KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Aku mencintaimu


__ADS_3

Memag benar wanita yang Reygan panggil itu adalah Julia. Dia baru saja menjadi guru kanak-kanak di sekolah itu.


"Sayang, tidak baik memnggil ibu pada orang sembarangan." Kata Julia berjongkok di depan Reygan.


"Aku tidak sembarangan, kamu ibuku."


Julia merasa terharu, anak sekecil itu salah mengira bahwa dia adalah ibunya. 'Seandainya bayiku selamat, dia juga sudah sebesar ini.' Ucap Julia


"Bermainlah, aku akan menbawa temanmu ke ruangan UKS untuk memeriksa lukanya."


"Baik ibu."


"Panggil ibu guru ya sayang.!"


Reygan hanya tersenyum dan mengangguk.


Sebentar setelah Julia berlalu, Axcel muncul dan menggendong Reyagan untuk kembali pulang, karna pendftarannya sudah selesai.


"Ayah...!" Panggil Reygan setelah berada di dalam mobil


"Emm...!"


"Aku bertemu ibu."


Axcel tertawa, karna dia pikir putranya sedang bercanda, namun dalam tawanya tersirat kesedihan. 'Kasihan putraku dia sangat merindukan ibunya.'


"Reygan tidak bercanda ayah.!"


"Nak, itu tidak mungkin."


"Ya sudah jika ayah tidak percya.!"


"Kalau begitu di mana kamu bertemu ibu.?"


"Di sekolah tadi, tapi Reygan lihat ibu juga bersama om-om berambut pirang."


Axcel menghentikan mobilnya dan menatap putranya.


"Sungguh kamu melihat ibu."


"Reygan tidak bohong ayah, ayah sendiri yang bilang, kalau anak kecil tidak boleh berbohong."


Tampa pikir panjang lagi, Axcel segera memutar mobilnya kembali ke sekolah untuk bertanya pada kepalah sekolah di sana.


"Apa anda mengenal wanita ini.?" Tanya Reygan menyodorkan selembar foto Julia pada kepala sekolah.


"Oh... dia baru saja jadi guru di sini."


Axcel kemudian meminta data-datanya untuk lebih memastikan, bahwa itu benar-benar istrinya, Julia. Dan memang benar itu adalah Julia.


"Apa anda tahu di mana dia tinggal.?"


"Di asrama para guru. Tapi sepertinya dia sedang keluar bersama kekasihnya."


"Kekasih.?"


"Ya... kekasihnya, yang mengantarkan dia ke sinin."


Axcel pamit pada kepala sekolah setelah mendapat alamat tempat tinggal Julia. Dia menunggu di depan asrama, hingga petang.


Tak lama, Julia muncul bersama seorang laki-laki yang tak lain adalah Adrian, dosennya saat di Maroko

__ADS_1


"Ayah itu ibu."


Axcel segera turun dari mobil setelah Adrian meninggalkan Julia. Lalu Reygan berlari memeluk kaki Julia dan mendongak ke atas.


"Ibu...!"


"Bukankah kamu anak yang tadi, apa yang kamu lakukan di sini.? Di mana orang tuamu.?"


"Ayah ada di sana.!" Jawabnya menunjuk ke arah Axcel.


Betapa terkejutnya Julia melihat sosok yang dia cintai berada di depannya. Ingin sekali rasnya berlari dan bermanja ke pelukan Axcel sperti yang selalu dia lakukan dulu.


Namun dia mengurungkan niat itu, lantaran mengira bahwa Axcel telah menikah lagi dan memiliki putra bersama wanita lain.


"Nak... kembali pada ayahmu.! Aku bukan ibumu.!"


"Kamu ibuku.!"


"Dari mana kamu tahu aku ibumu.?"


"Setiap hari ayah selalu memperlihatkan foto ibu padaku.!"


Meski sudah berkata begitu, Julia masih mengabaikan perkataan Reygan, dia merasa itu hanya perkataan anak kecil saja.


Julia mengangkat Reygan dan memberikanya pada Axcel.


"Tuan... ini putra anda."


"Julia, apa kamu tidak merindukanku.?"


"Bisa-bisanya anda berkata demikan, di saat anda sudah memiliki keluarga."


"Tidak... Julia tidak ada keluarga, hanya aku dan Reygan."


"Ibunya ada di depanku.!"


Julia terkejut dengan apa yang Axcel katakan, dia seakan tidak percaya dengan pendengarannya.


"Apa makaud anda tuan.?"


"Reygan putra kita, yang kamu lahirkan saat kebakaran itu terjadi."


