
"Hallo, ada apa.?" Tanya Riko setelah menerima panggilan telfon dri Gavano.
"Di mana kamu sekarang.? kenapa aku tidak melihatmu di hotel.?"
"Ada sesuatu yang penting, yang harus aku lakukan."
"Hal penting apa.? apa begitu penting.? Riko, tidak ada yang lebih penting selain Resepsi pernikahanku."
"Maaf Vano, aku akan segera ke sana."
Sebentar setelah Riko mengakhiri panggilan, ia kemudian menatap wajah Alexa, dan tersenyum seraya mengelus pipi gadis kecil itu.
"Sepertinya kali ini aku tidak bisa menemanimu samapai malam."
"Tidak apa-apa kakak, Lexa mengerti." Ucap gadis kecil itu menerima.
Riko yang sudah mengantongi persetujuan Alexa untuk meninggalkannya di pnginapan itu, segera menancap gas mobil dan kembali ke hotel.
"Dari mana kamu.?" Tanya Gavano saat Riko sudah berada di ruangan yang sama dengannya.
"Apakah semu yang kulakukan harus kamu tahu.?"
"Jadi sekarang kamu sudah mulai main rahasia denganku.? apa ini menyangkut dengan seorang gadis.?"
Pertanyaan Gavano membuat Riko terkejut. 'Jangan-jangan Gavano sudah tahu.' Pikir Riko dalam hati.
"Riko." Panggil Gavano membuyarkan pikiran Riko.
"Ah. maaf.!"
"Aku tidak masalah dengan kamu mengencani seorang gadis. Tapi tolong, hanya kali ini saja, tolong kamu mengurus semuanya dengan baik, aku tidak mau ada kesalahan."
'Ahh... sepertinya Gavano belum tahu siapa gadis yang sedang ku kencani.' Ucap Riko lega dalam hati. Baru kemudian melakukan apa yang di minta Gavano padanya tadi.
Sementara Gavano yang keluar dan hendak meninggalkan hotel di mana akan di adakan resepsi, di hampiri oleh Lena dan Samuel.
"Gavano...!" Panggil Luna,
"Mau apa kamu ke mari, jangan hrap bisa merusak semuanya."
"Boleh kita bicara sebentar.?"
"Baiklah, jangan berlama-lama."
Gvano, Luna dan Samuel memilih sebuah cafe yang dekat dengan hotel.
"Selamat, akhirnya apa yang kamu mau, dapat kamu capai.!"
"Sudah jangan bertele-tele, katakan secepatnya, aku tidak punya waktu banyak." Kata Gavano lalu meneguk cafelate yang telah ia pesan setelah masuk ke cafe.
Luna tidak menjawab pertanyaan Gavano, wanita cantik itu hanya merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu, lalu meletakan di meja dan menyodorkannya pada Gavano.
"Apa itu.?"
"Ambilah, itu akan berguna untukmu."
"Ada apa.? kenapa tiba-tiba berubah menjadi baik seperti itu.?" Tanya Gavano heran melihat sifat Luna sudah berubah.
"Tidak ada, hanya saja aku sedah menemukan pria yang cocok denganku," Jawab Luna seraya memeluk lengan Samue.
"Kapan kamu akan kembali.?"
"Mungkin setelah menyaksikan sebuah pertunjukan yang spektakuler."
Gavano berdelik dan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Cih...! Jangan terlalu banyak berharap."
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu, dan sampai bertemu di resepsimu."
"Ok...!"
Berlalunya Luna, membuatnya Gavano sunguh heran dengan perubahan Luna, namun lelaki itu tidak ingin vanyak berfikir, ia mengambil sesuatu yang di tinggalkan Luna padanya di meja, kemudian juga meninggalkan cafe tersebut,
Di perjalan Gavano, membuka sebuah mab berwarna biru, dan melihat apa yang ada di dalam map tersebut. Senyum sinis Gavano kembali terlihat. 'Rupanya kalian ingin bermain seperti ini, baik aku akan menemani kalian bermain.' Ucap Gavano sambil memandangi isi map itu.
"My..." Teriak Alleta memeluk Gavano setelah Gavano sampai di rumah,
"Ada apa.?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa itu.?" Tanya Gavano sambil berjalan masuk.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan hal ini, tapi aku ragu."
"Apa itu Siluman kecil.?"
"Itu, tentang sebuah foto."
"Foto apa.?"
"Foto seorang gadis yang begitu cantik."
"Lalu.?"
"Saat itu aku melihatnya ada di dompetmu dan kemarin juga aku sempat melihat gadis itu di dompet Arkana saat membayarkan jajanku di depan.!"
Gavano kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya, lalu memperlihatkan sebuah foto seorang gadis cantik pada Alleta.
"Ya.! siapa gadis itu, apa kamu dan Arkana pernah menyukai seorang gdis yang sama.?"
"Benar sekali, apa yang kamu katakan."
Wajah Alleta seketika berubah setelah mendengar jawaban Gavano,
"Apa maksudmu My. Siapa gadis itu sehingga bisa membuat kamu dan Arkana bisa menyukainya secara bersamaan.?"
