
Semenjak berada di rumah keluarganya, Alleta mendapat perhatian lebih dari Julia ibunya, Axcel dan Reygan, hari itu tiba-tiba Alleta kepengen makan di luar, dan Gavano pun menurutunya. Lalu pamit untuk keluar pada ayah dan ibu Alleta.
Sementara Julia merasakan perasaan yang tidak enak, seolah-olah akan terjadi sesuatu pada putrinya.
"Sayang, kamu kenapa.?" Tanya Axcel
"perasaanku tidak enak."
"Ada apa.?"
"Aku merasa akan terjadi sesuatu pada putri kita."
"Jangan banyak berfikir, kamu hanya kelelahan saja. Putri kita juga saat ini sedang bersama suaminya."
"Semoga kamu benar." Kata Julia.
Di perjalanan menuju restauran, Gavano mengingatkan kembali pada Alleta untuk tidak melepaskan cincin pernikahannya.
"Jangan lepaskan cincin itu Alleta."
"Baik, dan jangan khawatir cincin ini tidak akan terlepas, dipaksa pun tidak akan bisa."
"Mengapa demikian.?"
"Lihat saja, semenjak mengandung berat badanku bertambah dan kamu lihat ini My.! Tanganku bahkan terlihat lebih berisi." Ujar Alleta memperlihatkan tanganya pada Gavano.
Gavano kemudian tertawa terbahak-bahak, ia menertawai wajah istrinya yang cemberut. Karna tidak fokus dalam mengemudi, akhirnya Gavano menabrak sebuah pembatas jalan.
Brak... Saat itu juga terjadi kecelekaan. Gavano kemudian bergegas untuk keluar dari dalam mobil di bantu petugas kepolisian yang sedang bertugas di jalan. Baru saja ia ingin mengeluarkan Alleta, seorang petugas polisi menghalanginya bahkan menariknya menjauh dari mobil.
Karna petugas itu tahu bahwa mobil akan segera meledak, benar saja, mobil yang yang di kendarai itu langsung meledak.
"Alleta..." Teriak Gavano baru kemudian tidak sadarkan diri.
Beberapa waktu berlalu, Gavano di larikan ke rumah sakit, ia tidak mendapatkan luka apapun, Setelah sadar dan melakukan pemeriksaan Gavano yang seperti tidak berdaya kembali ke kediaman Revandra.
Di sana juga, semua keluarga sudah berkumpul setelah mendapat kabar tentang kecelakaan itu. Tapi Gavano tidak memberi tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Dengan keadaan yang putus asa, Gavano masuk ke rumah, tatapannya kosong. Membuat semua keluarga semakin merasa khawatir.
"Apa kamu tak apa-apa Vano.?" Tanya Revandra
"Lalu di mana Alleta.?" Tanya Axcel.
Berbagai pertanyaan di lontarkan padanya tentang Alleta, namun tak satupun yang Gavano jawab. Ia hanya diam seribu bahasa lalu jatuh terperosok ke lantai. Cepat-cepata Revandra menolongnya dan membantunya untuk duduk di kursi.
"Vano, apa yang terjadi sebenarnya, di mana Istrimu.?" Tanya Axcel khawatir.
"Meninggal "
Duar.... Semua yang ada di situ terkejut bagai di sambar petir yang tampa hujan, terutama Axcel dan Julia, betapa tidak, baru saja mereka bertemu dengan putrinya beberapa waktu lalu, kini Meraka harus menerima kenyataan pahit itu lagi.
__ADS_1
"Tidak,,, tidak, aku tidak percaya. Vano kamu jangan mempermainkan kami." Kata Julia mulai mengeluarkan air matanya.
"Maafkan aku."
Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Gavano.
"Lalu di mana mayatnya.?" Sambung Aliya bertanya.
"Tidak ada.!"
"Apa maksudmu Vano.?"
"Alleta ikut terbakar saat mobil meledak."
Kembali lagi semua yang ada di situ terkejut, Rasa sakit karna tidak dapat mereka tanggung atas kepergian Alleta, terlebih mereka tidak dapat memakamkannya dengan layak, lantaran sudah menjadi debu.
Keluarga Revandra dan Axcel tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima kenyataan pahit itu. Mereka hanya bisa mendoakan semoga Alleta di terima di sisinya.
Seminggu berlalu setelah kepergian Alleta, Julia yang merasa sangat kehilangan tak henti-hentinya menangisi foto Alleta, begitu pula dengan Aliya yang merasa sangat kehilangan menantu kesayangannya.
Berbeda dengan Grace, dia tampak sangat senang dan merasa bahwa tak ada lagi yang akan mengganggunya untuk mendapatkan Gavano.
Dua Minggu berlalu, Grace sering kali memberi perhatian pada Gavano, akan tetapi, Tak pernah sekalipun Gavano menanggapinya. Lelaki itu bahkan memperlakukan Grace begitu kasar.
