
Mira tertawa dan menatap langit-langit.
"Heheh... kelurga Bantara hebat sekali, membuatku seperti ini, Apa yang aku lakukan pada keluarga Bantara, hingga mereka ingin aku mati."Teriak Mira menggepalkan tangannya.
Mira menangis, terlebih dia belum menemukan tentang apa yang terjadi pada ayahnya. 'Apa aku akan mati begitu saja.?, tidak, aku tidak rela.'
Mira kembali teringat kata-kata Arkana sebelum Arkana pergi.-Jaga dirimu, aku akan segera kembali setelah menyelesaikan masalah- Kata Arkana waktu itu.
"Arka, apa yang harus aku lakukan.? Aku tidak punya banyak waktu."
Seminggu kemudian, di dalam kamar mandi di sebuah club, Mira membasuh wajahnyanya, dia menatap bayangan dirinya di dalam cermin. 'Itu hanya sebuah virus, aku harus menenangkan diri, aku tidak punya banyak waktu lagi. Jika aku menyerah, orang-orang yang melakukan ini padaku akan senang. Aku hanya punya waktu setahun, apakah aku bisa menemukan penyebab tetang ayahku yang meninggalkan kota B ini.' Gumamnya frustasi.
Mira terbayang wajah Arkana. Dia kembali bersemangat, cintanya pada pemuda itu begitu besar. Dia bahkan bertekad untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Dia ingin menjadi lebih serakah sedikit saja.
Dalam waktu kurang lebih setahun di sisa hidupnya, Mira ingin mencari tahu segalanya. Dan mencintai pria yang dia cintai di hari-hari terakhir hidupnya.
"Aku punya setahun, seharunya itu cukupkan." Kata Mira.
Driiinnggg... Suara ponselnya berbunyi, hampir saja ponsel itu terjatuh di dalam air. Ah... Sial, aku terhanyut dalam pikiranku, nada dring ponselku mengagetkanku.' Gumam Mira. Sesuai janji kakeknya dia mendapatkan ponselnya kembali.
"Tidak, bagaimana bisa aku begitu egois, saat itu aku masuk rumah sakit, Arka begitu khawati, bagaimana jika aku mati, aku harus mengakhirinya." Ucap Mira berlari.
Buk... Mira menabrak seseorang.
"Apa yang ing kau akhiri Mira.?" Tanya Arkana.
Ternyata yang Mira tabrak adalah Arkana, yang baru saja kembali dari kota S.
"Aku..."
"Kau kenapa.?"
'Sial, kenapa aku jadi ragu, aaggrhhh...!' Teriak Mira dalam hati. Arkana tersenyum, dia menjetikkan jarinya di jidat Mira.
"Jangan katakan apapun lagi, makan malamlah denganku."
'Dia sungguh pengatur, dia tidak mengizinkanku untuk mengatakannya, maka aku akan berteriak.' Cup... Belum juga Mira berteriak, Arkana sudah membungkam bibirnya dengan ciuman. Mira juga menikmatinya. Jujur saja, dia memang merindukan ciuman bibir Arkana.
"Jangan katakan apapun lagi, sebaiknya kita makan malam." Tegas Arkana berbalik dan menarik tangan Mira.
__ADS_1
"Tunggu Arka...!" Teriak Mira. Namun, Arkana tidak perduli, dia bahkan menarik Mira ke pelukannya.
"Aku tidak suka ditolak, terutama olehmu" Kata Arkana.
"Kau... Kau terlalu mendominasi"
Arkana mengangkat Mira di punggungnya, layaknya mengangkat karung beras, kemudian membawanya keluar dari club itu dan melemparkan Mira ke dalam mobil, tapi itu dengan lembut.
"Arka, aku sudah bilang aku tidak ingin mengikutimu."
"Sudah ku katakan aku tidak suka ditolak olehmu." Jawab Arkana menutup pintu mobil, dan meminta supir untuk mengemudikan mobil.
Di restauran barat, Arkana menarik Mira masuk
'Arkana kau ini, Pemimpin termuda Gramentha Grup, wajah yang menarik bagi pria maupun wanita, terlebih dia putra dari penguasa kota S, dia punya hak untuk mendominasi.' Kata Mira dalam hati.
"Apa kau tidak akan duduk.?" Tanya Arkana yang sudah terlebih dahulu duduk.
