
Lantaran sangat khawatir, Gavano menedang pintu ruangan Ginekologi membuat dokter perempuan yang ada di ruangan itu terkejut dan berbalik.
"Dokter istriku sedang menstruasi dan perutnya sedang sakit." Ucap Gavano yang sudah tahu bahwa Alleta sedang datang tamu bulanannya semalam saat hendak menggauli istrinya.
"Presedir Gavano, silahkan baringkan Nyonya di sini dan lepas **********." Pinta dokter wanita itu.
"Vano... aku...!" Panggil Alleta setelah Gavno membaringkan tubuh Alleta di tempat yang khusus untuk memeriksa kehamilan.
Sedang dokter wanita itu meraih sebuah alat untuk mengorek sesuatu dari dalam tubuh Alleta. Tapi sebelum dokter wanita itu memasukan alat tersebut pada inti Alleta, Gavano menyambar tangannya.
"Berani-beraninya kamu mau memasukan benda seperti itu kedalam tubuhnya." Teriak Gavano emosi.
Plak... Gavano menapar dokter wanita itu dan kembali berkta.
"Apa semua mesin yang aku sumbangkan untuk rumah sakit ini hanya untuk dekorasi.? jika kamu tidak bisa mencari cara untuk menyembuhkannya, aku akan tutup rumah sakit ini." Ucap Gavano berteriak di sertai dengan emosinya yang meluap.
Melihat Gavano marah besar, dokter wanita itu keringat dingin dan meminta seorang suster membantunya.
"Seseorang, bawa nyonya Gavano untuk ultrasound."
Setelah pemeriksaan selesai, dan Alleta di pindahkan keruangan inap, Gavano berbicara dengan dokter wanita itu di ruangannya.
"Lalu apa yang terjadi.?" Tanya Gavano tegas sambil menggepalkan tangannya di atas meja, sekali lagi membuat dokter itu mersa tertekan dan ketakutan.
"Di dalam darah nyonya Gavano, terdapat kandungan mifepristonayang biasa di sebut obat aborsi. Karna dia sedang dalam siklus menstruasinya, mungkin dia tidak terlalu sadar banyak darah yang keluar dari tububnya. Tapi Presedir, Nyonya Gavano tidak sedang hamil.!" Jelas dokter wanita itu.
Amarah Gavano semakin bergejolak. 'Siapa itu.? siapa yang melakukan ini pada istriku.?' Gerutu Gavano dalam hati
"Apa ini akan memberi dampak buruk pada tubuhnya.?" Tanya Gavano cemas.
"Karna nyonya Gavano tidak sedang hamil, maka tidak ada banyak dampak yang akan terjadi, selama dia merawat tubuhnya dengan baik."
Sebentat setelah mendengar penjelasan dokter, Gavano berbalik dengan wajah yang sangat merah lantaran terbakar api emosi karna seseorang telah melakukan sesuatu pada orang yang sangat ia cintai.
'Aku akan mencari tahu siapa orang yang berani-beraninya memberinya obat, bakhan bila aku harus membuat mereka menggali kuburannya sendiri, karna mereka sudah berani-beraninya menyakiti wanitaku, mereka lebih baik siap dengan konsekuensinya.' Kembali Gavano mengerutu dalam hatinya,
Hingga sampai di kamar inap, Alleta terlihat lebih baik-baik saja di banding tadi.
"Vano.!" Panggil Alleta lemah.
"Apa kamu baik-baik saja.? bagaimana perasaanmu.?" Meraih tangan Alleta dan mengelusnya lembut.
"Aku sedang tidak kesakitan sekarang, dan sakitnya datang dan pergi, maaf membuatmu khawatir."
'Ini tidak akan pernah terjadi kalau saja aku memberitahunya tentang penyakit Luna.' Ucap Gavano dalam hati menyesali apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"Vano, bisakah kita pulang.?"
"Jadilah anak yang baik, beritahu aku, apa yang kamu makan tadi.!"
"Hanya kue dan jus."
Gavano sesaat memutar otaknya, hingga ia menyimpulkan sesuatu.' Luna,? Felisa.? hanya mereka berdua yang tidak menyukai Alleta.'
Beberapa waktu berlalu, tiba-tiba Alleta yang tadi sudah berbaring merasa sangat kesakitan.
"Vano... vano..!"
Mendengar namanya di panggil Gavano yang sedang memeriksa hasil tes kesehatan Alleta berbalik dan sangat khawatir. mengecek suhu Alleta dengan telapak tangannya. 'Tubuhnya sungguh panas'. Baru kemudian hendak memanggil dokter, namun Alleta yang setengah sadar meraih tangannya.
"Sakit..." Tangis dan rintih Alleta dalam tidurnya.
Gavano dengan sigap membuka selimutnya, betapa terkejutnya lelaki itu mendapati seperai sudah ternodai dengan banyak darah segar yang kelur dari bagian inti Alleta.
