KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Selalu terbayang


__ADS_3

Setelah membaca pesan Julia, Axcel mencoba menghubunginya, Namun nomor Julia sudah tidak aktif, Kemudian Axcel memnghubungi ke rumah orang tua Julia.


Ayah Julia membenarkan tentang pertukaran pelajar itu, namun Ayah Julia tidak tahu di mana Julia di tempatkan.


Siang hari Axcel mencari tahu di universitas tempat Julia belajar, di sana dia baru tahu bahwa Julia mengikuti perogram pertukaran pelajar ke Maroko, dan dalam waktu yang lama.


"Itu berarti akhir ujian baru istriku kembali.?" Tanya Axcel pada kepala universitas.


Kepala universitas memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan Axcel.


Axcel mengemudi ke perusahaan


"Sudalah, akan lebih baik jika dia pergi dan tak menggangguku lagi." Kta Axcel.


Dia kemudian tidak sengaja melihat lipstik Julia di mobil, seketika Axcel teringat dengan kelakuan konyol Julia yang sering menggodanya, Axcel tersenyum sembari menatap lipstik Julia, tapi dia seger menarik senyum itu. 'Sial, apa yang terjadi padaku.'


Di perusahaan Axcel bekerja seperti biasa di bantu sekertrisnya Anya.


"Bagaimana tentang kerja sama dengan Tn.Daniel.?"


"Akan dilaksanakan sebentar lagi, tapi aku ingin kamu membatuku."


"Apa itu pak.?'


"Tolong cari tahu di mana istriku tinggal di Maroko, aku sudah bertanya di universitasnya, namun selain di mana dia di tempatkan, univeraitas mereka tidak tahu di mana dia tinggal."


"Bukankah seharusnya di asrama.?"


"Memang, tapi kamu tahu sendiri bahwa dia tidak suka tinggal di tempat banyak orang. Jadi tolong cari tahu di mana dia tinggal."


"Baik pak.!"


Anya segera keluar dari rungan Axcel dan mencari tahu di mana Julia tinggal di Maroko. Namun sudah beberapa hari, Anya tidak dapat mengetahui di mana Julia,


Bahkan dengan koneksi yang Axcel miliki, dia tidak dapat menemukan Julia, itu karna setiap kali Julia merasa Axcel mengetahui tempat tinggalnya dia langsung pindah dan mencari tempat tinggal baru.


Sudah tiga bulan namun Axcel tidak dapat menemukan di mana Julia, dan akhirnya berhenti untuk mencari di mana Julia, Namun seperti yang di pesankan Julia padanya, setiap bulan Axcel mengirimkan uang bulanan untuk Julia.


Axcel juga sudah tidak perduli lagi, hingga pada suatu malam, Axcel duduk di tepi pembringan, matanya melirik di mana Julia selalu tidur, yaitu di lantai. Dia juga mengingat saat Julia keluar dari kamar mandi dengan pakaian transparan yang menggodanya.


"Sial... kenpa bayangan gadis sakit jiwa itu selalu muncul di mana-mana." Teriak Axcel frustasi.


Esok hari seperti biasa Axcel beraktivitas di perusahaan. Pulang ke rumah, dan tertidur saat malam hari tiba.

__ADS_1


Entah mengapa Axcel tidak akan tidur sebelum membayangkan semua kekonyolan yang Julia lakukan untuk menggodanya.


Axcel juga sudah jarang mengingat sosok Aliya di pikirannya. Bahkan pernah suatu ketika, Daniel mengajak Axcel untuk makan siang bersama dengan Aliya dan bayinya.


Awalnya Axcel begitu bersemangat tentang makan siang itu karna ada Aliya di sana. Namun selama makan siang berlangsung, Axcel tidak pernah menatap Aliya, meski Aliya seringkali bertanya sesautu padanya, tapi Axcel seolah tidak mendengar. Dia lalu meninggalkan Daniel dan Aliya setelah dia menghabiskan makanannya.


"Apa yang terjadi dengan kak Axcel kakak.?" Tanya Aliya


"Aku juga tidak tahu, semenjak istrinya pergi dia sudah berubah seperti orang lain."


"Kemana memangnya istrinya.?"


"Sedang mengikuti program pertukaran pelajar."


"Jadi istri kak Axcel masih di universitas.? Kenapa tidak berhenti saja, sepertiku, jika sudah bersuami.?"


Daniel hanya bisa menepuk jidatnya, Tidak semua gadia bisa seperti Aliya yang meskipun tidak melanjutkan sekolahnya hidupnya akan tetap terjamin di masa depan. Sementra Julia hanyalah salah satu putri dari salah satu perusahaan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gramentha grup.