Hari-hari yang Gavano lalui, tanpa Alleta terasa sangat hampa. Yang dia lakukan setiap hari hanya melakukan aktifitasnya seperti biasa di perusahaan.
Kepergian Alleta tidak dipublikasikan di media, sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada keluarga Gramentha. Gavano juga sebisa mungkin menutup mulut orang-orang yang menyaksikan kecelakaan tersebut, termaksud petugas kepolisian dan rumah sakit.
***
"Uh..."
Suara itu membuat lamunan Leo buyar dan segera melangkah menuju ke arah tempat tidur.
"Kamu sudah bangun.?"
"Em...!"
"Apa yang ingin kamu makan.?"
Tapi orang yang di ajak Leo berbicara tidak menjawabnya. Sudah dua Minggu berlalu, namun yang Leo dapatkan hanya kata Em yang keluar dari bibir yang bagian bawahnya sedikit terbelah. Tatapannya kosong.
"Alleta, mengapa kamu diam saja.?"
"Alleta.? Apa namaku Alleta.?"
"Ya...!"
"Lalu kamu siapa.?"
Sejenak Leo diam, baru kemudian menjawab perkataan gadis cantik di depannya itu.
__ADS_1
"Aku suamimu.!"
"Benarkah.?"
"Tentu saja."
Alleta kemudian tersenyum hangat pada Leo, Sunggu Leo begitu bahagia, dua minggu Alleta bersamanya, tak sekalipun Alleta mau menatap atau berbicara padanya. Dan baru sekarang Alleta berbicara, itupun hanya untuk memastikan siapa dia.
Dua minggu yang lalu saat kecelakaan terjadi, Leo juga berada di tempat, hari itu sebenarnya Leo hendak ke rumah Axcel untuk membicarakan tentang kerja sama yang Reygan tawarkan, dan Reyhan sendiri yang meminta Leo untuk ke rumahnya.
Saat kecelakaan terjadi, Gavano keluar dari mobil dan hendak membantu Alleta namun di tahan oleh petugas polisi, saat itulah Leo mengambil kesempatan untuk mengeluarkan Alleta dari dalam mobil sebelum mobil tersebut meledak.
Karna orang-orang mengelilingi Gavano, maka tak ada yang menyadari bahwa Alleta sudah di bawah oleh Leo. Hingga pada saat Alleta sadar dan bingung dirinya berada di mana, bahkan tak tahu siapa dirinya.
Dua Minggu berlalu, Leo merawat Alleta di bantu oleh seorang dokter wanita yang ia bayar dan tinggal di pulau bersamanya. Dua Minggu Alleta hanya diam,
Antara bahagia dan khawati Leo rasakan. Bahagia karna Alleta tidak mengingat apa yang terjadi dan siapa dirinya, lalu khawatir karna Alleta hanya diam saja.
Malam hari setelah makan malam, Leo menemui Alleta yang duduk termenung di depan kaca, melihat bayangan dirinya yang begitu cantik.
"Kenapa belum tidur.?"
"Belum mengantuk." Jawab Alleta mulai memberi respon setelah Leo mengatakan bahwa ia adalah suaminya.
Leo kemudian membatu Alleta ke tempat tidur lalu duduk di tepi pembaringan bersama Alleta. Lelaki itu menatap Alleta lekat, hingga timbul niatnya untuk mencium bibi Alleta. Leo mendekatkan bibirnya, sedikit lagi untuk menggapainya, Alleta tiba-tiba berpaling ke arah lain.
"Itu... Maaf...!" Ucap Alleta.
"Tidak apa-apa.! Kita bisa mulai lagi."
Keheningan malam itu membuat birahi Leo timbul, terlebih Alleta begitu cantik dan menggoda.
"Baiklah, jika kamu tidak bisa mencium ku, boleh kita langsung melakukannya.?"
"Kamu mesum.!"
Leo tertawa melihat ekspresi malu-malu Alleta. Segera saja ia mendorong bahu Alleta hingga berbaring. Leo kemudian naik di atas Alleta dan hendak mencembu Alleta. Namun, baru saja lelaki itu mau menjatuhkan ciumannya tiba-tiba Alleta memekik kesakitan.
"Auu... Perutku sakit.!"
Seketika Leo yang tadinya sudah di kuasai nafsu birahinya, memperbaiki posisinya dan sangat khawatir, terlebih lagi Alleta menangis karna rasa sakit di perutnya.
Tak butuh waktu lama bagi Leo untuk memanggil dokter wanita yang ia bayar untuk memeriksa Alleta.
"Dia kenapa dokter, kenapa tiba-tiba perutnya terasa sakit.?"
"Tidak apa-apa itu hanya kontraksi pada awal kehamilan.!"
"Apa.? Hamil.?" Tanya Leo terkejut.
Bersambung...
__ADS_1
******