KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Menegangkan


__ADS_3

"Riko, apa yang aku minta tempo hari sudah selesai.?" Tanya Gavano yang baru saja masuk ke ruangan Riko.


"Oh, tentang itu, sedikit lagi akan selesai."


"Baik, sebaiknya kamu menyelesikan sebelum ulang tahun istriku"


"Aghrh...! Baik." Pekik Riko tiba-tiba


"Kamu kenapa Riko.?" Tanya Gavano curiga.


Di bawah meja yang sebatas pinggan Riko, Alexa mencoba membuka gasper milik Riko, dan kebetulan meja kerja Riko, bagian depanya full tertutup, hingga Alexa tak nampak di bawah sana.


Pelan-pelan Alexa menurunkan resleting Riko, dan tangannya menyusup masuk ke dalam, menangkap penda panjang yang belum menegang itu, lalu mengeluarkannya dari kandangangnya


"Agrh...! Kembali Riko memekik, membuat Gavano semakin curiga, lelaki itu perlahan melangkah mendekat ke arah Riko.


Sementra di bawah sana, Alexa sudah mulai bermain dengan milik Riko yang sudah menegang, memainkan lidahnya, menjilat dan mengulumnya.


Rasa takut sekaligus nikmat serta menyiksa, itulah yang di rasakan Riko saat ini, Sedang Alexa tidak perduli jika saja Gavano memergoki apa yang ia lakukan pada Riko. Gadis kecil itu bahkan sempat menatap setiap inci benda panjang dan besar itu, ia bahkan menelan ludahnya, 'Tak bisa ku bayangkan bgaimana jika ini menyatu di tubuhku, membayangkannya saja aku sudah tak bisa mendeskrepsikannya.' Ucap Alleta.


Baru kemudian kembali menjilati benda itu.


"Aghr...!" Kembali Riko memekik, sedang kedua tangannya menggepal di atas meja,


"Riko ada apa denganmu.?"


"Tidak, tidak apa.!" Ucap Riko, yang mulai keringat dingin. Saat ini Riko sedang di landa gunda gulana.


Lantaran permainan Alexa, sedikit lagi ia akan mencapai pelepasannya, namun terdapat juga rasa takut, takut kalau-kalau Gavano semakin mendekat dan menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana. 'Gavno akan membunuhku jika tau apa yang terjadi.' Ucap Riko dalam hati.


Selangkah lagi bagi Gavano hingga mencapai meja, tiba-tiba seorang karyawan masuk untuk urusan pekerjaan.


"Oh presedir Gavano, maaf, saya tidak tahu anda di sini." Sapa karyawan itu hormat.


"Tak apa. Silahkan jika ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada Riko, aku akan meninggalkan kalian.!"


Sebentar setelah Gavano berlalu, perasaan lega terasa pada diri Riko, Namun Alexa tetap bermain di bawah sana.


"Pak Riko tentang...!"


Riko mengangkat tangannya memberi isyarat pada karyawan itu agar meletakkan berkas yang di bawahnya. Sesuai perintah Riko, karyawan itu meletakkan berkas di meja, baru berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Agrh....!" Pekik Riko bersamaan keluarnya cairan berwarna putih pada ujung ke..jan..tana..nya.


Lelaki itu kemudian duduk di kursi kerjanya, dengan nafas yang memburu. Dan Alexa segera keluar dari bawah meja dengan wajah yang di penuhi cairan putih setelah memastikan tak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu kecuali mereka berdua.


"Apa kamu puas Alexa, kamu hampir membawaku pada jurang kematian."


"Tapi kakak Riko suka kan.?"


Riko kemudian bangkit dari duduknya setelah mengatur nafas dan membetulkan celanannya. Melangkah ke arah Alexa seraya meraih tissu. Menyeka sisa-sisa cairan yang ada di wajah gadis kecil itu.


"Alexa, aku minta ini adalah terakhir kalinya ya.!" Mohon Riko lembut berharap Alexa mau mengerti.

__ADS_1


"Kakak, Lexa sangat mencintaimu kakak Riko, Lexa rela melakukan apapun, termaksud mati jika suatu saat kakak Vano menyalahkanmu."


"Jangan berkata begitu."


"Lalu, bisakah kakak menerimaku.? menjadikan Lexa satu-satunya wanitamu.? apakah kakak Riko bisa.?"


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Riko, lelaki itu hanya meraih Alexa ke dalam dekapannya. Membelai lembut rambut panjang Alexa.


"Kembalilah, Mungkin Nyonya dan tuan besar sedang mencarimu."


"Baik, tapi Lexa akan datang lagi, lagi, dan lagi, sampai kakak mau menerimaku." Berbalik meninggalkan ruangan Riko.


Setelah Alexa berlalu Riko kembali duduk di kursinya, bersandar dan menatap langit-langit.


