
"Tidak, tidak, anda tidak menganggu kok, silahkan di lanjutkan"
'Dia adalah wanita presedir Gavano, dan beliau sendiri tidak terganggu akan hal ini, tapi orang lain mencoba ikut campur, apa dia cari mati.?' Gumam salah satu pengurus menejemen yang tak berani membuka suara. Dan orang yang yang dimaksud adalh Felisa.
Alleta tersenyum puas, melihat wajah kesal Felisa, gadis itu bahkan menyempatkan diri untuk menjulurkan lidahnya pada Felisa tampa sepengetahuan Gavano dan orang sekitarnya.
Pembahasan kembali di lanjutkan, dan Alleta tetap bermain game.
Kruyuk...(Bunyi perut Alleta)'Wah aku menjadi sangat lapar setelah belajar tadi.'
Gavano yang mendengar itu, mengangkat tangan, menghentikan pembahasan.
"Ayo makan dulu, lalu melanjutkan pembicaraannya nanti" Pinta Gavano.
"Tapi presedir Gavano.!, saya masih punya sesuatu yang belum selesai kita bicarakan.!" Bentah Felisa menolak.
"Makan dulu."
"Tapi..."
"Benar, sebaiknya kita makan dulu." Ucap seorang menejemen mengangkat tangan setuju, untuk bertahan hidup dari terkaman Gavano.
Setelah menyepakatinya, hidangan makanan sudah tersediakan.
"Semuanya, saya permisi dulu, ingin ke kamar kecil." Pamit Gavano. Dan ada juga beberapa orang ikut dengannya, hingga ruangan itu hanya tersisa Alleta dan Felisa beserta beberapa orang lainnya yang masih tinggal.
Setelah Gavano berlalu, Felisa menghantam meja.
Plak...
"Alleta apa niatmu.? apa kamu dengan sengaja menganggu kami hari ini.?" Bentak Felisa kesal.
Namun Alleta tidak memperdulikannya, dan mulai menyantap makanan yang di sediakan.
"Alleta dasar wanita kampungan,"
"Nona Felisa, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, biar bagaimanapun dia adalah wanita presedir Gavano.!"
"Bagaimana mungkin dia adalah wanita Gavano, jika saja dia tidak muncul, aku yang akan menjadi wanitanya." Teriak Felisa sambil menunjuk Alleta.
Merasa jenggkel dengan perkataan Felisa, Alleta menghentikan makannya lalu bangkit dari duduknya dan berkata dengan sangat sinis.
"Oh... Jika saja aku tidak ada di sini, apa kamu akan menjadi wanita Vano.? Apa kamu pikir kamu layak.?" Kata Alleta dengan senyum mengejeknya.
"Dasar gadis j*lang, cepat atau lambat, Gavano akan menceraikanmu."
__ADS_1
Felisa kemudian meraih gelas berisi wine dan menyiramkannya pada Alleta, tapi karna Alleta adalah gadis yang sigap, maka wine itu tidak mengenai dirinya.
Alleta bahkan berjalan mendekat pada Felisa.
"Kalau kamu memang layak, katakan saja pada Vano.! kalau dia setuju, aku akan dengan suka rela menyerahkan statusku padamu."
Entah mengapa perktaan Alleta membuat Gavano sangat kesal, 'Segampang itukah kamu akan menyerahkan statusmu pada orang lain.?' Dalam hati Gavano terserang amarah besar saat tidak sengaja mendengar ucapan Alleta setelah ia kembali dari kamar kecil.
Hingga menarik Alleta meninggalkan tempat itu tampa perduli, pada siapapun lagi.
Sepanjang perjalanan pulang Gavano tidak berbica sedikitpun pada Alleta, begitu pula saat sampai di rumah, Gavano lebih dulu masuk ke kamar dan Alleta menyusul di belakang. Bahkan mengabaikan kepala pelayan
"Apa pasangan ini sedang bertengkar.?" Tanya kepala pelayan yang diabaikan.
Tak mau menganggu Gavano, Alleta memilih tidur di ruang tamu.
"Aku merasa sudah cukup lama berada di sini, tapi baru kali ini aku merasa sekesepian seperti ini, dan aku tahu bahwa aku tidak punya hak untuk itu, tapi kenapa setelah aku memikirkannya hari ini, aku merasa ada yang hilang." Gumam Alleta, meneteskan air mata hingga terlelap.
Seminggu semenjak kejadian itu, Gavano lebih banyak menghabiskan waktu di club bersama Reygan, dan jarang untuk pulang ke rumah, Sedang Alleta tetap beraktifitas seperti biasanya, meskipun ia merasa ada sesuatu yang kurang saat Gavano mengabaikannya.
Hingga pada suatu malam, saat Alleta baru pulan dari universitas lantaran kuliah yang ia ikuti sampai sore.
