
Rekan bisnis Axcel semakin heran dan bingung, dia bahkan sangat jelas melihat tetesan keringat yang jatuh di dahi Axcel.
"Tn.Axcel, anda kenapa.?"
"Tidak, itu aku... aku tidak apa-apa, bisa kita lanjutkan.?"
"Baiklah, tentang proyrek...."
Julia tidak beranjak dari bawah, dia tetap pada posisinya. Meski Axcel sudah meberinya isyarat untuk menghentikannya. Namun, Julia tidak mengindahkannya, dia menjulurkan lidahnya dan menyentuh ujung milik Axcel. Kembali Julia mengulum benda itu seolah sedang menikmati es krim di cuaca yang begitu panas.
"Sial..." Kata Axcel.
"Aa maksud anda Tn.Axcel.?"
"Maaf Tn. maksud saya. Aggrrhh... persetan."
Axcel akhirnya keluar dari kewarasannya, dia mendorong mundur kursinya dan meremas rambur pendek Julia, dikumpulkannya rambut itu, baru kemudin menuntun gerakan Julia yang bermain dengan mulutnya.
Tak puas hanya dengan seperti itu, Axcel berdiri dan meraih Julia
"Juli, jangan salahkan aku." Kata Axcel.
Axcel mengendong Julia di pundaknya layaknya karung beras dan memberi tamapran di bagian bokong Julia. Axcel tidak perduli lagi jika panggilan vidio masih berlangsung. Dia keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke kamar.
Beruntung, Anya sudah kembali, dia memintanya untuk melanjutkan percakapan dengan rekan bisnisnya di ruang kerja. Melihat Axcel seperti itu, Anya tersenyum. 'Rupanya mereka belum berubah.' Kata Anya dalam hati setelah Axcel dengan Julia di bahunya berlalu.
Begitu sampai di kamar, Axcel melemparkan Julia ke pembaringan, mulai mencembu Julia di setiap area sensitif Julia. Bibir mereka saling berpagut, sementara tangan Axcel yang satu meremas di bagian dada, dan yang lainnya bermain di bawah sana.
"Eh, Sayang.!" Panggil Julia ketika Axcel menekan sesuatu yang menonjol di dalam inti miliknya.
"Juli, kamu sudah membangunkan apa yang seharusnya tidak kamu bangunkan. Malam ini aku jamibn kamu tidak akan bisa turun dari tempat tidur ini '
"Benarkah.?"
"Tentu saja.?"
"Cih. jangan harap kau bisa."
Julia dengan sigap memutar tubuh, kini posisinya berada di atas. Dia melepaskan semua pakain yang masih tersisa hingga menjadi polos.
"Juli, kamu."
"Sayang, aku yang akan mengambil alih."
__ADS_1
Julia sedikit mengangkat diri untuk memberi cela, dia meraih benda yang terhubung dengan tubu Axcel, benda yang sejak tadi sudah menegang. Dia menuntunya, dan menenggelamkannya pelan-pelan hinga milik Axcel tenggelam dengan sempurna.
"Ugh...!" Leguh Julia saat milik Axcel benar-benar menyentuh sesuatu yang ada di dalam dirinya.
Julia mulai bermain dengan gerakan naik turunnya. Axcel meraih pinggangnya ingin menuntun gerakan itu. Namun, Julia menyingkirkan tangan Axcel.
"Diam, bukankah aku sudah bilang bahwa aku yang akan mengambil alih."
"Tapi Juli, itu begitu dalam, aku... aku."
"Husstt... Nikmati saja, kamu hanya perlu berbaring
Julia meletakkan kedua tangannya di dada bidang Axcel untuk membopong tubuhnya agar lebih muda bergerak.
"Juli..."
"Sayang... Ah... Ugh!,"
Julia bergerak semakin cepat, dia bahkan menutup matanya, menikmati setiap sentuhan yang menyatu di dalam dirinya.
"Aggrhh..." Erang panjang Axcel ketika mencapai pelepasannya. Begitu pula Julia, dia juga sudah mencapainya.
Axcel menghela nafas panjang. Memang bukan dirinya yang mengambil alih, tapi permainan Julia membuatnya menikmati sebuah sensasi kenikmatan yang tiada tara.
"Juli, aku sudah tidak sanggup.!"
"Lemah."
Kata-kata Julia seakan memberi dorongan dan semangat pada Axcel untuk melanjutkan permainan itu. Kamar itu di selimuti dengan ******* dan erangan dari Axcel dan Julia, hingga mencapai pelepasan berkali-kali.
"Juli, jika terus seperti ini, aku akan mati di ranjang karnamu." Ucap Axcel yang sudah tidak sanggup lagi, Dia telah mencapai pelepasan berkali-kali. Tentunya tetap Julia yang mengambil alih."