Teriakan Gavano membuat dokter yang tadi memeriksa Alleta segera berlari menghampiri Gavano. Sekali lagi Gavano menampar dokter wanita itu.
"Sebenarnya pemeriksaan apa yang kamu lakukan padanya.?"
"It..itu, Presedir, izinkan saya memeriksanya dan mengevaluasinya sekali lagi"
"Lalukan dengan baik, jika sesuatu terjadi padanya, aku akan benar-benar menutup rumah sakit ini." Tegas Gavano.
Namun dokter sangat kesulitan untuk memeriksa Alleta.
"Apa lagi sekarang.?" Tanya Gavano emosi
"Nyonya Gavano, terus mencengkram giginya. Kalau mulutnya terus tertutup saya tidak akan bisa mengeceknya.
"Minggir."
Gavano melangkah dan duduk di samping Alleta
"Siluman kecilku, buka mulutmu.!" Seraya memasukkan telunjuknya ke dalam mulut Alleta.
"Presesir, karna nyonya melakukan semuan ini secara tidak sadar, saya khawatir dia akan mengigit..."
Belum juga perkataan dokter wanita itu selesai, Alleta sudah benar-benar mengigit telunjuk Gavano hingga mengeluarkan darah
"Cepat lihat dan periksa dia."
Beberapa saat kemudian kembali dokter wanita itu menjelaskan tentang apa yang di alami Alleta.
__ADS_1
"Nyonya tidak menderita kehilangan darah yang ekstrim, tampaknya ini hanya karna menstruasinya dan pembalutnya tidak diganti jadi terlihat berlebihan, demamnya di sebabkan karna peradangan, saya akan menyiapkan IV sekarang, saya akan meminta suster membersihkan nyonya, lalu untuk jari anda..."
"saya baik-baik saja. Dan biar saya saja yang mengurus iatriku, termaksud membantu menganti pembalutnya."
Sebentar setelah selesai, Gavano juga menganti pakaiannya, lantaran tak ada pakaian ganti maka lelaki itu hanya bisa menggunakan pakaian pasien, Baru kemudian masuk ke dalam selimut dan berbaring sambil mendekap Alleta.
***
Esok pagi, Alleta terbangun terlebih dahulu, gdia itu sekarang sudah baik-baik saja, dan mendapati Gavano sedang tertidur, ia kemudian duduk dan menatap wajah Gavano.
"Gavano Gramentha, sekarang kamu adalah suamiku, jika kamu berani berhubungan dengan wanita lain, maka aku akan menamparmu berkali-kali, dan menghajarmu." dengan saenyum mematikannya.
'Emm... matanya seperti panda, apakah Vano menjagaku semalaman.? aku jelas tidak makan sesuatu yang buruk kemarin, seperti yang Vano katakan, aku mungkin diracuni oleh seseorang. Satu-satunya orang yang bisa meracuni makananku adalah Helen.'
Memang benar yang melakukannya adalah Helen, kebetulan Helen sangat membutuhkan uang, dan kebetulan juga Felisa mengetahui itu, maka Felisa mengambil kesempatan untuk menggunakan tangan Helen untuk melaksanakan niatnya bersama Luna.
Ting... Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Gavano. membuat Alleta melirik lalu meraih ponsel itu, membuka semua pesan dan panggilan tak terjawab dari Luna
"Aku penasaran apa yang Vano lakukan sehingga membuat Luna seperti ini, heh, kamu pikir kamu bisa mengambil priaku hanya karna kamu menginginkannya, hahaha kamu cari mati." Ujar Alleta sambil hendak mengirim gambarnya bersama Gavano untuk Luna.
Namun Alleta kembali berpikir.
"Tidak, ini seperti palsu, bagaimana kalau begini." Ucap Alleta membuka baju Gavano baru kemudian membuka kancing bajunya sendiri hingga menampakkan belahan dadanya yang kenyal. lalu berbaring di samping Gavano seolah-olah Gavano sedang mendekapnya. Lalu memotrenya
Klik... (Janagan ganggu tidurku dan suamiku), kirim.
"Hehehe....!"
Setelah mengirim pesan gambar, Sebuah tangan hangat melingkar di perut Alleta.
"Siluman kecil, apa yang barusan kamu lakukan.?"
"Ak...aku tidak melakukan apa-apa, Itu... kamu mungkin sedang bermimpi.
"Karna ini adalah mimpi maka aku akan melanjutkannya saja." Mengubah posisi, menindih Alleta.
"Ini bukan mimpi, ini bukan mimpi,"
"Dasar pembohong. Cium aku pembohong.!" Ucap Gavano menjatuhkan ciumannya pada bibir Alleta. Sepasang suami istri itu saling membalas ciuman hangat.
Sementara itu di ruangan lain di rumah sakit yang sama, seseorang terlihat sangat marah dan membanting ponselnya ke lantai.
"Sial...! Si ja..lang itu pasti sudah mengatakannya pada Gavano.!"
Bersambung...
__ADS_1
******