
"Lexa ingin menikah."
Ucapan Alexa membuat yang ada di ruangan itu terkejut secara bersamaan. Tak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.
"hahahah... kamu bercanda ya.?" Kata Arkana menertawai apa yang barusan dikatakan Alexa.
"Lexa tidak bercanda."
Kembali Arkana terdiam, rupanya ia salah menyangka. Pemuda itu mengira Alexa hanya bercanda.
Gavano yang juga terkejut dengan apa yang dikatakan Alexa, menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar di sandaran sofa. Lalu menatap adik perempuannya dan bertanya dengan serius.
"Apa kamu yakin.?"
"Lexa yakin kakak Vano.!"
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Kakak ipar juga ke universitas, meskipun sudah menikah denganmu, kakak.!"
"Baiklah jika itu maumu.!"
Wajah Alexa berubah ceria. Namun keceriaan itu hanya sebentar saja, ketika Gavano kembali berbicara.
"Seperti permintaanmu, Aku akan mencarikan lelaki dari salah satu keluarga besar yang ada di kota S."
"Tidak, Lexa tidak mau."
"Kenapa.?"
"Lexa ingin menikah dengan lelaki pilihan Lexa sendiri."
"Tidak bisa, ayah adalah penguasa kota S. aku takut jika kita memilih orang yang salah, mereka akan memanfaatkanmu untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Alexa berdiri tegak dan membantah dengan keras.
"Tidak pokoknya Lexa ingin menikah dengan orang yang Lexa cintai." Ucap Alexa dengan air matanya yang mulai membasahi pipinya.
"Tidak bisa" Bentak Gavano
Sedangkan ibu dan ayahnya tidak bisa berkata apa-apa ketika Gavano sudah berkata seperti itu. Mereka tahu jelas sifat dan karakter putra pertamanya itu.
"Aku benci kakak.!"
Gadis kecil menagis, dan berlari masuk ke kamarnya.
Revandra menatap putra pertamanya itu hendak mengatakan sesuatu, tapi semua itu terhenti di kerongkongannya saat melihat wajah Gavano yang terlihat sedang kesal
"Kenapa.? apa ayah akan menentang apa yang aku katakan.?"
"Tidak nak... apa yang kamu lakukan sudah benar. Tidak sedikit orang yang mengincar posisi berada di dekat kita.
"Baguslah jika ayah dan ibu mengerti. Dan kamu Arkana, aku harap kamu juga tidak mengabaikan hal ini. Kamu sebagai salah satu penerus Gramentha Grup, jangan sembarangan dalam memilih pasangan." Ucap Gavano yang menekankan dikalimat terakhirnya.
'Apa kakak lupa, jika dia juga awalnya menikah dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya.' Kesal Arkana dalam hati seraya bangkit dari duduknya, dan juga kembali ke kamarnya.
Begitu pula Aliya dan Revandra, mereka berdua lebih memilih untuk kembali ke kamar, lantaran tak mau membuat Gavano semakin geram.
Sementara Alleta berbalik menatap Gavano mencoba mencairkan suasana yang hening setelah hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu.
"Vano.!"
"Em..."
__ADS_1
"Aku juga sudah ingin kembali ke kamar."
"Ok.!" Jawab Gavano bangkit dan berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.
Namun langkahnya terhenti ketika Alleta menangkap tanggannya.
"Apa kamu akan pergi begitu saja.?"
"Bukankah kamu ingin ke kamar.?"
"Gendong.!" Pinta Alleta dengan ekspresi yang begitu lucu,
Sehingga, semua yang ada di fikiran Gavano hilang entah ke mana. Segera saja lelaki itu menuruti permintaan istrinya, membawa istinya ke kamar seperti apa yang di minta Alleta.
"Vano.!" Panggil Alleta lembut setelah berada di kamar dan berbaring di pembaringan.
Bukannya menjawab, Gavano justru balik memanggil Alleta.
"Alleta..." Duduk di tepi pembaringan
"Ya...!"
"Apa aku bagimu.?"
"Tentu saja kamu suamiku.!"
"Hanya itu.?"
"Kamu juga hidupku, dan segalanya bagiku."
"Lalu berhenti memanggil namaku.!"
"Emm... ok.! karna kamu adalah segalanya bagiku, maka aku akan memanggil kamu My, My All (Segalanya)."
"Kalau begitu bisa kita tidur sekarang My.?"
"Alleta, kamu tahu, kamu memanggilku seperti itu, membuatku ingin melahapmu.!"
"Tapi, kita harus ingat pesan Dr.Aneth."
"Ya...! mari kita lakukan itu setelah tubuhmu sudah kuat."
***
Resepsi pernikahan semakin dekat, Dan itu membuat keheboan di kalangan pebisnis dan media. Di hotel tempat akan di adakan resepsi, Riko sedang sibuk mengatur ruangan itu.