"Alexa, maafkan aku, bukan maksudku selalu menolakmu, hanya saja, aku takut jika Gavano maupun tuan besar Revandra mengetahinya, entah apa yang akan mereka lakukan, jika saja mereka benar-benar membunuhku, aku tak apa-apa, yang aku khawatirkan adalah dirimu gadis kecil, aku takut meraka menyiksamu.!"


Ekspekulasi-ekspekulasi bersemayam dalam benak Riko.


***


Luna dan Felisa mengadakan pertemuan pribadi di sebuah Cafe, mereka merencanakan sesuatu pada Alleta.


Seminggu yang lalu Luna melihat Felisa sangat kesal keluar dari sebuh restaurant, wanita glamour itu menghampiri Felisa, dan mengajak kerja sama untuk menjatuhkan Alleta.


"Jadi apa yang kamu rencanakan.?" Tanya Felisa"


"Nanti kamu juga akan tau sendiri." Ucap Luna sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Apa itu.?"


"Seperti yang kamu lihat.!"


"Tapi untuk apa.?"


"Tentu saja utuk gadis ja..lang itu."


"itu berarti dia sedang mengandung.?" Tanya felisa.


"Sepertinya begitu, menurut yang di katakan karyawan perusahaan beberapa hari lalu, gadis ja..lang itu sedang mual dan beberapa kali karyawan melihat Gavano membawa Alleta keruangannya dengan menggendongnya, apa lagi kalau tidak sedang hamil.!"


"Apa kamu tidak takut pada Gavano.?"


"Mengingat bahwa aku adalah kekasih satu-satunya Gavano, dia tidak akan berani melakukan apapun padaku.!" Jawab Luna bangga.


"Lalu bagaimana denganku.?"


"Gavano akan membalasmu jika kamu melakukan dengan tanganmu sendiri."


"Jadi, mksudmu, aku harus menggunakan tangan orang lain.? begitu."


"Benar sekali."


"Baik, setelah menyingkirkan gadis ja..lang itu, baru kita kembali berbicara tentang masalah kita terhadap Gavano."

__ADS_1


"Ok,!" Jawab Luna kemudian bangkit dan berlalu meningalkan Felisa dengan senyum iblisnya.


***


Di sebuah toko kue, Alleta dan Helen sedang membicarakan tentang mata kuliah, di temani dengan segelas jus dingin dan kue.


Setelah puas berada di toko, Alleta kemudian pergi ke perusahaan untuk bertemu dengan Gavano, namun sebelum masuk kepalnya terasa pusing.


"Ah,, pusing sekali, dan pertuku tiba-tiba sakit, apakah ini gara-gata haidku yang datang lebih cepat.?"


Tamu bulanan Alleta memang terkadang datang dua kali sebulan, itu karna sewaktu kecil, gadis itu kekurangan gisi.


Sesaat berjalan, Alleta tidak menemukan Gavano, hingga gadis itu mencoba bertanya pada seorang sekertari ,


"Di mana Vano.?"


"Di rumah sakit.!"


"Ada apa dengannya.?" Tanya Alleta cemas.


"Tak ada yang terjadi pada presedir, hanya saja nona Luna, penyakitnya kambuh, dan itu di sebabkan oleh presedir. Bagaimana kalau anda ikut denganku ke sana, kebetulan ada yang ingin ku sampaikan pada presedir." Ajak sekertaris itu.


Setibanya di rumah sakit, sekertaris masuk ke ruangan di mana Luna di rawat.


"Presedir Gava..."


"Sst..." Isyrat Gavano


'Apa kamu tidak peduli bahwa nona Alleta ada di sini.?' Ucap sekertaris itu kesal, lantaran Gavano tidak memberinya izin untuk berbicara. Padahal ia ingin menyampaikan jika Alleta juga sedang berada di rumah sakit.


Setelah sekertris itu keluar, Alleta melihat Gavano sedang duduk di hadapan Luna yang terbaring lemah. tiba-tiba


"Ugh...! sakit.!" keluh Alleta memegang perutnya.


Sementra Gavano hendak ke kamar kecil, dan meminta sekertaris menemani Luna. Betapa terkejutnya Gavano mendapati Alleta sudah tersungkur berbaring melilit di lantai lantaran sakit perut yang sangat dahsyat.


"Alleta kamu kenapa.?" Teriak Gavano khawatir.


"Tadi nona Alleta datang bersama saya." Sahut sekertaris itu.


Dengan perasaan panik dan khawatir, Gavano menggedong Alleta. lengkahnya cepat.


"Dokter... dokter...! Teriak Gavano


Bersambung...


******


Yang lupa dengan soson Alexa si gadis kecil, author akan kasi visualnya lagi😘😘


...🌹ALEXA GRAMENTHA🌹...


__ADS_1


__ADS_2