
Perlahan pintu terbuka, Gavano membawa Alleta masuk dan menuntunnya duduk di kursi, sementara keluarganya menatapnya.
Di antara mereka tidak ada yang membuka mulut, hingga Alleta yang memulai pembicaraan dengan bertanya.
"Siapa saja, tolong jelasakan semuanya."
"Alleta, anakku." Panggil julia.
"Maaf bibi, aku sungguh tidak mengetri,"
"Alleta, kami adalah orang tua kandungmu." Sambung Axcel.
Axcel dan Julia menjelaskan apa yang terjadi pada mereka secara bergantian. Mulai dari nama asli Alleta hingga mengapa mereka tidak mencari Alleta selama ini. Sementara Axcel dan Julia menjelaskan, Air mata Alleta mengalir semakin lama semakin deras.
Sampai pada titik di mana mereka selesai menjelaskannya,
"Alleta anakku, boleh kami memelukmu,?"
Alleta hanya mengangguk setuju, Axcel dan Julia memeluk putri mereka, putri yang mereka kira sudah lama meninggal.
Pertemuan anak dan orang tua itu, membuat siapa saja yang ada di ruangan itu, menagis terharu.
"Alleta, kami sungguh merindukanmu.!"
"Ayah, ibu, Alleta juga sungguh merindukan kalian."
"Jadi, apa kamu ingin ikut kami ke rumah.?"
"Alleta akan ikut kalian."
Jawaban Alleta itu membuat wajah Gavano seketika berubah, jelas saja, tampa meminta pendapanya, Alleta ingin ikut dengan Axcel dan Julia.
Orang tua dan anak itu hendak keluar tampa memperdulikan Gavano dan keluarganya, namun Gavano menghentikannya.
"Berhenti." Cegah Gavano.
Akan teyapi Alleta menatapnya sedemikian rupa, dan tatapan itu seolah mengisyaratkan Gavano untuk tidak menghentikannya.
Tak mau membuat Alleta membencinya, Gavano terpaksa merelakan kepergian Alleta bersama kedua orang tuanya, Gavano berfikir toh hanya ke tempat orang tuanya saja, besok juga mereka akan bertemu.
Dan pada akhirnya Alleta benar-bebar pergi bersama orang tuanya meninggalkan ruangan itu.
"Vano.! mengapa kamu membiarkan mereka membawa Alleta." Tanya Aliya setelah Alleta dan kedua orang tuanya berlalu.
"Ibu, biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka, toh besok kita bisa bertemu dengan Alleta kembali."
Setelah pembicaraan mereka, Gavano kembali menyapa tamu-tamunya, tentunya dia juga menjelaskan mengapa istrinya tidak berada di sampingnya saat ini.
***
Di kediaman Atmaja, Alleta dan kedua orang tuanya beserta Reygan, saling mengutarakan kehangatan dan kerinduan mereka.
Setelah acara selesai, Aliya dan Revandra beserta Arkana kembali ke kediaman Revandra. Sementra Alexa di antar oleh Riko, dengan alasan ingin menginap di rumah temannya.
Meskipun awalnya Gavano tidak mengindahkan permintaan Alexa itu, namun melihat Alexa bersikeras dan memohon, Gavano akhirnya memberinya izin untuk menginap di rumah temannya.
Di perjalanan Alexa meminta Riko memberhentikan mobilnya, dan Riko melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh Alexa,
"Ada apa tiba-tiba membuatku menghentikan mobil.?" Tanya Riko berbalik pada Alexa dan menatap gadis kecil itu penuh kasih.
"Kakak, sepertinya akhir-akhir ini, aku merasa sedang di ikuti.!"
"Jangan berfikiran yang bukan-bukan."
"Tidak kakak, Lexa merasa ada yang sedang mengikuti kita."
"Ah... mungkin kamu sangat lelah, sebaiknya aku mengantarmu segera ke tempat temanmu.!"
"Siapa yang bilang, Lexa ingin ke tempat teman Lexa.!"
"Bukankah kamu meminta izin pada Gavano ingin ke tempat temanmu.?"
"Tidak, itu hanya alasan Lexa saja."
__ADS_1
"Lalu ke mana kamu akan pergi, aku akan mengantarmu,"
"Ke penginapan beberapa hari yang lalu.!"
"Alexa, sepertinya kali ini, aku tidak bisa menuruti permintaan itu."
"Kenapa kakak.? apa kakak Riko tidak menyayangiku.?"
"Bukan Alexa, bukan itu, hanya saja, aku takut jika Gavano mengetahuinya.'
"Tenang saja, Lexa sudah menghubungi teman Lexa, dan berpesan jika kakak Vano, mencariku, bilang saja aku memang ada di rumahnya dan sudah tidur."
"Tapi Alexa..."
"Ayolah kakak, Lexa mohon, mau ya...!"
Tak mau membuat Alexa bersedih, Riko hanya menuruti permintaan gadis kecil itu. Tapi dengan satu syarat yaitu, Alexa harus berjanji tidak melakukan hal-hal yang tidak wajar seperti yang lalu-lalu.
***
Esok hari, Semua media memberitakan tentang resepsi pernikahan Gavano dan Alleta, juga tak lupa dengan berita-berita terpanas tentang Feslisa si modeh terhot. Hingga semua fans-fans Felisa merasa jijik terhadapnya, mereka yang dulunya mendewakan Felisa bahkan kini telah membenci wanita itu.
Sementara berita-berita tentangnya tersebar luas di media sosoal dan media lainnya, Felisa akhirnya mengurung diri di apartemennya, merasa tak terima dengan semuanya terlebih lagi Leo sama sekali tidak membantunya, Felisa bergegas menuju ke rumah Leo.
