KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Kepura-puraan Luna


__ADS_3

...🌹HAPPY READING🌹...


Semalam setelah Alleta tertidur Gavano menyempatkan diri ke ruangan Luna.


Brak... membuka pintu dangan kasar dan menyuruh sekertaris yang menjaga Luna meninggalkan ruangan itu.


"Vano.! kenapa kamu baru datang sekarang.?" Sapa Luna pura-pura.


"Apa kamu yang meracuni Istriku.?" Tanya Gavano mencengkram dagu Luna keras, hingha perempuan itu merasa kesakitan.


"Ak..aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.!"


"Apa bukan kamu yang membuat Alleta minum pil aborsi.?"


"Bukan aku, aku tidak akan melakukan sesuatu yang seperti itu, Lagi pula sejak kemarin aku bahkan belum keluar dari rumah sakit." Jawab Luna memohon untuk dilepaskan.


"Hmph..!" melepaskan cengkaramannya dengan kasar hingga Luna terjatuh ke lantai.


"Vano... uhuk... uhuk...!"


"Jangan muncul di hadapanku lagi, aku tidak akan membiarkanmu berlaku sesukamu, mengingat penyakitmu karna aku, maka itu sudah setimpal dengan apa yang kamu lakukan pada istriku, sekarang kita impas" Berbalik meninggalkan Luna yang masih tersungkur di lantai.


Kembali pada luna di pagi hari yang baru saja mendapat pesan bergambar dari Alleta melalui ponsel Gavano, 'Aku sudah berusaha berpura-pura sakit demi mengambil simpati Vano, Felisa beraninya kamu melakukan hal ini padaku.' Ucap Luna dalam hati yang berfikir bahwa Felisa telah mengatakan semunya pada Gavano.


Kemudian Luna melakukan panggilan pada seorang dokter,


"Dokter, ubah riwayat medisku, ubah itu menjadi separah mungkin."


***


Di perusahaan Gavano sedang berbicara dengan Riko, setelah mengantarkan Alleta pulang.


"Vano.!, mengenai siapa yang meracini istrimu, aku sudah mendapatkannya. apa yang akan kamu lakukan,.?"


"Buat gadis itu semenderita mungkin, jangan sampai dia mati, aku masih ingin menggunakannya." Jawab Gavano mengenai Helen.


"Lalu dokter rumah sakit kota S menyampaikan kalau Luna marah dan terkena dampak psikologis, hidupnya mungkin tidak bisa lama."


"Baik, mari kita ke rumah sakit."


Sementra di rumah, Alleta menanti kepulangan Gavano, karna lelaki itu telah berjanji untuk pulang dan makan siang bersama.


"Di mana Vano.?" Tanya Alleta pada kepala pelayan.!"


"Tuan muda pertama, di panggil ke rumah sakit oleh dokter yang menangani penyakit nona Luna, dokter itu mengatakn bahwa hidup nona Luna tidak lama lagi."

__ADS_1


"Oh...!, siapkan mobil antar aku ke rumah sakit."


"Baik"


Di rumah sakit, orang tua Luna yang juga adalah rekan bianis Revandra sedang berbicara dengan ibunya Gavano yaitu Aliya.


"Karna Luna diintimidasi, penyakitnya kambuh lagi, organ internalnya mengalami pendarahan." Jelas ayah Luna


Penyakit Luna itu di sebabkan oleh Gavano beberapa tahun lalu, saat itu Luna masih bersama dengan Riko, hingga pada suatu kejadian, Gavano yang sedang berusaha menaklukan lawannya hendak di tikam karna suatu persoalan. Dan saat itu Luna rela mengorbankan dirinya. Hingga Luna yang terkena tikaman itu dan mengenai organ dalamnya yang menyebabkan sebuh penyakit serius.


Dari situlah Gavano merasa bersalah dan menjadikan Luna sebagai kekasihnya, meskipun ia harus merebutnya dari Riko sahabatnya sendiri. Luna yang memang pada dasarnya menyukai Gavano bukan Riko, mengambil kesempatan itu. Menggunakan penyakitnya untuk membut Gavano mencintainya.


Namun apa yang tidak diketahui Gavano adalah bahwa semua itu hanya akal-akalan Luna saja. Memng saat itu Luna sempat sektat, namun sekarang sudah baik-baik saja.


"Jika keadaannya tetap seperi ini, Dia hanya akan hidup paling lama tiga tahun lagi, Luna mengorbankan banyak untuk Gavano, bahkan mengorbankan karirnya, tapi Gavano..." Ucap ayah Luna pura-pura pada Aliya.


Lelaki paruh baya itu juga sangat menginginkan jika Luna bisa menikah dengan Gavano, tentu saja itu semua karna harta Gramentha Grup.


Pintu ruangan tempat Luna di rawat terbuka, dan Alleta berjalan masuk dengan seikat bunga di tangannya.


