KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Kekacauan dan permainan


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan di sini.?"


Suara itu membuat Alleta dan Arkna berbalik bersamaan.


"kakak Reygan"


"Ah,,, Bibi"


"Apa yang kalian lakukan di sini.?" Kembali Reygan bertanya saat tidak mendapat jawaban.


"Kebetulan kakak dan bibi ada di sini.!"


"Memangnya ada apa.?"


"Duduklah dulu, kami akan menceritakan semunya." Pinta Arkana.


Setelah Reygan dan Delia duduk, Alleta dan Arkana menceritakan apa yang mereka dengar tadi saat Grace san Leo berbica. Mereka menjelaskan secara bergantian.


Reygan termangu, seolah memikirkan seauatu.


"Bgaimana bisa seorang wanita hamil dan bahkan melahirkan seorang putra, tapi dia tidak mengetahuinya." Ucap Reygan.


"Kecuali wanita itu amnesia atau di hipnotis untuk melupakan kejadian-kejadian yang terjadi pada dirinya." Sambung Delia.


Mereka tak habis fikir dengan apa yang terjadi, hingga Reygan memutuskan untuk kembali.


"Biklah, masalah ini mari kita pikirkan bersama. Dan kamu Alleta, kakak harap jangan terlalu banyak berfikir, ingat kamu sedang mengandung."


"Baik kakak."


"Jadi, bagaimana jika aku mengantar kalian kembali." Ucap Delia menawari


"Tidak perlu bibi, kami juga sudah ada supir yang menemani." Sahut Arkana.


"Baikalah, kami pergi dulu,"


Berlalunya Reygan dan Delia, membuat Alleta dan Arkana juga memutuskan untuk kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam memikirkan semuanya. Hingga tak terasa, Gadis muda dan pemuda itu sampai di rumah.


Arkana terlebih dahulu turun dari mobil di susul Alleta.


"Alleta, berlakulah seolah-olah tak terjadi apa-apa." Pinta Arkna


"Tapi bagaimana dengan supir dan dua orang yang mengikuti kita.?"


"Tenang saja, serahkan padaku."


"Ok...!"


Mereka berdua masuk ke rumah dan sama-sama menghenyakan pan..tat di sofa yang berada di ruang tamu, lalu meminta seorang pelayan membawakannya minuman dan cemilan.


Saat sedang meneguk minumannya, seorang pelyan menghampiri Alleta, memberikan sebuah dokumen yang entah siapa yang mengirimnya dan penerima atas nama Alleta.


"Nyonya muda, ada sesuatu untuk anda."


"Beri padaku."


Alleta segera mengambil dokumen itu, dan membukanys, Betapa terkejutnya Alleta melihat apa yang ada di dalam dokumen itu. Membuat Arkana heran


"Ada apa.?"


"Lihatlah sendiri."


Arkan kemudian meraihnya dan melihat apa isinya, kini bukan hanya Alleta yang terkejut, Arkana juga ikut terkejut. Betapa tidak, dokumen itu berisi foto-foto Grace seperti sedang bermesraan bersam Gavano.


"Apa kamu percaya.?"


"Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengambil kesimpulan sebelum bertanya pada Vano."


Arkana kembali meneliti setiap foto-foto itu. lalu mengeluarkan apa yang ada di fikirannya tentang salah satu foto yang menurtnya sedikit ganjil


"Coba lihat yang ini. Aku pikir semua ini hanya tipuan."

__ADS_1


Alleta meraih foto yang di berikan Arkna. dan menelitinya, Benar bahwa foto itu sungguh ganjil, seolah-olah, Gavano di paksa untuk memeluk Grace.


"Hem...! Benar apa yang kamu katakan."


Saat mereka sedang berfikir keras, tiba-tiba Grace datang, cepat-cepat Arkana dan Alleta membereskan foto-foto itu


"Oh,,, Rupanya kalian sedang bersantai di sini.!"


"Kenapa jika kami di sini, ini rumah kami, aku adalah nyonya muda di keluarga ini." Jawab Alleta datar seraya menuguk minumannya.


"Dan aku adalah tuan muda kedua di keluarga ini." Sambung Arkana.


"Kamu, kurang ajar sekali."


"Tidak tahu siapa yang kurang ajar. Aku jelas nyoya muda, sementara ada seorang wanita yang tidak tahu datang entah dari mana, lalu menumpang di rumah ini."


Grace semakin kesal dengan ejekan-ejekan Alleta, wanita itu mengankat tangan ingin menampar Alleta.


"Apa yang kamu lakukan pada menantuku,"


"Ayah..." Panggil Alleta dan Arkana bersamaan.


"Ah, tidak, tidak ada." Jawab Grace ketakutan.


"Berani sekali kamu mengngkat tangan padanya." Ucap Revandra menghampiri mereka.


"Maafkan aku paman.!"


"hak apa yang kamu miliki memanggilku paman,!"


"Baik tu..tuan besar."


Revandara kemudian lebih mendekat pada Grace, mencengkram dagu wanita cantik itu dengan wajah di penuhi amarah.


"Jangan fikir putraku mengizinkanmu tinggal di sini, lalu kamu bisa berbuat seenaknya pada menantuku.!"


"Ayah... aku tak apa, jangan membuatnya tertekan, aku takut dia tidak akan tahan tinggal di sini."


