KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Maaf


__ADS_3

Pagi hari sebuah berita mengejutkan yang datang dari beberapa media, baik itu media surat kabar maupun media sosial.


Sebuah berita tentang mayat seorang gadis yang di temukan tergantung di sebuah pohon yang terletak di pinggiran kota. Axcel terkejut dikala dia menatap siapa gambar mayat itu di media sosial.


"Jane." Katanya terkejut.


Mayat yang di temukan itu tak lain adalah mayat Jane, seorang wanita yang kemarin malam sempat menghadang dan menggoda Dave di depan Julia. Axcel mulai berfikir yang tidak-tidak, bagaiman bisa semua wanita yang mencoba menggodanya, berakhir dengan kematian.


Jika saja Julia tidak selalu berada di sampingnya, Axcel mungkin berfikir bahwa Julialah yang melakukn semua itu. Tapi Julia bukanlah wanita yng seperti itu. Dia tidak mungkin melakukan hal gila semacam itu.


"Sayang, ada apa.?" Tanya Julia yang melihat Axcel sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak ada." Jawab Axcel berbohong.


Seminggu berlalu sejak berita kematian Jane, semua kembali seperti semula. Anya juga sudah kembali ke sisi Daniel.


Malam itu, Anya tidur lebih awal, sementara Daniel masih sibuk menyelut rokoknya.


Puas bermain dengan asap rokonya, Daniel beranjak dari kursi dan melangkah ke arah Anya yang sudah tertidur. Laki-laki itu duduk di tepi pembaringan, menatap lekat wajah cantik Anya.


Sesaat Daniel terpesona setelah dia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Anya. Pelan-pelan laki-laki itu tertunduk dan mengecup lembut bibir Anya.


Merasa ada yang menimpa bibirnya, Anya sontak terbangun dan terkejut mendapati Daniel sudah berada di atasnya. Anya tak menolak, dia bahkan membalas ciuman Daniel, karna dia merasa bahwa memang itu adalah tugasnya untuk melayani Daniel sebagai wanitanya.


"Boleh.?"


Pertanyaan Daniel membuat Anya bingung dan bertanya-tanya, sebab tidak biasanya Daniel meminta ijin, selama ini dia selalu melakukannya sesuka hati.


"Jika tak boleh, aku berhenti." Kata Daniel lagi.


Anya mencoba untuk menolak dan mencari tahu apakh Daniel akan marah jika dia menolaknya atau tidak.


"Aku menolak Tn.Daniel." Kata Anya pelan penuh dengan keraguan.


Tidak seperti dugaan Anya, Daniel rupanya tidak marah, dia bahkan tersenyum lalu beranjak dari sisi atas Anya dan merebahkan diri di samping Anya yang termagu lantaran begitu terlejut. Laki-laki itu bahkan menarik Anya ke dalam pelukannya dan meminta Anya agar segera tertidur.


Jujur saja, Anya semakin bingung, tapi perlakuan Daniel yang seolah menghargai keputusan Anya yang tidak ingin di sentuh, membuat Anya sediki mersakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya.


Dan pada akhirnya Anya benar-benar tertidur di dalam pelukan hangat Daniel.

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Revandra, Alvaro menemani Gavano bermain, sebab Revndra dan Aliya sedang menghadiri sebuah pesta perjamuan.


Semenjak tinggal di kediaman Revandra, Alvaro selalu tamoak murung dan Gavano sadar jika ada sesuatu yang terjadi pada pamannya.


Anak kecil itu memberanikan diri untuk bertanya


"Paman Varo ada apa.?"


Alvaro menatap Gavano, dia menceritakan apa yang terjadi selama ini dan tersenyum pahit setelah menceritakannya. 'Sial, bisa-bisanya aku menceritakan hal seperti ini pada anak kecil seusianya.' Maki Alvaro dalam hati.


"Paman, jika paman mencintainya, seharusnya paman merelakan dia bahagia, bahkan jika aku berada di posisi paman, aku akan membuatnya bahagia meski itu tidak denganku." Kata Gavano.


Rupanya Gavano mengerti apa yang di katakan Alvaro padanya.


"Jadi apa yang harus paman lakukan.?"


"Maafkan saja dia, dan paman juga harus membuka hati untuk orang lain."


