
Masih dengan 21+โโโ๐น
Alleta hanya mengangguk dan menerima perintah Gavano untuk melanjutkan pendidikannya, meskipun dirinya sudah tidak ingin. Tapi demi menemukan orang tua kandungnya dengan bantuan Gavano, Alleta memilih untuk bertahan sebentar, hingga kontrak pernikahanya berakhir dan berharap segera menemukan kudua orang tuanya saat kontrak itu di akhiri.
Tapi ada sesuatu dari kalimat Gavano yang mengatakan.-Kau harus melanjutkan pendidikan agar bisa setara denganku- dan Alleta tidak mengerti apa maksud kata-kata Gavno itu.
"Dan kau Arkana.! bagaimana.? apa kau juga akan menolak.?"
"Tidak kakak, hanya saja umurku sudah dua puluh, akan sangat lucu jika aku mendaftar di semester awal."
"Itu salahmu sendiri, setelah menyelesaikan bangku sekolah menegah, kau justru memilih untuk berkecimpung di dunia hiburan, Ingat Arkana, kau juga adalah salah satu penerus perusahaan."
"Tapi kakak, aku sama sekali tidak berniat bergabung di perusahaan, bahkan ayah dan ibu juga tau itu.!"
"Arkana, Usiamu tidak selalu muda, akan ada aktor pendatang baru yang lebih baik dari pada kamu di masa depan. Dan jika kau tidak bisa mempertahankan kariermu, tentu saja kau harus mempersiapkan diri untuk bergabung di perusahaan. Apa kau mengerti.?"
Arkana yang sejak tadi merasa tertekan lantaran Gavano tak sekali pun tersenyum saat berbicara padanya, hanya bisa mengangguk dan menerima dengan pasrah.
Setelah sarapan, seperti biasa Arkana terlebih dahulu meninggalkan rumah menuju lokasi syuting. Gavano yang hendak berangkat kekantor, berjalan di temani Alleta dengan sebuah tas milik Gavano untuk keperluannya di kantor.
Langkah keduanya terhenti di ambang pintu, Alleta segera memberikan tas yang ia bawa pada Gavano, lelaki itu meraihnya, lalu sedikit membungkuk seraya membisikan sesuatu di telinga Alleta.
Wajah gadis itu seketika berubah berwarna merah jambu, Setelah membisikan sesuatu pada Allet, Gavano berbalik dan meninggalkan gadis muda itu, apa yang tidak di ketahui oleh Alleta adalah, sebenarnya wajah Gavano juga memerah, jantung lelaki itu berdetak kencang, hanya saja Gavano dapat menyembunyikannya.
***
Seharian Alleta hanya menyibukkan diri menemani Fia dan Faiq bermain, Hingga malam tiba,
Sepanjang makan malam berlangsung, Arkana dan Alleta hanya diam tidak saling berbicara, mereka sama-sama memikirkan tentang pendaftaran di universitas tiga hari lagi, yang mereka memang sama-sama juga tidak ingin melanjutkan pendidikan. Hanya saja mereka harus menerima lantaran takut pada Gavano.
Setelah membersihkan diri, Alleta meraih lingrie bertali tipis dan kecil berwarna merah dan memakainya. Baru saja Alleta ingin memakai bleser yang memang satu stel dengan lingrie itu, pintu kamar terbuka
"Tak perlu memakainya, nanti juga akan terlepaskan." Ucap Gavano berjalan semakin dekat ke arah Alleta yang masih berada di depan lemari.
"Tu...Tuan.!"
"Seperti yang aku katakan tadi pagi, aku akan mengambil hutangmu malam ini, dan aku adalah tipe orang yang tak pernah meleset dari kata-kataku. Terlebih lagi semalam aku kurang tidur karna ada Fia dan Faiq. Tapi sebelum itu aku akan mandi terlebih dahulu." Ucap Gavano sambil melonggarkan dasinya.
Setelah membersihan diri, Gavano keluar hanya mengenakan handuk saja, lagi-lagi Alleta termangu menyaksikan pemandangan otot-otot Gavano yang sempurna.