Axcel menceritakan semua yang terjadi mulai dari kebakaran sampai semua waktu yang berlalu. Julia tidak kuasa menahan air matanya. Ternyata bayi yang selama ini dia kira telah meninggal, rupanya masih sehat dan bertumbuh menjadi anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan.


Julia segera memeluk Reugan dan hendak membawa Reygan masuk ke dalam asrama tampa perduli pada Axcel.


"Julia apa kamu tidak melupakan sesuatu.?"


"Apa.?"


"Apa kamu hanya akan membawa Reygan bersmamu.?"


Julia menghentikan langkahnya dan berbalik dan menatap Axcel.


"Julia Aku mencintaimu."


***


Berdetak kencang jantung Julia, kata-kata yang selalu dia tunggu keluar dari mulut Axcel akhirnya dia dapat mendengarkannya.


Julia yang memang sngat mencintai Axcel kembali meneteskan air mata dan berlari ke pelukan laki-laki itu dengan Reygan di tangannya.

__ADS_1


"Sayang....!" Panggil Julia.


Axcel sangat bahagia, ternyata Julia tidak pernah berubah, Julia tetap sama seperti dulu, mencintainya dengan tulus.


Kepergian Julia saat itu membuat Axcel sadar bahwa betapa dia sangat mencintai Julia dan merasa sangat kehilangan.


Axcel lalu meminta Julia untuk kembali ke kediamannya bersama. Tampa ragu Julia setuju karna dia memang sangat mencintai Axcel.


"Masuklah ini rumah kita."


Julia tercengang, ternyata apa yang di katakan Axcel memang benar, tak sekalipun Axcel melupakannya, di setiap ruangan tersadat bayak foto-foto Julia.


Julia menyapu pandang seisi ruangan, hingga matanya singgah pada satu foto saat dia masih mengandung dan berdiri di depan jendela.


"Foto itu di ambil sehari setelah aku melepas rantaimu. Aku mengambilnya diam-diam. Aku tidak menyangka bahwa hari itu adalah hari di mana kamu akan meningglkanku."


"Maafkan aku sayang, aku berfikir kamu tidak menginginkanku, maka aku memilih untuk pergi."


Julia menceritakan apa-apa yang dialaminya saat dia depresi, terutama saat Emely selalu datang padanya untuk mengatakan hal-hal yang membuatnya berfikir bahwa Axcel benar-benar tidak menginginkannya.


Kepulangan Julia membuat beberapa orang bahagia, termaksud Anya. Axcel mengadakan acara makan makan malam dan tak lupa mengundan Daniel, Aliya dan Revandra.


"Apa dia Gavano.?" Tanya Julia pada Aliya.


"Ya...!"


"Sangat tampan.!"


"Hallo bibi Juli." Kata Gavano dingin.


"Halo Vano...!"


Julia tertawa melihat Gavano yang masih berumur lima tahun tapi sudah memiliki sifat turunan dari Revandra.


"Ibu... aku ingin bermain dengan dia." Kata Reyagan bersembunyi di balik Julia."


Aliya meminta Gavano untuk bermain dengan Reygan di kamar. Gavano menurut saja pada ibunya.


Makan malam berjalan dengan baik dan menyenangkan, Revandra dan Aliya juga Daniel pulang setelahnya.


"Maafkan saya boss... Saya terlambat."


"Tak apa Anya, begitu makanlah, dan temani Reygan tidur malam ini." Kata Axcel.


"Baik boss...!"


Setelah membersihkan diri masing-masing, Axcel merebahkan diri di tempat tidur sendiri, lantaran Julia lebih memilih di kamar Reygan bersama Anya. Bukan untuk tidur tapi mencari tahu dan ingin lebih memastikan, apakah setiap perkataan Axcel itu benar.


Anya membetulakan smuanya, hanya satu yang tidak Anya katakan pada Julia yaitu tentang Helen. Karna Axcel memintanya untuk tidak mengungkit Helen di depan Julia, Beruntung Julia juga tidak menanyakan hal itu. Entah dia lupa atau bagaimana, yang jelas Anya merasa lega.


Julia kembali ke kamar dan mendapati Axcel sudah tertidur.


"Sudah tidur... Tidak akan ku biarkan."


Julia lalu masuk ke selimut dan melucuti celana pendek Axcel. Dia kagum dengan benda yang terhubung pada bagian tubuh Axcel. Benda yang kenyal dan lembek


Pelan-pelan Julia merabanya di sana, mengelus benda itu dan berbisik. 'Aku merindukanmu.'


Merasa ada sesuatu di antara kedua se..langkangannya, Axcel terbangun, dan terkejut mendapati Julia tengah bersimpuh di bawah sana sambil meraba-rabanya


"Apa yang kamu lakukan Juli.?"

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2