Tiba-tiba Alexa menghampirinya.
"Kakak Riko.!" Panggil Alexa seraya berlari ke pelukan Riko.
Tak mau menyebabkan masalah, Riko melerai pelukan Alexa itu.
"Gadis kecil, di sini banyak orang, aku takuk menimbulkan masalah."
"Maafkan Lexa kakak."
Riko kemudian mengajak Alexa pergi dari tenpat itu. Ia membawa Alexa ke sebuah taman yang indah namun sunyi, Di taman itu juga terdapat penginaan yang di khususkan untuk para pengunjung saat ingin menenangkan pikiran. Tapi sebelum itu, Riko menyempatkan diri menganti pakaiannya dengan pakaian biasa agar tidak terlalu mencolok.
Di depan penginapan di sebuh taman, Alexa dan Riko melebarkan sebuah pengalas tak lupa dengan beberapa minuman dan cemilan. Kebetulan saat itu cuaca sangat mendukung.
"Gadis kecil.!"
__ADS_1
"Ya kakak.?"
"Maaf, jika harus seperti ini.!"
"Tidak masalah, asalkan Lexa bisa bersama kakak, meskipun harus bersembunyi seperti ini."
Setelah meneguk beberapa wine, Riko berbaring dan Alexa menimpanya.
"Kakak..."
"Hem..."
"Lexa mencintaimu.!"
"Aku juga Gadis kecil."
Kedua insan itu saling mengutarakn perasaan. Meskipun itu sudah berulang kali mereka lakukan. Riko tak tau sampai kapan dirinya bisa menyembunyikan hubungan mereka.
Di saat Riko membelai rambut Alexa, dan mencim gadis kecil itu, Seseorang dari jauh memotret mereka tampa sepengetahuan Riko.
Di waktu yang bersamaan, Luna sedang menikmati waktu bersantainya bersama Samuel di sebuah cafe, tak tahan akan kerinduannya pada Luna, Samuel datang ke kota S. untuk menjemputnya. Namun Luna akan ikut ketika resepsi Gavano telah selesai. Tentu saja Samuel menuruti kemauannya.
Di waktu bersantainya, tiba-tiba Luna di kejutkan dengan kedatangan Felisa
"Oh... jadi ini yang kamu lakukan sekrang.? sementara aku menderita karna ulah seseorang, kamu justru menikmati hari-harimu bersama pria asing ini."
"Who she is baby.? (Siapa dia baby.?" Tanya Samuel.
"Oh, just a woman crazy (Oh, hanya seorang wanita gila)"
Tawa Samuel meledak setelah Luna mengatakan bahwa Felisa adalah seorang wanita gila. Merasa di permalukan, Felisa tampak geram dan langsung menarik lengan Luna, hendak membawanya kesuatu tempat.
Akan tetapi, Samue menghentikannya.
"Let go of his hand.(Lepaskan tangannya)" Bentak Samuel
"You think I'm afraid of your cracks.?(kamu gikir saya tqkut dengan geretakanmu.?)" kembali Felisa membentak samuel. Dan mencoba menarik tangan Luna.
Lagi-lagi tindaknnya terhenti ketika dua orang berpakaian serba hitam menghampiri mereka.
"What should we do boss.(Apa yang harus kami lakukan bos.?) Tanya salah pria berpakian hitam itu.
Yang tidak lain adalah pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Luna oleh Samuel.
"drag this crazy woman out. (Seret wanuta gila ini keluar.)" Titah Samuel.
"ok boss."
Felisa mulai meronta ketika kedua pria berpakaian hitam itu, menyeretnya keluar dari tempat itu, tak lupa wanita itu berteriak dan memaki Luna, membuat semua pengunjung Cafe berbalik dan melihat apa yang terjadi
"Dasar wanita ja..lang, aku akan membalasmu." Teriak Felis.
"Are you ok baby.?" Tanya Samuel sebentar setelah Felisa diseret keluar.
"I am ok."
'Aku singguh salah jika aku mengejar Gavano, ternyata ada seorang pria yang memperlakukanku seperti seorang ratu, oh Samuel, aku akan memberikan cintaku padamau.' Ucap Luna dalam hati, kemudian memeluk Samuel.
Kembali pada Riko dan Alexa yang sedang menikmati kebersamaan mereka. Kedua insan itu saling menggoda hingga Riko mendapatkan sebuah panggilan telfon.
Riko yang sedang berciuman dengan Alexa, melerai ciuman itu, dan cepat-cepat merogoh ponselnya dari saku celananya. Dan segera menerima panggilan itu ketika melihat nama Gavano tertera di layar ponsel sedang memanggil.
Bersambung...
__ADS_1
***