
Siang hari saat Axcel ke perusahaan tampa tahu bahwa Julia kembali depresi. Dan saat itu Julia tengah sendiri di kamar termenung, tatapannya kosong.
Tak lama timbul niatnya untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga, maka Julia membuka laci dan mengelurkan kertas dan pemetik milik Axcel.
Julia menatap pemetik itu
"Sayang maafkan aku.!"
Tampa ragu Julia menyalakan pemetik itu dan membakar kertas yang sudah dia siapkan.
Nyala api yang semula hanya kecil, lama-lama membesar, Pelayan yang ada di rumah itu berusaha untuk membatu Julia, tapi apa boleh buat, Julia mengunci pintu dari dalam.
Beberapa saat Julia diam memandangi nyala api yang makin membesar, gumpalan asap masuk ke pernafasannya, Julia baru sadar dirinya tengah mengandung.
"Tidak... apa yang aku lakukan... huk... huk... Anakku... Tolong...!" Teriak Julia.
Perutnya mulai sakit, dan cairan putih tumpah di bawah sana.
"Oh... tidak, sepertinya aku akan melahirkan, tolong siapapun tonlong aku."
Api semakin membesar, gumapalan asap yang masuk ke pernafasan Julia membuatnya semakin lemah, dan sulit untuk bernafas, Julia jatuh tersungkur ke lantai dan berinisiatif masuk ke toilet, dengan sekuat tenaga, Julia merangkak.
Saat itu orang-orang dan beberapa pemadam baru saja sampai, begitu pula dengan Axcel. Dia begitu khawatir.
"Apa istriku sudah di selamatkan.?"
"Belum tuan, dengan api sebesar itu, tidak ada yang berani masuk."
"Persetan kalian semua."
Memang benar, saat itu, api sudah menyapu seluruh ruangan di rumah Axcel, para pelayan juga sudah keluar dengan beberapa berkas penting milik Axcel.
Tak perduli dengan nyala api yang besar itu, Axcel menerobos masuk ke dalam rumah dan segera berlari ke kemar. Dia berteriak memanggil Julia, namun tak ada jawaban dari dalam.
Dengan sekuat tenaga Axcel mendobrak pintu kamar, dan segera masuk. Namun dia tidak menemuka keberadaan Julia di sana.
Axcel melihat ada banyak darah di lantai, dan mengikuti jejak itu sampai ke kamar mandi. Betapa terkejutnya Axcel melihat ada bayi laki-laki di sana terbungkus handuk, sementra Julia sudah tidak ada.
Seceptnya Axcel membawa bayinya keluar dari rumah meski dia harus melalui beberapa rintangan karna api semakin membesar.
Dengan susah payah dia baru bisa keluar dari kebakaran itu, dan terperosot ke lantai karna sudah hampir kehabisan nafas.
Beruntung Daniel jg ada di lokasi, Jadi dia segera melarikan Axcel dan bayinya ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian kebakaran akhirnya bisa di tangani, petugas kebekaran baru bisa mengefakuasi setelah apinya benar-benar padam.
Mereka hanya menemukan satu mayat yang ada di dalam rumah, itupun kondisinya sudah tidak dapat di kenali. Emely yang baru saja tiba, mengkormfirmasi bawha itu adalah Julia.
Di rumah sakit, Axcel sudah sadar dan mencari di mana bayinya. Daniel mengantarnya ke ruangan di mana bayi laki-laki itu berada.
__ADS_1
Betapa sakit perasaan Axcel melihat bayinya harus di inkubator. Terlebih Daniel menyampaikan bahwa mereka telah menemukan mayat Julia yang sudah terbakar hangus dan tak dapat di kenali.
"Tidak, aku yakin Daniel, itu bukan istriku, periksa DNAnya."
Benar apa yang dikatakan Axcel, mayat itu bukan Julia, DNA mengatakan itu dalah milik salah satu pelayan yang bekerja di rumah Axcel.
Akhirnya Axcel bisa sedikit lega, mengetahui hal itu. Dan bertekat segera mencari Julia di manapun Julia berada, dia harus menemukannya.
"Andai saja aku tidak meninggalkannya, semua ini tidak akan terjadi."
"Bersabarlah Axcel." Kata Daniel.
***
Sebulan kemudian Axcel mulai mencari Julia, dan menemukan bahwa seorang petugas telah menyelamatkannya dari kebakaran itu.