"Kau ingin makan malam denganmu. hemm... aku tidak mau." Jawab Mira memilih untuk duduk di kursi yang membelakangi Arkana.
Sebentar kemudian seorang pelayan membawakan sebuah boneka teddy bear untuk Arkana dan menaruhnya di kursi yang berhadapan dengan Arkana.
"Tn, ini adalah teddy bear dari gdis yang duduk di belakang anda, katanya anda sedang kesepian, dia ingi beruang teddy ini menemanimu." Ucapa pelayan tersebut.
"Hei apa kau sendiri.?"
"Kau ingin bergabung bersama kami.?"
Tanya kedua gadis itu.
"Enyalah..." Kata Arkana kesal.
'Yah... itu yang aku harapkan, biasanya gadis-gadis akan pergi setelah mendengar itu.' Kata Mira begitu senang dalam hati dan seperti seekor rubah yang mengibaskan ekornya.
"Ayolah, jangan jahat, kau akan mendapatkan sesuatu sebagai balasannya jika bergabung dengan kami." Kata salah satu gadis itu.
Mendengar perkataan gadis itu. kemarahan mira meningkat menjadi 50 persen. 'Kedua wanita itu sungguh menyebalkan.'
Tak sampai di situ, kedua gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Arkana.
__ADS_1
"Kami kaya raya, katakan saja, kami akan membayarmu." Kata para gadis itu.
Kini kemarahan Mira memcapai 100 persen. 'Dia ingin menjadikan Arkna sebagai simpanan.' Ucapnya dalam hati kesal. Dia kemudian berdiri dan menagkap tangan salah satu dari mereka yang hendak menyentuh Arkana.
"Tidak pantas menggoda laki-laki di depan umum." Kata Mira kesal.
"Jadi, apa kau cemburu.?" Tanya salah satu gadis tersebut.
"Ini bukan urusanmu, kau lebih baik tidak ikut campur." Bentak gadis yang pergelangan tangannya di cengram oleh Mira.
"Wajah menjijakanmu ini tidak pantas untuk menggodanya." Ejek Mira.
Mendengar ejekan Mira, salah satu gadis itu mengangakat tangannya untuk menampar Mira. Namun, Arkana segera menghentikannya dan mendorong kedua gadis itu menjauh dari Mira.
"Karna kalian suka bersenag-senang, aku akan merekomendasikan tempat yang bagus. Hubungi kebun binatang dan beri tahu bahwa ada dua monyet betina yang akan di kirim ke sana sekarang." Pinta Arkana pada salah satu orangnya yang sudah memegang kedua gadis tersebut.
"Baik Tn."
Sebebtar kemudian, Arkana berbalik menatap Mira. Dia tersenyum pada gadis itu.
"Barusan kau berusaha melindunhiku."
"Tidak, kau salah paham, aku hanya tidak suka prilaku mereka." Jawab Mira berpaling ke arah lain.
Arkana tersenyum lagi, 'Ini adalah kali pertamanya aku dilindungi seorang wanita, dan rasanya begitu menyenangkan.' Gumam Arkana. Baru kemudian memesan makanan, Mira juga sudah mau mengikuti Arkana makan malam.
"Ini adalah kesukaanku." Kata Mira setelah makanan di siapkan.
"Makanlah."
Setelah makan, Mira merasakan sesuatu akan keluar dari hidungnya, dia mengira bahwa Arna tidak tahu tentang virus itu. Dia berlari menuju ke toilet untuk memberishkannya sebelum itu di ketahui oleh Arkana.
Arkana yang tahu bahwa Mira berusaha menyembunyikanya, meminta orangnya untuk mengikuti Mira ke toilet tampa sepengetahuan Mira, dan melaporkan apa yang terjdi pada Mira.
Benar saja, Mira benar-benar ke toilet untuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Dan keluar setelah memastikan tidak ada sisa yang tertinggal.
Setelah keluar dari toilet, Mira merasa pusing, dia berjalan sempoyongan dan berusaha tetap menjaga kesadarannya. Namun, itu semua sia-sia ketika dia tidak dapat berdiri di kakinya sendiri. Beruntung Arkana segera menangkapnya dan tidak terjatuh ke laintai.
Arkana begitu khawatir ketika Mira tidak sadarkan diri, dan begitu banyak darah keluar dari hidungnya.
__ADS_1
Bersambung...
******