"Leo...leo.. buka pintunya." Teriak Felisa sambil mengedor pintu rumah Leo
Leo yang mendengar suara gedoran pintu itu, segera membuka pintu dan terkejut melihat Felisa sudah berdiri di depannya.
"Mau apa kamu kemari."
"Kamu,,, dasar pria ba..jingan." Ucap Felisa hendak menampar Leo
Akan tetapi, Leo seger menangkap tangan Felisa, mencengkram kuat tangan wanita itu.
"Berani sekali kamu. Pergi dari sini."
"Kamu menipuku pria ba..jingan."
"Cih... abts saja Gavano tidak melirikmu sedikitpun, ternyata prilakumu seperti ini."
"Sepakat.? awalnya aku memang ingin melakukan kesepakatan itu, akan tetapi, melihatmu tidak ada harapan seperti ini, membuatku mengurungkan niatku."
"Kamu... dasar pria ba..jingan."
"Pergi dari sini, jika tidak aku akan menghubungi kepolisian dan membuat lapiran tentan seorang wanita gila yang berkeliaran di sekitaran rumahku."
Felisa yang ketakutan dengan ancaman Leo, segera menibggalkan tempat itu, dan kembali ke apartemennya.
Sore hari, Gavano yang tak tahan tidak melihat Alleta, segera menuju ke kediaman Atmaja.
"My.!" Terkejut Alleta yang membuka pintu, melihat Gavano sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Kenapa tidak menghubungiku sama sekali.?"
"Maafkan aku My, aku lupa.!"
"Jadi, setelah menemukan keluargamu, kamu mengabaikanku.?".
"Heheheh. maaf ya.!"
"Jadi, apa kamu akan membiarkan aku tetap berada di sini.?" tidakkah kamu memintaku masuk.?"
"Ah,,, aku lupa, ayo masuk."
Gavano berjalan masuk bersama Alleta yang menggandeng tangannya.
"Siapa Alleta.?" Teriak Julia dari dapur.
"Suamiku bu.!"
Mendengar Allet menyebutkan kata suami, membuat wajah Gavano memerah
"Oh... Vano.! ayo masuk, kebetulan aku dan Alleta sedang memasak untuk makan malam," Ajak Julia.
__ADS_1
"Baiklah."
Sementara Julia memasak di dapur bersama koki dan beberapa pelayan, Alleta membawa Gavano masuk ke dalam kamarnya.
"My... Lihatlah kamarku, bagus kan.?"
"Bagus sekali."
"Dan lihat itu My, Itu adalah hadiah-hadiah yang ibu berikan setiap tahunnya untuk kado ulang tahunku."
"Apa kamu bahagia Alleta.?"
"Aku sungguh bahagia, terimah kasih My.!"
Alleta memeluk tubuh kekar suaminya,
"Aku rindu." Manja Alleta memainkan dasi Gavano.
"Aku juga, itulah aku ke mari."
"Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.!"
"Tanyakanlah.!" Ucap Gavano membelai lembut rambut Alleta.
"Kapan kamu tahu tentang keberadaan orang tuaku.?"
"Saat aku melihat tanda di lehermu.!"
"Kenapa bisa kamu mengetahui itu.?"
"Alleta, aku dan Reygan sering bermain bersama di masa kanak-kanak, bahkan saat kamu lahir, aku juga ada di rumah sakit. Dan saat itulah aku melihat tanda itu. Terlebih lagi, aku sering melihatnya saat kamu sering bermain dengan Alexa, dan rambutmu sering di kuncir." Jelas Gavano panjang lembar.
"Pantas saja, Lalu mengapa tidak segera memberitahuku.?"
"Karna aku ingin memberimu sebuah kejutan."
"Aku sungguh terkejut,"
"Apa kamu tidak membenciku karna telah menyembunyikannya sekian lama.?"
"Awalnya aku sedikut kesal, tapi tidak tahu kenapa aku tidak bisa membencimu, bahkan hanya satu hari saja, aku sudah sangat merindukanmu."
"Sungguh.?"
"Em..."
Gavano kemudian memegang dagu Alleta dan sedikit menunduk, hingga wajah keduanya hanya berjarak setengah inci saja.
Mereka bahkan dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Tak butuh waktu lama bagi Gavano untuk menjatuhkan ciuman pada bibir Alleta.
"Ah... maaf menganggu." Ucap Julia yang masuk ke kamar Alleta, memanggil mereka untuk makan malam.
"Ah... ibu," Sahut Alleta memerah."
"Maafkan ibu, ibu tidak tahu bahwa kalian sedang..."
"ibu..."
"Ok... ok... masakan sudah siap, Reygan dan Ayahmu sudah menunggu, mari makan malam bersama.!"
Akhirnya dengan wajah malu-malu Alleta, menarik tangan Gavano keluar dari kamar menuju meja makan.
Mereka makan dengan tenang sampai selesai.
"Vano.! menginaplah.!"
"Tapi paman Axcel."
"Vano, maafkan jika kami sedikit egois, tapi jika kedatanganmu ingin membawa Alleta, maka kami tidak akan mengijinkan, Alleta putri dari keluarga Atmaja, terlebih lagi dia baru saja kembali, dan kami ingin membawanya dan mengenalkannya pada anggota keluarga yang lain.." Ucap Axcel tegas
"Bagaimana presedir Vano.? apa kamu tidak kebertan.?" Sambung Reygan
Bersambung...
__ADS_1
******