***
Pagi hari, Anya kembali lagi ke Mintle grup untuk membicarakan tentang proyeknya dengan Daniel. Kali ini berbeda, Daniel tidak lagi seperti kemarin. Dia tidak ingin Anya membencinya. Dia sudah bertekad akan pelan-pelan mengejar cintanya, cinta yang telah lama dia simpan di hatinya.
"Bisa kita ke lokasinya sekarang.?" Tanya Anya yang meminta untuk melihat lokasi pembangunan proyek tersebut.
"Ok silahkan.!"
Agar lebih mudah, Daniel meminta Anya untuk ikut di mobilnya saja, Anya tidak keberatan. Baru saja Anya hendak naik ke mobil, sepatunya tergelincir batu krikil. Dia tidak dapat menyeimbangkan diri dan hampir terjatuh jika saja Daniel tidak segera menangkapnya.
Beberapa saat, mereka saling menatap, rona merah dari wajah keduanya sangay jelas. Keadaan itu membuat Daniel pelan-pelan mendekat ke wajah Anya. Sedikit lagi bibir mereka bersentuhan. Namun, Daniel segera sadar bahwa dia terlah berjanji pada diri sendiri untuk tidakemaksakan kehendaknya pada Anya.
__ADS_1
"Maaf Nona Anya." Ucap Daniel membantu Anua menegakkan tubuhnya.
"Tak apa." Jawab Anya masuk ke mobil.
Daniel tersenyum, lantaran Anya tidak marah seperti kemarin, dia bahkan melihat wajah Anya berubah menjadi merah jambu.
Di tengah perjalanan, tak ada datupun di antara mereka yang berani berbicara apa-apa. Anya hanya sibuk melihat ponselnya, sementara Daniel sibuk mengemudi dan sesekali menoleh ke arah Anya.
"Bagaimana menurut anda Tn.Daniel.? apakah ini sudah sesuai keinginan anda.?" Tanya Anya ketika sampai di depan proyek pembangunan.
"Aku pikir ini sudah sesuai,' Jawab Daniel.
Anya memnita Daniel mengikutinya memasuki proyek pembangunan itu. Daniel melihat ke atas dan mendapati sesuatu yang akan jatuh dari atas sana, Daniel mendorong Anya menjauh, dan akhirnya dia yang tertimpa benda keras itu, begitu sakit, Daniel tidak sadarkan diri.
Anya begitu panik, terlebih di situ tidak ada orang yang bisa di minta tolongi, sebab, mereka datang pada waktu istirahat para buruh untuk makan siang di kantin yang sudah di sediakan di tempat itu.
Sekuat tenaga Anya membawa Daniel di punghungnya untuk ke mobil. Meski sesuatu mengenai kakinya dan terluka, bahkan mengeluarkan darah, Anya tidak perduli akan hal itu. Saat ini Daniel lebih penting, Dia telah berkorban demi keselamatan Anya.
Anya melarikan Daniel ke rumah sakit terdekat. Rasa khawatir menyelimutinya, Daniel mengalami luka dalam yang sangat parah. Selama lima jam Daniel berada di ruang oprasi.
"Tn.Daniel, kumohon bertahanlah." Kata Anya menunggu di depan ruang oprasi. Begitu khawatir, dia bahkan lupa untuk memberitahu Aliya tentang hal ini. Dia juga tidak perduli dengan luka yang ada di kakinya. Meski seorang perawat sudah meminta Anya untuk mengobati lukanya juga.
Selama opradi berlangsung, Anya tidak tenang. Takut kalau-kalau Daniel sudah tidak bisa di selamatkan. Beberapa kali dia berpindah posisi.
Pintu ruangan oprasi terbuka, Anya bangkit dan segera bertanya pada dokter tentang keadaan Daniel.
"Tenang saja, dia sudah melewati masa kritisnya."
"Boleh saya bertemu dengannya.?"
"Dia belum sadar, harap hati-hati."
"Baik dokter."
Di dalam ruangan oprasi, Anya menatap Daniel yang terbaring lemah dengan luka di bagian dadanya. Dia menyapu pipi Daniel.
"Tn. Maafkan aku. Tapi kenapa.? Kenapa kamu melakukan ini padaku.? apa kah kamu sengaja ingin membuatku merasa bersalah padamu.? Tn. kumohon sadarlah, jangan biarkan aku menderita seperti ini." Kata Anya di sela isak tangisnya.
Tak sanggup melihat keadaan Daniel, Anya pergi meninggalkannya dan menghubungi Aliya.
Bersambung...
******
__ADS_1