"Dimana Vano.?" Tanya Alleta, pada kepala pelayan yang baru saja membuka pintu untuknya.
Namun kepala pelyan itu tidak berani menjawab, di hanya memberikan isyrat bahwa Gavano sedang duduk di sofa.
"Ke mana aku pergi, itu adalah urusanku, kamu tidak perlu khawatir akan itu."
'Baru kali ini aku berbicara seperti itu pada Vano, dan sekali lagi perasaanku sangat hancur.' Ucap Alleta dalam hati. Sementara Gavano tidak berkata apa-apa, lelaki itu berbalik dan menaiki anak tangga
"Jika kamu tidak mau aku perduli, maka aku pergi saja." Jawab Gavano.
Saat Gavano berbalik, Alleta melihat lengan baju yang di kenakan Gavano, dan di lengan itu terdapat sebuah sulaman naga emas.
"Bukankah itu kemeja yang aku sulam dengan naga emas sebagai permintaan maafku, namun aku tidak sempat memberikannya."
Alleta segera berlari mengikuti Gavano menaiki anak tangga, dan menarik pergelangan tangan lelaki itu. Namun hak tingginya tergelincir dan hampir terjatuh, segera saja Gavano memegang tangan Alleta.
Lelaki itu juga mendekap Alleta lantaran kaget, hampir saja gadis itu terjatuh di tangga.
"Apa yang kamu lakukan.? kamu hampir terjatuh.!" Teriak Gavano khawatir.
Dag... dig... dug...
Debran jantung mereka berdua berpadu saat Alleta sudah berada di pelukan Gavano
__ADS_1
"Vano.! bukankah ini adalah baju yang pergelangan tangannya telah aku sulam."
"Ya.!" Jawab Gavano berubah lembut,
Jelas saja, karna memakai baju itu, seharian Gavano di puji seluruh karyawan, bahkan di antra rekan bisnisnya menanyakan tetang di mana Gavano membeli baju dengan sulaman naga emas seperti itu, namun Gavano menjawab jika itu hanya di buat khusus untuknya.
"Aku tahu, kalau kamu tidak akan marah setelah melihat baju itu." Alleta Gembira, dan memegang tangan Gavano yang mulai membelai wajah cantiknya.
'Siluman kecil, bagaimana bisa kamu menggoyahkan hatiku, begitu mudahnya.? jadi kenapa ketika kita sedang ada di luar, kamu seakan-akan mengatakan kalau gelarmu sebagai wanitaku tidak berharga sedikitpun.?' Ujar Gavano dalam hati, lalu menggendong Alleta di pundaknya.
Membawa gadis itu, masuk ke kamar dan melemparkannya ke pembaringan, dan menindihnya.
***
Di kediaman Atmaja, Axcel sedang termenung, lamunannya buyar saat istrinya menghampirinya.
"Sayang.! ada apa.? aku perhatikan sudah seminggu kamu merenung seperti ini semenjak kembali dari rumah Gavano hari ini.!"
"Kamu tau.? istri Gavano begitu muda dan cantik."
"Apa maksudmu.? apa kamu menyukainya.?" Tanya Julia cemburu.
"Tenangkan dirimu. Aku memang menyukainya, namun rasa suka yang berbeda. Jujur saja aku seperti melihat Elena kita dalam diri istri Vano.!"
"Benarkah.? apa boleh aku bertemu dengannya.!"
"Tentu saja boleh, namun mengingat bagaimana sifat Gavano yang menuruni sifat ayahnya, Revandra. kita harus memilih waktu yang tepat untuk bertemu istrinya, aku takut dia berpikir bahwa kita menganggap istrinya sebagai putri kita, Dan jika itu terjadi, maka pasti akan menimbulkan masalah, baik masalah keluarga maupun masalah kerja sama perusahaan. Terlebih lagi itu menyangkut tentang istrinya."
"Tak jadi masalah, aku akan menunggu sampai waktu itu tiba." Jawab Julia seraya memeluk suaminya.
***
Kembali pada Gavano yang menindih Alleta.'Maafkan aku Alleta' Ucap Gavano meminta maaf dalam hati lantara tak mau imagenya jatuh di hadapan Alleta.
Namun gadis muda itu tau dari mimik wajah Gavano, bahwa ia sedang berusaha untuk meminta maaf. Alleta menjulurkan tangannya menyentuh pipi Gavano
"Aku tahu kok, kamu tidak perlu meminta maaf padaku.!"
"Em...!" Hanya itu yang keluar dari bibir Gavano, lalu menjatuhkan ciuman pada bibir istrinya.
'Ini bukan pertama kalinya Vano menciumku, tapi kali ini terasa berbeda, hatiku terasa begitu hangat, mendebarkan dan sangat-sangat senang.' Gemuruh hati Alleta, dan membalas ciuman Gavano.
"Vano.!"
Bersambung...
__ADS_1
******