"Sudah ku katakan jangan memakainya, apa kau tidak mendengarku gadis.?" Tanya Gavano tegas.
"Ma...maaf tuan, aku. aku hanya merasa kedinginan saja.!"
__ADS_1
"Lalu, berhenti menatap tubuhku, lihatlah kau sudah hampir mengeluarkan ilermu."
Alleta tersipu malu, berbalik membelakangi Gavano dan menunduk, gadis itu tiba-tiba merasakn sebuah tangan yang mulaierangkul pinggul rampingnya. Lalu membalikkan tubuh Alleta hingga wajahnya menatap lelaki yang sudah berdiri di hadapannya.
"Tuan...."
Belum juga kata-kata Alleta berakhir, sebuah ci..u..man hangat sudah menimpa bi..bi..r mungil Alleta, gadis itu hanya diam saja tampa membalas.
Gavano yang sudah mulai ber..gai..rah, melepaskan ciu..man itu, baru kemudian mendorong Alleta ke tempat tidur. Namun Alleta menegakkan badan dengan posisi duduk di tepi pembaringan.
Tapi kembali lelaki itu mendorong tubuh Alleta, hingga kembali berbaring, Gavano bersimpuh di tepi pembaringan, wajahnya tepat berada di se..lanh..kang..an Alleta, mulai menjatuhkan ke..cu..pan pada betis Alleta, ke..cu..pan demi ke..cu..pan Gavano berikan yang mulanya hanya di bagian betis kini me..ram..bah ke pa..ha mu..lus dan putih Alleta.
Lelaki yang sudah ber..gai..rah itu menyingkap lingrie Alleta ke atas hingga memperlihatkan bagian in..ti gadis itu. Seperti kemarin malam, Gavano terpesona dengan gun..du..kan dan bu..lu-bu..lu ha..lus yang rapi itu, terlebih lagi dengan bau stroberry yang manis.
Gavano mulai ber..main di sana, hingga Alleta mengeluarkan de..sa..han dan le..gu..han-le..gu..han nikmat.
"U..gh... tu,,, an.! a..h..! tuan, aku... aku..."
"Kenapa.?" Tanya Gavano lalu kembali ber..main di sana. Ku..lu..man demi ku..lu..man yang Gavano lakukan, bahkan sesekali me..ne..kan li..da..hnya pada bagian paling se..nsi..tif pada in..ti itu, sepertinya bagian in..ti Alleta sudah menjadi candu bagi lelaki itu.
Le..gu..han-le..gu..han Alleta serta tangan yang me..re..mas re..ma..s rambut Gavano, membuat lelaki itu semakin aktif, hingga terjadi pe..le..pa..san pada Alleta, dengan nafasnya yang memburu.
"Sekarang giliranmu gadis.!" Titah Gavano seraya menegakkan tubuh Alleta, baru kemudin dirinya beranjak dengan posisi berdiri tepat di hadapan wajah cantik Alleta yang merona.
"Tak perlu banyak bertanya, kau hanya perlu mengikuti permainanku."
Gadis muda itu hanya mengangguk, Gavano perlahan membuka handuknya, mata Alleta melebar saat melihat sebuah be..nda yang men..ju..lur pa..nja..ng dengan ukuran size di atas rata-rata terpampang di dedapan matanya.
Tak pernah terfikirkan oleh Alleta bahwa lelaki yang menikahinya ternyata sangat per..kasa, bukanya tidak pernah menyentuh be..nda itu, hanya saja, saat itu Alleta sedang mabuk dan tak terpikir untuk menyapu pandang be..nda itu.
"Apa yang kau tunggu gadis.? bukankah kau juga pernah melihatnya sebelumnya.? ayo lakukan.
Pelan-pelan Alleta meraih be..nda itu, memasukkan ke dalam mu..lu..tnya, gadis itu mulai me..nji..lati dari ba..ta..ng hingga uju..ng, bahkan meng..ulu..mnya,
"A..gg..rh..h...!" Pekik Gavano.
