mencoba meronta, tak mau terjadi apa-apa dengan istrinya, Gavano terpaksa melepaskannya, membuat Alleta cepat-cepat berbali dan menarik tangan Arkana yang sejak tadi sudah keringat dingin dan gemetaran segera meninggalkan tempat itu, sebelum Gavano kembali menghentikannya.
Beberapa waktu yang lalu, Gavano ada meeting dengan rekan bisnis di restauran tempat Arkana dan Alleta menguntit Mira, tapi sebelum masuk, lelaki itu mendapat telfon dari kedua orang yang ia perintahkan untuk menjaga Alleta, dan kedua orang itu memberitahu apa yang sedang di lakukan Alleta.
Awalnya Gavano tidak percaya, namun setelah melihat seorang waria dan pengemis sedang berbicara di suatu tempat, Gavano menghampirinya.
Andai saja Alleta tidak mengenakan cincin yang Gavano berikan, ia benar-bebar tidak percaya jika gadis yang berpenampilan pengemis itu adalah istrinya.
Tak mau membuat Alleta kaget dan membuat keributan, akhirnya Gavano hanya memberi lembaran uang. 'Entah apa yang di lakukan bocah tengil itu hingga istriku mau mengikutinya menjadi seperti ini'. Tanya Gavano dalam hati.
Sebentar setelah Alleta dan Arkana meninggalkan Gavano, lelaki itu juga berbalik dan masuk restauran untuk melakukan meeting.
"Ah... presedir, maaf aku tidak segaja." Ucap Mira tidak sengaja menabrak Gavano saat hendak keluar dari restauran.
"Tak apa.!" Jawabnya tidak terlalu perduli.
Begitu Mira keluar dari restauran dan sudah melangkah lebih jauh, pemuda yang menjemputnya mengejarnya sampai di depan sebuah taman, yang kebetulan Alleta dan Arkana juga berada di sekitar untuk istirahat dan membeli es cendol di pedagang kaki lima menggunakan uang yang di berikan oleh Gavano tadi.
"Lepaskan aku,.!" Teriak Mira saat pemuda itu mencengkaram lengannya.
Mendengar teriakan Mira, Arkana yang saat itu masih belum menggati pakaiannya dan sedang menikmati es cendol, tersentak dan menghampiri Mira setelah memberikan gelasnya pada Alleta.
Buk...
Tampa basa basi Arkana menghatam pemuda itu, membuat Mira dan pemuda itu heran dan bertanya-tanya. 'Siapa waria ini berani sekali memukul tampa sebab.' Tanya pemuda itu dalam hati.
Tak mau dihantam tampa sebab, pemuda itu berdiri
"Dasar banci sialan, siapa kamu.?"
Pemuda itu hendak membalas tapi.
Buk...
__ADS_1
Sekali lagi Arkana lebih unggul darinya, sampai ia tak dapat melawan lagi, meskipun saat ini Arkana sedang mengenakan pakaian wanita.
Tak mau mendapat lagi pukulan dari orang yang tidak di kenalnya, pemuda itu melarikan diri.
Sementara Mira terkejut sambil membukam mulutnya dengan kedua tangannya, jujur saja, gadis cantik itu begitu terkejut, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba seorang waria mengamuk.
Ketakutan Mira bertambah saat Arkana melangkah semakin mendekatinya.
"Jangan... jangan.!"
"hei... tenang jangan takut."
"Stop di situ, kamu siapa.? jangan mendekat.!"
Tapi Arkana semakin mendekat, meskipun Mira melangkah mundur, hingga langkahnya terhenti saat dirinya tera
sudutkan di batang pohon.
"Ini aku Arkana.!"
"Tuan muda kedua Gramentha.?"
"Ya.!"
"Tapi...!"
Arkana menarik wignya lantaran melihat Mira sepertinya tidak percaya. Betapa terkejutnya Mira, ternyata dia benar-benar Arkana.
"Apa kamu sudah percaya.?"
"Tapi kenapa berpakaian seperti ini.?"
"Mira...!" Teriak Alleta.
"Mira.!"
"ka..kamu siapa.?"
"Hei. ini aku Alleta.!"
"Alleta.?"
"Ya...!"
"Tapi kenapa kalian berpenampilan seperti ini.?"