"Dia adalah gadis yang kami sukai, secara bersamaan, bahkan seluruh keluargaku menyukainya."
"Lalu untuk apa kamu menikahiku, jika kamu menyukai gadis lain yang bahkn seluruh kelurgamu juga menyukainya.?" Tanya Alleta mulai geram dan hampir meneteskan air matanya.
Namun Gavano segera meraih Alleta dalam pelukannya.
"Lepaskan, aku benci padamu.!"
"Alleta, dia adalah gadis yang aku, Arkana dan juga Alexa tidak pernah temui."
"Mksud kamu apa.?"
"Dia adalah Laili, ibunya Ibu kita."
"Apa.?"
Tersentak Alleta mendengarnya, rupanya ia telah salah paham pada Gavano.
***
Hari yang di nantikan telah tiba, yaitu hari di mana resepsi di adakan. Para tamu baik itu dari kalangan atas maupun kalangan menengah, tak terkecuali artis-artis yang sedang naik daun maupun yang masih baru, senior maupun junior.
Para wartawan juga sudah berjejer menunggu pemilik resepsi tiba.
__ADS_1
Revandra, Aliya, Andre, Aren, Danile beserta istrinya, Arkana, Alexa Delia, dan Lelaki tua Reyno dan istrinya, tak lupa juga si kembar. Meraka semua berkumpul di suatu tempat menunggu Gavano dan Alleta.
Beberapa lama menunggu, akhirnya pemilik resepsi keluar. Alleta yang saat itu mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang di penuho dengan payet-payet berlian, rambut yang tersanggul dan sebuah kain putih di kepalanya yang terselip di sanggulnga, beserta sebuah mahkota berlian. Menambah kecantikan gadis itu.
Terlebih lagi gadis itu di dampingi oleh seorang lelaki yang begitu tampan, yang selama ini menjadi idola di antara para gadis-gadis.
Alleta berjalan di karpet merah sambil mengandeng tangan Gavano, semua mata tertuju pada mereka, sedang para wartawan berlomba untuk mengambil foto foto mereka.
Banyak gadis-gadis muda, dan artis-artis papan atas mengeluh ketika melihat betapa cantiknya gadis yang mendampingi Gavano, mereka merasa kehilangan harapan untuk berda di posisi itu, toh istrinya secanti itu.
"Semuanya, terimah kasih sudah menghadiri acara resepsi kami dan sekaligus acara hulang tahun istri saya.! Tentunya beberapa orang sudah tau bahwa gadis yang ada di samping saya ini, adalah istri yang kunaki beberapa bulan lalu, hanya saja kami belum mengumumkannya." Jelas Gavaano setelah betda di ats panggung.
"Apa kami boleh tahu, apa alasan anda tidak mempunlis hubungan kalian.?" Tanya salah satu wartawan.
"Oh... tentang itu, aku hanya tidak ingin istriku mendapatkan masalah jika kami mengumumkannya saat itu juga, terlebih lagi istriku masih begitu muda."
"Bukankah sama saja presedir Gavano, saat ini istri anda juga masih muda."
"Saat ini berbeda, dulu, istiku belum ada yang melindunginya, tapi sekarang sidah ada beberapa orang."
Setelah acara tanya jawab itu, Aliya dan Revandra beserta Arkana dan Alexa, menuju ke panggung setelah acara tanya jawab itu.
"Bagaimana kalau kita potong kuenya, untuk merayakan ulang tahun menantuku.!"
"Ibu..."
"Sayangku Alleta, kami menyangimu."
Nyanyian lagu ulang tahun memenuhi ruangan itu seraya Alleta memotong kue ulang tahunnya. Hingga pada acara kedua yaitu peresmian hubungan mereka.
"Alleta apa kamu siapa menjadi istriku.? sehidup semati.? susah maupun senang.?"
"Aku bersedia My.!"
plok... plok... plok...
Tepukan tangan yang meriah lagi-lagi memenuhi ruangan itu.
"Apa kamu bahagia Alleta.?" Tanya Gavano.
"Sangt bahagia." Jawab Alleta bersimpuh di dada Gavano."
"Selamat ya kakak ipar." Ucap Alexa
"Selamat yah kodok betina.!"
"Arka...!" Bentak Revandra.
"Maksudku kakak ipar... heheh...!"
"Selmat yah Alleta sayangku," Ucap Aliya dan Revandra.
Begitu banyak ucapan yang diterima Aliya dan Gavano, baik itu dari keluarga maupun para tamu yang hadir. Alleta benar-benar merasa sangat bahagia.
"Aku punya kejutan untukmu." Ucap Gavano setelah mendapat beberapa ucapan selamat.
"Apa itu My.?"
"Hentikan acara ini...!" Teriak seseorang yang baru saja datang.
Baru saja Gavano ingin memberikan kejutannya pada Alleta, tiba-tiba seseorang datang dengan berteriak dan berjalan masuk.
Bersambung...
******
__ADS_1