Allet semakin aktif dengan permainannya pada be..nda mi..li..k Gavano, sedangkan Gavano meraih kepala Alleta dan menuntunya, semakin ke..nca..ng ber..main, hingga Gavano mencapai pe..le..pa..san..nya di sertai dengan ca..iran ken..tal berwarna putih.
"Maaf." Ucap Gavano sambil meraih tissu yang sudah tersedia di meja, dan membantu Alleta membersihkan wajahnya akibat semprotan dari cai..ran tersebut. Alleta juga merih tissu lalu membersihkan sisa-sisa pe..le..pa..san..nya di bagian in..tinya.
Baru saja Alleta hendak bebaring, Gavano menjambak lembut rambut Alleta hingga wajah mereka kembali saling menatap.
"Mau kemana.?"
__ADS_1
"Bukankah ini sudah selesai.?"
"Siapa yang bilang.?"
Gavano kembali men..cem..bu Alleta, Ga..ira..h lelaki itu kembali timbul saat tadi melihat Alleta membersihkan bagian in..tinya. Gavano menganti po..si..si yang tadi berdiri tegak kini sudah me..ni..ndi..h tubuh Alleta yang masih mengenakan lingrie.
"Hei, gadis, aku tidak bisa berhenti sampai di sini."
Lelaki itu kemudin menjatuhkan ci..um..an dan mulai me..lu..mat bi..bir Alleta, tidak seperti tadi, kini Alleta membalas lu..ma..tan itu, jujur saja setelah malam dimana Gavano me..ngga..uli..nya. Alleta sangat penasaran dengan rasa yang nikmat tapi juga menyiksa itu. Terlebih lagi, semenjak saat itu, Gavano tak pernah lagi menyentuhnya.
"A..g..r..h...!" Teriak Alleta saat bagian in..ti mi..lik..nya sudah di penuhi dengan mi..lik Gavano.
"Memang seperti itu, jika sudah lama tidak melakukannya.!" Bisik Gavano lembut di telinga gadis itu.
Perlahan Gavano mulai ber..ge..rak dan memberikan hen..ta..kan-hen..ta..kan di bawah sana, dan menjadi rasa yang sangat nikmat tiada tara.
Lantaran sangat ni..kmat, Gavano mulai merobek bagian bleser lingrie Alleta, merasa belum puas, Gavano juga merobek bagian yang tersisa, hingga tu..buh Alleta menjadi pol..os.
"Tuan... u..g..h...! lingrie a..h..! itu, a..hg..h...! itu baru saja ug..h.! tuan belikan untukku. dan a..h.! ah.! harganya sangat mahal."
"Gadis, di saat seperti ini, kau masih memikirkan tentang harga pakaian, sebaiknya kau memikirkan tentang mu, sepertinya malam ini aku tidak akan berhenti. Dan sebagai istriku, kau juga harus mengikuti permainanku.!" Ucap Gavano yang semakin men..gen..cakan ge..ra..kan..nya.
"U..g..h...!" Le..gu..h Alleta sambil mengangguk.
Malam yang panjang, malam yang penuh dengan api, seperti sedang berada di sebuah taman bunga poppy yang indah. Menikmati harumnya bunga dan udara segar. hingga akhirnya semua menjadi terkendali
Begitulah malam yang di lalui Alleta dan Gavano, sepasang suami istri, saling ber..pagut dan memberikan kehangatan. Meskipun butiran-butiran keringat sudah memenuhi tubuh mereka, itu semua tidak menghentikan aktivitas sepasang suami istri itu.
Sampai meraka mencapai puncak dan pe..le..pa..san yang berkali-kali hingga subuh.
Setelah selesai, Gavano meraih ponselnya di meja dekat pembaringan, ia membaca sebuah pesan yang masuk.
(Aku akan kembali minggu depan.) Isi pesan yang di terima Gavano.
Bersambung...
******
...๐นAlleta dan Gavano๐น...
Selamat bermalam jum'at๐๐๐๐
__ADS_1