"Jadi kamu juga datang Alleta.? apa kamu ke sini untuk melihat Luna.?" Tanya Aliya.


"Ya ibu..." Senyum gembira.


"Itu... Alleta kamu... bunga-bunga itu." Tunjuk Aliya kaget.


Sementara Gavano yang menyaksikan hal tersebut hanya tersenyum melihat Alleta. 'Siluman kecil ini pasti sengaja melakukannya.' Ucap Gavano dalam hati.


"Oh.! ini untuk kak Luna, Vano pernah bilang kalau bunga Krisen adalah bunga favorit kak Luna." Jawab Alleta bertingka lugu dan polos,


Bunga Krisen adalah bunga berwarna kuning yang banyak terdapat di pemakaman. lebih jelasnya lagi adalah bunga yang di bawa seseorang saat mengunjugi makam kelurganya.


Luna yang berbaring seolah telah sekarat sangat kesal dengan kedatangan Alleta, terlebih lagi Alleta membawakannya sebuah bunga Krisen. 'Alleta, perempuan ja..lang ini, apakah dia mau mengutukku mati, aku menyesal karna tidak ada kesempatan untuk menamparnya.' Kesal Luna dalam Hati.


Sebentar kemudian Alleta mendekat pada ranjang pasien dan menyodorkan bunga yang dirinya bawa untuk Luna.


"Terimah kasih, Alleta.!" Ucap Luna pura-pura tesenyum


"Tentu saja.! Bunga ini sangat cocok untukmu.!" Jawab Alleta, lalu diam-dim mencubit tangan Luna.


'Kenapa di mencubit tanganku,?' Tanya Luna penasaran dalam hati.


Sementara Alleta, berbalik setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.' Oh...! hanya pura-pura'


"Jadi Alleta datang mengunjungi Luna, gadis yang baik." Ucap Aliya memuji

__ADS_1


"terimah kasih ibu.!"


"Sayang.! kamu tidak boleh memberi bunga Krisen ke orang dengan sembarangan, Selain Luna, kamu tidak boleh memberi bunga Krisen kepada siapapun lagi." Jelas Aliya


"Baiklah, aku akan hanya memberi bunga itu pada kakak Luna." Senyum menawan dan seolah menyala artikan perkataan Aliya.


Luna yang melihat Alleta sangat kesal, 'Wanita ja..lang ini sengaja melakukannya, sial.!' Maki Luna dalam hati. Luna tahu bahwa Alleta mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Tentang Alleta yang di racuni oleh Helen sudah terbongkar, namun mereka tidak tahu bahwa Felisa yang meminta Helen melakukannya, semua yang terjadi di limpahkan pada Luna. Memang benar, Gavano tidak melakukan apa-apa pada Luna mengingat Luna telah berkorban untuknya.


Dan meski bagaimnapun Helen disiksa, gadis itu tidak membuka mulut bahwa Felisa yang menyuruhnya, ia hanya menyebut nama Luna.


***


Di rumah setelah pulang dari rumah sakit Alleta mencoba menghubungi Helen, namun nomor Helen sudah tidak dapat di hubungi lagi, 'Dia pasti memblokir nomorku karna merasa bersalah.' Ucap Alleta sedih.


"Apa yang sedang kamu pikirkan.?" Tanya Gavano yang baru saja selesai mandi dan memeluk Alleta dari belakang.


"Vano...!"


Gavano memutar tubuh Alleta, lalu menggendong gadis itu, membawanya ke tempat tidur


"Vano.! apakah aku menyusahkanmu.?"


"Gadis bodoh, kamu adalah istriku, kamu tidak menyusahkanku, kamu mau menyusahkan siapa lagi.?"


Cup..., Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Alleta,


"Apa kamu suka.?"


"Aku suka, dicium olehmu." jawab Alleta berdebar kencang jantungnya


"Maksudku cincin ini." Ucap Gavano yang tadi memakaikan sebuah cincin pada jari Alleta sewaktu mencium pipi istrinya.


"Ah..."


"Kenapa tidak suka.?"


Alleta seketika menatap lekat wajah yang kini sudah tidak dingin lagi. 'Apa maksud dari semua ini, kenapa akhir-akhir ini Vano berubah drastis. Aku tahu, lelaki ini memcintaiku saat ini, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jujur saja, hatiku terasa hangat, berdetak kencang saat berada di dekaynya, seolah aku tak ingin lepas darinya. Ya memang benar, aku tidak ingin lepas darinya dan hanya ingin memilikinya sendiri. Tapi, sampai kapan ini akan bertahan.? apakah semuanya akan berakhir bersamanya kontrak itu.?'


Begitulah yang di rasakan Allet saat ini tampa menjawab pertanyaan Gavano, semua perasaan bercampur jadi satu, dan tak tau harus berbuat apa.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2