Berdasarkan pengakuan petugas itu, setelah menyelamatkan Jula, dia bergegas untuk menyelamatkan bayi yang tertinggal di kamar mandi, tapi setelah petugas itu masuk, bayinya sudah tidak ada.
Dan pada akhirnya petugas itu menyimpulkan dan mengatakan pada Julia bahwa bayinya sudah tidak dapat di selamatkan.
Baru saja petugas kebakaran itu akan membawa Julia ke rumah sakit, tiba-tiba Julia sudah tidak berada di sana.
"Sial....!" Kata Axcel emosi.
Lima bulan berlalu, Bayi itu tumbuh dengan sehat dan diberi nama Reygan. Bayi kecil yang manis itu begitu mirip dengan ibunya.
"Kapan kita akan menikah Axcel.?" Tanya Emely.
"Tidak akan."
"Mau sampai kapan kamu meratapi orang yang sudah meninggal itu."
"Dia belum meninggal."
"Dia sudah mati Axcel, mati, ayolah buka pikiranmu.!"
"Sialan berani kamu berkata demikian."
"Itu kenyataan, terlebih Reygan membutuhkan sosok ibu di sisinya."
Emosinya yang meluap membuat Axcel tampa sadar mencengkram leher Emely begitu kuat.
Cengkraman Axcel membuat Emely terengah-engah dan hampir kehabisan nafas. Emely tidak menyangka bahwa Axcel yang dia kenal tak pernah kasar pada wanita, sekalipun atau membenci wanita.
Tapi hanya karna Emely menyinggung tentang Julia, dia hampir saja mati di tangan Axcel.
"Pergi dari sini. Jangan muncul lagi."
Emely segera meninggalkan tempat itu, dia takut Axcel akan benar-benar menghabisi nyawanya.
__ADS_1
Axcel kembali menatap putranya, putra yang ditinggalkan Julia untuknya.
Belum berapa lama Emely meninggalkan kediaman Axcel, giliran Helen yang datang.
Helen datang untuk mengunjungi Reygan dan menawarkan diri untuk merawat Reygan. Tentu saja Axcel menolak, dia tahu siapa Helen sebenarnya.
Setelah keluar dari rumah sakit, Anya memberitahu Axcel bahwa Helen bukanlah adik kandung Julia.
Seperti yang dilakuannya pada Emely tadi, Axcel juga berbuat demikian pada Helen.
Tiga tahun berlalu, Reygan tumbuh menjadi anak yang tampan dan semakin mirip dengan ibunya.
Tiga tahun itu Axcel tidak pernah berhenti untuk mencari di mana Julia berada. Diajuga merawat Reygan tampa bntuan perawat kecuali Anya. Axcel juga setiap harinya membawa Reygan ke perusahaan.
Tak pernah sekalipun Axcel meninggalkan putranya di rumah, karna hanya dengan melihat Reygan, dia bru bisa semagat dalam pekerjaannya.
Emely dan Helen juga tidak henti-hentinya menganggu Axcel, meski Axcel mengabaikan dan bahkan bertidak kasar pada mereka.
Sementara Anya selama dia mengurus Reygan, dia jarang bertemu dengan Alvaro, Alvaro juga menghabiskan waktunya belajar dan untuk sementara waktu kembali ke New York.
"Boss.. sepertinya Reygan sudah harus masuk sekolah kanak-kanak."
"Benar juga yang kamu katakan Anya.!"
"Mau aku bantu mencarikan tempat yang cocok.?"
"Boleh, emm... Anya maafkan aku, karnaku waktumu banyak terbuang.!"
"Tidak apa-apa Boss.!"
Hanya Anya yang selama ini setia pada Axcel, bahkan Anya mengenyampingkan urusan pribadinya demi membantu Axcel. Mereka berdua layaknya adik dan kakak saja, tidak lebih dari itu.
Beberapa hari kemudian, Anya telah menemukan sekolah untuk Reygan, hari itu Axcel mengantar Reygan untuk mendaftar.
"Nak, bermainlah bersama teman barumu" Kata Axcel pada Reygan.
"Baik ayah...!"
Sementara Axcel mendaftarkan Reygan, Reygan bermain dengan beberapa anak yang baru juga mendaftar.
Hingga seorang anak terjatuh dan menangis, segera seorang guru wanita berambut pendek berlari untuk membantunya.
Reygan melihat wanita itu dan berlari kepelukannya.
"Ibu...!" Panggil Reygan
Bersmbung...
******
__ADS_1