******


Siang hari, Maroko


"Tidak terasa sudah hampir setahun aku di sini. Bagaimana kabar suamiku ya.?" Kata Julia pada dirinya sendiri.


Julia sebenarnya bukan sengaja meninggalkan Axcel, hanya saja, dia merasa bahwa dia harus menamatkan sekolahnya, biar bagaimana pun dia adalah putri perusahaan Ganendra.


"Aku merindukan sumiku... hiks.. hiks...!" Kata Julia seraya mencium baju Axcel yang di bawa bersamanya.


Julia memng sudah jatuh cinta pada Axcel, dan sudah bertekad menetapkan pilihannya pada pria itu, meski Julia tahu bahwa di dalam hati Axcel hanya ada nama Aliya, toh tidak akan ada kemungkinan untuk meraka bisa bersama, terlebih Aliya sudah melahirkan seorang penerus untuk Gramentha grup.


"Aku harus bertahan. hanya setahun lagi Julia, bersabarlah." Ucapnya.


Bisa saja Julia menghubungi Axcel, namun dia tidak mau jika mendengar suara Axcel, maka dia tidak akan fokus dalam belajar. Itulah sebabnya Julia selalu berpindah tempat tinggal jika tahu Axcel sudah menemukan tempat tinggalnya.


Selama di Maroko, Julia hanya menghubungi orang tuanya, itupun menggunakan telepon umum, lebih tepatnya box telepon.


Julia tidak punya satupun teman selama di Maroko, jika ada sesuatu yang tidak dia tahu tentang pelajaran, dia langsung bertanya pada dosennya.


"Pak Adrian, bagaimana tentang ini.?" Tanya Julia pada dosennya


Dosen berwajah tampan dan muda itu menjelaskan pada Julia tentang proposal yang Julia ajukan.


Jujur saja, dosen muda itu ada hati pada Julia, tapi dia tidak berani mengungkapkannya, terlebih Julia tidak pernah memperlihatkan ketertarikannya pada dosen itu, tidak seperti murid-murid yang lain yang begitu mengagumi dosen Adrian Widanata.

__ADS_1


Setelah mengerti dengan penjelasn dosen Adrian, Julia undur diri, dan kembali ke tempat tinggalnya saat ini,


Julia duduk di depan meja rias. Dia terbayang saat menggoda Axcel.


"Emmm... sudah lama tidak menciumnya. Dia apa kabar ya.?"


Di tempat lain, Axcel yang baru pulang dari perusahaan langsung ke kamar, mengganti pakaiannya, dan terlentang di pembaringan, menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba wajah Julia kembali terbayang.


"Sial... apa yang terjadi padaku.?"


Axcel mencoba menutup matanya, namun dia tidak dapat terlelap lantara wajah Julia ada di mana-mana, bahkan Axcel mendengar Julia memanggilnya


"Sayang... Suamiku..."


Axcel segera membuka pintu kamar, dan kecewa saat yang mengentuk pintu adalah ayahnya


"Ada apa Axcel.? apa kamu kecewa yang mengetuk pintu adalah aku, ayahmu.?"


"Apa yang ayah bicarakan.!"


"Nak, ayah perhatikan selama menantuku Julia mengikuti program itu, kamu sudah berubah."


"Tidak ada yang berubah ayah.!"


"Nak, jujurlah pada hatimu, jika kamu menyukainya, katakanla, ingat jangan sampai menyesal di kemudian hari." Ucap pria tua Atmaja sembari meletakan tangangan di bahu putranya, dan menepuk pelan-pelan di sana.


Setelah ayahnya berlalu, Axcel menutup pintu kamar dan bersandar pada pintu,


"Apa benar aku mulai menyukai gadis sakit jiwa itu.?"


Axcel kembali mengingat apa yang di katakan ayahnya barusan, tentang jangan sampai menyeaal di kemudian hari.


Beberapa hari berlalu, di Maroko Julia mengikuti pelajaran seperti biasa, hingga kepala universitas memanggilnya ke ruangannya.


"Ada apa kepala.?" Kata Julia setelah berada di dalam ruangan kepala universitas.


"Ada yang mencarimu Julia."


"Siapa.?"


"Ada di ruangan sebelah." Katanya sambil menunjuk ke arah ruangan yang ada di sebelah ruangan kepala universitas.


Julia masuk ke ruangan sebelah dan melihat seorang pria yang berdiri di dekat jendela, menatap ke luar.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2