'Sial, anak seumur ini bisa mengerti, sementara aku, aku bahkan bersembunyi di sela egoku, betul apa yang dikatakan Gavano, seharusnya aku tidak seperti ini, kakak dan Anya sudah bersama, seharuanya aku mendukung mereka.' Guman Alvaro di dalam hati lagi.


"Paman.!" Panggil Gavano, membuyarkan lamunan Alvaro.


"Aku mengantuk."


Alvaro mengntar Gavano ke kamarnya.


***


Sore hari, setelah pulang dari perusahaan, Anya meminta ijin pada Daniel untuk ke suatu tempat, dan Daniel mengijinkannya. Lagi-lagi Anya bingung dan merasa heran, dia merasa ada sedikit perubahan pada diri Daniel, tapi apa itu.? Anya belum mendapatkannya.


Di sebuah cafe Anya sedang duduk manis di temani sebuah cafe late di meja dan seorang lelaki duduk di kursi depan Anya.


Anya begitu bahagia saat mendapat sebuah telfon dari nomor yang tidak dikenal. Betapa tidak, yang menghubunginya adalah Alvaro, laki-laki yang sangat dia cintai.


"Ada apa memanggilku.?" Tanya Anya.


"Maafkan aku Anya,"


Tampa sadar Anya meneteskan air matanya, seharusnya dia yang meminta maaf, bukan Alvaro. Setelah semalam mendapat pencerahan dari Gavano, Alvaro membulatkan tekadnya untuk bertemu dengan Anya dan meluruskan semuanya.

__ADS_1


"Varo, seharusnya aku yang meminta maaf karna telah menghianatimu."


"Lalu, bisakah kamu menjelasakan, kenapa kamu bisa berada di kamar yang sama dengan kakak."


Anya mulai mencerikan tentang apa yang terjadi sebenarnya tak terkecuali tentang kerja sama perusahaan di mana Anya harus berada di sisi Daniel. Alvaro akhirnya juga menitikkan air matanya, dia tidak menyangka bahwa Anya wanita yang dia cinta telah mengalami hal sulit selama ini.


Alvaro merasa bersalah karna dia membenci Anya tampa tahu apa yang sebenarnya.


"Anya, maafkan aku, aku masih sangat mencintaimu, tinggalkan kakak, dan ikut bersamaku ke luar negri"


"Tidak Varo, maafkan aku,!"


"Anya aku mencintaimu, mari lupakan masa lalu."


Anya tersenyum dan menarik jari-jarinya yang tadi di genggam oleh Alvaro.


"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa.


Alvaro menghela nafas, dia sadar bahwa jika dia mencintai Anya, dia tidak akan memaksa Anya lagi, meski sangat sakit di dalam hati, tapi Alvaro juga harus merelakan jika Anya akan bahagia bersama Daniel.


"Aku mengerti Anya, jika tidak bisa menjadi sepasang kekasih, bolehkah kita menjadi teman.?"


Anya tersenyum dan mengangguk, air matanya berderai, dia tidak menyangka bahwa Alvaro memiliki hati yang mulia seperti itu, walau Anya sudah membuat luka di hatainya, Alvaro masih mau menerima Anya meski itu hanya sebatas teman. 'Maafkan aku Varo, kita hanya bisa berteman, aku tidak ingin membuatmu menanggung semuanya dan hidup berasama wanita yang tidak bersih lagi.' Ujar Anya dalam hatinya.


"Berhentilah menagis." Kata Alvaro.


"Baiklah."


Setelah mengaakhiri kesalah pahaman selama ini, Alvaro dan Anya memilih berteman saja, walaupun mereka masih sama-sama mencintai. Varo yang memilih mengorbankan cintanya dan melihat Anya bahagia bersama Daniel, sementara Anya akan tetap berada di sisi Daniel sampai batas yang di tentukan, dan kembali menjadi sekertaries Axcel.


Anya dan Alvaro kembali ke kediaman Mintle bersama, karna udah tidak ada lagi keslah pahaman di antara mereka, dan mereka memilih berteman.


Canda tawa dari keduanya saat memasuki pekarangan rumah terhenti saat seseorang menegurnya.


"Dari mana kalian.?" Tanya seorang laki-laki yang hanya mengenakan batheobe yang melilit tubuh kokohnya, membuat langkah Anya dan Alvaro terhenti seketika.


"Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2