"emm... sebelumnya maafkan kami, kami menguntitmu."
"Menguntit.? tapi untuk apa.?"
"Mira, jika kamu punya masalah, kamu bisa cerita padaku, aku ini sahabatmu!"
Dengan bujukan Alleta, akhirnya Mira mau menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya, tapi tentu saja hanya pada Alleta, sementara Mira bercerita pada Alleta, Arkana hanya menunggu dari kejauhan.
"Sebenarnya, saat ini kelugarku sedang dalam masalah, proyek yang ayahku tangani, mengalami kerugian besar, ayah dan ibu sudah tidak punya apa-apa lagi, sementara masih banyak kerugian yang harus ayah tanggung. itulah sebabnya aku menerima tawaran menikah dari anak seorang pengusaha, awalnya aku setuju demi meringankan beban ayah dan ibu, tapi aku tidak mentangka bahwa pemuda itu teryata hanya ingin menjadikanku wanita dari sekian banyak simpanannya." Jelas Mira sambil meneteskan air mata.
"Kenpa kamu tidak memberitahuku."
"Alleta,maaf, tapi aku tidak ingin menyusahkan orang lain."
"Apa kamu menganggap aku orang lain.?"
"Tidak.!"
__ADS_1
"Lalu.?"
"Hanya saja aku berpikir saat ini kamu sedang mengandung dan banyak hal yang harus kamu lakukan sebagai istri dari putra penguasa kota S."
"Mira, kamu adalah satu-satunya sahabatku, jadi aku tidak merasa keberatan atau kerepotan jika kamu meminta bantuanku.!"
"Benarkah.?"
"Emmm..jadi berhentilah menangis, dan mari kita pikirkan jalan keluarnya bersama.!"
Mira hanya mengangguk berlinang air mata, sampai kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Alleta.?"
"Ya.?"
"Tolong jangan ceritakan hal ini pada Arkana.!"
"Baiklah...!"
***
Di waktu yang bersamaan, Gavano sedang meeting dengan rekan bisnisnya.
"Jadi bagaimana presedir Gavano tentang proposal pembangunan kompleks elite di daerah xx.?"
"Aku tertarik.!"
"Jadi apa anda mau bekerja sama dalam pembanguan ini.?"
"Tentu, tapi mungkin proyek ini akan aku serahkan pada adikku Arkana Gramentha.!"
"Tak masalah, asalkan proyek ini berjalan lancar dan kita mendapatkan keuntungan yang besar."
"Jangan terlalu yakin." Ucap Gavano datar.
Saat Gavano dan rekan bisnisnya menikmati kopi panas yang sudah mereka pesan
"Ayah...!" Panggil seorang pemuda yang wajahnya sudah sedikit babak belur.
"Ah maaf presesir Gavano.! ini putraku Fandi. Fandi ini adalah presedir Gavano yang ayah ceritakan padamu."
Rekan bisnis Gavano memperkenalkan putranya pada Gavano, namun Gavano tidak terlalu menanggapinya.
"Kenpa wajahmu seperti ini.? lalu di mana gadis itu.?"
"Ayah aku di pukuli oleh seorang waria di taman sana.! dan aku juga tidak tahu di mana gadis itu pergi"
"Apa.?"
"Ah, silahkan anda urus masalah putra anda, saya permisi dulu, jangan lupa kirim proposalnya ke perusahaan."
"Baik presedir."
Alleta, Arkana dan Mira sudah pergi dari taman, saat ini giliran Gavano yang memilih untuk bersantai di taman itu yang kebetulan cuacanya sangat sejuk dan hening, memang cocok untuk menyegarkan otak, terlebih lagi saat tadi putra rekan bisnisnya berkata ia telah di pukuli oleh seorang waria, membuat Gavano berpikir itu adalah Arkana.
Di tengah pikirannya, Seorang wanita cantik menghampirinya.
"Vano.!" Ucap wanita itu memegang bahu Gavano lalu duduk di sampingnya. Sementara seorang pria memperhatikannya dari kejauhan.
Bersambung...
****
__ADS_1
Author note : Maaf banget baru up, soalnya baru dapat jaringan😭😭 di kampung susah banget jaringannya🙏🙏🙏