Pinta Alleta agar Revandra menghentikannya, tapi nada Alleta seolah mengejek Grace.


Akhirnya Revandra melepaskan cengkramannya. 'Sial, mereka berdua sengaja menyindirku, lihat saja, begitu aku mendapatkan Gavano, kalian berdua akan menerima akibatnya.' Ucap Grace dalam hati.


***


New York, malam hari setelah Gavano menyelesaikan salah satu pekerjaannya, bersama Riko, ia bertanya tentang adik perempuannya.


"Di mana gadis kecil itu.?"


"Tadi di mengatakan ke tempat seorang teman."


"Oh, kemudian segera menjemputnya."


"Baiklah."


Sebentar setelah Riko berlalu, Gavano melakukan panggilan telfon.


"Lakukan, tapi ingat jangan sampai menyakiti mereka." Perintahnya kepada yang ia pangggil, baru kemudian mengakhiri panggilan itu setelah seseorang di ujung telfon menerima perintahnya.


Seperti apa yang Gavano katakan, Riko menjemput Alexa di tempat temannya, namun di tengah perjalanan pulang, mereka, di hadang beberapa mobil dan ada sekitar dua puluh orang,


Alexa menjadi ketakutan melihat orang-orang itu.


"Kakak, Lexa takut."


"Tetap tenang."


"Baik kakak."


Riko kemudian turun dari mobil dan menghampiri orang-orang yang menghadangnya.


"Siapa kalian, dan mengapa menghadang kami."


"Kamu tidak perlu tahu siapa kami, hanya serahkan gadis yang ada di dalam mobil, maka kami akan membiarkanmu pergi." Ucap salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Cih jangan harap."


"Jika tidak bisa meminta baik-baik, maka kami akan membawa gadis itu secara paksa."


"Berani sekali."


Satu di antara mereka maju menghampiri Riko, tapi Riko bukanlah pria yang lemah dan tak tahu cara berkelahi.


Buk... buk... Riko menghantam orang itu bertubi-tubi, Hingga beberapa orang lainnya maju. Tapi tetap saja Riko lebih unggul dari mereka


Buk... brak... Hantaman demi hantaman Riko berikan pada orang-orang itu, hingga fokusnya terhenti saat mendengar teriakan Alexa yang di paksa keluar dari dalam mobil


"Kakak...!"


"Lexa."


Buk... hantaman mengenai wajah Riko, hal itu membuat Alexa berteriak semakin menjadi.


"Kakak..."


"Diam gadis cantik"


"Lepaskan. Lepaskan aku.!"


Melihat Alexa meronta, emosi Riko bertambah, lelaki itu kembali unggul dalam perkelahian,


"Kakak, awas di belakangmu."


Brak... Belum sempat Riko menoleh, sebuah hantaman mendarat di batang lehernya, membuatnya tak bisa melakukan apa-apa lagi.


Pandangannya menjadi remang, sedikit-demi sedikit ia hanya bisa melihat Alexa meronta meminta tolong dan lama-kelamaan, suara Alexa menghilang bersamaan dengan Riko menutup matanya.


Semua terasa hening, hanya tangisan dari seorang gadis, yang samar-samar, seperti angin yang kadang berhembus begitu kencang dan lama-kelamaan hailng


Di sebuah tempat, Riko terbangun dengan tangan dan kaki yang sudah diikat, ia meyapu pandang di sekeliling dan tak melihat siapapun kecuali seorang gadis kecil yang tengah pingsan.


Riko menghela nafas lega saat melihat tidak sedikitpun pakaian yang kurang dari tubuh Alexa,


"Lexa... Lexa..." Panggil Riko pelan.


Meskipun begitu pelan, Alexa dapat mendengarnya, dan terbangun dari pingsannya.


"Kakak...!"


"Hussh....! jangan berisik, cepat kemari dan lepaskan tali ini."


Alexa yang memang di biarkan begitu saja tampa di ikat segera bangkit dan membuka ikatan tali pada tagan dan kaki Riko.


"Kakak... Lexa takut." Ucapnya segera memeluk Riko.


"Jangan takut, apa kamu tidak apa-apa.? apa ada yang sakit.?" Tanya Riko khawatir


"Tidak ada kakak, lalu kamu sendiri.?"


"Hanya sedikit sakit di batang leherku."


"Kakak kita di mana.?"


"Aku juga tidak tahu, tapi tenang saja, selama ada aku, tidak akan terjadi apa-apa denganmu."


Alexa kembali memeluk erat Riko meneteskan air matanya, ia teringat kembali saat tadi Riko menutup matanya sebelum ia juga ikut tak sadarkan diri. Gadis kecil itu takut bahwa ia tidak akan bertemu Riko kembali.


"Berhentilah menangis gadis kecil."


Alexa kemudian menatap Riko


"Kakak, Lexa mencintaimu, Lexa takut kehilanganmu."


"Akupun sama."


Akhirnya Riko menjatuhkan ciumaman hangatnya di bibir Alexa, gadis kecil itu menerimanya dengan hangat pula


Plok...Plok...Plok... Tepukan tangan menghentikan aktivitas mereka, dan sontak terkejut saat mereka berbalik ke arah tepukan tagan itu.

__ADS_1


Bersambung


******


__ADS_2